Episode 5

1567 Kata
"Anye... OMG hellow!" Anya harus menutup matanya mendengar pekikan Nadin yang selalu berhasil memancing setiap mata untuk menatap mereka. Tak ayal, disitu ada Nadin, maka akan ada pusat perhatian. Anye memjamkan matanya, "Nad... Bisa, gak sih, gak usah pakai teriak-teriak segala?" tanya Anye jengah, dia menggeleng heran. "Masih pagi juga." Nadin terkekeh, "Gak bisa!" Nadin menarik kursi dekat Anye dan langsung menggenggam erat kedua tangan Anye. Dia juga menatap lekat perempuan itu, "Masalahnya gue ada kabar bahagia, Nye." ucap Nadin antusias. "Apa?" "Tebak!" "Malas." "Please..." Anye malas, dia tak suka hal-hal seperti itu. Namun, cincin yang melekat di jari manis Nadin berhasil menciptakan senyuman lebar di bibir Anye. Dia ternganga, tak percaya sekaligus juga bahagia. Anye jadi tahu kenapa Nadin terlihat begitu bahagia. Mengerti dan senang dengan respon Anye membuat Nadin ikut tersenyum lebar, dia mengangguk-angguk seakan mengiyakan pemikiran yang terlintas dibenak Anye. Dia menggerak-gerakan naik turun tangan Anye yang dia genggam. "Ya Allah... Selamat, ya, Nad. Ya ampun, senang banget lihatnya." Anye tak bohong saat dia menunjukkan ekspresi bahagia nya sebab dia memang benar-benar bahagia dengan kabar gembira yang tengah menyelimuti Nadin. Dia bahkan kini memeluk erat Nadin yang dibalas tak kalah erat pula. Pelukan mereka pun bergoyang-goyang, ke kanan, ke kiri. "Ya ampun, Nye. Sumpah, ya, gue sampai gemetaran tahu, bahkan sampai sekarang pun masih gemetaran, masih gak nyangka. Gue tahu kalau Ilham itu emang serius sejak awal, gue juga tahu kalau Ilham pasti bakalan lamar gue, kita juga udah tunangan buat, ... komitmen lah. Kalau Ilham itu punya gue dan gue punya ilham." Nadin tersenyum lebar. "Tapi, gue benar-benar gak pernah berekspektasi kalau Ilham bakalan melamar gue secepat ini, Nye." Nadin benar-benar antusias menceritakan kejadian semalam yang diluar nalarnya. "Gue kan berekspektasi nya kalau dia bakalan lamar gue di tempat romantis, ditempat nanti pas malam minggu kita ketemuan. Eh, ternyata, doi lamar gue pas kita lagi makan pecel lele. Oh my God, gak nyangka. Dan, fun fact nya adalah ternyata malam minggu nanti itu pas kita ketemuan, itu bukan cuma gue sama Ilman doang, tapi sama keluarga kita. Ya ampun... Dia udah prepare semuanya ternyata..." Anye tersenyum lebar, dia sama-sama antusias dan senang mendengar nya. Dia juga bisa merasakan bahagia seperti apa yang dirasakan Nadin saat ini. "Eh, kok malah nangis sih?" tanya Anye bingung saat tiba-tiba mata Nadin memerah dan tergenang air mata di sana. "Gue juga mau lo rasain apa yang gue rasain, Nye. Gue mau lo juga ada diposisi gue." "Gue juga bahagia, Nad lihat lo bahagia kayak gini." balas Anye. "Tapi, gue tuh maunya lo juga ada diposisi kayak gue ini, Nye. Gue mau lihat lo dilamar, cerita sesenang kayak gue ini." Nadin meneteskan air matanya, sebab dia tahu bagaimana kisah cinta Anye sampai-sampai membuat perempuan itu seperti sekarang, tak lagi percaya cinta. Anye tersenyum haru mendengarnya. "Apa sih, Nad? Gue juga bisa ngerasain kok apa yang lo rasain ini. Gue—" Nadin langsung memeluk Anye, "Semoga lo cepat-cepat dipertemukan sama jodoh lo, Nye." Dan, seperti nya Anye memang harus mengikuti saran kakaknya semalam. *** "Teteh senang tahu kalau kamu mau terima tawaran ini. Jadi, secepatnya teteh bakalan kabarin kamu, ya kapan ketemunya." Anye hanya mengangguk saja, pada akhirnya dia kalah juga karena mau tak mau dia mengiyakan juga tawaran yang sudah sering dia tolak berkali-kali. "Teteh emangnya dapat info dari mana sih? Kok tahu-tahunya ada orang-tua yang mau jodohin anaknya sama aku." Anye memicingkan matanya, "Teteh gak promosiin aku kan? Tck, teh, kelihatannya aku gak laku banget sih." keluh Anye, dia mengerucutkan bibirnya. Teh Syilla terkekeh, "Ya ampun, Nye. Gakpapa juga kali, lagian namanya juga usaha kan. Lagian, teteh yakin kok kalau yang mau dijodohin sama kamu ini, anaknya baik." "Tahu darimana? Kalau ternyata dia nyakitin, gimana?" "Nauzubillah! Gak akan, insyaAllah. Toh, teteh juga tahu keluarganya, keluarga baik-baik, Nye. Dia langganan teteh di toko, sering banget pesan kue buat acara-acara gitu, seringnya sih buat acara amal gitu." Jujur, Anye kali ini cukup tertarik setelah mendengar sedikit latar belakang dari keluarga laki-laki yang akan dikenalkan kepadanya. Teh Syilla menggapai tangan Anye, menggenggamnya erat kemudian dia tepuk-tepuk pelan punggung tangannya itu. "Kamu itu udah seperti adik kandung teteh sendiri, bukan sekedar ipar lagi. Jadi, gak mungkin dong kalau teteh sembarangan nyari laki-laki untuk kamu, apalagi ini untuk jadi suami, gak akan sembarangan. Dan, InsyaAllah, pilihan teteh ini cocok sama kamu." ucap teh Syilla, dia tersenyum tulus pada Anye. Anye ikut tersenyum, dia langsung menarik tangannya perlahan dan memeluk teh Syilla. "Makasih, ya, teh udah baik sama aku. Kalau gak ada teteh, gak tahu aku gimana ini. Teteh udah kayak ibu buat aku dan aku yakin kalau teteh gak mungkin ada niat buruk untuk aku." Teh Syilla tersenyum haru, dia membalas pelukan Anye. "Bismillah, ya, teh, semoga aku dan laki-laki itu nantinya akan saling menerima. Dan, semoga ini memang pilihan terbaik yang Allah kasih. Maaf juga, ya, teh kemarin sempat ngambek. Kesal doang itu." Suasana haru langsung pecah seketika. Teh Syilla terkekeh, "Awas, ya kamu ngambek-ngambek kayak kemarin. Udah umur juga. Kayak anak kecil aja." "Iya, iya, maaf ya teteh ku, yang cantik." "Bisa aja." *** "Kamu cantik banget, Nye." Anye tersipu mendengar pujian yang diberikan teh Syilla padanya, dia tersenyum tipis sambil melihat penampilannya lewat pantulan cermin di hadapannya. Ini kali keduanya dia berdandan se-niat ini. Sebenarnya tampilannya biasa saja, midi dress light blue color dengan make-up tipis serta rambut yang dibiarkan terurai, tak lupa handbag berwarna beige. Sederhana, namun benar-benar membuat Anye terlihat mempesona. "Biasa aja, ah, teh." Teh Syilla tersenyum lebar, dia meraih pundak Anye dan merangkulnya kemudian menjatuhkan dagunya di pundak adiknya itu. Dia menatap pantulan mereka di cermin. "Nanti kalian ketemu, terus kamu boleh tanya-tanya apapun, Nye. Dan, setelahnya itu terserah kamu. Apa mau dilanjut atau udah stop dipertemuan pertama ini." Anye mengangguk. "Tapi, teteh harap sih, kamu lanjut, ya. Jadi, tolong pertimbangkan baik-baik keputusannya. Untuk kebaikan kamu juga." "Iya, teh. Makasih, ya." ucap Anye, dia mengusap lembut tangan teh Syilla di pundaknya. "Yaudah, gih berangkat. Jangan sampai telat. First impression is the number one!" "Iya, yaudah deh. Aku berangkat, ya." ucap Anye sambil menyalami teh Syilla. Dia memang berangkat dari rumah kakaknya dan akan diantar dengan supir pribadi. Sampai akhirnya Anye sampai di sebuah restoran, tempat dimana dirinya—lebih tepatnya kakaknya yang sudah mengatur janji dengan pria yang akan dijodohkan dengannya. Dia dituntun masuk ke sebuah ruangan dimana ruangan tersebut sudah di reservasi atas nama kakaknya. "Makasih, mbak." ucap Anye saat minuman langsung disajikan begitu dia duduk. Ini hanya pertemuan biasa, hanya pertemuan untuk mengenal secara singkat yang kemudian nantinya akan jadi keputusan apakah harus berlanjut atau berakhir sampai disini saja. Namun, entah kenapa Anye merasakan grogi, tiba-tiba jantungnya berdetak tak karuan. "Efek gak pernah ketemu cowok ini mah. Sekalinya mau ketemu, malah deg-degan minta ampun." ucap Anye pada dirinya sendiri. Dia memang jarang bertemu laki-laki, berdekatan pun tidak. Paling hanya satu dua orang laki-laki yang dekat dengannya, itupun di area kantor dimana laki-laki tersebut posisinya sebagai atasannya. Selebihnya, tidak. "Tenang, Anye, tenang. Sampai keringetan gini, malu lah." Anye mengambil tisu dari tasnya, mengelap keringat yang tiba-tiba jatuh di pelipisnya. Padahal dia berada di ruangan ber-Ac, namun akibat grogi dia jadi keringetan. "Permisi." Rasanya jantung Anye berhenti seketika saat mendengar pintu yang terbuka, ditambah ada suara yang masuk ke telinganya, suara yang begitu dia hafal siapa pemiliknya. Dengan cepat Anye menoleh dan bola matanya semakin membulat sempurna. Keterkejutan bukan hanya Anye yang rasakan, namun laki-laki yang bersangkutan juga demikian. "Anye?" "Dimas?" Flashback On~ Anye yang sudah bukan lagi anak SMA, tengah menatap intens laptop dihadapannya. Kehidupan setelah masa SMA memang adalah kehidupan yang nyata, kerasnya kehidupan benar-benar terasa. Dipaksa harus tumbuh dewasa oleh keadaan membuatnya tak terlalu kaget dengan kehidupan orang dewasa. "Jangan lupa, ya, Nye. Jam 5 udah selesai." Bekerja di perusahaan dengan status anak magang yang masih tengah melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan, ditekan oleh para senior perusahaan dan tuntutan pekerjaan, kehidupan dewasa memanglah melelahkan. Namun, hal tersebut tak sebanding dengan rasa bahagia saat bisa berbagi atas usaha sendiri. Tapi, ada satu hal lagi yang menjadi alasan sekaligus vitamin untuk menjalankan kehidupan orang dewasa ini, yaitu seseorang. Memang bukan pacar, namun orang spesial. Meskipun orang spesial itu berada di kota yang berbeda. Tapi, namanya orang spesial, ya, tetap spesial kan meskipun jarak memisahkan mereka. Ponsel Anye berdering membuatnya dengan cepat mengangkat panggilan tersebut, "Hallo, Mas." "Hallo, Nye. Sibuk, gak?" "Enggak kok. Kenapa, Mas?" "Gue mau kasih tahu lo sesuatu." Anye tersenyum, dia senang saat dirinya selalu menjadi orang yang diberitahukan segala sesuatunya dari orang ini. Dia merasa dianggap, merasa keberadaan berarti, sebab dia selalu jadi orang pertama yang tahu tentang orang ini. "Apa?" "Gue sih yakin, lo juga bakalan senang dengarnya." "Apa sih, Mas?" "Siap-siap, ya..." "Iya... Buruan sih, keburu ada atasan nih." "Gue jadian sama Kanaya." Deg. Seketika panggilan di putusnya begitu saja. *** "Lo udah dapat, Nye?" Anye mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Nadin, "Dapat apa? Datang bulan?" "Bukan itu, Nye." "Terus?" "Ini." Nadin menunjukkan apa yang dia maksudkan dan respon yang ditunjukkan Anye sesuai prediksinya. "Nye," Anye tak berekspresi, namun matanya tak bisa berbohong jika ada rasa sakit yang dia rasakan. Senyuman yang ditunjukkan Anye pun terlihat jelas jika itu senyuman palsu. "Nye?" "Selamat deh, semoga mereka berbahagia." *** The Wedding of Adimas Rahardja Putra pertama Bapak Rudi Rahardja dan Ibu Martha Putri Rahardja & Kanaya Sukmawati Nasution Putri Pertama Bapak Danta Nasution dan Ibu Mutie Sukmawati Nasution *** Flashback Off~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN