Kasih Tak Sampai

1100 Kata

Melati menoleh sebentar ke arah Iqbal, lalu mengikuti langkah Rafli dengan patuh. Tinggal Iqbal seorang diri di depan pintu masuk. Ia mengembuskan napas pelan, menatap punggung Rafli dan Melati yang makin jauh. Setelah itu, ia melangkah ke arah koridor kanan, menuju ruangan dokter spesialis. Lorong rumah sakit siang itu terasa sepi. Hanya suara langkah perawat dan denting alat monitor jantung yang terdengar samar dari ruangan-ruangan pasien. Iqbal melangkah pelan, dadanya berdebar. Baru saja ia berpapasan dengan Rafli dan Melati di depan pintu masuk. Senyum Melati yang pucat masih melekat di benaknya, begitu pula tatapan tajam Rafli yang penuh kewaspadaan. Ia berhenti di depan pintu dengan papan nama bertuliskan: dr. Edward, SpOG. Menarik napas dalam, ia mengetuk dua kali. “Masuk,” sa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN