"Hi, Dim."
"Hi, Nad."
Adimas dan Nadin, tak sengaja berpapasan di area parkiran. Mereka pun beriringan keluar dari area parkir menuju kantor.
"Lo udah lihat berita kantor, Dim?" tanya Nadin, dia melirik Adimas disampingnya.
"Soal gue sama Anye?" tanya Adimas balik.
"Iyalah. Emangnya selain berita kalian, ada lagi? Gak ada!" jawab Nadin, dia terkekeh pelan.
Adimas mengangguk. "Udah."
"Terus?"
Adimas mengernyitkan alisnya, "Terus apa?"
"Ya, respon lo lah, Dim. Secara nih, ya, lo tuh banyak penggemar ceweknya di kantor. Ciwi-ciwi disini tuh pada mengincar lo tahu, sejak awal lo datang kesini. Dan sekarang tiba-tiba tersebar berita kalau lo tuh lagi dekat sama Anye, kan jadinya pada ngilang tuh ciwi-ciwi yang mengincar lo." jelas Nadin.
"Oh, ya, syukur."
Sekarang Nadin yang mengernyitkan dahinya.
Adimas menaikkan kedua alisnya, dia mengangguk. "Ya, syukur, Nad, jadinya mereka gak terlalu berharap apapun sama gue. Jadinya, tanpa gue minta menjauh pun, mereka jauh sendiri kan."
"Terus, lo terima gitu dideketin, di comblangin sama Anye? Lo gak masalah?"
"Enggak, toh gak ada yang perlu dipermasalahkan kalau dekat sama Anye."
Nadin mengulum senyumnya, dia ingin tersenyum lebar sebenarnya. "Jadi, kalau beneran juga gakpapa, Dim?" tanya Nadin, dia sedikit memancing.
"Gak papa selama Anye nya juga single." Adimas menoleh pada Nadin, "Dia single kan, Nad?" tanya Adimas.
Nadin mengangguk cepat, "Iya, Dim. Single. Anye single kok! Udah, lo pepet aja. Cocok kok dia, bisa jadi istri yang baik, bisa jadi ibu juga buat anak lo. Beuh, perfect pokoknya Anye tuh. Dia juga—"
Segala pujian Nadin lontarkan pada Adimas tentang Anye, dia berharap jika karena hal tersebut bisa semakin menyakinkan Adimas tentang sosok Anye.
***
"Nye,"
Anye mendongak, membelalakkan mata melihat keberadaan Adimas di ruangannya. Sontak saja semua mata kini tertuju pada mereka.
"Bisa bicara sebentar?"
"Tapi, —"
"Ini udah jam istirahat ini, Nye. Gakpapa, udah sana!" ucap Nadin yang menjawab pertanyaan Adimas tersebut.
"Iya, Nye. Sana sih, udah dijemput ayang beb juga."
"Dijemput langsung pangerannya itu kesini."
"Effort tahu, Nye dari gedung A kesini tuh."
Tuh, kan! Orang-orang jadi senang menggoda Anye sekarang. Dan kalau Anye tak bergegas pergi juga, akan semakin panjang lebar godaan mereka ini.
"Iya, iya, ayo, Dim!"
Anye beranjak, berlalu pergi bersama Adimas yang mengekorinya. Terdengar gelak tawa dari orang-orang melihat Anye yang dekat dengan pria karena sejauh yang mereka kenal, Anye ini jarang banget dekat apalagi terlibat dengan pria kalau bukan urusan pekerjaan. Dan, mengingat berita yang tersebar kemarin sepertinya memang benar ada hubungan khusus diantara mereka. Dan, sepertinya kedatangan Adimas menemui Anye kali ini bukan hanya sekedar membahas tentang pekerjaan, namun lebih.
"Kenapa, Dim?"
"Makan siang bareng, ayo!"
Anye terkejut mendengarnya. Ini bukan pertanyaan atau lagi hanya sekedar ajakan, namun terdengar seperti perintah.
"Dim, kita—"
"Hallo, ibu Anye!"
Anye lebih terkejut lagi saat tiba-tiba mendengar suara Anya, ternyata sejak tadi Adimas melakukan panggilan video dengan putri kecilnya dan sepertinya alasan itu pula yang membuat Adimas mengajak Anye untuk lunch bersama.
"Aku sama nenek udah nunggu disini, ya. Kita juga udah pesenin makanan buat ibu Anye. Pasti suka." ucap Anya dibalik layar. "Ibu Anye datang kan?"
Anye tak langsung menjawab, namun menatap Adimas yang juga menatapnya. Ingin menolak, namun melihat ekspresi yang begitu mengharapkan dari Anya membuat dirinya tak mungkin mengatakan tidak.
"Iya, ibu Anye datang kesitu."
"Sama ayah kan?"
"Iya."
"Hore!! Aku tungguin, ya. Cepetan datangnya, aku sama nenek udah lapar."
Anye tersenyum simpul, dia mengangguk sebelum kemudian panggilan tersebut terputus.
"Dim?"
Adimas menggeleng, dia mengedikkan bahunya. "Gak tahu, tiba-tiba mama ngabarin kalau udah di resto, sama Anya." jawab Adimas, dia tak tahu menahun tentang hal ini.
Anye terdiam.
"Gakpapa, kan, Nye?"
"Ya, mau gimana lagi? Udah ngeiyain tadi. Gue gak mau bikin Anya kecewa."
"Makasih, ya, Nye."
***
"Iya, ibu Anye. Kata ayah ibu Anye pasti suka sama makanan ini. Jadinya, di pesenin ini deh."
Anye seharusnya tak mengambil pusing ataupun kegeeran saat tahu jika Adimas masih juga mengingat makanan kesukaannya.
"Anya mau coba?" tanya Anye yang langsung mendapat gelengan dari bu Martha. Iya, kan tadi Anya bilang sendiri jika dirinya menunggu di resto bersama neneknya.
"Anya itu ada alergi sama kacang-kacangan, jadinya gak bisa makan itu, Nye."
Anye berohria, dia mengangguk-angguk.
"Padahal Anya mau ibu, tapi gak boleh soalnya nanti gatel-gatel terus kata nenek bisa sesak napasnya. Iya, kan, nek, yah? Sama kayak ibu? Ibu Kanaya."
"Iya, Anya ini bukan cuma wajahnya aja yang mirip ibunya, tapi semua hal di diri Anya mirip ibu Kayana. Bahkan, sampai alergi pun miripnya sama Ibu Kanaya."
Anye merasa ada yang aneh, namun dia coba mengenyahkan itu semua karena bukan haknya merasakan perasaan tersebut.
"Cobain sedikit emangnya gak boleh? Kelihatannya kayak enak tahu..." ucap Anya, dia nampak tergoda dengan makanan yang tengah dinikmati Anye.
Anye tersenyum simpul, dia mengusap lembut puncak kepala Anya. "Gak boleh, ya, Nya. Nanti kambuh alerginya walaupun cuma cobain sedikit. Lagian, tuh makanan Anya kelihatannya juga enak kok."
"Tuh, Anya, dengerin tantenya. Nanti alergi kamu kambuh lagi."
"Ibu Anye, nek. Bukan tante."
Anye hanya bisa tersenyum kikuk, lain halnya dengan Adimas yang menunduk malu dan bu Martha yang tersenyum lebar. Mereka pun menikmati bersama makan siang ini.
***
"Makasih, ya, Nye udah buat Anya senang."
Anye dan Adimas beriringan meninggal restoran setelah Anya dan bu Martha pulang, makan siang mereka terselesaikan dengan singkat sebab Anye dan Adimas harus kembali bekerja dan mereka berjalan kaki bersama untuk kembali ke kantor.
"Gue lah yang makasih, udah ditraktir makan siangnya." balas Anye, dia melirik sekilas Adimas disampingnya. Dia tak mau menatap Adimas terlalu lama, terlalu bahaya untuk hatinya sebab Adimas terlihat semakin tampan rupawan wajahnya ketika terkena sinar matahari.
"Makan siang tadi mah gak seberapa, daripada waktu lo yang berharga."
"Bisa aja."
"Lo pake magnet apa sih, Nye?"
Anye mengerutkan keningnya, "Maksudnya?"
"Perasaan dari dulu sampai sekarang, anak kecil tuh lengket banget sama lo. Kayaknya gak ada deh satu anak kecil manapun yang gak lengket sama lo, pasti langsung pengen dekat-dekat lo terus."
Anye mencibir, Adimas memujinya. "Bikin anak kecil lengket sama gue emang gampang, tapi bikin yang versi dewasanya lengket sama gue, mustahil, susahnya minta ampun."
"Kata siapa?"
"Emang gitu kenyataannya."
Mereka tinggal menyebrang, kantor sudah ada didepan.
"Ini gue lengket sama lo."
Jawaban yang dilontarkan Adimas benar-benar tak disangka-sangka membuat Anye salah tingkah sendiri.
Anye merasa pipinya memanas, sudah pasti rona merah tercipta di sana. "A-apaan sih, Dim. Gaje lo!" tukas Anye salting.
Akibat salah tingkahnya ini membuatnya jadi grasak-grusuk, hendak menyebrang jalan begitu saja tanpa melihat kiri kanan dan tak sadar jika ada kendaraan roda dua yang melaju kencang. Beruntungnya Adimas dengan cepat menarik lengannya, membuatnya terselamatkan dari insiden menakutkan tersebut.
Dan, beruntung nya lagi Anye kini bisa berasa dalam dekapan Adimas. Khayalan nya yang kini jadi nyata, meskipun sudah bertahun-tahun lamanya.