♩✧♪● Theatre 16 ○♩♬☆

1721 Kata
Pada kenyataannya, Athaya tak jadi menurunkan Eureka di jarak seratus meter dari kafe yang menjadi tujuan mereka malam itu. Meski demikian, setelah turun dari mobil, Athaya menyuruh Eureka masuk duluan ke kafe itu, sementara Athaya masuk belakangan. Eureka tak keberatan. Sudah untung dirinya tak jadi diturunkan di jalanan. Huft, Eureka tak bisa membayangkan kalau ia harus berjalan kaki, malam-malam dan sendirian. Ternyata Athaya tak sekejam itu. “Oke, aku masuk duluan ya, Kak,” ujar Eureka sembari menyampirkan tas selempang kecil ke bahunya. Gadis itu lantas mulai berlari-lari kecil menuju ke pintu masuk kafe. Sementara Athaya yang masih tertinggal di luar memilih untuk menyalakan sebatang rokok. Tenang saja, ia tak berniat menghabiskan seluruh rokoknya. Palingan kalau sudah lewat lima menit, ia akan menyusul Eureka memasuki kafe itu. Kembali ke Eureka, ketika gadis itu tiba di bagian dalam kafe, ia langsung menuju ke sebuah meja yang sudah dijejer hingga cukup untuk dikelilingi oleh hampir dua puluh orang anggota Teater Artes. “Eh, maaf, aku terlambat ya?” tanya Eureka sembari mengambil tempat duduk di sebelah Tisya. Eureka merasa cukup sungkan karena sudah banyak yang datang. Airin yang duduk di seberang meja Eureka membalas, “Santai aja, Re, ketuanya juga belum datang.” “Oh, Kak Atha udah dateng, kok,” ceplos Eureka tanpa pikir panjang. Setelahnya, ia merasa menyesal telah bicara begitu. Pia yang duduk di sebelah Airin otomatis menoleh. Gadis itu tampak keheranan. “Kalau udah dateng kenapa nggak masuk? Lo kan lihat, kenapa nggak ajak masuk sekalian?” “Eh, iya, anu—” Eureka tampak tergagap ketika akan menjawab. Tapi syukurlah, ia tak harus melanjutkan ucapannya karena Athaya—orang yang ditunggu-tunggu itu—menampakkan batang hidung di sana. Sekar langsung berujar, “Ini dia yang ditunggu-tunggu. Lama amat datengnya?” Athaya hanya menunjukkan bungkus rokok yang tadi digenggamnya sebagai jawaban atas pertanyaan Sekar. Ia langsung menjatuhkan bokongnya di bangku yang masih kosong. “Mau dimulai sekarang? Udah pada dateng semua?” “Kurang Meta, Aidan, sama Taksa,” jawab Sarah selaku anak humas, “mereka izin ke gue soalnya mereka masih rapat di BEM. Nanti kalau masih bisa nyusul, ya mereka nyusul.” Athaya kini menoleh ke arah Sarah dan kembali bertanya, “Selain mereka ada lagi yang izin?” Sarah menggelengkan kepala. Lalu ia tampak mengedarkan pandangan sembari menghitung. “Udah bener kok. Cuma mereka bertiga yang belum ada di sini,” katanya setelah selesai menghitung. Athaya mengangguk mengerti. Tanpa membuang waktu lagi, pemuda itu mulai membuka sesi rapat dengan bahasan pokok terkait kompetisi monolog yang akan datang. Selama rapat, Eureka sibuk mencatat poin-poin penting dari rapat ini di ponsel. Gadis itu tak banyak bicara karena harus memperhatikan orang-orang yang bicara. Kecuali saat voting, barulah Eureka memberikan suaranya. *** Sekarang pembahasan rapat sudah sampai pada tahap penentuan tanggal casting dan siapa saja yang maju atau tidak maju. Ya, sebelumnya mereka sudah membahas apakah akan melanjutkan rencana mengikuti kompetisi ini atau tidak. Dan hasilnya, mayoritas memilih untuk mengikuti kompetisi. Sebagian kecil yang tidak berkenan pada kompetisi ini dengan memberikan alasan yang jelas, maka diperbolehkan untuk tidak ikut dalam rangkaian proses persiapan kompetisinya. “Gue kasih kesempatan buat yang berminat jadi pimpinan produksi untuk nggak ikut casting. Tapi tentu, orang ini udah akan fiks jadi pimpro.” Athaya berujar sembari mengedarkan pandangan. Salah satu anggota Teater Artes bernama Hani tampak mengacungkan tangan. Namun ia buru-buru bicara, “Eh, aku mau nanya. Bukan mau mengajukan diri jadi pimpro.” Teman-temannya yang lain langsung gaduh menanggapi itu. Sementara Athaya berusaha membuat situasi kembali kondusif. “Tanya apa?” “Sutradaranya siapa, Kak?” Hani bertanya sembari cengar-cengir karena ia sempat membuat semua orang salah paham. Athaya tampak berpikir. “Belum ada sih. Tapi nanti mungkin dari angkatan gue? Karena kalau bisa, sutradara itu dipegang sama orang yang udah pernah merasakan jadi aktor di pementasan.” “Siapa, ya?” Airin menimpali ucapan Athaya. “Dari angkatan kita yang pernah jadi aktor di pementasan kan baru elo, gue, Panca, sama Sarah. Gue sibuk ngurusin proker Teater Artes yang lain. Sar, Panca, kalian gimana, sanggup nggak?” Sarah dan Panca kompak menggelengkan kepala. “Kenapa nggak Athaya aja? Tahun kemarin, dia jadi tokoh utama di pementasan, kan? Mateng banget itu pasti latihannya.” Sarah melempar umpan pada Athaya. Apalagi Panca, cowok itu tampak sangat ingin menghindari tugas berat semacam ini. Ia mendukung dengan keras bahwa Athaya lah orang yang paling cocok menjadi sutradara. “Masa semua kegiatan gue yang pegang? Gue nggak sanggup, lah!” Athaya tampak cemberut. Sebagai ketua, bagaimana dia diserahi tugas ini dan itu, membuat pemuda itu merasa ditinggalkan oleh anggotanya. “Kalau gue sutradara, tanggung jawab gue di proker lain yang gue pegang harus turun ke anak-anak angkatan gue.” “Oke, deal!” seru Pia. “Sutradara lebih berat tanggung jawabnya dari yang PJ di proker lain itu. Kalau kalian nggak keberatan, gue aja yang gantiin Athaya jadi PJ di proker yang satu lagi. Gimana?” “Boleh, boleh banget! Gue setuju kaya gitu,” timpal Airin. Sementara anggota Teater Artes yang ada di bawah angkatan Athaya tampak kebingungan dengan proker lain yang dimaksud oleh anggota dari angkatan Athaya. Mereka saling berbisik satu sama lain. Sampai akhirnya, karena penasaran, Syakila bertanya, “Proker yang satunya itu proker apa ya, Kak?” “Oh, itu, rahasia! Nanti kalian juga pasti suka,” celetuk Airin sambil terkekeh geli. Jawaban dari Airin ini makin memicu rasa penasaran anggota lain. Namun sebelum pembahasan makin melebar, Athaya meminta kembali perhatian teman-temannya. Ia menyimpulkan pembahasan sebelumnya, “Oke, jadi sementara ini sebelum ada perubahan rencana atau apapun itu, gue sutradaranya. Terus sekarang siapa yang bersedia jadi pimpinan produksi?” Tentu saja, tak ada yang mengajukan diri. Mendengar kata pimpinan produksi pasti akan membuat siapa saja merasa terbebani. “Kerjaan pimpro ngapain aja, Bang?” tanya Owen setelah suasana hening beberapa lamanya. “Banyak sih, tapi nggak berat, kok.” Athaya sedikit menutup-nutupi. “Lo nggak akan kerja sendiri karena nanti kan di tiap posisi produksi juga akan ada pimpinan per posisi dan anggotanya. Pimpro paling ngasih arahan dan koreksi kalau ada yang kurang sesuai sama rencana produksi. Selebihnya, lo bisa belajar sambil jalan nanti.” Mendengar penjelasan Athaya, Owen tampak berpikir ulang. Akhirnya, ia justru menggelengkan kepala. “Kalau gitu, yang lain dulu deh, Bang.” Athaya mengembuskan napas yang sempat ia tahan beberapa saat. Ia pikir, Owen akan mengajukan diri. Nyatanya tidak demikian. “Oke, yang lain kalau gitu. Siapa yang bersedia?” “Ini tanpa pemaksaan biar sama-sama enak ya,” sela Pia mengingatkan. “Kalau kami main tunjuk-tunjuk aja, nanti kalian nggak sreg gimana? Kalau memang kalian merasa mampu, nggak usah malu-malu buat mengajukan diri.” Kaka mengangkat tangan sembari berucap, “Gue bersedia jadi pimpro. Tapi mohon bimbingan kakak-kakak sekalian.” “Sip, Kaka pimpro!” Pia yang memang tak suka bertele-tele langsung memutuskan. Athaya mengangguk-anggukkan kepala. Ia setuju saja bila Kaka mengisi posisi itu karena Athaya sudah melihat kinerja Kaka selama beberapa waktu ini. Berhubung satu masalah sudah beres, ia kembali ke pembahasan soal casting. “Casting ini wajib ikut semua, ya. Malam ini kalian bisa cari-cari naskah sesuai dengan daftar naskah yang akan dipakai di kompetisi monolog besok. Kalian pahami naskahnya. Minimal kalian bisa tampilin satu halaman, masih baca naskah nggak apa-apa. Besok sore kita kumpul lagi buat casting.” “Secepat itu, Kak?” Dinda dibuat melongo. Athaya mengangguk. Ia menekankan, “Kita nggak punya cukup waktu kalau mau proses dengan bersantai-santai. Karena setelah casting dan tentuin siapa yang bakal jadi delegasi lomba, kita masih harus siapin berkas pendaftaran kompetisi ini. Pengumpulan berkas ditutup dua minggu lagi. Jadi kita nggak bisa berlama-lama.” “Iya, nanti sebisa kalian dulu aja. Baca naskah boleh, nggak usah dihafalin. Yang penting paham, jadi bisa bawainnya. Okay?” Sekar menambahkan. “Ah, atau mau mulai cari naskah dan latihan baca sekarang? Mumpung belum terlalu malam juga, kan? Nanti gue bantu kalian.” “Okay!” seru beberapa anggota Teater Artes yang ada di sana. “Setuju,” timpal yang lain. “Boleh deh, nyicil kerjaan.” Athaya pun menutup rapat lebih awal. Beberapa hal yang belum dibahas sekarang, akan dibahas besok setelah casting saja. *** Eureka baru tiba di rumah ketika jam menunjukkan pukul dua belas malam lebih beberapa menit. Ia pulang diantar Athaya setelah memastikan semua anggota Teater Artes pergi dari kafe itu. Tentu saja ini karena mereka ingin menjaga rahasia soal mereka yang datang dan pulang bersama. Ah, selain itu, Athaya juga beralasan bahwa ia ingin memastikan teman-temannya tidak telantar di kafe itu dan bisa pulang dengan selamat. Kini Eureka sudah turun dari mobil Athaya dan gadis itu sedang menerima barang-barang operan dari Athaya. Meski ngantuk berat, Eureka harus mengusung barang-barangnya yang sudah dikeluarkan Athaya dari dalam mobil ke dalam rumah. “Yang berat-berat tinggal di situ aja. Gue yang bawa,” ujar Athaya ketika Eureka akan menyeret sebuah koper berukuran cukup besar dan pastinya berat. Eureka tak membantah. Ia memilih menenteng sebuah ransel dan tas-tas kecil berisi barang-barang yang tidak cukup ia simpan di dalam koper. Setelah tangannya penuh, Eureka berujar, “Aku ke dalam dulu ya, Kak.” Athaya mengangguk dalam diam. Pemuda itu mengeluarkan koper terakhir milik Eureka dan menutup bagasi. Ia melihat Eureka sudah memasuki rumah yang sepertinya tak dikunci. Dari luar, Athaya bertanya, “Nyokap lo udah di rumah?” “Udah, Kak,” jawab Eureka saat kembali keluar rumah. “Barang-barang Mama udah ada di dalam. Mungkin ketiduran makanya nggak tahu aku datang.” Athaya kembali mengangguk. Pemuda itu memindahkan koper-koper Eureka ke teras rumah dan menariknya ke dalam. Acara memindah-mindahkan barang itu selesai dalam lima menit. Berhubung malam juga sudah sangat larut, Athaya langsung pamit pulang. “Sorry nggak bisa ketemu nyokap lo. Salam buat Tante Alena.” Athaya berkata sembari keluar dari rumah Eureka. “Oke, nanti aku sampaiin,” balas Eureka sembari menenggerkan senyum di wajahnya yang sudah diselimuti kantuk. “Kak Atha, thanks ya udah antar dan bawain barang-barangku. Hati-hati di jalan.” Athaya menggumam mengiakan. Sebelum benar-benar meninggalkan teras rumah Eureka, Athaya berpesan, “Jangan lupa kunci pintu. Dah sana masuk.” “Nanti dulu. Aku mau lihat Kak Atha pulang.” Seperti biasa, Eureka memang keras kepala. Athaya tak terlalu ambil pusing pada jawaban Eureka. Ia memilih langsung masuk ke mobil, menyalakan mesin dan mengklakson pelan, lalu cabut dari sana. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN