Bab. 2. Pasang Kuda-Kuda
“Cium? Eh, apa?!” Sri langsung menoleh dan melihat suaminya itu dengan tatapan jijik. Bahkan, saat itu juga ia pun turun dari ranjang. “Gosah aneh-aneh, ya. Aku bisa pergi dan cari sendiri kamarnya, kalaupun Om-nya nggak ngasih izin. Bye!”
“Eh, mau ke mana kamu? Tunggu!”
Safka langsung beringsut dan mencoba meraih tangan Sri untuk mencegahnya. Namun, Sri berhasil mengelak sehingga ia dapat dengan mudah berlari dan menggapai pintu. “Wle! Nggak kena! Nggak kena!” ejeknya sambil menjulurkan lidah. Kemudian ia membuka pintunya cepat-cepat karena melihat Safka sudah menuruni ranjangnya.
“Astaga, bocah!” umpatnya sambil menggeleng. Namun, karena suka dengan gaya Sri, Safka yang di sisi lain merasa kesal sendiri itu tak dapat menahan tawa. Ia bahkan menepuk keningnya sendiri sembari kembali duduk.
Sebelum masuk ke kamar, ia sudah mengumpulkan pekerjanya terlebih dahulu di lantai bawah. Mereka ia perintahkan untuk mengecek semua pintu dan jendela untuk kemudian dikunci jika ada yang masih dapat dibuka. Lantas, mereka pun harus diam di kamarnya masing-masing meski mendengar suara teriakan Sri.
“Coba saja cari kamar yang kosong. Kamu tidak akan mendapatkannya selain kembali masuk ke kamar ini,” gumamnya sembari menghela napas panjang. Safka juga melepas peci yang menghias kepalanya sedari pagi. Kemudian ia kembali bangkit untuk membersihkan diri, setelah merasa lelah karena membujuk Sri. Tapi kenyataannya, Sri justru sedang berusaha melarikan diri.
Dengan seringai puas penuh keyakinan, Safka berjalan santai menuju kamar mandi dalam kamarnya sendiri. Tak lupa, ia mengambil handuknya terlebih dahulu yang menggantung di rak khusus handuk di sebelah pintu kamar mandi. Setidaknya, jika tidak dapat bersenang-senang dengan Sri, ia akan bersenang-senang dengan air hangat di dalam.
“Aku dapat pastikan, dalam waktu kurang dari setengah jam saja kamu akan sudah kembali ke kamar ini!” batinnya, begitu air mulai menyirami tubuhnya. Safka mendongak sembari membuka mulut. Ia membiarkan airnya masuk dan keluar sendiri dari sana dalam beberapa saat, sebelum kemudian ia kembali menunduk dan meremas rambutnya yang sedikit panjang.
Sementara di luar kamar, Sri benar-benar kelimpungan karena tak kunjung menemukan kamar dengan pintu dapat dibuka. Semuanya benar-benar terkunci, termasuk dengan semua kamar yang ada di lantai bawah.
Sri yang tahu adanya beberapa pekerja pun berusaha memanggil mereka sambil menggedor pintu. Namun, tak seorang pun menjawab karena mereka takut dipecat oleh majikannya. Meski sebenarnya, mereka ingin membuka dan membiarkan Sri masuk.
“Mereka pada ke mana, sih? Kenapa nggak pada nyaut coba? Apa mungkin, kalau mereka itu pergi setelah aku datang? Dan, itu karena perintah si Om? Ish! Emang benar-benar ngeselin dia itu.”
Sri memelak pinggang di depan pintu kamar pekerja. Ia tampak sedang berpikir setelah bingung karena semua ruangan terkunci rapat. Namun, pandangannya masih mengedar. Ia masih belum menyerah daripada harus mengalah dengan tidur di kamar yang sama dengan suaminya.
“Ok! Sekarang, sebaiknya aku ulangi sekali lagi. Barangkali, masih ada kamar yang tadi kelewat!” batinnya seraya mengangguk-angguk penuh semangat. Pasalnya, berteriak meminta tolong pun ia tak yakin akan adanya orang yang datang untuk menolong.
Disusurinya kembali satu per satu kamar dari yang terakhir ia cek. Satu per satu kamar yang ia cek pun tetap sama terkunci. Semuanya tidak bisa dibuka sampai akhirnya Sri mendongak, melihat lantai atas dari salah satu anak tangga.
“Sekarang giliran kamar di lantai atas. Hm ... semoga aja ada yang Safka lupa kunci selain kamarnya sendiri!” batinnya lagi, sambil melangkah naik. Satu per satu tangga pun Sri langkahi sampai tiba dirinya itu di lantai atas.
Namun, setelah menyusuri setiap ruangan lagi, hasilnya masih tetap sama. Dan, yang tersisa kini hanyalah kamar Safka. Sri bergeming di depan pintu. Ia menatapnya lekat-lekat sembari membayangkan, bagaimana jadinya jika dia tidur bersama suaminya yang sudah berumur itu.
“Hiiih! Nggak mau, ah!” serunya sambil melangkah mundur. “Tapi, kalau nggak tidur di sana, aku tidur di mana? Masa di sini?” sambungnya sembari celingukan. “Mana ruangannya luas banget. Udah malam banget pula sekarang. Gimana kalau ada hantunya?” Sri langsung bergidik seraya melangkah maju.
Namun, begitu tangannya itu hendak membuka pintu, tiba-tiba kembali urung karena hal yang sama. “Tar dia kepedean dong? Aku pasti malu banget. Dahlah nggak usah masuk,” ucapnya lagi seraya kembali mundur. “Tapi ....” Pandangannya kembali mengedar ke sekeliling. “Bodo amatlah kalau dia kepedean. Pokoknya, sekarang aku harus masuk dan langsung tidur!”
Dengan perasaan tak keruan, Sri pun akhirnya memutuskan. Ia langsung membuka pintu dan berjalan cepat, dengan kepala menunduk. Malu, seandainya Safka mendapatinya kembali masuk ke kamar. Namun, ia justru menubruk seseorang sebelum sampai di ranjang.
“Huaaaaaaaaaaa!” teriaknya, sampai terjengkang. Sri jatuh terjerembap begitu melihat orang yang ia tabrak adalah suaminya sendiri. Ia langsung menangkup wajah rapat-rapat dengan kedua tangan, karena Safka hanya memakai handuk sepinggang. Tubuh dan kaki suaminya benar-benar telanjang.
“Weh! Apa ini?” Safka yang sedari tadi sedang menggosok rambut dengan handuk pun ikut terkejut, meski tak menunjukkannya secara brutal seperti Sri. Ia justru memilih untuk tetap bersikap tenang.
“Kamu! Om ... ngapain pake handuk doang? Pake baju buruan!” Sri berseru keras tanpa membuka tangannya sama sekali. Ia bahkan terpejam kuat.
“Lha?! Orang baru beres mandi juga. Terserah aku dong. Mau pake handuk doang kek. Mau telanjang kek. Kamar, kamar aku. Lagian, kamu ngapain masuk ke sini lagi? Bukannya tadi mau nyari kamar sendiri?” Safka hampir saja menertawakan sikap istrinya itu. Namun, ia berhasil menahannya dengan sempurna.
“Gosah pura-pura, ya! Aku tau kalau Om pasti sengaja ngunci semua kamar. Ya, kan? Para pekerja juga mendadak hilang. Padahal, kalau tak salah hitung, tadi tuh ada lima.” Sri bersungut.
“Jangan fitnah! Karena fitnah itu jauh lebih kejam daripada pembunuhan, Sri. Ayo, sini bangun!” Safka pun mengulurkan tangannya ke arah Sri yang masih saja menangkup wajah.
“Nggak mau! Takut dicium aku tuh,” jawabnya cepat.
“Dih! Ya, suka-suka aku juga dong. Mau dicium kek. Dipeluk kek. Diboboin kek. Kamu kan istrinya aku.” Keusilan Safka makin menjadi. Ia benar-benar sukses membuat Sri ingin menangis lagi.
“Diboboin?” Sri bergumam.
“Iya, diboboin. Mau kamu?” Safka masih mengulurkan tangannya itu meski Sri masih saja tak melihatnya.
“Gosah aneh-aneh aku bilang. Sana, ih. Buruan pake baju!” titah Sri pada akhirnya.
Namun, Safka pun tak kalah keras kepala dengan terus menolak untuk berpakaian. Sri menggeleng. Ia benar-benar merasa ingin mencincang Safka kalau saja tak takut dipenjara. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya memutuskan membuka tangkupan tangan di wajah.
Meski begitu, Sri tetap menjatuhkan tatapannya ke lantai untuk menghindari tubuh Safka yang seksi. Lantas, setelah memasang kuda-kuda, ia merangkak cepat menuju ranjang sambil meracau. “Aku mau tidur di sini. Kamu di mana aja terserah. Asal jangan di sini. Awas aja!” ujarnya setelah ada di ranjang.
Cepat, Sri menarik selimut yang diraihnya kencang-kencang. Kemudian ia mengurung diri di dalamnya, seiring dengan jantung berdebar. “Selamat-selamat!” batinnya sambil menghela napas lega. Meski, Sri tahu kalau dirinya akan melewati malam yang menakutkan.
Sementara itu, melihat Sri merangkak sampai mengurung diri dalam selimut pun membuat Safka benar-benar tak tahan menahan tawa. Ia tergelak, bahkan terpingkal sambil memegangi perutnya yang terasa geli sendiri. Safka tak mengira sama sekali, kalau dirinya akan menghadapi sikap kekanakan seorang gadis.
“Ah, dia kan memang masih anak-anak. Tapi mau gimana lagi? Udah jadi istrinya Safka ya harus nurut,” batinnya. Puas, setelah ia berhasil membuat Sri kembali masuk ke kamar. “Sekarang, mari kita lihat. Apa yang akan dilakukannya lagi kalau aku bersikeras untuk tidur di ranjang. Ha-ha!”