♩✧♪● Theatre 15 ○♩♬☆

1598 Kata
Eureka baru saja selesai berbicara dengan beberapa kakak tingkatnya di Teater Artes. Eureka tidak dimarah-marahi seperti yang sudah ia bayangkan sebelumnya. Namun gadis itu tetap dimintai pertanggung jawaban. Eureka ingat betul bahwa tadi salah seorang kakak tingkatnya mengatakan bahwa jimat keberuntungan itu mungkin tidak benar-benar berpengaruh pada keberhasilan dan pencapaian Teater Artes sampai saat ini. Mungkin semua itu hanya kebetulan belaka. Namun namanya tradisi, mereka tetap ingin menyimpan barang peninggalan dari angkatan pelopor Teater Artes. Anggaplah benda keramat yang hilang itu adalah saksi dari perjalanan Teater Artes hingga saat ini. Alhasil, untuk menebus kesalahan yang telah ia perbuat, Eureka diberi pesan oleh kakak tingkatnya agar ia dan pengurus Teater Artes yang sekarang bisa memberikan banyak prestasi di tahun kepengurusan ini dan ke depannya. Katakanlah bahwa pencapaian yang diraih Teater Artes ke depannya akan mematahkan kepercayaan bahwa ada benda yang mereka yakini sebagai benda membawa keberuntungan bagi Teater Artes. “Intinya, aku dan anggota Teater Artes harus bisa membuktikan bahwa benda yang hilang kemarin itu bukanlah sesuatu yang benar-benar berpengaruh buat Teater Artes. Soal sukses atau sial, aku dan yang lain harus membuktikan bahwa itu balik lagi ke usaha anggota Teater Artes dan bukannya karena jimat keberuntungan semata. Tanpa benda itu pun, Teater Artes tetap bisa sukses dalam berbagai hal.” Eureka berbicara pada dirinya sendiri selama perjalanan keluar dari kampus. Gadis itu bertekad untuk menyampaikan hal tersebut sesegera mungkin kepada anggota Teater Artes lainnnya. Pokoknya, mulai detik ini, Eureka pastikan bahwa Teater Artes akan menunjukkan kemajuan. Saat akan menepi ke trotoar di jalanan di depan kampus, Eureka justru mendapati ada Athaya yang akan melaju keluar dari kampus. Jadi alih-alih menepi, Eureka berniat menghadang Athaya. “Kak, Kak Atha!” panggil Eureka. Athaya terlihat ingin melengos saja. Namun Eureka dengan nekatnya berlari ke tengah jalan untuk menghadang laju motor Athaya. "Lo gila, ya?" Athaya mendesis geram. Ia bertanya-tanya, sampai kapan ia harus berurusan dengan sikap childish-nya Eureka ini. Bukan apa-apa, Athaya hanya tak ingin jadi tersangka jika tak sengaja menabrak Eureka. "Terserah Kak Athaya mau bilang apa. Tapi aku nebeng, ya? Udah hampir gelap, nih,” mohon Eureka. Selanjutnya, tanpa mendengar jawaban dari Athaya terlebih dahulu, gadis itu langsung nangkring di jok belakang motor Athaya. Athaya dibuat terperangah sampai tak bisa berkata-kata. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun. Namun saat Athaya ingin buka suara guna mengusir Eureka dari jok belakang motornya, Eureka justru menyela. “Aku nebeng Kak Atha karena aku mau cerita soal pertemuanku sama anggota dari angkatan atas Teater Artes.” Eureka berujar dengan serius. Padahal apa yang diucapkannya barusan ini mungkin hanya alasan semata. Karena selain ingin bercerita, Eureka juga ingin mendapat tumpangan gratis dari Athaya. Lagian, mereka masih tinggal serumah sekarang. Kesempatan Eureka untuk nebeng di motor Athaya akan segera berakhir ketika ia kembali tinggal di rumahnya dan bukan menumpang tinggal di rumah Athaya. Pada akhirnya setelah menghela napas, dengan berat hati, Athaya melajukan motor meninggalkan area kampus. Ia membiarkan Eureka untuk kali ini saja. Sepertinya Eureka mulai tak takut pada Athaya. Jadi sebelum semuanya makin runyam, Athaya harus lebih bersikap keras pada Eureka. “Jadi apa yang mau lo ceritain? Kalau itu cuma alasan lo aja biar bisa nebeng gue, mending turun sekarang,” ujar Athaya sembari mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Diancam begitu, Eureka langsung membuka mulut. Ia bercerita ini dan itu terkait pertemuannya dengan para pendahulu di Teater Artes. Sebagai penutup cerita, Eureka berkata, “Kak, kita harus ikut kompetisi monolog itu dan menang. Dengan begitu, anggapan tentang bingkai foto yang hilang itu akan membawa sial buat Teater Artes maka otomatis akan terpatahkan.” Athaya mengedikkan bahu. “Entahlah, gue nggak yakin. Belum apa-apa, beberapa anak dari angkatan lo udah mengatakan bahwa mereka nggak bisa berpartisipasi di kegiatan ini. Kalau banyak yang nggak bisa, otomatis kita batal ikut serta di kompetisi itu.” “Tapi yang lain masih ada yang bisa, kan?” Eureka tetap optimis. “Bisa, tapi kalau sedikit, sama aja bakalan ada yang nge-handle dua atau lebih posisi di pementasan ini. Padahal itu nggak diperbolehin di ketentuan kompetisinya.” Athaya tampak pesimis. “Mungkin tinggal sepuluh orang dari angkatan lo yang bisa maju. Belum lagi kalau posisinya nggak cocok, bisa jadi ada yang mundur.” Eureka menarik napas dalam sebelum mengembuskannya perlahan. Duh, rencana untuk membuktikan kebenaran kutukan atau keberuntungan dari bingkai foto itu kemungkinan besar tak akan terlaksana. Jadi bagaimana, ya? Sepanjang jalan, Eureka memutar otak. Ia berusaha mencari jalan keluar agar mereka semua bisa ikut kompetisi ini. Bahkan syukur-syukur bisa menang. Karena terlalu asyik melamun, gadis itu sampai tak sadar bahwa Athaya sudah menghentikan motor di halaman rumah Athaya. Pantas saja Athaya berdeham-deham tak jelas. Barangkali itu adalah kode agar Eureka tersadar dari lamunan. “Mau sampai kapan duduk di situ?” tanya Athaya dengan nada bicara yang tak ada ramah-ramahnya. “Eh, iya,” balas Eureka lalu melangkah turun dari motor Athaya. “Makasih Kak Atha yang baik hati dan tidak sombong udah mau antarin Reka dengan selamat sampai tujuan.” Athaya mendengkus lalu mencibir, “Apaan, sih! Ada atau nggak ada lo, gue toh tetap akan ke sini!” Eureka mengulum senyum menatapi Athaya yang sudah berjalan lebih dulu ke arah teras. Gadis itu berujar pada dirinya sendiri, “Nggak apa-apa, Re. Pelan-pelan aja deketin abang yang satu itu.” *** Hari telah berganti. Dan di malam minggu itu, Athaya berniat mengantarkan Eureka kembali ke rumah gadis itu. Namun sebelum ke sana, Athaya juga harus bertemu dengan anggota Teater Artes guna membahas beberapa hal yang sempat mereka tunda karena rapat beberapa hari lalu urung mereka laksanakan. “Jadi berangkatnya gimana?” tanya Eureka yang sudah menggendong ransel. Juga ada beberapa koper di hadapan gadis itu. Athaya memperhatikan Eureka dan barang-barang gadis itu secara bergantian. “Kita nggak bisa berangkat bareng. Lo duluan aja ke tempat kita janjian sama anak-anak Teater Artes.” “Hah?” Eureka dibuat melotot tak percaya. “Bukannya lebih efisien kalau kita berangkat bareng?” “Dan ngasih tau semua orang kalau kita—” Athaya tak melanjutkan ucapannya. Pemuda itu mengusap wajah dengan kasar. Ia berusaha mengendalikan diri untuk tidak mengatakan beberapa hal yang terdengar menggelikan di telinganya sendiri. Eureka sempat akan membalas lagi ucapan Athaya. Namun ia urungkan lantaran melihat Tante Maira yang sedang berjalan mendekat ke arah ia dan Athaya. “Ada apa ini kok kalian kelihatan lagi ada selisih paham,” seloroh Tante Maira yang memang ada benarnya. Maira lalu melirik ke arah Athaya dan bertanya, “Kamu bikin ulah lagi, Mas? Kali ini apa?” Baik Athaya maupun Eureka sama-sama terdiam. Masa iya persoalan seperti ini harus melibatkan Maira? Tentunya, Athaya dan Eureka masih sama-sama waras untuk tidak melibatkan orang tua di tengah konflik sengit mereka. “Enggak ada apa-apa kok, Tan.” Eureka yang menjawab. Athaya tampak mengangguk setuju. “Nggak ada apa-apa, Ma. Ini Athaya mau masuk-masukin barang bawaan Eureka ke mobil.” Dengan alasan itu, Athaya meninggalkan mamanya. Ia membiarkan sang Mama ganti menanya-nanyai Eureka. Ah, mungkin juga saling berpamitan dan mengucapkan kata-kata manis ala perempuan ketika akan berpisah. Tapi Athaya tak peduli. Setelah semua barang Eureka masuk ke mobil, Athaya memberi kode agar mereka segera berangkat. “Ma, kami berangkat dulu.” “Pulangin Eureka ke mamanya baik-baik ya, Mas,” pesan Maira pada Athaya. Athaya mengangguk sekadarnya. “Iya, Athaya usahakan, Ma.” “Ya, udah sana kalian berangkat.” Maira mengantarkan kepergian Athaya dan Eureka sampai ke teras. Namun sebelum Eureka masuk ke dalam mobil, Maira berkata, “Re, sering-sering main ke sini. Tante senang kalau rumah rame. Aulia juga senang punya kakak perempuan.” “Siap, Tan,” balas Eureka dengan senyum semringah. Maira mengangguk dan balas tersenyum lebar. Ia menambahkan, “Bilang aja ke Athaya kalau kamu mau main ke sini. Biar nanti Athaya jemput kamu. Atau kalau kalian masih sama-sama di kampus, ya pulang bareng aja.” “Udah lah, Ma, Eureka udah gede. Kalau dia mau ke sini, ya tinggal ke sini sendiri,” sela Athaya sebelum sang mama bicara yang aneh-aneh dan membuat Athaya kerepotan karena harus berurusan dengan Eureka. Sesaat kemudian, Athaya memberi kode dengan dagu agar Eureka cepat-cepat masuk ke dalam mobil. Athaya masuk ke dalam mobil lebih dulu, disusul Eureka yang mengambil tempat duduk di sebelah pengemudi. Tak berlama-lama, Athaya segera mengeluarkan mobil dari halaman rumah dan melaju di jalanan kompleks menuju ke jalan protokol di luar sana. “Kak,” panggil Eureka setelah meletakkan ponsel di pangkuan. Athaya tak menjawab apa-apa. Namun sepertinya Eureka sudah mulai paham dengan sikap Athaya. Meski tidak memberi respon berarti, pemuda itu tetap pasang telinga untuk mendengarkan ucapan lawan bicaranya. Jadi Eureka tetap lanjut bicara. “Kak Atha nggak akan nurunin aku di tengah perjalanan, kan?” Eureka memastikan. “Hmm,” gumam Athaya sambil masih fokus mengemudikan mobil di tengah padatnya jalanan. Ah, Athaya lupa, ini malam minggu. Pantas saja jalanan dipadati oleh kendaraan dan muda-mudi yang pastinya menyempatkan waktu di akhir pekan untuk bersenang-senang. Eureka meneruskan ucapannya, “Kalau gitu, nggak apa-apa orang lain tahu kita dateng barengan?” Athaya melirik sekilas ke Eureka lalu ia kembali mengalihkan tatapan ke jalanan di depan. Athaya berujar, “Nanti gue turunin lo di belokan jalan, seratus meter dari kafe yang akan kita tuju.” “Ah,” jerit Eureka, “nggak mau, Kak. Kak Atha kok tega!” “Ya terus?” Athaya mengerutkan kening. “Gue turunin di sini aja biar lo bisa pesan ojek atau taksi online?” Eureka menggelengkan kepala. “Itu juga bukan pilihan yang bagus!” Athaya mengulum bibir, menutupi senyum yang hampir terbit di sana. Ia menahan geli melihat Eureka putus asa karena diberi pilihan sulit oleh Athaya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN