bc

Hate or Love

book_age18+
242
IKUTI
1.1K
BACA
drama
comedy
sweet
like
intro-logo
Uraian

Kisah cinta yang rumit karena berbagai kesalahpahaman, tapi akhirnya dapat terpecahkan karena sebuah pembuktian. Antara benci dan juga cinta. Bahagia dan juga patah hati.

chap-preview
Pratinjau gratis
Malam Setelah Pernikahan
Bab. 1. Malam Setelah Pernikahan Setibanya di kamar, gadis berambut pirang itu langsung terduduk di balik pintu. Ia menangis sesenggukan sembari menekuk lutut, mengingat nasibnya yang begitu kurang beruntung. Jika teman-temannya dapat melanjutkan pendidikan, dia justru harus menikah dengan seorang pria yang ia sendiri tak tahu siapa, karena telah dijual oleh ayahnya sendiri tanpa ia ketahui dengan jelas. Wajahnya yang berkulit kuning langsat seketika berubah pucat kemerahan karena tangis beserta rasa kesal yang tak bisa ia luapkan. Basah karena tangisnya pun tak dapat ia hentikan sedari akad dimulai. Kesedihan dan kesengsaraan benar-benar mendominasi perasaannya. Namun, suara ketukan yang tiba-tiba terdengar membuatnya langsung terperanjat. Buru-buru gadis berhidung bangir itu mengusap wajahnya yang basah sembari menghela napas panjang. Meski, yang dilakukannya tak dapat membuat ia merasa lega ataupun bisa menghentikan rasa ingin menangis. Kemudian berdiri dan beranjak lebih jauh dari pintu. Detak jantungnya berdebar tanpa aturan. Ia bahkan langsung merasa begitu sesak. Belum lagi getar yang membuat tubuhnya gemetaran. Ia takut, tapi tak bisa berbuat apa-apa karena tempat yang sekarang ia tinggali benar-benar tak bisa kabur. Jendela lengkap dengan tralis besi. Meski ada pintu ke luar menuju teras kamar, Sri tak berani jika harus melompat bak wanita tahanan dalam film-film yang kerap ditontonnya. Ia hanya bisa menunggu sampai akhir, gagang pintu bergerak pelan. Pintu kamar berbahan jati yang semula disandarinya pun terbuka lebar. Gadis bernama Sri Ningsih itu seketika menelan salivanya dengan susah payah, saat seseorang yang sedari tadi ia segani masuk dan menutup pintunya lagi rapat-rapat. Jantungnya kian berdebar. Napasnya kian sesak. Tubuhnya pun kian gemetar. Dalam keadaan takut, Sri pun meremas kedua tangannya yang telah basah oleh keringat. Ia merasa tubuhnya akan tumbang. Namun, ia berusaha untuk terus berdiri, agar lelaki di hadapannya itu tak dapat melakukan apa-apa terhadapnya. “Nangis lagi? Kenapa, sih? Nggak capek gitu, dari tadi nangis kek bocah banget?” Lelaki bertubuh tinggi kekar itu berdecak sambil menggelengkan kepalanya, yang bahkan masih berhiaskan kopiah berwarna cream. Ia juga melangkah maju, dan membuat gadis di hadapannya seketika melangkah mundur, seiring dengan tubuh bergetar. Sri Ningsih merasa risi, karena tak pernah sekalipun berada dengan seorang pria dalam satu kamar yang sama. Kedua tangan gadis yang wajahnya seketika semakin pucat itu saling bertaut. Sri Ningsih benar-benar merasa takut jika harus menghadapi lelaki yang sekarang sudah menjadi suaminya itu. Bahkan, nyalinya yang semula ia bangun untuk bisa melawan kapan saja, sekarang justru menciut. “Kamu ini, liat cowok ganteng gini kok kayak liat genderuwo, sih? Melek dikit kenapa?” ucapnya lagi diselingi tawa terkekeh, karena sikap gadis yang baru tadi pagi dinikahinya itu membuatnya merasa lucu sendiri. Pasalnya, sejak izab qabul dilaksanakan, gadis itu tak henti-henti menangis. Padahal, ia sudah merasa begitu tampan, sehingga pantas untuk menjadi suami siapa saja yang dikehendakinya. Termasuk saat ia memutuskan untuk menikahi seorang gadis kampung yang baru dilihatnya beberapa waktu lalu, saat berkunjung ke rumah salah satu kerabat. Sri Ningsih melangkah mundur sebanyak suaminya melangkah maju, sampai akhirnya ia sampai di samping ranjang. Kaki jenjang nan mulusnya yang tertutup gaun pengantin itu tersandung sehingga Ia seketika jatuh terjengkang ke atas ranjang. Membuat suaminya memekik dan segera menghampiri Sri Ningsih untuk membantu. Namun, Sri Ningsih justru balas memekik sambil menyodorkan sebelah tangan ke depan. “Stop! Berhenti kamu di situ. Nggak usah maju ataupun menyentuhku!” “Eih?! Aku lho suamimu. Bukan penjahat apalagi musuhmu, bukan? Sini-sini, biar kubantu.” Lelaki bernama Safka itu pun menjulurkan tangannya untuk meraih tangan Sri sambil terkekeh. Namun, Sri Ningsih justru menepis uluran tangan suaminya itu dengan begitu kencang. Ia pun seketika beringsut mundur dan menekuk lututnya di sana, seiring dengan tatapan tajam ke arah Safka. Sri pikir, ia tak boleh lemah hanya karena dirinya seorang wanita. “Astaga! Kuat sekali tepisanmu itu, Sri.” Safka langsung melihat jemarinya yang ditepis Sri kuat-kuat, seraya menarik dan mengepalkannya kuat-kuat di belakang punggung. Sebagai seorang lelaki, ia tak mau harga dirinya jatuh hanya karena marah oleh penolakan seorang gadis. Ia justru ingin membuat Sri tahu, kalau dirinya itu memiliki pesona dan kuasa. “Tapi kok mewekan, ya?” sambungnya sambil terkekeh. Ia pun duduk dan menaikkan kedua kakinya itu di ranjang sebelum kemudian bersila dan menghadap Sri. Tatapannya sama tajam, dan tak mau kalah sama sekali. “Jadi, menurutmu, orang yang lagi sedih itu harus tertawa, gitu? Astaga!” Sri Ningsih pun mengeratkan kedua tangannya yang sedang memeluk lutut, karena takut dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Barangkali, Bima adalah seorang lelaki galak. “Lho ... sedih kenapa, sih? Aku ada salah gitu? Atau—“ “Tak sadar diri rupanya!” Sri mengumpat sambil berdecak. Ia juga berpaling, dengan mengalihkan tatapannya ke arah lain. Tak sudi melihat orang yang menatapnya terus sedari tadi. “Dasar Om-Om!” “Om-Om?” Safka memekik saat istrinya itu mengumpat. Bahkan, sebelah alis berbulu lebatnya seketika terangkat. “Iya! Kenapa? Nggak suka kalau aku manggil Om? Nggak sadar juga kalau sendirinya itu sudah umuran? Dih! Sana ngaca. Tuh, ada kaca, tuh!” Sri langsung menunjuk cermin, meski tangannya itu masih gemetar. “Ngeledek! Aku suamimu, Sri. Kualat kamu.” Safka pun beringsut maju dan meraih sebelah tangan istrinya itu sambil menahan geram. Ia merasa tak boleh kesal hanya gara-gara Sri menghinanya. “Panggil aku Aa. Mau, ya?” bujuknya seketika dengan suara lembut. Sri yang tak sadar kalau Safka mendekat pun seketika berlonjak kaget. Ia bahkan menjerit dan menangkup wajahnya kuat-kuat sambil berucap, “Mundur, ih. Mau ngapain, sih?” “Ok-ok! Aku mundur, nih. Tapi kamu harus dengerin aku, ya. Biar apa? Biar kamu itu nggak kagetan kalau disentuh.” “Ogah!” “Jangan gitu, dong. Aku itu nggak punya niat buruk lho sama kamu. Malah baik karena nggak mau liat kamu diperbudak oleh orang-orang yang jahat.” Safka berucap penuh kehati-hatian agar wanita di hadapannya itu mau mendengarkan, meski dengan hati kesal. “Diperbudak kamu bilang? Hah! Yang ada, justru kamu yang sudah memaksa untuk membeliku bukan? Bapakku memang punya hutang. Makanya, dia mau menikahkan aku dengan Om-Om sepertimu.” Tatapan Sri pun kembali tajam dan mengarah kepada Safka, meski hanya sekilas karena ia kembali buru-buru memalingkan wajah cantiknya itu. Mendengar tukasan Sri, Safka langsung tertawa keras sampai berair ujung matanya. Ia benar-benar merasa lucu, karena ternyata, gadis di hadapannya itu tak tahu kalau ayahnya adalah seorang pemuja perjudian. Parahnya, tiap kali ayahnya itu kalah di meja judi, meminjam uang adalah jalan keluar dengan menggunakan Sri sebagai jaminan. “Ada saatnya nanti kamu tau, Sri. Tapi sekarang, kamu nggak bisa ngelak kalau aku ini suamimu. Paham?” “Tapi aku nggak mau! Kamu itu sudah tua, eh maaf ... maksudku sudah berumur. Sedangkan aku, idung aja masih suka ingusan.” Sri bersungut mundur. “Masih ngompol juga? Nggak apa-apa. Di warung masih banyak diaper, kok.” Safka langsung menahan tawa, dengan merapatkan kedua bibirnya kuat-kuat. Sementara pandangannya beralih ke arah lain barang sebentar. “Dih?” Sri melotot. Bibirnya bahkan memoncong. “Apa? Nggak suka kamu, aku ledekin? Jangan ngeledek makanya. Pake segala bilang aku tua. Belum juga tiga puluh.” Safka langsung menyengir sambil menggaruk kening. Ia lupa, kalau sebentar lagi adalah ulang tahunnya. “Iya! Dua sembilan kurang sebulan, kan?” Sri kian melotot. Ia bahkan memelak pinggang sekarang. “Dah berumur pun!” sambungnya. Puas, karena sudah berhasil meledek suaminya itu. “Iya! Ok! Aku ngaku kalau aku emang udah tua. Tapi, ya, sudah, sih. Jangan nangis terus. Kita udah terlanjur jadi suami istri sekarang. Mau gimana lagi? Yang penting, aku punya banyak uang untuk membuatmu lebih bahagia dari sebelumnya, kan?” Safka kembali merasa percaya diri dengan uang yang dimilikinya. Selama ini, apa yang dia inginkan kerap tercapai dengan mudah. Hanya wanita yang agak susah dicari, karena ia tak mau sembarang memilih orang yang akan menjadi pendamping dalam hidupnya nanti. Tapi Sri, ia tiba-tiba saja merasa cocok setelah melihatnya sekali saja. Padahal, jika dilihat dari segi penampilan, Sri jauh di bawah wanita-wanita yang selama ini ada di sekelilingnya. Sri selalu memakai pakaian sederhana dan tanpa make up. Sedangkan wanita lain, justru kerap menampilkan sebagian tubuhnya dengan sengaja saat menggoda. Seperti Dian Ahmad contohnya. Gadis itu selalu tampil seksi tiap kali menemuinya. “Bahagia bagaimana? Cinta juga nggak!” Tatapan Sri beralih lagi. “Cinta itu datangnya dari mata, terus turun ke hati. Jadi, ayo tatap mataku lebih lama. Yakin nggak bakal nyesel, kok. Ganteng gini,” timpalnya, lagi-lagi sambil menahan tawa. Tingkat kepercayadirian Safka memuncak tiap kali ia membahas ketampanannya sendiri. “Gosah aneh-aneh, deh. Sana, ah! Pergi dari sini kamu. Aku mau istirahat. Ngantuk!” sungutnya. Sri pun langsung menyusupkan wajahnya itu di antara kedua lutut yang ia tekuk. “Lho, ini kamarku, Sri. Dan jadi kamar kita sekarang. Mana bisa aku pergi?!” Lelaki beralis lebat itu tak terima. “Ya, sudah. Kalau gitu biar aku aja yang pergi. Di rumah ini ada berapa kamar? Banyak, kan?” Sri mendongak lagi. “Ya, memang banyak. Tapi, nggak bisa gitu kalau kita tidur di sini aja? Kita ini suami istri lho. Sudah berapa kali aku bilang? Kenapa kamu masih belum mengerti juga? Padahal, aku sudah berusaha bersikap baik dari tadi.” “Nggak nyuruh pun!” “Tuhan ... tolong berikan aku kesabaran lebih untuk menghadapi gadis cerewet di hadapkanku ini.” Safka pun mendongak saking kesal karena sedari tadi harus mendengar ocehan-ocehan Sri. Ia juga menyapu wajahnya itu dengan kasar, sebelum kemudian kembali memaksa senyum. “Namaku Sri, ya. Jangan panggil aku gadis cerewet!” Kedua tangan Sri langsung melipat di d**a. Ia juga menurunkan kedua lututnya sehingga duduk bersila. Bahkan, setelah dapat melewati rasa gugupnya, Sri menjadi sedikit lebih berani. “Baiklah, Sri yang cantiknya ngalah-ngalahin bidadari, kamu mau apa selain kita pisah kamar? Aku pasti bisa kok mengabulkan semuanya. Percaya, deh. Atau, kamu mau lihat seberapa banyak uangku dulu? Yuk, yuk biar aku tunjukkin. Sekalian liat-liat rumahku yang mewah ini juga, Sri.” “Wah ... selain sudah berumur, Om ini sombong juga ternyata. Prok-prok!” Sri langsung bertepuk tangan sambil tersenyum sinis. Namun, tatap matanya sama sekali tak membalas tatapan Safka. “Ya, mau gimana lagi? Kenyataannya emang begitu, kok. Ayo bilang. Mau apa kamu selain pisah kamar?” Sebelah alisnya Safka gerakkan sambil tercengir-cengir. “Aku cuma mau pisah kamar, Om. Titik! Nggak pake koma, tanda tanya, atau pun tanda seru.” Sri bersikeras dengan keinginannya agar dikabulkan. Ia benar-benar tak sudi jika harus tidur sekamar dengan seorang lelaki tua. “Pelit banget, sih? Katanya kaya, banyak duit, rumahnya mewah. Mana? Aku minta satu kamar pun nggak dikasih.” “Bukannya gitu, Sri. Tapi—“ “Tapi apa? Emang dasarnya aja pelit! Iya, kan? Mengaku saja kamu. Hih!" umpatnya, kesal bercampur takut. Tapi, ia ingin memiliki setidaknya keberanian untuk melawan. “Ok-ok! Aku bakal kabulin permintaan kamu, tapi ada syaratnya.” Safka menyengir lebar sambil menggaruk tengkuk. Jiwa julidnya seketika muncul demi untuk menggoda Sri. “Syarat apaan? Gosah aneh-aneh, deh!” Sri merutuk. Ia tahu gelagat lelaki tidak baik. “Cium doang. Mau, ya?” “Cium? Eh, apa?”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.3K
bc

TERNODA

read
201.3K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook