Eureka beranjak mengikuti Airin dan Panca yang bertugas meng-casting-nya. Ia kebagian giliran pertama untuk maju. Sementara ada beberapa temannya yang masih menunggu giliran dan duduk berjarak beberapa meter di kejauhan sana.
“Udah siap?” tanya Panca begitu Eureka berdiri di hadapan Panca dan Airin.
Eureka tampak mengangguk dengan antusias. Ia pun menjawab, “Udah, Kak.”
“Wah, kayanya bakalan bagus, nih,” timpal Airin sambil tersenyum hangat. “Kalau udah siap, boleh langsung dimulai aja. Tapi aku minta, sebelum masuk ke naskah, kamu tambahin improvisasi ekspresi ya. Boleh nangis, ketawa, marah, apapun itu.”
Eureka mengeluarkan ponsel dari tas. Gadis itu menyalakan ponsel, membuka naskah monolog yang akan ia bawakan, dan mulai mempersiapkan diri.
Eureka mengawali monolognya dengan tangisan penuh kemarahan, lalu mulai diselingi teriakan-teriakan putus asa dan tingkahnya yang menggila, diselingi tawa, seperti yang diminta Airin. Barulah setelah bermain ekspresi, Eureka masuk ke bagian di mana ia harus bicara sesuai naskah yang ia bawakan. Semua perubahan emosi itu dilakonkan oleh Eureka dalam waktu yang relatif pendek. Untungnya, gadis itu bisa membuat perubahan yang mulus antara satu ekspresi dengan ekspresi lain.
“Dewan hakim yang terhormat—” Eureka membuka monolognya yang ia bawakan dari naskah Balada Sumarah karya Tentrem Lestari.
Suara Eureka cukup lantang hingga menyita perhatian teman-teman yang duduk berjarak cukup jauh darinya. Mungkin gadis itu sudah larut dalam emosi karakter yang ia perankan hingga ia tak peduli pada sekitar, bodoh amat dijadikan tontonan.
Tapi baru mengucapkan satu kalimat dari naskah itu, Panca menginterupsi dengan mengangkat tangan. Ia berujar, “Lo ngomongnya kecepetan, Re. Habis ini ulangi dan rada dipelanin.”
“Oh, siap, Kak,” balas Eureka. Ia berdeham pelan sebelum kembali membuka suara. Sebenarnya Eureka merasa penjiwaan untuk membawakan karakter tokoh ini sudah hilang lantaran diinterupsi barusan. Namun ia tidak berani protes dan memilih menurut-menurut saja.
Setelah beberapa kalimat Eureka ucapkan, kali ini giliran Airin yang menginterupsi. Airin berkata, “Bentar deh, tadi waktu tanpa dialog, kamu bagus lho bawain ekspresinya. Bisa totalitas gitu. Tapi kenapa sekarang rada hambar, ya? Jadi datar-datar aja.”
“Kayanya dia terlalu terpaku sama naskah, Rin,” timpal Panca pada Airin. Ia menambahkan, “Dia terlalu takut salah ucap, masih menghafal pasti sistemnya.”
Airin ber-oh-ria, tampak menyetujui ucapan Panca. “Kalau gitu, sekarang lepas naskah aja, ya? Maksud gue terserah lo mau ngomong apa. Kami nggak permasalahin lo ngomongnya bener atau salah. Yang penting coba akting aja,” pinta Airin pada Eureka.
Eureka meneguk ludah. Ia masih tak paham harus bagaimana.
“Gimana? Malah bingung, ya?” celetuk Panca ketika mendapati Eureka justru diam saja.
Eureka mengangguk. Lalu gadis itu meringis lebar. Tak ada harapan, Eureka benar-benar tidak tahu harus apa.
Airin dan Panca saling tatap kemudian bertukar senyum. Mereka lantas tampak memutar otak untuk mencari cara lain.
“Oke, oke, gue ngerti. Sekarang gini aja. Lo baca dan pahami satu paragraf dari naskah itu. Nggak usah panjang-panjang kalimatnya. Tapi pastiin lo bisa bawain kalimat-kalimat di paragraf itu dengan berbagai ekspresi sesuai arahan gue nanti.” Airin yang bicara kemudian.
Eureka tampak manggut-manggut, entah paham atau tidak. Yang jelas, ia akan berusaha mengikuti arahan dari Airin atau Panca.
Dan selama sepuluh menit ke depan, Eureka melakukan ini dan itu sesuai perintah Airin dan Panca. Berbagai macam ekspresi berusaha Eureka peragakan. Meski komentar-komentar tidak puas dari Airin dan Panca selalu menyertai usaha Eureka.
“Oke deh, cukup, Re,” ujar Airin kemudian.
“Yeay, Reka selesai casting!” sorak Panca sok heboh.
Airin melirik dengan tatapan ilfeel ke arah Panca. “Apaan sih lo? Gaje,” ujarnya.
Panca sendiri tak merasa keberatan dikatai gaje begitu. Ia tetap cengar-cengir dengan santainya.
Airin pun tak lagi menghiraukan Panca dan kembali bicara pada Reka. “Secara keseluruhan, gue udah lihat usaha lo. Meski tentu saja, kalau soal akting, masih banyak yang perlu dibenahi. Nggak apa-apa, lo masih beberapa bulan join di Teater Artes dan ini udah termasuk bagus. Makasih ya udah datang casting, dibela-belain kehujanan juga tadi. Ditunggu ya pengumuman lolos casting-nya.”
“Siap, Kak,” jawab Eureka. Ia lantas bertanya, “Aku udah boleh pulang atau tunggu yang lain dulu?”
“Hmm, terserah lo, sih. Tapi baiknya ya nunggu. Biar yang dapat giliran casting terakhir nanti nggak merasa sendirian.” Panca yang menjawab.
Tapi karena Airin teringat pesan Athaya, gadis itu menambahkan, “Atau coba deh lo tanya Athaya. Kalau dia kasih izin buat pulang, ya lo pulang aja.”
Eureka tampak mengangguk. Gadis itu menuruti saran dari Airin dan ia memilih untuk menghampiri Athaya dalam rangka menanyakan hal itu.
Eureka mencari-cari di mana Athaya meng-casting teman-temannya. Gadis itu berjalan ke sisi seberang dari gedung kegiatan serbaguna itu. Dan benar saja, ia melihat Athaya di sana sedang sibuk memberi arahan ini dan itu pada Tisya.
Sebenarnya Eureka sungkan dan bimbang, apakah ia harus mendekat ke sana sementara temannya sedang berakting-ria. Bagaimana jika Tisya akan grogi dan tidak fokus karena kehadiran Eureka di sana?
“Eh, Re!” seru Pia yang menyadari kehadiran Eureka.
Yah, terlambat sudah kalau Eureka berpikiran untuk mengurungkan niatnya. Jadi alih-alih tetap berdiri mematung dengan pikiran bimbang, gadis itu memilih berjalan menghampiri Pia dan juga Athaya.
“Kenapa, Re?” tanya Pia saat Eureka berdiri di hadapannya. “Lo udah selesai casting?”
“Ini, Kak Pia, aku mau minta izin sama Kak Athaya,” jawab Eureka sambil curi-curi pandang ke arah Athaya.
Barangkali karena merasa namanya disebut-sebut, Athaya pun menolehkan kepala. “Bentar ya, Sya,” katanya pada Tisya sebelum beranjak mendekati Eureka.
“Kenapa?” Athaya menaikkan sebelah alis ketika bertanya. Pemuda itu mengamati Eureka dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Eureka berdeham singkat sebelum menjawab, “Aku izin pulang duluan boleh, Kak?”
Athaya mengangguk dan membalas, “Silakan. Lo udah selesai casting, kan? Bisa pulang sendiri?”
“Kalau nggak bisa pulang sendiri, mau lo anterin, Tha?” sela Pia sambil senyam-senyum meledek Athaya.
Athaya mengedikkan bahu. Pemuda itu tak ingin menanggapi ocehan Pia yang tidak ada juntrungannya. Ia justru menatap Eureka dengan serius dan berujar, “Pulang naik apa? Gue pesenin taksi gimana?”
“Aku bisa pesan sendiri. Tapi jalanan kampus banyak yang diportal, nggak bisa dilewati. Makanya tadi aku jalan kaki,” gumam Eureka lirih.
Pia menyenggol lengan Athaya. Bibirnya memberikan isyarat yang kurang lebih menyuruh Athaya mengantarkan Eureka.
“Lo bisa nge-handle casting sebentar? Gue anterin dia sampai luar kampus.” Athaya membalas isyarat dari Pia yang memintanya mengantar Eureka.
Pia menepuk jidat sembari memasang ekspresi dramatis. “Cuma sampai luar kampus? Sekalian sampai ke rumahnya kenapa, sih?”
Athaya menggeleng. “Gue harus buru-buru balik buat ngurus ini.”
“Serahin ke gue, Tha,” pinta Pia.
“Nggak, gue harus ada di sini buat pastiin semua berjalan sesuai rencana,” balas Athaya tak kalah keras kepala.
Pia memutar bola mata. “Terserah lo, deh, Tha,” pungkasnya. Ia pun berpaling pada Tisya yang sudah menunggu lama.
Sementara itu, Athaya memberikan kode agar Eureka mengikutinya. Eureka bergerak sigap. Gadis itu melangkah mengekori Athaya.
Namun ketika mendengar suara Tisya mulai melakonkan tokoh dalam naskah, Eureka berhenti melangkah. Gadis itu teringat bahwa ia masih mengenakan kardigan Tisya. Jadi Eureka memberi tahu Athaya untuk menunggunya mengembalikan kardigan itu. “Kak, aku balikin ini dulu ke Tisya.”
“Palingan juga dia nyuruh elo bawa dulu itu kardigan,” celetuk Athaya.
Tapi apa salahnya mencoba? Eureka tak ingin terbebani karena meminjam barang orang lain. Jadi setelah Tisya selesai bermonolog dan diberi jeda oleh Pia untuk membaca kembali naskahnya, Eureka menyela.
“Sya, aku balikin kardiganmu, ya? Thanks,” kata Eureka sembari mengulurkan kardigan itu pada Tisya.
Tisya tampak agak bingung ketika menerimanya. “Serius kamu balikin sekarang? Bawa aja dulu nggak apa-apa.”
Eureka menggeleng sebagai jawaban. Ia menjelaskan bahwa keadaannya kini sudah baik-baik saja. Lagian kan, ia sudah mengenakan kaus ganti dari Athaya. Eureka tak lagi begitu kedinginan.
“Oke, deh,” gumam Tisya sambil mengulas senyum lebar.
***
Athaya mengendarai mobil keluar dari halaman gedung kegiatan serbaguna. Pemuda itu melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cenderung lambat.
“Udah pesan taksi online?” tanya Athaya pada Eureka. Ia memastikan bahwa setelah turun dari mobil Athaya, Eureka bisa langsung berganti naik ke mobil jemputan.
Eureka menganggukkan kepala tanpa bicara apa-apa. Pandangan gadis itu tampak kosong menatap lurus ke jalanan di depan.
“Sorry, gue nggak lihat pesan lo. Gue nggak tahu kalau lo minta gue jemput.” Athaya menjelaskan tanpa diminta. “Pesan lo sempat ketimbun.”
Eureka menarik senyum kecut di bibir. Sepertinya Eureka memang setidak penting itu bagi Athaya. Sampai-sampai pesannya saja tertimbun dan tak terbaca. Tapi yang keluar dari bibir Eureka justru kata-kata yang memaklumi alasan Athaya. “Nggak apa-apa, Kak.”
Melihat Eureka tampak maklum, Athaya pun memilih mengubah topik pembicaraan. “Lo jalan kaki tadi? Dari mana?” cecar Athaya. Kali ini, biarkan Athaya sedikit kepo.
“Dari jalanan depan yang diportal,” jawab Eureka sambil menunjuk ke arah yang tadi dilewatinya. “Aku nggak tahu jalur lain kecuali jalur utama ini.”
“Lo beneran nggak ngerti jalan tikus di kampus ini?” Athaya dibuat keheranan dan tak habis pikir. Ia juga dengan cepat menyadari sesuatu dan menanyakannya pada Eureka, “Lo naik apa tadi? Taksi, kan? Sopirnya nggak tahu jalan lain selain jalan yang diportal tadi?”
Eureka menggeleng. “Nggak tahu,” gumamnya lesu.
Athaya dibuat tak bisa berkata-kata. Mungkin hari ini, Eureka memang sedang sial-sialnya. Padahal jalan utama itu bukan jalan satu-satunya menuju bagian dalam kampus.
Agar hal seperti ini tak terulang lagi, Athaya berujar, “Kalau jalan di depan diportal, lo tinggal minta pengemudinya buat lurus terus sampai mentok di jalan menuju ke perumahan di belakang kampus. Lo arahin sopirnya buat masuk ke dalam perumahan itu, sampai ketemu jalan utama lagi dan masuk lewat gerbang belakang kampus. Gampang, kan? Agak jauh dikit, yang penting lo nggak diturunin di jalan.”
Mendengarkan penjelasan Athaya, Eureka sama sekali tidak memiliki bayangan soal apa yang diucapkan cowok itu. Sehingga Eureka dengan polosnya memilih menggelengkan kepala sembari bergumam, “Sama sekali nggak ada bayangan.”
“Kebangetan!” Athaya lelah kalau harus mengulang penjelasannya.
***