♩✧♪● Theatre 19 ○♩♬☆

1662 Kata
Athaya benar-benar hanya mengantar Eureka sampai ke area luar kampus. Tepatnya, pemuda itu menepikan mobil di sebuah minimarket dan menurunkan Eureka di sana. "Udah dateng belum mobil pesanan lo?" tanya Athaya. Eureka menganggukkan kepala. Sambil bersiap-siap turun dari mobil Athaya, Eureka menjawab, "Udah hampir sampai. Ya udah, aku turun ya, Kak. Thanks udah anterin sampai sini." Athaya tak menjawab. Ia hanya memperhatikan gerak-gerik Eureka hingga gadis itu keluar dari mobil. Tak lama kemudian, sebuah mobil menepi dan berhenti di depan mobil Athaya. Athaya bisa melihat Eureka berjalan mendekati mobil itu. Itu pasti mobil yang Eureka pesan karena selanjutnya gadis itu masuk ke sana. Tak berlama-lama berhenti, mobil itu kembali melaju di jalanan. Merasa Eureka sudah aman, Athaya juga memilih melajukan mobil untuk kembali memasuki area kampus. Athaya memang berkeras untuk tetap kembali ke kampus dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri terkait keberlangsungan casting hari ini. Bukan Athaya tak percaya pada teman-teman yang lain untuk meng-handle urusan ini, namun pemuda itu merasa bertanggung jawab kalau-kalau atas segala sesuatu yang terjadi di sana. Sepuluh menit kemudian, Athaya sudah kembali memarkirkan mobil di tempat parkir semula di halaman gedung serbaguna. Ia turun dari mobil dan langsung menghampiri Pia, partner-nya meng-casting adik-adik tingkat kali ini. “Lo beneran anterin Reka sampai depan doang?” Pia tampak geleng-geleng kepala. Mungkin ia berpikir bahwa Athaya hanya bicara omong kosong di awal tadi. Namun ternyata cowok itu benar-benar melakukan apa yang ia ucapkan dan cenderung tidak punya hati. Athaya mengedikkan bahu sambil berujar, “Iya, lah, memang harus gue anterin sampai mana lagi? By the way, Tisya udah selesai lo casting? Sekarang giliran siapa?” Pia membuka catatan di ponsel untuk mengecek giliran. Setelah itu, ia menjawab pertanyaan Athaya, “Tadi Jihan minta di urutan kedua. Berarti sekarang dia. Gue panggil dulu.” Athaya tampak menganggukkan kepala, membiarkan Pia pergi menjemput Jihan. Sambil menunggu, pemuda itu tampak mengecek ponsel. Ia menggulir layar hingga menemukan ruang obrolannya dengan Eureka. Athaya membuka dan membaca ulang beberapa pesan yang dikirim Eureka padanya. Athaya memang tidak ada rasa apa-apa dalam artian romansa pada Eureka. Namun sebagai manusia, pemuda itu juga punya rasa kemanusiaan. Dan sekarang, Athaya benar-benar merasa tak enak hati karena mengabaikan pesan yang dikirim Eureka beberapa jam lalu. Athaya bahkan merasa bersalah pada Mama Eureka. Eureka mungkin tak akan cerita pada sang mama dan membeberkan sikap buruk Athaya, tapi itu tetap membebaninya. “Ck,” decak Athaya sambil mengusap wajah dengan kasar. Rupanya Pia sudah kembali dari menjemput Jihan. Gadis itu menatap Athaya dengan alis naik sebelah, tampak penasaran pada sikap Athaya yang kelihatan frustrasi. “Kenapa lo? Kaya orang susah aja?” Athaya mendongak menatap Pia dan Jihan. Alih-alih menjawab pertanyaan Pia, Athaya justru memilih langsung memulai sesi casting kali ini. “Han, siap-siap dulu, ya,” ujarnya. “Aku boleh baca naskah kan, Kak?” tanya Jihan sambil berfokus menatap layar ponsel. “Silakan,” balas Athaya. “Kalau udah siap, langsung mulai aja.” *** Eureka tiba di tujuan. Gadis itu berjalan lesu menapaki halaman dan masuk ke dalam rumah. Tanpa banyak bicara atau melakukan apa-apa terlebih dahulu, Eureka langsung masuk ke kamar. Sewaktu di perjalanan pulang tadi Eureka merasakan perutnya bergejolak dan mual. Belum lagi, ia juga merasakan badannya semakin panas saja. Mungkin kah dia akan terserang demam? Baru saja gadis itu ingin merebahkan diri di kasur setibanya ia di kamar, ia justru merasakan mual yang teramat. Karena khawatir akan muntah, ia berlarian panik ke dalam kamar mandi. Dan ternyata benar, Eureka muntah-muntah di sana. “Ah, sial,” rutuk Eureka sambil bersandar di dinding kamar mandi setelah menyelesaikan urusannya. Badan gadis itu terasa makin lemas saja. Berlama-lama di kamar mandi membuatnya menggigil kedinginan. Baru keluar dari kamar mandi, Eureka berhadapan dengan sang mama yang menatapnya dengan raut wajah panik. “Re, kamu sakit? Tadi kehujanan?” Eureka mengangguk. Tanpa berucap apa-apa, ia memeluk mamanya. “Oke, sekarang kamu istirahat. Mama akan siapin makan malam dan obat,” ucap mamanya sambil memapah Eureka ke ranjang. Eureka menurut saja pada perintah sang mama. Ia memang sejak awal juga berniat ingin istirahat. “Nanti kalau makin gawat, kita periksa ke dokter,” ucap sang mama sembari menarik selimut untuk menyelimuti tubuh putrinya. Sebelum meninggalkan Eureka, mamanya mencium kening gadis itu. “Jangan sakit ya, Mama sedih kalau lihat kamu sakit.” Eureka menganggukkan kepala. Gadis itu sudah bergelung nyaman di bawah selimut. *** Entah berapa lama Eureka tertidur, bangun-bangun hari sudah gelap. Ia bergerak perlahan menuruni ranjang dan berjalan ke arah pintu kamar. Melongokkan kepala keluar, gadis itu mencari keberadaan sang mama. Eureka mendengar suara-suara dari dapur rumahnya yang ia duga suara itu berasal dari aktivitas sang mama. “Ma,” panggil Eureka saat gadis itu mulai menuruni tangga. Namun yang Eureka lihat pertama kali nyatanya bukan sang mama. Mata gadis itu justru bersirobok dengan mata Athaya. “Kak Atha?” sapa Eureka, setengah terkejut melihat Athaya berkeliaran di rumah ini. Athaya hanya mengangguk formal. Persis tampak seperti sikap atasan pada bawahan. Karena bingung harus bicara apa dengan Athaya, Eureka memilih melanjutkan langkah mencari sang mama. Begitu bertemu mamanya, Eureka langsung bertanya, “Itu kenapa Kak Atha ada di sini, Ma?” “Udah bangun kamu?” Sang mama justru balik bertanya. “Udah enakan badanmu?” “Iya, udah, Ma,” jawab Eureka sambil curi-curi pandang ke tempat di mana Athaya berada. Mamanya itu kemudian menjawab pertanyaan Eureka soal Athaya. “Athaya ke sini bawain kamu makanan. Itu udah Mama siapin di meja. Terus dia juga mau ambil file proposal atau apa gitu yang ada di kamu.” Eureka tampak mengernyit. “File proposal?” “File surat, Tante. Athaya ke sini mau ambil file surat yang harus dibuat Eureka, itu titipan pesan dari sekretaris teater kami,” sela Athaya. Pemuda itu kini turut bergabung dengan Eureka dan Alena di dapur. “Ah, iya, belum selesai aku buat, Kak,” cicit Eureka takut-takut. Jangan sampai karena hal ini, Eureka kembali diminta mengundurkan diri dari Teater Artes! Namun tentu saja, Athaya tak mungkin berani berulah ketika ada Tante Alena di sana. Athaya mungkin bisa protes, tapi harus dengan cara sehati-hati mungkin. Apalagi Eureka sedang sakit. Masa iya Athaya harus memaksa gadis itu untuk segera merampungkan tugasnya? “Kak Athaya tunggu dulu ya,” ujar Eureka kemudian, “aku kerjain sekarang.” “Eh,” pekik Athaya, “nggak usah. Besok aja nggak apa-apa. Lo masih sakit.” Eureka menggelengkan kepala. “Udah enggak kok.” “Re, makan malam dulu. Habis itu baru kamu kerjain tugasnya, ya?” Alena ikut nimbrung dalam pembicaraan. Kemudian wanita paruh baya itu menoleh ke arah Athaya dan berujar, “Nak Athaya juga makan malam di sini, ya?” Athaya mulanya ingin menolak. Namun mama Eureka sudah menggandeng Athaya dan membawa pemuda itu untuk duduk di kursi makan. Jadi mau tak mau, Athaya duduk di sana dengan perasaan sungkan. Eureka yang melihat itu pun memilih bergabung di meja makan. Ia menarik kursi di sebelah Athaya, membuat Athaya sempat melirik dengan tatapan tak nyaman. “Ini semua makanan yang bawa Kak Atha?” tanya Eureka dengan mata yang berbinar senang. Padahal ia sempat berpikir bahwa kemungkinan besar, ia akan kehilangan selera makan. Ingat kan, Eureka sedang tidak enak badan. “Ayo diambil,” ujar mama Eureka sembari mengambilkan nasi ke piring Athaya, lalu ke piring Eureka. “Makasih, Tan,” kata Athaya pada mama Eureka. Makan malam pun berlangsung dengan hening. Maklumlah, hanya ada tiga orang di sana. Beberapa kali Mama Eureka tampak membuka obrolan dengan topik yang berbeda-beda. Namun hasilnya tetap sama, obrolan itu tak berlanjut lantaran baik putrinya maupun Athaya sama-sama bersikap canggung. *** Selesai makan malam, Athaya dan Eureka duduk berdua di ruang tengah untuk mengerjakan surat dan t***k bengeknya. Sementara mama Eureka memilih untuk melanjutkan pekerjaan di ruang kerja mendiang papa Eureka. “Lo beneran udah bisa ngerjain ginian?” tanya Athaya sangsi. “Gue bisa bilang ke Airin kalau lo sakit dan suratnya belum beres dibikin. Gue rasa dia bisa ngerti.” Eureka menoleh dengan alisnya yang terangkat sebelah. Bukannya menjawab pertanyaan Athaya, gadis itu justru berceloteh, “Aku kira, Kak Athaya justru yang akan marah-marah.” “Kok gue?” tanya Athaya. Pemuda itu tampak tak terima. Eureka meringis sembari menggelengkan kepala. “Ya, mungkin aja, kan? Mengingat Kak Athaya selalu nggak suka sama apapun yang aku lakukan.” “Tapi gue nggak mungkin marah tanpa alasan.” Athaya berusaha mengelak. Untuk kali ini, Eureka mengalah, “Iyain, deh. Biar Kak Atha seneng, he-he.” Athaya tampak mencibir Eureka dengan gerakan bibirnya. Pemuda itu pun memilih tak melanjutkan obrolan itu. Ia sibuk bermain ponsel. Merasa Athaya asyik sendiri, Eureka menjeda kegiatan membuat surat permohonan Teater Artes. Ia memperhatikan Athaya melalui ekor matanya. Ah, sial, Eureka melihat Athaya sedang senyam-senyum tak jelas sambil memelototi ponsel. Biasanya, yang seperti itu patut dicurigai. Pasti Athaya sedang chat-an dengan cewek lain. “Asyik bener, Kak,” goda Eureka, “lagi chat-an sama siapa, sih?” Athaya menghapus senyum di wajah dan mengubah ekspresinya jadi datar. “Tisya,” jawab Athaya gamblang. Dahi Eureka berkerut samar. Tunggu dulu, ia tidak salah dengar, kan? Athaya memang menyebutkan nama teman teater mereka dan bukannya Putri yang anak tari itu. Akhirnya karena sudah kelewat kepo, Eureka memberanikan diri bertanya. Semoga saja ia tidak disembur oleh Athaya. “Oh, nggak sama Kak Putri?” “Apaan, sih? Anak kecil nggak usah sok tahu,” balas Athaya sebelum kembali fokus dengan ponsel di genggaman. Eureka menarik turun kedua ujung bibirnya. Gadis itu cemberut hingga merutuki Athaya dengan lirih. “Gue denger ya,” kata Athaya saat menyadari siapa yang sedang dimaki-maki Eureka. “Dasar anak kecil.” “Ih, ngeselin,” seru Eureka tak terima. Tapi sebelum mereka terlibat lebih banyak obrolan, Athaya menginterupsi. Pemuda itu meminta agar Eureka fokus saja mengerjakan surat-surat Teater Artes. “Buruan kerjain. Gue balik habis ini,” katanya dengan nada dingin. Eureka dibuat terdiam. Ia pikir, Athaya mulai melembut padanya. Namun ternyata, sikap Athaya masih sama saja! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN