♩✧♪● Theatre 21 ○♩♬☆

1732 Kata
Selesai kelas, Athaya dan Putri bergegas menuju ke kantin fakultas. Keduanya berebut tempat dengan banyaknya mahasiswa yang juga pergi ke sana selepas mengikuti perkuliahan. “Bagi tugas aja,” ujar Putri ketika keduanya sudah hampir tiba di kantin fakultas, “lo cari tempat duduk, gue pesan makanan.” “Gue nasi uduk ya,” pesan Athaya. Pemuda itu sadar bahwa selera makanannya dengan Putri cukup berbeda. Kalau dia tidak memilih menu terlebih dulu, bisa-bisa Putri memesankan makanan sembarang untuknya sesuai dengan selera Putri. Putri mengacungkan jempol. Ia dan Athaya pun berpisah ketika mereka sudah memasuki area kantin fakultas. Kantin itu cukup luas. Namun karena disesaki banyak orang, maka ada kesan sempit dan pengap. Athaya mengedarkan pandangan sambil terus berjalan. Ia mencari-cari hingga ke pojok ruangan. Athaya melihat ada meja yang kosong, namun tak ada kursinya. Yah, sama saja tidak bisa diduduki. Sampai akhirnya, Athaya mendengar namanya dipanggil oleh entah siapa. Saat Athaya menoleh ke sana kemari untuk mencari-cari orang yang memanggilnya, ia melihat Eureka tengah melambai-lambaikan tangan. Athaya masih terdiam di tempat. Pemuda itu melirik ke arah dua kursi yang tersisa di meja Eureka. Karena memang di dalam satu meja, ada empat kursi yang disediakan. Dan kebetulan, Eureka sepertinya hanya duduk berdua dengan temannya. Athaya ragu untuk mendekat ke sana. Apalagi ada teman Eureka dan Athaya juga tak datang sendirian. Namun yang tak Athaya duga, Putri yang sudah selesai memesan justru menghampiri meja itu. Sepertinya, Putri mengenal teman yang duduk semeja dengan Eureka. Athaya berjalan ke sana. Setibanya di sana, Athaya bertanya pada Putri, “Udah pesan, Put?” “Udah, tapi suruh nunggu lima belas menitan. Maklum lah, udah terlanjur ramai,” jawab Putri. Ia pun melirik ke arah datangnya Athaya tadi dan balik bertanya, “Lo belum dapet tempat?” Athaya mengangguk. Saat itu, pandangannya tak sengaja bertubrukan dengan Eureka. “Duduk di sini aja Kak Putri. Sama temannya Kak Putri juga,” tawar seorang gadis yang duduk di samping Eureka. Lalu gadis itu beralih bicara dengan Eureka, “Kalau mereka gabung di sini, kamu nggak keberatan, kan?” Eureka tampak tiba-tiba gelagapan. Gadis itu menggaruk tengkuknya sambil menganggukkan kepala dengan ragu-ragu. Kan memang tadi Eureka juga berniat mengajak Athaya bergabung di sana. sebelum Eureka tahu kalau Athaya datang bersama Putri. Sementara itu, Putri juga menoleh pada Athaya. Gadis itu memperhatikan Athaya seolah meminta persetujuan dari Athaya. “Di sana masih ada meja,” ujar Athaya kemudian, “kita pinjam kursi ini aja. Kita bawa ke sana.” “Mana ada meja? Udah penuh semua,” balas Putri setelah mengedarkan pandangan untuk beberapa saat lamanya. Athaya yang tak mudah percaya pun memilih memastikan sendiri dengan mata kepalanya. Dan benar saja, meja yang semula tidak digunakan karena tidak ada kursinya, kini sudah ditempati orang. “Silakan kalau mau gabung sama kami,” cicit Eureka, “kami juga habis ini mau pergi kok. Ya, kan, Itha?” Itha—yang sepertinya merupakan nama dari teman Eureka—mengangguk-anggukkan kepala. “Iya, kami nggak lama-lama di sini. Ayo, Kak Put dan Kakak satunya lagi, kalian duduk di sini aja.” Putri pun memilih untuk duduk terlebih dahulu. Itu membuat mau tak mau, Athaya juga mengikutinya. Athaya duduk berhadapan dengan Eureka. Tapi Eureka tidak sekalipun mendongakkan kepala. Makanya mereka tak lagi bertemu tatap. “Eh, Kak Put, Mas ini namanya siapa? Pacar Kak Put, ya?” tebak Itha setelah lama mereka berempat yang ada di meja itu saling diam. Eureka yang mulanya fokus pada semangkuk bakso pun tiba-tiba tersedak dan kelimpungan mencari air. Kebetulan, minumnya sudah habis entah sejak kapan. “Itha, minta air,” ujar Eureka di sela-sela batuknya. “Aduh, Re, minumku habis juga.” Itha ikutan panik. Gadis itu sudah berdiri dari duduknya dan berniat membelikan Eureka minum. Namun belum sempat Itha cabut dari sana, Athaya lebih dulu mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tasnya. “Nih, minum,” katanya sambil menyodorkan botol air mineral itu ke hadapan Eureka. Tanpa pikir panjang, Eureka langsung menerima botol minum itu. Ia pun menenggak isinya hingga tersisa setengah saja. “Hah, pedes,” keluh Eureka sambil mengelus lehernya. “Habisin aja.” Athaya berujar lagi. Tapi Eureka menolak. Tentu saja ia merasa malu kalau harus merampas seluruh isi minuman orang. Jadi ia pun menutup botol itu dan mengembalikannya pada Athaya. Padahal sebelumnya, ia sudah menempelkan bibirnya pada botol itu. Entah Athaya masih mau minum dari sana atau tidak kalau tahu tingkah Eureka yang begitu. *** Beberapa menit kemudian, keadaan kembali hening. Kegaduhan yang Eureka buat sudah mereda. Selanjutnya, barulah Putri yang menjawab pertanyaan Itha beberapa waktu lalu. “Bukan, Itha, dia mana sudi pacaran sama gue?” Eureka memperhatikan gerak-gerik Putri ketika gadis itu menjawab pertanyaan Itha. Dan Eureka juga menangkap bagaimana cara Putri menatap Athaya ketika mengatakan bahwa Athaya tidak sudi berpacaran dengannya. Seolah-olah, Putri tengah menguji pendapat Athaya. Untung saja, Athaya hanya mengedikkan bahu. Kalau sampai Athaya mengatakan bahwa yang dikatakan Putri tidak benar dan bahwa dirinya sudi-sudi saja atau malah dengan senang hati berpacaran dengan Putri, bisa jadi Eureka akan menyiramkan kuah bakso ke wajah Athaya. “Eh, kayanya pesenan gue udah jadi, deh,” kata Putri sambil bangkit dari duduknya, mungkin bersiap untuk mengambil pesanan makanannya. Namun sebelum Putri bergerak meninggalkan meja, Athaya berinisiatif untuk mengambilkan pesanan mereka. “Gue aja, Put. Udah dibayar belum?” “Belum, sekalian bayarin dulu, ya. Makasih, Ganteng,” jawab Putri setengah berteriak karena Athaya mulai berjalan menjauh. Eureka menarik napasnya dalam-dalam. Bisa-bisanya Putri memanggil Athaya dengan kata “Ganteng”! Tentu saja Eureka merasa tak terima. Apa maksudnya coba? “Eh, by the way, ini teman kamu, Itha?” tanya Putri pada Itha, dengan Eureka yang menjadi bahan pertanyaan. Selanjutnya, barulah Putri berbicara langsung pada Eureka. “Gue Putri, lo siapa?” “Eureka, Kak,” jawab Eureka dengan perasaan tak nyaman. Putri pun ber-oh-ria. Ia mengulas senyum singkat sembari berujar, “Salam kenal, ya, Eureka. Oh ya, kalau cowok yang barusan itu, namanya Athaya.” Mendengar Putri menyebut nama Athaya, Itha langsung menoleh ke Eureka. Ia pun mengajukan pertanyaan, “Lho, Mas yang barusan ini namanya Athaya? Tadi Reka juga manggil nama Athaya, kan? Berarti yang Eureka panggil itu Mas yang barusan, dong?” Putri turut menoleh ke arah Eureka. Gadis itu pun berujar, “Lho, lo udah kenal sama Athaya?” Eureka menganggukkan kepala, merasa serba salah. Padahal sebenarnya tak ada yang perlu dicemaskan jika Eureka mengenal Athaya, kan? “Kenal di mana? Kok tadi nggak saling sapa kalau kenal?” tanya Putri lagi. “Di teater, Kak,” jawab Eureka singkat. Gadis itu merasa tak perlu menjawab pertanyaan Putri yang kedua soal kenapa dirinya tidak saling sapa dengan Athaya. Karena toh pada akhirnya, mungkin Eureka akan mencari-cari alasan dan ujungnya ia akan berbohong juga. Putri ber-oh-ria. Kerutan yang semula menghiasi dahinya kini memudar. Gadis itu tampak lebih santai dari sebelumnya. Athaya datang dengan membawa nampan berisi dua porsi makanan dan dua minuman. Pastinya itu milik Athaya dan Putri. Eureka memperhatikan bagaimana Athaya menyiapkan makanan dan minuman Putri sehingga Putri tinggal terima beresnya saja. Athaya memperlakukan Putri dengan sangat baik. “Ehm, Itha,” panggil Eureka pada Itha. “Mau ke perpustakaan kapan? Sekarang aja, yuk!” “Kamu udah selesai makan?” tanya Itha sambil melirik ke arah mangkuk bakso Eureka. Padahal di sana masih ada beberapa butir bakso lengkap dengan mi-nya. Eureka menganggukkan kepala dengan cepat. Ia membalas, “Udah, Tha, aku udah kenyang. Yuk, ke perpus sekarang.” Eureka mengemasi barang-barangnya. Setelah beres, ia bangkit berdiri dan berujar, “Kakak-kakak, kami duluan, ya.” “Duluan ya, Kak Put,” timpal Itha pada Putri. Lalu gadis itu beralih menatap Athaya, “Mari, Kak Athaya.” Putri dan Athaya membalas bersamaan. Yah, sekadar berbasa-basi saja untuk mengantar kepergian kedua adik tingkat mereka. Saat Eureka hendak melangkah meninggalkan meja, matanya sempat melirik ke arah Athaya. Dan yang tak Eureka duga, Athaya juga tengah memperhatikannya. Namun kewarasan Eureka mengambil alih. Hmm, mungkin ini bukan apa-apa! Wajar kan bila Athaya memperhatikan Eureka karena saat itu, Eureka hendak pergi dari sana. Toh, Putri juga memperhatikan Itha yang sama-sama bergerak meninggalkan tempat itu. *** Sepeninggal Eureka dan temannya, Athaya hanya berdua saja dengan Putri di sana. Meja itu jadi terasa lebih hening. Bahkan tak berselang lama, ada dua orang mahasiswa yang menghampiri meja mereka untuk meminjam kursi yang tak ditempati itu. Di sela-sela kegiatan mengunyah makanan, Putri bertanya, “Lo kenal sama cewek yang tadi duduk berhadapan sama lo?” Athaya menganggukkan kepala dalam diam. Pemuda itu tampak tak tertarik membicarakan persoalan ini. Tapi Putri sengaja mengabaikan fakta itu. Ia melanjutkan pertanyaannya, “Kenapa nggak saling sapa? Dia anak Teater Artes, kan?” “Kami nggak dekat.” Athaya menjawab singkat. Putri tampak menyipitkan mata, meneliti apa yang sebenarnya terjadi di sini. Mengapa Athaya bisa sedingin ini ketika membicarakan Eureka? Putri berdeham. Ia meletakkan alat makannya dan memberikan fokus sepenuhnya untuk bicara dengan Athaya. “Kayanya ada sesuatu yang nggak beres,” celetuk Putri. Hal itu sukses membuat Athaya menoleh. Putri melanjutkan ucapannya, “Apa yang lo sembunyiin soal Eureka?” “Nggak ada, Put,” gumam Athaya. Ia makin memfokuskan diri untuk makan. Putri berdecak tak suka. Ia yakin betul kalau ada yang Athaya sembunyikan darinya. Jadi Putri mencoba menebak, “Lo suka ya sama Eureka? Kan, sering tuh jatuh cinta karena join di organisasi yang sama.” “Emang kelihatannya kaya gitu?” Athaya balik bertanya. Kini ia jadi tidak fokus lagi pada urusan melahap makanannya. Putri mengedikkan bahu. “Entahlah. Tapi kayanya enggak, sih. Soalnya kalau lo naksir sama dia, lo harusnya bersikap hangat. Bukannya dingin kaya gini.” “Nah, itu lo tau!” seru Athaya. “Eh, tapi tunggu dulu,” kata Putri lagi. Gadis itu belum menyerah. Ia menarik seringaian penuh makna dan berbisik, “Lo suka sama dia, tapi dia nolak lo? Makanya sebagai bentuk balas dendam, lo memperlakukan dia dengan dingin bin kejam!” Kali ini, tawa Athaya menyembur. Ia tidak menyangka Putri akan berpikir sejauh itu. Yang Putri katakan barusan itu benar-benar tidak logis. “Kenapa, kok ketawa? Bener ya tebakan gue?” duga Putri sambil menaik-turunkan alisnya. “Ngaco lo, Put!” pungkas Athaya membuat Putri makin bingung saja. Alhasil, selama sisa waktu mereka di kantin itu, Putri dibuat sibuk menerka-nerka alasan di balik sikap dingin Athaya pada Eureka. Untung bagi Athaya karena sampai akhir pun, Putri tidak mencurigai segala sesuatu yang menyangkut keterikatan antara Athaya dan Eureka dalam bentuk perjodohan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN