♩✧♪● Theatre 14 ○♩♬☆

1545 Kata
Sore itu setelah selesai dengan urusan kuliah, Eureka beranjak menuju ke ruang sekretariat Teater Artes. Semalam, anggota-anggota Teater Artes sepakat untuk mengadakan rapat dengan tujuan membahas kompetisi monolog yang sempat Athaya sampaikan di grup chat. Alhasil mau tak mau, Eureka juga harus datang. Sembari berjalan, Eureka mengedarkan pandangan. Ia mendapati bahwa kampus yang semula ramai, kini perlahan mulai terlihat sepi. Kebanyakan mahasiswa memilih langsung pulang seberes kelas, termasuk teman-teman sekelas Eureka tadi. Beberapa mahasiswa yang masih tinggal di kampus paling hanya mereka yang tersisa di gedung kegiatan mahasiswa. Mengingat hari yang sudah semakin sore, Eureka mempercepat langkah. Ia menyadari bahwa dirinya mungkin sudah terlambat menghadiri rapat. Apalagi ketika ia mengecek ke grup chat Teater Artes yang tampak ramai. Pasti yang sudah hadir di sana meminta yang lain untuk cepat-cepat datang. Lima menit kemudian, Eureka tiba di gedung kegiatan mahasiswa. Setelah melanjutkan langkah barang beberapa meter memasuki gedung itu, Eureka tiba di ruang sekretariat Teater Artes. Setibanya Eureka di sana, ia malah mendapati keadaan yang cukup tidak kondusif. Beberapa anggota Teater Artes yang seangkatan dengannya berkumpul di luar sekretariat. Sementara di dalam sekretariat, ada beberapa anggota dari angkatan Athaya dan angkatan di atasnya lagi yang tengah bicara serius sampai nyaris ribut. "Ini ada apa, sih?" Eureka bertanya pada teman-temannya yang sudah lebih awal datang ke sana. Bisa dipastikan, Eureka telah melewatkan sesuatu. Pertanyaan Eureka belum terjawab ketika ia mendapati Athaya keluar dari sekretariat. Athaya tampak melirik sekilas ke arah Eureka sebelum melanjutkan langkah lebar-lebar, terkesan tengah terburu-buru atau dikejar sesuatu. "Bingkai foto punya Teater Artes hilang," ujar Kaka menjawab pertanyaan Eureka tadi. Mendengar itu, Eureka menoleh pada Kaka sembari mengernyitkan dahi lantaran keheranan. Kalau cuma bingkai foto, kenapa sampai heboh begitu? Eureka tentu tak habis pikir. Menyadari bahwa Eureka belum menangkap duduk perkara yang ada, Kaka kembali buka suara, "Jadi dari yang gue denger-denger, bingkai foto itu semacam jimat pembawa keberuntungan buat Teater Artes. Bingkai foto itu udah turun-temurun disimpan dan dipakai sama Teater Artes. Konon kalau bingkai foto itu dijadikan properti pentas, pentas yang digelar Teater Artes bakal sukses. Dan sebaliknya, kalau sampai bingkai itu hilang atau rusak, bisa-bisa Teater Artes kena sial!" Eureka tercekat mendengar penjelasan dari Kaka. Jujur saja, Eureka tak ingin mempercayai hal yang tidak cukup bisa diterima logika. Tapi melihat keseriusan Kaka saat menjelaskan, Eureka jadi merasa ucapan Kaka benar adanya. Ada beberapa kata yang Eureka tangkap dari ucapan Kaka. Itu membuat Eureka merenung cukup lama. Dan akhirnya, Eureka bisa menarik sebuah kesimpulan. "Kayanya bingkai foto yang lagi dicari ini nggak lain adalah bingkai foto yang aku buang beberapa hari lalu," gumam Eureka lirih. Meski gumaman Eureka sangatlah lirih, namun Kaka sempat mendengar gumaman Eureka itu. Hingga pemuda itu bertanya, “Barusan lo bilang apa?” Eureka menggelengkan kepala keras-keras. Mendadak, gadis itu merasa tak enak hati. Jangan-jangan keributan ini bersumber dari Eureka! Jadi alih-alih menjawab pertanyaan Kaka, gadis itu justru berlari menjauh dari ruang sekretariat Teater Artes. Ah, lebih tepatnya, Eureka tengah mengejar Athaya ke tempat yang mungkin ia duga akan bisa menemukan Athaya di sana. Setelah berlari-lari barang sepuluh menit, Eureka tiba di depan tempat pembuangan sampah. Dan dugaannya tepat, Athaya ada di sana. Eureka bisa dengan jelas melihat apa yang tengah Athaya lakukan. Pemuda yang notabenenya menjabat sebagai ketua Teater Artes itu kini disibukkan dengan mengais-ngais tumpukan sampah, mencari-cari sesuatu yang kemungkinan besar adalah bingkai foto keramat. “Kak,” panggil Eureka ketika dirinya sudah berdiri di samping Athaya. Athaya mendongak dengan tatapan dingin dan terkesan marah. Athaya pasti tahu kalau Eureka memiliki andil besar dalam hilangnya bingkai foto itu. “Aku minta maaf,” ujar Eureka lagi tanpa mengindahkan bahwa Athaya belum membalas sapaannya atau soal sikap dingin Athaya. Sebagai perwujudan maafnya, gadis itu langsung melakukan hal yang sama dengan yang Athaya lakukan, mengais-ngais sampah. Melihat Eureka mengikuti langkahnya mengobrak-abrik sampah, Athaya mendengkus keras. Ia pun berujar, “Lo nggak perlu ada di sini. Secepatnya, lo kudu mengundurkan diri dari Teater Artes atau gue akan beberin keteledoran lo ini ke kakak-kakak angkatan atas.” Eureka terperanjat mendengar ujaran Athaya itu. Jujur saja, Eureka sudah siap menumpahkan air mata. Tapi akal sehat gadis itu berhasil mencegahnya melakukan hal bodoh lain. Bisa-bisa, kalau dia menangis di situasi seperti ini, Athaya akan makin dongkol padanya. Jadi Eureka putuskan untuk menjawab, “Aku bantu cari bingkai foto itu. Tapi aku nggak mau keluar dari Teater Artes!” Athaya tampak memutar bola mata. Tangannya mengepal menahan kesal. “Terserah lo!” tukas Athaya galak. Athaya lantas tak ambil pusing dengan kehadiran Eureka. Ia memilih hanya fokus mencari-cari kotak yang merupakan tempat penyimpanan bekas properti milik Teater Artes yang dibuang di sana beberapa waktu lalu. Namun sejauh matanya memandang, Athaya tak mendapati ada kotak penyimpanan yang ia cari. “Cari apa Mas dan Mbak?” Terlihat ada seorang petugas kebersihan kampus yang berdiri tak jauh dari Eureka dan Athaya. Eureka langsung menoleh dan menghampiri petugas kebersihan tersebut. Gadis itu menjelaskan panjang lebar terkait barang yang ia cari kepada petugas kebersihan itu. Barangkali petugas itu tahu ke mana perginya kotak berisi properti bekas pentas milik Teater Artes. Seberes mendengarkan penjelasan Eureka, petugas kebersihan itu berkata, “Aduh, Mbak. Mungkin itu udah diangkut kemarin. Kemarin yang disimpan di kardus-kardus udah diangkut semua, Mbak. Yang tersisa di sini tinggal yang botol plastik yang udah dipisahin sama kertas-kertas yang memang nantinya akan diolah lagi.” Jawaban dari petugas kebersihan itu membuat lutut Eureka lemas. Kalau ia mau, ia bisa saja menjatuhkan diri ke tanah. Namun Eureka sadar jika dia risih dengan tempat itu yang bisa dibilang merupakan penampungan barang-barang bekas pakai. “Diangkut ke mana, Pak?” sambar Athaya yang baru bergabung di dalam percakapan antara Eureka dan petugas kebersihan. Petugas kebersihan itu kembali menjelaskan alur pengangkutan sampah di kampus mereka. Setelah bicara panjang lebar, petugas kebersihan itu memberikan kalimat penutup yang membuat baik Athaya maupun Eureka merasa berkecil hati. “Susah tapi kalau mau dicari, Mas. Mending ikhlasin aja apa yang udah hilang ini.” Athaya mengusap wajahnya kasar. Sementara Eureka melirik takut-takut pada pemuda itu. “Mas dan Mbak, saya permisi dulu ya,” pamit petugas kebersihan itu sembari mendorong gerobak sampah menuju ke arah deretan gedung kelas. *** Athaya ketar-ketir memikirkan apa tanggapan angkatan atas jika ia kembali dengan tangan kosong begini. Sementara sedari tadi, Athaya menyadari bahwa ada Eureka yang mengekori dan berusaha mengajaknya bicara. “Kak, bisa dengerin aku ngomong sebentar?” pinta Eureka. Athaya tetap cuek dan melanjutkan langkah kembali ke ruang sekretariat Teater Artes. Ia lebih ingin menyiapkan kata-kata yang pantas untuk meminta maaf atas hilangnya bingkai foto itu kepada rekan-rekan organisasi. Athaya tak ingin dicap sebagai ketua yang gagal, termasuk juga angkatannya. Jangan sampai angkatan Athaya dikenang karena di kepengurusan merekalah jimat keberuntungan Teater Artes hilang. “Kak!” teriak Eureka dengan lantang. Athaya sedikit terkejut. Ia sempat melamun dan kini harus menghadapi kenyataan bahwa ia baru saja diteriaki oleh Eureka. “Aku yang bakalan tanggung jawab. Aku akan mengakui kesalahanku di depan anggota Teater Artes, bahkan sampai ke angkatan atas sekalipun.” Eureka mendeklarasikan rencananya di hadapan Athaya. Athaya yang mendengar itu sontak memelototi Eureka. Ia berkata, “Jangan asal ngomong. Gue udah atur semuanya. Lo diam aja!” “Nggak, aku mau bertanggung jawab, Kak. Aku tahu aku salah. Nggak seharusnya Kak Atha repot-repot nutupin kesalahanku.” Hampir saja Athaya menyemburkan tawa. Barusan Eureka bilang apa? Athaya repot-repot menutupi kesalahan Eureka? Asumsi dari mana itu? Tak pernah sekalipun terlintas di pikiran Athaya soal apa yang Eureka katakan barusan. Athaya tak pernah ingin menutupi kesalahan Eureka. Athaya hanya ingin memastikan tak ada perselisihan berkelanjutan yang disebabkan oleh hilangnya salah satu benda keramat di Teater Artes di bawah kepemimpinannya. Setelah menarik napas dalam-dalam, Athaya berujar, “Gue kan udah bilang di awal, gue yang akan urus masalah ini. Sementara lo, silakan mengundurkan diri dari Teater Artes, secepatnya!” Eureka yang mendengar ocehan Athaya itu tampak berkaca-kaca. Lalu tak berselang lama, Eureka mulai menangis dengan cukup keras, membuat Athaya panik harus bagaimana menghadapi Eureka yang merepotkan. “Lah, kok malah nangis, sih,” kesal Athaya. Pemuda itu tampak pucat seketika. Matanya meneliti sekitar untuk memastikan tak ada saksi mata yang memergoki Athaya sedang berurusan dengan seorang gadis dan gadis itu berhasil dibuat menangis oleh kekejaman Athaya. Eureka seolah tidak peduli pada kepanikan Athaya. Gadis itu tetap menangis bahkan isak tangisnya makin terdengar keras. “Oke, oke, terserah lo!” kata Athaya kemudian. “Terserah lo mau apa, mau ngomong apa, mau jelasin ke siapa, atau apapun itu. Tapi kalau udah kaya gitu, lo harus siap terima konsekuensi apapun bentuknya. Bahkan mungkin nggak cuma lo yang harus terima konsekuensi itu.” Eureka menghentikan tangisnya untuk mendengarkan perkataan Athaya. Setelah Athaya selesai bicara, Eureka menganggukkan kepala. “Iya, Kak. Yang penting aku mau jujur aja dan mengakui kesalahanku.” Athaya tak bicara apa-apa lagi. Pemuda itu kembali melangkahkan kaki, meninggalkan Eureka yang sibuk menyeka air mata. Setibanya di sekretariat, Athaya baru menyadari jika hari sudah petang dan banyak anggota teater yang semula ada di sekretariat, kini sudah meninggalkan tempat itu. Sebelum Athaya sempat bertanya, Airin yang melihat kedatangan Athaya segera menghampiri pemuda itu sambil berujar, “Angkatan atas udah pada balik. Tapi mereka minta dikabari soal kelanjutan masalah ini. Gimana? Bingkainya udah ketemu?” Athaya menggelengkan kepala. Sehingga beberapa anggota yang masih tersisa di sekretariat pun turut menghela napas berat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN