1. Petaka
"Cepat dandan, Darling. Kau cantik sekali malam ini. Senyum! Pelangganmu sudah menunggu." Suara Margaret terdengar dingin.
Tangannya mendorong punggung Melati dengan kasar, hingga membuat gadis itu sedikit terhuyung. Gaun tipis yang berkilauan menempel ketat di tubuhnya, membuat setiap langkah terasa seperti disorot oleh ratusan mata. Musik bass dari ruang utama berdentum, bercampur bau alkohol, parfum, dan asap rokok.
Melati menelan ludah. Bibirnya terpaksa melengkung, senyum palsu yang bahkan membuat pipinya kaku. Ia berjalan perlahan, melewati tatapan para mata yang menyapu tubuhnya seperti pisau yang tajam. Siulan dan tawa rendah terdengar, tetapi tak seorang pun berani menyentuh. Bukan karena menghormati, tapi karena Margaret berdiri tak jauh, menatap tajam seperti induk serigala.
'Bagaimana aku bisa sampai di sini?" batin Melati menjerit.
Seumur hidup, ia tak pernah membayangkan akan berdiri di tempat seperti ini, dan menjadi tontonan dari banyaknya p****************g.
Kalau saja hari itu dia tidak ikut tamu yang tak dikenalnya, hidupnya tidak akan tragis seperti ini. Dia sama sekali tidak menduga bahwa dua tamu yang datang adalah orang yang sudah membelinya dari Lastri, istri pamannya di kampung.
Permainan licik bibinya- lah yang telah membawa Melati sampai ke tempat terkutuk itu. Dengan sejuta alasan, sang bibi justru menjualnya ke rumah b o r d i l demi segepok uang.
"Isabel!" Margaret menepuk bahunya kencang saat menyadari jika kini Melati tidak fokus pada apa yang ada di depannya.
"I-iya," sahut Melati terbata.
"Jangan melamun!" gumam Margaret di samping telinga Melati.
Tak lama setelahnya, ia menoleh dan melempar senyum pada seorang pria tua yang ada di depannya.
"Hello, Mr. Fernando. She is Isabel."
Seorang bule berjas rapi menoleh. Senyumannya tipis, tapi matanya liar.
"Nice to meet you, Isabel," katanya lembut, tangannya langsung menyentuh pipi Melati.
Refleks, Melati menepis dan melangkah mundur.
Fernando terdiam sepersekian detik, sebelum akhirnya tertawa pelan.
"Oh, Isabel ... aku suka sama yang malu-malu begini. Pura-pura jual mahal … menyenangkan."
Kemudian ia menoleh pada Margaret. "Bonus lima puluh persen untukmu."
Margaret tersenyum lebar. "Oh, thank you. Hati-hati, ya. Dia masih original."
Fernando mendekat, suaranya merendah.
"Original? Gadis desa? Artinya, banyak yang harus kuajarkan malam ini." Ia menatap Melati dari ujung kepala sampai kaki.
Senyumannya melebar saat kembali berbicara pada Margaret. "Kalau aku tahu kau punya ‘barang’ begini, Margaret, aku tak akan pulang ke Amerika. Kenapa baru sekarang kau kenalkan padaku?"
Margaret hanya tersenyum licik. "Malam ini, dia sepenuhnya milikmu. Nikmatilah!"
Setelahnya, ia berbisik di telinga Melati, "Dengar, dia suka padamu, dekati. Jangan sampai lepas, ini peluang emas, mengerti?"
Melati hanya mengangguk, meski senyumnya kecut.
Fernando menarik pinggangnya, mendekatkan tubuh mereka … ketika suara gaduh meledak di ruangan sebelah. Pintu terhempas. Seorang pria muda dengan langkah sempoyongan dan bau alkohol menusuk tiba-tiba meraih tangan Melati.
"Sandra … rupanya kau di sini."
Napasnya berat. Matanya merah. Cengkeramannya menggenggam lengan Melati dengan begitu kuat.
Melati terkejut, takut. Fernando mendesis marah.
"Siapa dia? Berani-beraninya mengacau? Singkirkan!"
Margaret mengangkat tangan, berusaha menenangkan.
"Tenang, Mr. Fernando. Aku akan urus dia—."
"Tidak!" teriak pria itu. "Aku mau perempuan ini!"
Tinju Fernando melayang, menghantam wajahnya. Perkelahian pun pecah, meja terbalik, botol pecah, orang-orang berteriak.
"Aku bayar berapa pun! Sepuluh kali lipat harga p e l a c u r ini!" Pria itu meraung dengan sedikit darah menetes dari bibirnya.
Fernando mendengus. "You’re crazy. Dia milikku!"
Namun, lelaki itu hanya merogoh saku, menuliskan sesuatu di kertas, dan menyodorkannya. "Kau tidak tahu siapa aku. Ambil ini dan biarkan dia pergi."
Margaret mendekat, berbisik pada Fernando.
"Biarkan saja. Aku tahu siapa dia … dan kita akan dapat lebih banyak nanti. Percaya padaku."
Fernando menggeram, tapi melepas genggamannya. Margaret memberi isyarat pada pengawal agar tak ikut campur.
Pria itu menggenggam tangan Melati erat.
"Sandra, kau tidak akan meninggalkan aku lagi, 'kan?"
Suara itu membuat Melati kaget dan juga takut karena lelaki berbau alkohol itu tidak mau melepaskannya.
Lelaki itu bernama Rafli Putra Aryanto Wijaya Kusuma, pemilik Mahendra group yang bisnisnya sedang melambung di negara ini bahkan sampai ke luar negara.
Tiba-tiba saja, lelaki tadi muntah dan langsung masuk ke kamar mandi. Melati mengambil kesempatan untuk membuka dompet yang tergeletak di meja. Sialnya hanya ditemukan beberapa kartu kredit saja, tidak ada barang yang bisa menjelaskan identitasnya.
Melati tidak jadi melarikan diri karena tidak mungkin dia pergi tanpa membawa uang sepeser pun dan dengan pakaian seksi seperti itu.
Dia berdiri di tepi jendela memandang ke luar. Betapa indahnya malam di kota metropolitan ini. Air matanya bergulir pelan.
'Bapak, Paman ... tolonglah aku.'
"Sayang."
Melati tersentak ketika seseorang memeluknya dari belakang. Dia mencoba melepaskan, tapi tak berdaya.
Tubuh kekar itu membantingnya ke atas tempat tidur dan tidak memberi ruang untuk dirinya melawan.
Satu gigitan, sesapan juga sentuhan liar membuatnya semakin tersiksa, kotor dan hina apalagi ketika tanpa ampun. Lelaki itu berusaha untuk membuka kedua kakinya. Sampai pada titik perlawanan akhir, Melati membiarkan sesuatu itu mendesak masuk membelah dirinya bersama rasa sakit dan penuh kekecewaan.
Malam yang diguyur hujan deras ini menjadi saksi bisu bahwa hari ini apa yang dijaganya telah hilang, satu-satunya kebanggaan seorang perempuan. 'Aku bukan gadis suci lagi.'
Lelaki itu tertidur pulas setelah lelah mengarungi samudera kenikmatan tanpa menyadari bahwa gadis yang berada di sampingnya menangis sepanjang malam.
Gadis malang yang telah hancur masa depannya, patah semangat hidupnya dan berharap mati adalah jalan terbaik. Tidak ada lagi yang bisa dia banggakan, apa yang telah dimilikinya hilang dan tak akan bisa kembali.
Tiba-tiba saja, terbersit sebuah ide. lya, dia harus berani bersuara dan meminta pertanggungjawaban dari lelaki ini.
Rafli terkejut bukan main saat terbangun dan menyadari tubuhnya hanya berbalut selimut dan lebih terkejut lagi saat mendengar ucapan Melati yang meminta pertanggungjawaban darinya.
Ada beberapa menit, Rafli hanya termangu di tepi ranjang.
'Sial, kenapa aku bisa seteledor ini? Dan sialnya lagi kalau aku sampai menyetujui permintaan pe la cur ini. Huh, enak saja!' Rafli bangun dan langsung membersihkan dirinya, setelah bersiap dia pun menghampiri Melati.
"Aku akan bayar berapa pun yang kamu inginkan, bagaimana?" Rafli mencoba bernegosiasi.
"Saya tidak butuh uang, Tuan."
Rafli langsung tertawa mendengar jawaban dari Melati yang baginya sangat tidak masuk akal. Mana ada pe la cur tidak butuh uang?
"Kau gila, ya? Kau menyuruhku untuk menikahi p*****r sepertimu ini? Tujuh turunan aku bisa kena sial! Oh, atau uang tadi malam kurang banyak? Silakan tulis nominal yang kamu mau, tapi tidak dengan syarat yang kamu ajukan tadi. TIDAK!!!"
"Jahat sekali mulut Anda, Tuan?" Melati memberanikan diri menatap lelaki angkuh ini.
"p*****r sepertimu berapa, sih, mahalnya? 100 atau 500 juta?" Rafli mengeluarkan lembaran cek dan serta merta air mata Melati berderai.
Dia tidak terima dirinya dikatakan 'p*****r'.
"Saya bukan p*****r dan jangan panggil saya dengan sebutan itu!" sahut Melati tegas.
Rafli menggaungkan tawanya sambil melonggarkan dasi.
"Sama halnya dengan maling. Mana ada maling teriak maling, hah? Sudahlah, aku tidak ada waktu lagi. Kamu butuh uang berapa? Akan aku berikan sekarang."
Kali ini suara Rafli agak melengking, tapi sedikit pun tidak menciutkan nyali Melati. Dia tetap bertekad harus mendapatkan tanggung jawab itu. HARUS!!!
"Saya tidak butuh uang Anda, Tuan. Saya hanya minta pertanggungjawaban Anda untuk menikahi saya dan keluarkan saya dari tempat ini."
Rafli menatap tajam dan telinganya berdenging saat mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Melati.
"Aku tidak bisa. Permintaanmu sangat tidak masuk akal."
"Kalau tidak .... "
Rafli menahan gerahamnya. Gadis ini sangat keras kepala dan sudah berani mengancamnya. Memangnya dia siapa?
Pelacur memang selalu banyak jebakan.
"Kalau tidak, kenapa?" Rafli balik bertanya dan sudah mengepalkan tangannya. Mendekat.