♩✧♪● Theatre 17 ○♩♬☆

1650 Kata
Minggu sore itu, Eureka memesan taksi online untuk mengantarkannya ke salah satu tempat di kampus yang akan dijadikan tempat latihan Teater Artes. Kebetulan hari ini hujan turun dengan deras sehingga Eureka cukup kesulitan untuk pergi-pergi. Saat taksi pesanannya datang, Eureka berlari-lari kecil menghampiri taksi itu. Gadis itu tak membawa payung lantaran ia tak berhasil menemukan benda itu di rumah. Alhasil, Eureka sempat kehujanan saat berjalan menuju taksi itu. Perjalanan menuju kampus terasa hening dan dingin karena ditemani hujan yang turun di luar mobil. Eureka membuang pandangan ke luar jendela sembari melamun. Pikiran gadis itu melayang-layang pada pesan yang ia kirim ke Athaya beberapa jam lalu. Ya, Eureka meminta Athaya untuk menjemputnya mengingat sejak pagi tadi, hujan turun tak henti-henti. Sampai-sampai Eureka berniat untuk tidak datang saja ke casting Teater Artes hari ini kalau memang ia kesulitan untuk pergi ke tempat tujuan. Entah sudah berapa lama gadis itu melamun. Ia baru tersadar ketika dipanggil-panggil oleh pengemudi taksi. “Mbak, jalan di depan diportal,” lapor sang pengemudi. Eureka langsung melihat-lihat ke sekitar. Dan benar saja, jalanan di depan tampak diportal hingga tak memungkinkan bagi kendaraan sebesar taksi ini untuk bisa melewati portal itu. Ah, Eureka lupa, ini kan hari Minggu. Jalanan di kampus memang akan diportal begitu ketika hari libur. Maka hanya lokasi-lokasi tertentu yang bisa dilewati. Biasanya tempat yang langsung berbatasan dengan jalan utamalah yang bisa dikunjungi dengan kendaraan begini. Sementara kali ini, Eureka harus datang ke gedung serba guna yang berada di tengah kampus, diapit gedung-gedung fakultas lain. "Mbak tahu jalan alternatif? Jalan tikus begitu," tanya sang pengemudi. "Saya tidak familier dengan daerah kampus ini, Mbak. Jarang-jarang saya antar orang ke sini. Jadi saya cuma tahu jalan utamanya saja." Eureka memutar otak. Ia juga bukan tipe orang yang paham jalanan dan seluk-beluk kampusnya. Apalagi Eureka tidak pernah membawa kendaraan sendiri. Biasanya ia menyerahkan urusan mencari jalan pada yang mengendarai kendaraan, entah motor atau mobil. Eureka menggelengkan kepala. "Saya juga nggak hafal jalan, Pak," ujarnya. Pengemudi itu tampak bingung. Ia juga tidak bisa memberi solusi. Sepertinya ketimbang ingin mencari jalan, pengemudi itu ingin menurunkan Eureka saat itu juga. Padahal ini belum sampai ke tujuan. Menyadari bahwa Eureka sudah menghabiskan waktu terlalu lama di mobil itu, sementara tak ada jalan keluar selain dirinya yang harus sadar diri, Eureka pun memilih membayar ongkos dan keluar dari mobil itu. Begitu Eureka menginjakkan kaki di trotoar jalan sekeluarnya dari mobil, Eureka langsung dihujani air dengan derasnya. Eureka refleks menutupi kepala dengan tas yang kecil dan sama sekali tak bisa menghalangi laju air menerpa tubuhnya. "Duh, gue harus ke mana ini?" gumamnya sambil gemetaran menahan dingin. Dan sial, taksi yang tadi ditumpangi gadis itu sudah melaju pergi entah ke mana. Eureka tak ada pilihan selain melanjutkan jalan. Gadis itu berlari-lari kecil untuk mencari tempat berteduh, meski nihil. Jadilah ia langsung menuju ke tempat latihan Teater Artes yang berjarak beberapa blok gedung dari tempatnya berdiri saat ini. Jangan ditanya bagaimana keadaan gadis itu. Eureka yakin dirinya tampak menyedihkan. Bahkan ketika tiba di tempat latihan itu, Eureka berhasil menyita perhatian banyak orang. Beberapa dari mereka tampak melongo kaget. Beberapa lagi justru berusaha mengenali siapa orang yang datang dengan keadaan basah kuyup begitu. "Reka!" seru Airin dan Tisya bersamaan. Kedua gadis itu pun berlarian menghampiri Eureka. Tisya tampak melepas kardigan dan menyampirkan kardigan itu ke bahu Eureka. "Duh, Re, kok lo bisa basah kuyup gini?" tanya Tisya prihatin. Airin tampak memeras air di rambut Eureka dan merapikannya. Ia pun merangkul Eureka dan mengajak gadis itu berjalan ke bagian di mana teman-teman teater mereka berkumpul. "Re, lo jalan kaki, ya? Lo naik apa tadi? Kenapa nggak berhenti di depan sini aja?" Eureka menggelengkan kepala. Gadis itu sudah sesenggukan. Pertahanan Eureka untuk tidak menangis ternyata tidak berhasil membendung air matanya. Apalagi melihat perhatian Airin dan Tisya. Eureka makin ingin menangis saja. Ia tak menolak ketika dibawa Airin ke teras gedung serbaguna di mana anak-anak Teater Artes berkumpul. Dan tentu saja, kehadiran Eureka di sana langsung menjadi pusat perhatian semua orang. Beberapa dari mereka tampak menawarkan bantuan ini dan itu. Namun Eureka tak membalas itu semua. Perhatiannya kini tertuju pada Athaya yang berdiri di ambang pintu. *** Athaya menyiapkan tempat latihan dengan memindahkan beberapa barang dari teras gedung kegiatan serbaguna ke bagian lain dari gedung itu. Maklumlah, mereka tidak membuat surat izin untuk menggunakan bagian dalam dari gedung. Alhasil, mereka hanya bisa berlatih di bagian luar gedung saja. Athaya baru selesai memindahkan sebuah kursi dan ketika ia kembali, ia dibuat terpaku di tempat. Bagaimana tidak, pemuda itu melihat penampakan memprihatinkan dari sosok Eureka. Setelah menguasai diri dari kekagetannya, Athaya berjalan perlahan mendekati Eureka. Pemuda itu berusaha menutupi rasa panik saat mendapati Eureka basah kuyup dan tampak menggigil kedinginan. "Lo kok bisa kehujanan gini? Lo ke sini jalan kaki? Lo tol—" Kalimat Athaya menggantung. Pemuda itu hampir saja mengatai Eureka dengan perkataan kasar. Padahal Eureka sedang kesusahan. Athaya menarik napas untuk mengatur emosi. Jangan sampai ia asal bicara karena pikirannya yang berantakan. "Lo ikut gue ke mobil," ujar Athaya sembari menarik lengan Eureka seolah Eureka adalah anak kecil baginya. Beberapa anggota Teater Artes tampak menahan kepergian Athaya dan Eureka. Mereka menanyakan alasan Athaya membawa Eureka pergi dari sana. “Gue ada kaus di mobil, mau gue ambil,” terang Athaya membuat teman-temannya paham dan membiarkan Athaya pergi membawa Eureka. Setibanya di mobil Athaya yang terparkir di dekat koridor samping, Athaya mengambil kaus dan memberikan kaus itu pada Eureka. Tanpa banyak bicara, Athaya menyuruh Eureka pergi ke toilet yang kebetulan letaknya tak jauh dari sana. “Anterin, Kak,” pinta Eureka setelah melihat toilet yang gelap dan sepi itu. Athaya menghela napas, menganggukkan kepala, lalu mengekori Eureka menuju toilet itu. Jarak beberapa meter dari pintu masuk toilet, Athaya berujar, “Gue tunggu di sini. Gih, lo masuk!” Eureka tampak ragu. Namun karena ia juga risih dengan bajunya yang basah, Eureka pun memantapkan langkah memasuki toilet itu. Athaya tak perlu menunggu lama, Eureka menyelesaikan urusannya dengan cepat. Gadis itu lalu berlari-lari kecil menghampiri Athaya. “Udah,” lapor Eureka. Athaya mengangguk. Namun pandangannya jatuh pada kardigan yang tampak cukup kering, padahal seluruh tubuh Eureka basah terkena hujan tadi. Karena penasaran, Athaya bertanya, “Itu kardigan siapa? Pasti bukan punya lo, kan?” “Punya Tisya, Kak. Tadi dia langsung kasih pinjam kardigannya pas aku dateng basah-basahan,” jawab Eureka. “Oke,” balas singkat Athaya. Tatapan pemuda itu lantas turun ke celana jeans Eureka yang tampak basah dan kotor namun tidak separah baju atasan. “Lo mau balik aja? Celana lo basah gitu. Besok lo bisa ikut casting susulan.” Eureka menggelengkan kepala. Usahanya untuk sampai ke tempat ini saja sudah merepotkan. Masa ia harus pulang begitu saja tanpa melakukan apa-apa. Semua usaha Eureka akan jadi percuma. “Aku mau ikut casting sekarang.” Athaya tampak memutar bola mata sambil berkata, “Terserah lo aja. Tapi kalau lo sakit atau kenapa-kenapa, tanggung sendiri akibatnya.” Eureka menganggukkan kepala dengan tegas. Ia sudah bertekad untuk menyelesaikan urusannya terlebih dahulu. “Ya udah, yuk balik gabung sama yang lain,” ajak Athaya. Ia sadar, kalau ia dan Eureka pergi terlalu lama, pasti akan membuat anggota lain yang kepo jadi bertanya-tanya. Itu tidak baik bagi Athaya dan mungkin juga Eureka. Begitu Athaya kembali, ia langsung meminta anggota Teater Artes untuk berdiri membentuk lingkaran besar. Ia memimpin doa dan pemanasan sebelum latihan—atau yang kali ini akan diisi casting—dimulai. Selama pemanasan, Athaya terus mengawasi Eureka. Gerakan pemanasan memang tidak berat, namun ia cukup takut membuat anak orang jatuh pingsan. Ingat kan, Eureka habis kehujanan. Bisa jadi Eureka menyembunyikan kondisi yang sebenarnya, misal dia ternyata merasa pusing atau semacam itu. Setelah lima belas menit melakukan pemanasan, Athaya meminta teman-temannya untuk mengambil istirahat barang beberapa menit sebelum lanjut melaksanakan kegiatan inti pertemuan hari ini. Saat istirahat, Athaya menyodorkan botol minum ke arah Eureka. Dengan nada bicara yang datar, pemuda itu menawarkan, “Minum?” Eureka yang semula menunduk, kini mendongakkan kepala. Ia menerima uluran botol minum itu dari tangan Athaya. “Makasih, Kak,” gumam Eureka. Dari yang Athaya tangkap, suara gadis itu makin melemah saja. Tak ada lagi keceriaan seperti biasanya. Athaya memutuskan berjongkok di hadapan Eureka untuk mengamati gadis itu lebih detail lagi. Athaya bertanya, “Lo sakit, kan?” Eureka menggeleng dan menjawab, “Nggak, kok. Aku nggak apa-apa.” “Nggak usah nyusahin diri sendiri, Re,” desis Athaya tajam. Ia melanjutkan, “Gue ketua di sini dan gue bertanggung jawab atas apa yang terjadi sama anggota-anggota gue. Lo mau nyusahin gue juga?” “Aku casting dulu. Habis itu baru pulang.” Eureka tetap berkeras. Athaya merasa usahanya tak akan cukup untuk melawan Eureka yang keras kepala. Ia pun bangkit berdiri dan berjalan menghampiri anak-anak dari angkatannya. “Gimana, Tha, mulai sekarang casting-nya?” tanya Pia yang sudah tampak tidak sabar menguji kemampuan akting adik-adiknya di Teater Artes. Athaya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Namun ia menambahkan, “Gue minta tolong, nanti Reka di-casting awal-awal, ya. kayanya dia sakit, tapi masih maksain diri buat ikut casting.” Beberapa pengurus Teater Artes dari angkatan Athaya tampak saling bertatap-tatapan. Mereka menyunggingkan senyum jahil, siap meledek Athaya. Namun sebelum itu, Athaya berujar dengan nada sarkas, “Apa? Mau ngeceng-cengin gue sama dia? Gue cuma merasa bertanggung jawab sebagai ketua.” “Iya, iya, kalem sih, Tha,” ujar Airin sambil menahan kekehan geli. “Ya udah, kita jadi bentuk tiga kelompok, kan? Gue sama Athaya nge-handle kelompok satu. Airin sama Panca urus kelompok dua. Sekar, Sarah, kalian handle kelompok tiga. Di kelompok satu ada Syakila, Sasa, Cicilia, Tisya, dan Jihan. Kelompok dua ada Eureka, Dinda, Salwa, Hani, Meta, dan Aidan. Kelompok tiga ada Ezhar, Edgar, Owen, Sabian, Fabio, dan Taksa. Yang nggak dateng hari ini dan nggak konfirmasi, anggap aja nggak niat ikut casting. Ah, satu lagi, sesuai pesan Athaya, nanti yang nge-handle kelompok dua jangan lupa buat panggil Eureka buat di-casting pertama.” Pia memberi arahan panjang lebar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN