Sore itu, Athaya dan beberapa rekan kerjanya di Teater Artes berkumpul di ruang sekretariat Teater Artes. Sesuai rencana, mereka akan membahas terkait lanjutan dan keputusan dari casting kemarin.
"Kita buat kesepakatan aja, yang belum dateng casting kemarin dikasih kesempatan susulan atau enggak." Airin bersuara perihal rencana untuk menindaklanjuti casting. Airin bicara begitu karena memang ada beberapa orang yang belum mengikuti casting kemarin.
"Yang anak-anak di daftar kelompok gue sih udah semua. Ya, kan, Tha?" Pia menyenggol Athaya.
Athaya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Kini ia beralih mengedarkan pandangan ke anggotanya dan bertanya, "Jadi di kelompok berapa yang ada anak-anak belum casting?"
"Di kelompok tiga, cowok-cowok semua isinya. Rada susah diatur. Kemarin ada yang kesorean makanya nggak sempat kami casting. Terus ada juga yang nggak dateng. Si kembar itu izin katanya mendadak harus pergi ke luar kota." Sekar yang kali ini berbicara.
Athaya tampak menimbang-nimbang. Ia lantas balik bertanya pada Sekar, "Lo udah nawarin mereka soal casting susulan?"
Sekar menggelengkan kepala. "Belum," jawabnya.
"Coba lo tanyain dulu. Kalau memang mereka niat mau ikut, ya kita kasih kesempatan mereka buat casting. Tapi kalau semisal mereka nggak niat, ya kita langsung aja ke pembahasan selanjutnya buat nentuin siapa yang akan mewakili Teater Artes di kompetisi monolog ini," saran Athaya.
Sekar tampak menurut dan gadis itu kini sibuk dengan ponselnya. Butuh waktu beberapa saat hingga pesan-pesan yang Sekar kirim ke beberapa anggota Teater Artes itu mendapat balasan.
"Apa kata mereka?" tanya Pia, terdengar sedikit mencecar Sekar. Mungkin karena memang sifat Pia yang cenderung tidak sabaran, atau mungkin karena mereka terlalu lama membuang waktu hanya untuk mendengar keseriusan dari anggota yang tidak mengikuti casting kemarin.
Sekar menggelengkan kepala. "Kayanya sih, mereka nggak seniat itu buat ikut casting," ujarnya.
Pia tampak menjentikkan jari. “Ya udah lah, kita lanjut aja ke pembahasan siapa yang akan maju jadi aktor monolog ini. Toh, besok-besok juga ada kesempatan lagi, kalau misal mereka mau ikut.”
Athaya terlihat setuju. Tapi ia mengembalikan keputusan ke forum, “Gimana menurut yang lain? Setuju sama Pia?”
“Gasin aja,” timpal Panca. Cowok itu memang santai dan cenderung malas berpikir.
“Boleh deh, yuk.” Kali ini, Airin yang berucap.
Lalu sisanya tampak manggut-manggut, tanda setuju juga. Jadi Athaya pun menggeser bahasan ke masalah selanjutnya, yakni penentuan siapakah aktor yang akan mewakili Teater Artes di kompetisi ini.
“Gimana kalau kalian laporan per kelompok? Siapa yang paling oke menurut kalian di kelompok kalian? Nanti habis itu, baru kita bandingin antar kelompok,” saran Athaya.
Sarah mengangkat tangan dan menimpali, “Boleh kaya gitu. Gue juga sempat mikir gimana caranya kita satuin pendapat, padahal kita nge-casting orang yang berbeda. Kalau kaya gini, bakalan lebih cepet juga.”
“Ya udah, kasih kami waktu buat bahas dulu ya. Gue sama Panca belum ada bahasan apa-apa lagi soalnya. Apalagi sampai milih siapa yang paling oke di antara anak-anak kemarin.” Airin meminta waktu.
“Silakan, gue kasih jeda sepuluh menit, kalian diskusi sama partner kalian kemarin.” Athaya memberikan kesempatan kepada teman-temannya untuk berdiskusi. Begitu pun dengan dirinya. Ia tampak langsung bicara berdua dengan Pia.
Satu per satu dari mereka memilih diskusi di luar sekretariat. Sehingga tersisa Athaya dan Pia saja di sana. Keduanya jadi leluasa membahas hal ini.
“Kita kemarin nge-casting Syakila, Sasa, Cicilia, Tisya, dan Jihan. Gue ada catatan masing-masing dari penampilan mereka, sih,” ujar Pia sembari mengeluarkan ponsel. Lalu gadis itu mengirimkan catatannya pada Athaya. Ia menambahkan, “Kalau menurut gue, Tisya paling bagus. Dia pernah ikut teater waktu SMP dan SMA. Jadi jangan ditanya gimana pahamnya dia sama urusan akting begini.”
Athaya menganggukkan kepala. “Gue setuju sama lo. Meski nggak nge-casting dia sampai akhir, gue udah bisa lihat kelebihan dia. Dia bukan pemula lagi kalau urusan begini.”
“Iya, kan,” gumam Pia, tampak senang karena Athaya sepemikiran dengannya. Ia menambahkan, “Eh, tapi bukan bermaksud bilang yang lain jelek ya, Tha. Yang lain juga bagus. Mereka bisa ikutin instruksi kita dengan baik. Cuma ya gitu, pengalaman emang nggak pernah bohong. Meski bagus, mereka tetap masih perlu banyak latihan. Kalau pun kita nggak milih yang terbaik, ya nggak masalah. Nanti kan kita bakalan proses juga. Bisalah kemampuan mereka dipoles lagi.”
“Iya, gue setuju sama lo. Tapi mengingat waktu kita nggak banyak buat berproses untuk kompetisi ini, kita lebih baik pilih yang emang udah bagus. Jadi tinggal poles dikit aja udah siap pentas,” timpal Athaya, “nanti gampang. Masih banyak kesempatan buat yang lain ikut di kompetisi-kompetisi yang akan datang atau justru jadi aktor di pementasan tahunan kita. Yang jelas, mereka harus dapat berbagai latihan dulu.”
Pia mengangguk-anggukkan kepala. Gadis itu sepakat dengan ucapan Athaya. Mereka memang sepemikiran.
Dan tak terasa, sepuluh menit sudah terlewati. Alhasil Airin dan Panca sudah kembali ke sekretariat. Tinggallah Sekar dan Sarah yang entah masih berdiskusi di mana.
“Mana nih dua anak itu?” Pia melongokkan kepala ke luar sekretariat. Namun sejauh mata memandang, ia tak mendapati ada Sekar dan Sarah di sekitar sana.
“Oh, mereka ke toilet bentar,” gumam Airin setelah mengecek ponselnya, “barusan Sarah chat gue.”
Athaya memutuskan untuk menunggu. Percuma juga kalau mereka duluan membahas. Ujung-ujungnya, ia harus mengulang penjelasan pada Sarah dan Sekar.
Lima menit ditunggu, akhirnya Sarah dan Sekar muncul juga. “Maaf-maaf, guys,” ujar Sarah sambil melangkah memasuki ruang sekretariat Teater Artes.
“Kebelet pipis tadi,” tambah Sekar yang datang agak di belakang Sarah.
Athaya hanya menggumam, ia sendiri tidak mempermasalahkan hal itu. Setelah dirasa semua siap, Athaya membuka kembali diskusi mereka, “Jadi udah pada bisa nentuin siapa anggota yang paling unggul di casting kemarin dari tiap kelompok?”
“Udah, Tha,” jawab Panca.
“Iya, udah kok, udah.” Sekar manggut-manggut.
Athaya pun meminta masing-masing perwakilan dari kelompok untuk menyampaikan siapa yang menurut mereka paling unggul di casting kemarin.
Sepuluh menit berlalu, kini mereka sudah mengantongi nama anak-anak yang unggul di casting kemarin dari tiap kelompok.
“Berarti dari kelompok satu ada Tisya, dari kelompok dua ada Reka, dan dari kelompok tiga ada Fabio, gitu ya?” Airin menyimpulkan dari paparan teman-temannya. Yang lain tampak mengangguk mengiakan.
“Jadi sekarang gimana?” tanya Sarah sambil menatap lurus ke arah Athaya.
Athaya tampak garuk-garuk kepala. Ia sudah mendengar pendapat dari teman-temannya ketika mereka merekomendasikan siapa-siapa saja anggota yang unggul di casting kemarin. Dan dari semua penjelasan yang ia dengar, semuanya tampak sama-sama memiliki kelebihan.
“Gue juga bingung, guys,” gumam Athaya. “Kalian ada ide buat milih aktor di antara tiga orang ini?”
Airin dan Panca kompak menggeleng. Sekar dan Sarah memilih tidak bereaksi. Tinggallah Pia yang masih tampak berpikir, “Kita adu lagi mereka gimana? Kali ini, kita berenam bareng-bareng liat sekaligus menilai mereka.”
“Wah, tapi itu di luar kesepakatan kemarin, Sist,” sela Panca, "berarti mereka casting dua kali."
Pia berdecak. “Iya, sih,” gumamnya.
“Ya udahlah, kita ngobrol aja berenam kaya gini. Kita coba bayangin penjelasan dari teman kita soal kelebihan dan kekurangan dari tiga orang calon aktor terpilih,” saran Sekar.
“Boleh, tuh!” setuju Airin, “meski hasilnya mungkin bakalan subjektif dikit, ya.”
“Kita coba dulu aja. Kalau emang nggak berhasil dan kita tetap bingung nggak bisa nentuin, kita pakai saran Pia,” putus Athaya.
Dan di menit-menit berikutnya, mereka mulai melanjutkan diskusi dengan masing-masing orang yang seolah mempromosikan calon aktor dari kelompok mereka. Namun beberapa waktu setelahnya, Sekar dan Sarah cukup goyah mendengar penjelasan dari Airin dan Panca. Alhasil, mereka melupakan Fabio dan berbalik mendukung Eureka. Tinggal Pia dan Athaya yang masih berpegang teguh pada kandidat mereka, Tisya.
***
Eureka tiba di rumah. Ia langsung menuju ke dapur karena menduga mamanya ada di sana. Dan tebakan Eureka memang tidak salah, ia bisa mendapati mamanya masih asyik menyiapkan makan malam.
“Ma, Reka pulang,” kata Eureka. Gadis itu menarik kursi makan dan meletakkan tasnya di sana. Eureka mencium tangan sang mama sebelum mendudukkan diri di kursi yang sudah ia jadikan tempat meletakkan tas.
“Kok lesu banget mukamu, Re?” tanya mamanya khawatir, “kamu sakit lagi?”
Eureka menganggukkan kepala sambil memasang wajah cemberut. “Iya, Ma, Reka sakit. Sakit hati,” katanya.
Mamanya mengernyit dalam, keheranan dengan jawaban yang dilontarkan putrinya. “Sakit hati kenapa?”
Eureka mengembuskan napas keras-keras. Tak mungkin ia menceritakan ini kepada mamanya. Jadi pada akhirnya, Eureka menggelengkan kepala. Gadis itu memilih memendam keluh kesahnya.
“Soal Athaya, ya?” tebak sang mama tanpa tedeng aling-aling.
Eureka mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia tak menyangka bahwa mamanya akan menebak dengan benar. “Kok Mama tahu?” tanya gadis itu.
Mamanya mengedikkan bahu. “Asal tebak aja,” jawab Mama Eureka dengan enteng.
Eureka ber-oh singkat. Setelahnya, ia memilih tidak melanjutkan bahasan ini. Kecuali jika mamanya yang memulai.
Tapi sepertinya, mama Eureka juga cukup kepo dengan itu. Sehingga mama Eureka bertanya, “Athaya ngapain sampai bikin kamu sakit hati?”
“Dia itu ya, Ma,” ujar Eureka membuka ceritanya dengan semangat menggebu, berbanding terbalik dengan wajah lesunya yang tadi itu, “keterlaluan banget deh pokoknya. Masa Kak Athaya deketin banyak cewek dalam satu waktu!”
“Deketin banyak cewek gimana?” Mama Eureka makin dibuat bertanya-tanya.
Eureka menjelaskan, “Dia itu punya sahabat perempuan, namanya Kak Putri. Padahal setahu aku, nggak ada yang namanya hubungan pertemanan atau sahabatan di antara laki-laki dan perempuan. Terus Kak Athaya juga kelihatan tertarik sama teman satu teaterku. Kemarin aja waktu nungguin aku ngerjain surat, Kak Athaya chat-an sama temanku itu. Sambil senyam-senyum pula, asyik sendiri pokoknya.”
Mamanya mengulas senyum, berusaha menurunkan emosi Eureka. “Itu kan baru penilaian kamu. Bisa saja penilaian kamu salah. Sebelum berpikir macam-macam, coba bicara sama Nak Athaya. Siapa tahu, kamu akan dapat jawaban yang sebenarnya dari dia. Semua itu harus dibicarakan baik-baik, Re. Penilaian kamu jangan sebatas prasangka saja.”
“Tuh, kan, Mama bukannya belain aku, tapi justru belain Kak Atha,” gerutu Eureka.
“Bukannya gitu,” koreksi mamanya, “Mama tahu Nak Athaya itu seperti apa. Jadi Mama nggak mau kamu salah menilai dan jatuhnya justru merasa sakit hati begini.”
Eureka diam saja. Benar juga sih apa yang mamanya katakan. Namun apa bisa Eureka membicarakan hal ini dengan Athaya? Bisa-bisa, Athaya makin menjauhi Eureka karena pemuda itu berpikir Eureka terlalu mengurusi kehidupan pribadinya. Melihat respon Athaya tempo hari ketika Eureka berusaha mengorek-ngorek perasaan pemuda itu, Eureka malah dikatai anak kecil dan dilarang ikut campur dalam urusan begini. Kan, sangat tidak masuk akal!
***