"Gimana ayah, enak kan makanannya?" Adimas langsung membelalakkan matanya, benar-benar menikmati makanan yang disajikan Anye. Dia menatap Anye, tersenyum pada perempuan itu yang menatapnya dengan senyuman juga. Kemudian, dia menatap Anya, putrinya, lalu mengangguk. "Enak banget, pintar banget sih ini yang masak." puji Adimas, dia tak bohong. Rasanya memang benar-benar enak. Anye memang tak pernah gagal jika menghidangkan makanan apapun. Anya tertawa, kemudian menoleh pada Anye disampingnya. "Ibu Anye yang kasih bumbunya ayah, tadi bantuin Aya kayak gitu." jawab Anya, dia benar-benar antusias. Bahkan, ketika jam tidurnya sudah lewat pun, rasa kantuk belum menyerangnya. "Tapi, itu kentangnya Anya yang hancurin, dia juga yang ngebentuknya. Wortel nya juga, Anya yang potong-potong." ta

