Eureka membereskan segala macam surat yang harus dibuatnya untuk keperluan Teater Artes. Bahkan beberapa tambahan surat yang baru saja Airin perintahkan juga sudah ia rampungkan.
“Suratnya udah semua, Kak,” lapor Eureka pada Athaya yang masih menungguinya meskipun pemuda itu sama sekali tak membantu.
Athaya sedari tadi justru sibuk sendiri dengan dunianya. Cowok itu mirip orang gila di mata Eureka. Athaya senyam-senyum tanpa juntrungan, yang justru itu membuat Eureka merasa panas.
“Oke, kalau udah, gue balik sekarang,” balas Athaya. Akhirnya cowok itu menurunkan ponselnya dan meletakkan benda itu di meja. Kini Athaya memperhatikan layar laptop Eureka yang menampilkan berbagai macam surat.
“Mau aku kirim ke Kak Atha lewat chat atau surel?” tanya Eureka sambil memperhatikan Athaya.
Athaya menggelengkan kepala. “Langsung kirim ke Airin,” jawab Athaya dengan enteng.
Eureka dibuat melongo kebingungan. Ia pun menggumam, “Kalau akhirnya aku langsung kirim ke Kak Airin, kenapa Kak Atha tetap di sini dan nungguin aku ngerjain ini?”
Kuping Athaya masih berfungsi dengan baik. Jadi pemuda itu mendengar gerutuan Eureka dan membalas, “Ya gue tungguin aja, biar cepet kelar.”
Eureka mendengkus geli sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sebegitu tidak percayanya kah Athaya pada Eureka hingga Athaya harus mengawasi Eureka ketika mengerjakan tugas keteateran itu?
“Ya udah, gue balik ya,” pamit Athaya. Pemuda itu bangkit dari duduknya sembari menyambar ponsel. Athaya merogoh-rogoh saku celana untuk mencari kunci. Setelah dapat, ia kembali menatap Eureka, “Tante Alena mana? Gue mau pamit.”
Eureka menganggukkan kepala dan beranjak guna mencari mamanya. Gadis itu berjalan menuju ke ruang kerja mendiang sang papa.
“Ma,” panggil Eureka sembari membuka pintu, “Kak Athaya mau pamit pulang.”
“Oh, udah kelar kerjaan kalian?” tanya sang mama sembari bangkit dari duduknya dan menghampiri Eureka.
Eureka mengiakan. Lantas ia dan mamanya menemui Athaya yang sudah bersiap-siap akan pulang.
Ketika mengantar kepergian Athaya, Mama Eureka sempat berbicara hanya dengan Athaya saja. Eureka tak tahu pasti apa yang mereka bicarakan.
***
Athaya tiba di rumah. Ia yang sudah merasa lelah akhirnya langsung berjalan menuju ke kamar. Sayangnya, niat untuk langsung istirahat harus tertunda lantaran mamanya mengajak pemuda itu bicara.
“Mas,” panggil Maira pada putranya. “Tadi kamu ke rumah Reka? Kok tumben, tanpa Mama suruh, kamu inisiatif main ke sana?”
Athaya diam-diam memutar bola matanya. Athaya kemudian menjelaskan, “Tadi Eureka sakit waktu latihan teater. Sebagai ketua yang baik, aku kudu perhatiin anggotaku, kan?”
“Oh, Mama kira mata hati kamu udah terbuka,” seloroh Maira, sengaja menggoda putranya.
Athaya menarik turun kedua sudut bibirnya. Pemuda itu cemberut sambil menggumam, “Nggak ada yang kaya gitu.”
“Ya sudah,” ujar Maira lembut, “nggak apa-apa, Mas Atha. Nanti kan lama-lama kamu juga suka. Ingat, witing tresno jalaran soko kulino.”
Athaya bergidik ngeri sambil menggeleng-gelengkan kepala. Setelah merasa tak perlu lagi mengobrol dengan mamanya karena pembahasan makin menyebalkan saja, Athaya berujar, “Ma, udah belum? Aku mau ke kamar.”
Sang mama menganggukkan kepala dan membiarkan Athaya pergi dari hadapannya.
Athaya menghela napas, tampak lega karena terbebas dari topik pembahasan mengerikan itu. Ia pun segera memasuki kamar. Karena cukup gerah, Athaya memilih pergi mandi terlebih dahulu sebelum naik ke kasur.
Tak perlu berlama-lama bagi Athaya untuk membersihkan diri. Pemuda itu langsung kembali berpakaian dan berjalan keluar kamar mandi.
Tampaknya, Athaya sangat ingin mengecek ponsel. Pemuda itu seperti tengah menunggu sesuatu. Seberes meraih benda itu, Athaya lantas naik ke tempat tidur. Sambil bersandar di kepala ranjang, Athaya mulai membuka salah satu aplikasi perpesanan.
Entah apa yang Athaya baca, tapi ia tampak senang. Senyum merekah di bibirnya. Persis seperti orang yang tengah kasmaran. Tapi sama siapa?
“Tisya, Tisya, aneh-aneh aja,” gumamnya, lalu terkekeh lagi.
Athaya tampak melirik ke jam di ponsel. Karena ini sudah larut malam, pemuda itu tampak mengakhiri acara berbalas pesan. Mungkin ia khawatir kalau ia akan dianggap lupa waktu oleh lawan bicaranya?
Athaya pun meletakkan ponsel di samping tempat tidur. Selanjutnya, ia merebahkan diri di ranjang dengan nyaman. Matanya menatap langit-langit kamar. Senyum masih bertengger di wajah tampannya. Hingga entah berapa lama ia menatapi langit-langit kamar, akhirnya Athaya jatuh terlelap.
***
Paginya, pemuda itu tampak mempersiapkan diri untuk pergi ke kampus. Pertama-tama, ia akan menghadiri kelas. Lalu ia ada janji bertemu dengan anak-anak Teater Artes dari angkatannya guna membahas siapa yang layak mewakili Teater Artes maju ke kompetisi monolog.
Setelah selesai bersiap-siap, Athaya bergegas menuju ke kampus. Pemuda itu melewatkan sarapan karena nanti ia janji menemani Putri makan di kantin fakultas.
Tak sampai setengah jam, Athaya sudah tiba di kampusnya. Seberes memarkirkan motor, Athaya berjalan ke kelas. Dan saat pemuda itu hendak menginjakkan kaki di koridor menuju kelasnya, Athaya mendengar seseorang memanggil. Saat membalikkan badan, ia melihat Putri berlarian hendak menyusulnya.
“Hai,” sapa Putri dengan napas yang tersengal-sengal karena habis berlari-lari mengejar Athaya.
“Napas dulu,” kata Athaya dengan nada tenang.
Putri berusaha mengatur napasnya. Setelah napasnya teratur, ia berujar, “Jadi gimana?”
“Apanya?” Athaya tampak bingung dengan pertanyaan Putri.
Putri mengembuskan napas keras. Gadis itu tampak geregetan. “Ya, apalagi kalau bukan soal kompetisi monolog, hmm? Masa soal hubungan kita yang makin santer dibicarakan orang-orang?"
Athaya meringis dan mendengkus geli. Pemuda itu mengedikkan bahu.
Putri mencubit ringan pipi Athaya karena gemas dengan respon yang Athaya berikan atas pertanyaan gadis itu sebelumnya. Setengah mengotot, Putri kembali menegaskan, "Teater Artes jadi ikut, kan?”
“Hu-um, kami jadi ikut,” jawab Athaya kemudian.
Putri langsung jejeritan heboh. Entah apa yang membuat gadis itu begitu senang mendengar kabar itu. Padahal Putri sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Teater Artes.
“Semangat, Ganteng!” ujar Putri sambil menepuk bahu Athaya. Padahal Athaya lebih tinggi dari Putri. Itu pula yang membuat Putri harus mendekatkan tubuhnya ke arah Athaya untuk bisa menjangkau pundak pemuda itu.
Athaya menaikkan sebelah alisnya. “Masa cuma gue yang disemangati? Yang lain enggak?”
“Iya, deh, semangat buat semua anak Teater Artes. Kalian pasti bisa, okay!” seru Putri masih terlihat riang.
Kali ini, Athaya menganggukkan kepala dengan diiringi kekehan, geli melihat tingkah Putri. Karena sebentar lagi kelasnya akan dimulai, ia pun mengajak Putri untuk bicara sambil melanjutkan langkah menuju kelas.
***
Sementara itu, di kejauhan, Eureka melihat interaksi antara Athaya dan Putri dengan hati yang meradang. Ia bahkan sampai lupa kalau harus segera pergi ke kelas karena kelasnya akan dimulai beberapa menit lagi.
“Ih, Kak Atha ngeselin!” rutuknya, “semalam senyam-senyum gara-gara chat-an sama Tisya. Sekarang ketawa-ketiwi sama Kak Putri. Apa-apaan, sih?”
Rasanya Eureka ingin menjahit mulut Athaya biar cowok itu tidak bisa tersenyum atau tertawa. Sepertinya kalau sering-sering dibuat cemburu, Eureka bisa berubah menjadi psikopat.
“Re!” seru seseorang sambil menepuk kedua bahu Eureka dari belakang. Itu sukses membuat Eureka terkejut.
Hampir saja Eureka mengumpat. Tapi gadis itu masih berhasil mengontrol mulutnya. Apalagi ketika ia menoleh dan mendapati siapa pelaku yang membuatnya terkejut. “Kaka, aku kaget!” gerutu Eureka.
Mendengar itu, Kaka hanya tertawa-tawa. Sepertinya, teman Eureka ini justru merasa senang karena berhasil membuat jengkel targetnya.
Gemas melihat Kaka, Eureka balas memukul ringan lengan cowok itu. “Jangan iseng lagi!” Eureka memberikan peringatan.
Kaka hanya mengangkat bahu, acuh tak acuh. Ia malah mengalihkan obrolan dengan bertanya, “Lo kenapa berdiri bengong di sini? Nggak ke kelas?”
“Ini mau ke kelas,” jawab Eureka.
Kaka ber-oh-ria. “Yuk lah, kalau gitu. Gue juga mau ke kelas,” katanya kemudian.
Tanpa meminta izin, Kaka menggandeng tangan Eureka dengan santainya. Sementara Eureka masih agak kaget dengan perlakuan Kaka itu.
“Eh, Ka,” gumam Eureka tak nyaman.
Kaka menoleh dan bersitatap dengan Eureka. “Apa?” balasnya, masih dengan gaya yang santai, seolah tidak ada yang janggal di sana.
“Ini,” ujar Eureka sembari menunjuk ke arah tangan Kaka yang menggandeng tangannya, “kenapa?”
Kaka justru tertawa dengan lepas selama beberapa saat lamanya. Itu membuat Eureka makin kebingungan, tentu saja.
“Ka, kamu kesurupan?” duga Eureka dengan responnya yang polos.
Setelah berhasil menyusut tawanya, Kaka berkata, “Enggak, lo kok lucu sih, Re?”
“Lucu?” Eureka mengerutkan kening lantaran memikirkan dengan serius ucapan Kaka. Eureka lucu? Dilihat dari sebelah mana, sih?
“Iya, lucu, emangnya nggak boleh kalau gue gandeng tangan lo gini?” Kini Kaka justru menggoyang-goyangnya pergelangan tangan Eureka.
Eureka tidak yakin harus menjawab apa. Alhasil gadis itu mengedikkan bahu.
“Yuk, ah, lanjut jalan,” ujar Kaka. Masih sambil menggandeng tangan Eureka, pemuda itu mulai kembali melangkah menapaki koridor menuju gedung kelasnya. Sambil jalan begitu, Kaka sempat menggumam, "Takutnya kalau nggak gue gandeng, lo bakal ngelamun dan berdiri mematung lagi di tengah jalan."
Akhirnya, Eureka tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Bahkan hingga ia tiba di kelasnya dan berpisah jalan dengan Kaka, Eureka menurut-menurut saja.
***
Setibanya Eureka di kelas, ia langsung mengambil tempat duduk yang masih tersisa yaitu di barisan depan. Parahnya, Eureka tak mendapati Itha—sobatnya—di kelas itu. Kemungkinannya ada dua, Itha belum datang atau Itha memang tidak datang.
Tapi akhirnya Eureka mendapat jawaban atas pertanyaannya itu. Rupanya, Itha juga datang kesiangan.
“Aduh, dapet bangku depan,” gumam Itha. Tapi ia tetap menaruh tasnya dan duduk di sebelah Eureka. Ia pun memilih mengobrol dengan Eureka sesaat sebelum kelas dimulai. “Re, tadi aku liat kamu, lho!”
“Oh, ya? Di mana?” Eureka melebarkan matanya, cukup terkejut mendengar ucapan Itha barusan.
“Di sepanjang koridor. Aku jalan di belakangmu, tapi tadi mampir bentar ke toilet,” terang Itha.
Eureka menaikkan sebelah alis dan bertanya, “Kenapa nggak nyusul atau kamu panggil aku biar kita jalan bareng ke kelas?”
Itha tersenyum jahil. “Ih, aku nggak mau ganggu kamu pacaran. Yang tadi itu pacarmu, ya? Seangkatan sama kita, kan?”
Mendengar itu, Eureka buru-buru menggelengkan kepala. Gadis itu memberi klarifikasi, “Bukan, bukan, dia bukan pacarku, Itha.”
“Masa sih? Aku lihat kalian gandengan tangan, kok.” Itha tampak menggoda Eureka, membuat Eureka malu saja.
Eureka menganggukkan kepala dengan mantap. Ia kembali memberikan penjelasan, “Dia itu teman satu teaterku. Anaknya emang gitu, santai banget dan suka asal. Tadi aja waktu aku tanya kenapa dia gandeng tanganku, dia nggak kasih alasan yang jelas.”
Itha ber-oh-ria sebagai balasan. Tapi gadis itu tetap mengerling jahil pada Eureka. Itha tampaknya tak lantas percaya pada penjelasan Eureka. Anggapan bahwa cowok tadi itu adalah pacar Eureka sudah terpatri di otaknya. Bahkan sebagai penutup sebelum mereka harus berhenti mengobrol karena dosen mereka sudah datang di kelas, Itha berceletuk, “Mungkin sekarang belum, Re? Tapi udah ada tanda-tanda gitu dia deketin kamu. Yang peka ya, Re!”
“Ithaaa!” Eureka tampak gemas.
***