Eureka sedang mengerjakan tugas bersama Aulia di teras samping yang menghadap ke kolam renang. Sebenarnya tadi Eureka ingin mengerjakan tugas sendirian saja di kamar. Tapi gadis itu tak enak hati menolak ajakan Aulia yang mana merupakan tuan rumah di rumah ini.
Meski begitu, lama kelamaan, Eureka merasa cukup cocok mengobrol dengan Aulia. Eureka jadi melupakan niat awalnya untuk mendekam di dalam kamar. Ia merasa lebih seru jika menghabiskan waktu bersama Aulia.
Kecocokan mereka dalam mengobrol yang jelas itu karena kesamaan sifat mereka. Eureka meski lebih tua beberapa tahun dari Aulia, nyatanya masih sama-sama memiliki sifat kekanakan. Jadi mereka bak teman lama yang baru kembali berjumpa.
"Ih, sumpah ya, Kak. Kemarin aku kesel banget sama Mas. Dia pelitnya bukan main!" Aulia berniat membeberkan aib Athaya pada Eureka di tengah-tengah obrolan mereka.
"Soal apa?" tanya Eureka sembari mengangkat wajahnya dari buku tugas. Ia pun menambahkan, "Kalau sama aku, dia nggak pelit, sih. Tapi emang bikin kesel, pakai banget!"
“Masa nggak pelit?” Aulia tampak sangsi. Ia pun kembali mengeluh, "Dia itu selalu keberatan kalau aku pinjam barang-barangnya. Terus kemarin juga waktu WiFi rumah mati, aku kan nggak ada kuota, aku nggak boleh numpang hotspot ke dia dong. Padahal dia ada kuota banyak. Dasarnya emang pelit aja!”
Eureka tertawa mendengar Aulia yang mencerocos panjang lebar soal keburukan Athaya. Eureka juga mempertimbangkan untuk mulai terbuka membicarakan Athaya. Menurut Eureka, Aulia ada di pihak yang sama dengannya. Eureka bisa menjamin kalau Aulia memang senasib sepenanggungan dengannya jika berurusan dengan sosok cowok kejam bernama Athaya.
Namun obrolan antara Eureka dan Aulia terjeda karena keduanya mendengar suara orang berdeham-deham dengan keras dan terkesan dibuat-buat guna mendapatkan perhatian. Rupanya, orang yang sedari tadi mereka pergunjingkan berdiri di sana dan ikut mendengarkan obrolan itu.
Athaya bersandar di tembok. Raut mukanya sudah masam dan keruh seolah ada awan gelap yang menyelimuti.
“Eh, Mas udah pulang?” cicit Aulia sambil cengar-cengir tidak jelas.
“Hmm,” gumam Athaya dengan suara berat. Cowok itu mengedikkan dagu ke arah meja teras yang di atasnya sudah terdapat plastik berisi makanan yang tadi ia beli. “Buat kalian. Kalau kalian mau.”
Mata Eureka langsung terbelalak senang. Ia memang sempat memikirkan untuk delivery order makanan. Namun rezeki memang tak ke mana. Kini Athaya justru datang membawa makanan. Jadi dengan antusias, Eureka bertanya, “Apa itu, Kak?”
Athaya berdeham sebelum kembali bicara, “Patbingsu.”
“Yah, gue nggak suka,” ujar Aulia sambil memasang wajah pura-pura kecewa.
“Ya udah, kalau nggak suka, tinggal nggak usah dimakan. Kok, susah!” Athaya berujar begitu sambil balik badan dan meninggalkan kedua gadis perusuh itu.
Sepeninggal Athaya, Eureka dan Aulia saling bertukar tatapan. Mereka jelas terkejut dengan kehadiran Athaya yang anehnya tak mereka sadari.
“Dia marah, ya?” Eureka menduga.
Aulia mengedikkan bahu. “Kayanya nggak sampai marah deh. Mas Atha cuma kesal aja.”
“Masa?” Eureka memiringkan kepala, ragu dengan penilaian Aulia. Karena dari yang bisa Eureka tangkap, ekspresi Athaya jelas menunjukkan bahwa cowok itu sedang marah.
Aulia tertawa untuk mencairkan suasana. Ia pun berujar dengan santai, “Kak, lupain aja soal Mas Atha. Mendingan itu makanannya di makan. Kak Reka doyan nggak?”
Eureka jelas menganggukkan kepala. “Aku suka makanan yang dingin-dingin. Apalagi yang modelnya es begini.”
“Tapi sekarang udah malam,” celetuk Aulia sambil menunjuk ke langit yang gelap. “Nggak kedinginan?”
***
Athaya menghentakkan kaki dengan keras ketika menapaki lorong menuju kamarnya. Pemuda itu meradang lantaran dijadikan bahan gibah oleh adik dan tunangannya. Padahal kali ini Athaya pulang dengan membawa makanan untuk kedua gadis itu. Bisa-bisanya ia disebut-sebut sebagai orang yang pelit!
Setibanya di kamar, Athaya langsung duduk di depan meja belajar. Cowok itu menyalakan laptop dan membuka aplikasi perpesanan yang terinstal di laptop itu.
Pesan yang pertama kali Athaya buka adalah pesan dari Putri. Sahabatnya itu sungguhan mengirimkan berbagai informasi terkait kompetisi monolog yang sedari tadi gadis itu bicarakan.
"Gue ketuanya, tapi dia yang lebih semangat buat urusan kaya gini," gumam Athaya, merasa geli pada antusiasme Putri.
Athaya pun memilih membaca dan melihat-lihat poster serta ketentuan kompetisi monolog itu. Seberes memastikan isinya, ia meneruskan pesan-pesan dari Putri ke grup yang berisikan anggota Teater Artes.
Butuh waktu beberapa saat hingga Athaya mendapat tanggapan dari teman-teman satu teaternya. Beberapa dari mereka mengatakan setuju untuk mengikuti kompetisi ini. Namun beberapa lainnya mengatakan bahwa mereka tidak siap untuk mengikuti lomba monolog.
Membaca balasan dari teman-temannya yang terbagi jadi dua kubu itu membuat Athaya merenung. Ia tampak menerawang jauh ke depan, memperkirakan apa yang mungkin akan terjadi nanti dan pilihan apa yang sebaiknya ia putuskan dan sepakati bersama anggotanya. Karena kembali lagi, anggota Teater Artes pasti akan meminta Athaya selaku ketua untuk mengambil keputusan dalam persoalan seperti ini.
Athaya yang semula sibuk merenung, kini tersadar karena ada telepon masuk dari Airin. Tapi belum sempat Athaya mengangkat telepon itu, Airin lebih dulu mengakhiri panggilan. Jadi Athaya putuskan untuk mengecek ruang obrolannya dengan Airin.
Rupanya benar, ada beberapa pesan dari Airin yang belum Athaya baca. Mungkin telepon dari Airin tadi hanya sekadar meminta perhatian Athaya untuk membuka pesan gadis itu.
Airin: Tha, jangan lupa, kita ada rencana makrab dan diksar.
Airin: Kalau ikut kompetisi ini, SDM kita kayanya bakal kewalahan.
Airin: Bener sih kompetisinya habis makrab, tapi kan persiapannya harus dari sekarang.
Athaya membaca ketiga bulir pesan dan menimbang-nimbang sebelum membalas. Yang dikatakan Airin memang benar. Teater mereka ini tidak memiliki banyak anggota, tak seperti UKM atau Ormawa lain terutama BEM dan Senat Mahasiswa. Jadi dengan keterbatasan sumber daya manusia, akan sulit untuk mengerjakan banyak kegiatan di waktu yang bersamaan.
Tapi setelah lama berpikir, mendadak Athaya teringat sesuatu. Sehingga pemuda itu buru-buru membalas pesan Airin.
Athaya: Iya, makasih udah ngingetin gue.
Athaya: Tapi, Rin, soal makrab, kita nggak ngelibatin semua anggota dalam persiapannya. Angkatan bawah masih nganggur. Kalau mereka bersedia, mereka bisa jadi delegasi lomba monolog ini.
Tak sampai satu menit, pesan Athaya sudah dibaca oleh Airin. Gadis itu juga terlihat mengetikkan balasan untuk dikirimkan pada Athaya kemudian.
Airin: Oh, iya, lo bener, Tha. Kalau gitu, kita bagi tugas aja. Angkatan kita nyiapin makrab. Angkatan bawah nyiapin monolog. Tapi elo tetap ngurusin dua-duanya.
Airin: Sanggup nggak, Tha?
Athaya menepuk jidat. Lagi-lagi, dirinya yang kena. Ah, Athaya benar-benar enggan.
Athaya: Soal siapa nanti yang ngurusin, biar gue bicarain sama Kaka dulu, Rin. Siapa tau dia juga mau jadi sutradara atau pimpro.
Athaya: Gue bakal tetap mantau. Tapi yang jadi penanggung jawab mungkin bisa gantian yang lain.
Sebagai balasan atas pesan Athaya yang terakhir itu, Airin mengirimkan stiker jempol pada Athaya. Dan, acara berbalas pesan mereka selesai sampai di sana.
Kini Athaya kembali membuka chat di grup Teater Artes. Ia sibuk membaca pesan-pesan baru yang masuk dari teman-temannya sebagai tanggapan atas lomba monolog itu.
***
Kini Eureka hanya duduk sendirian di teras rumah Athaya. Ini karena Aulia tadi berpamitan kembali ke kamar lebih dulu. Kata Aulia, ia mau teleponan dengan temannya. Jadi Eureka ditinggal sendirian di sana.
Karena sudah tak ada kerjaan, Eureka memilih menyibukkan diri dengan membaca pesan-pesan di grup Teater Artes sambil masih menikmati Patbingsu yang dibawakan Athaya. Eureka mengernyit heran karena malam ini grup Teater Artes sangat ramai. Padahal biasanya grup itu sepi seperti kuburan. Hingga Eureka pernah berpikir untuk membuat drama di grup itu dengan tujuan menyulut keributan.
“Oh, mau ada kompetisi?” gumam Eureka sambil menggulir layar ponsel.
Eureka juga membuka sebuah dokumen yang berisi persyaratan dan ketentuan lomba. Ia agak mengernyit mendapati jenis lomba apa yang akan dilaksanakan.
“Monolog?” Eureka tampak mengingat-ingat. “Tampilnya sendirian dong?”
Eureka bergidik ngeri. Ia masih tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya tampil sendirian di atas panggung dan bermain peran. Benar-benar sendirian? Eureka rasa, ia tidak akan mengajukan diri untuk kompetisi ini. Ia tidak sanggup!
Jadi ketika kebanyakan temannya membalas pengumuman dari Athaya dengan kata-kata persetujuan, Eureka memilih untuk sebaliknya. Gadis itu mengatakan bahwa ia tidak setuju mengikuti lomba itu.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke ponsel Eureka. Pengirimnya adalah Athaya Naladhipa, cowok yang entah berjarak beberapa ruang dari tempat Eureka berada sekarang.
Kak Athaya: Kenapa nggak setuju?
Eureka menarik napas dalam. Ia tidak menyangka bahwa Athaya akan memperhatikan satu per satu balasan dari anggota Teater Artes di grup itu.
Eureka dibuat makin ketar-ketir kala ia melihat Athaya melintas di ruang tengah yang bisa terlihat jelas dari teras samping. “Duh, dia nggak bakal nyamper ke sini, kan?”
Sayangnya, Athaya benar-benar mendatangi Eureka. Cowok itu berdiri santai di dekat pintu sambil sibuk membuka kaleng minuman berkarbonasi. Mata Athaya menatap sekilas ke arah Eureka sebelum ia kembali menunduk untuk memperhatikan kaleng minumannya. Sambil menunduk, ia bertanya, “Kenapa nggak setuju? Jawaban lo mungkin bikin yang lain mikir untuk ikut-ikutan nggak setuju. Apalagi elo nggak ngasih alasan nggak setujunya kenapa.”
Eureka meneguk ludah. Dengan terbata, ia menjawab, “Soal itu, aku sendiri merasa belum siap, Kak. Aku rasa, monolog lebih berat dibanding drama. Bener nggak?”
Athaya menggeleng. “Nggak juga, sama aja. Keduanya butuh persiapan dan kalau persiapannya udah matang, nggak ada istilah berat.”
“Tapi aktor harus tampil sendirian di atas panggung dengan memerankan beberapa karakter dalam satu naskah.” Eureka kembali beralasan.
Athaya mendengkus dan tersenyum kecil. Ia berujar, “Ternyata lo juga orangnya gampang overthinking, ya. Lo udah berpikiran macam-macam, padahal belum mencoba menjalani, kan? Emangnya lo pernah menjajal pentas monolog?”
"Belum pernah." Eureka menggelengkan kepala. “Ya, aku nggak keberatan kalau misal di antara anggota Teater Artes memang ada yang mau mewakili ikut kompetisi itu. Tapi kan, tadi ada yang bilang kalau pemilihan aktornya lewat casting. Aku nggak siap buat itu,” gerutu Eureka.
Athaya menggumam panjang. Ia yang ternyata sudah menenggak habis isi kaleng minuman itu pun kini membuang kaleng kosong itu ke tempat sampah. Sebelum kembali masuk ke dalam rumah, Athaya berpesan, “Coba aja dulu berproses di Teater Artes. Proses buat pentas itu selalu berkesan. Jadi apapun nanti keputusannya, kalau memang mayoritas setuju buat ikut kompetisi ini, lo nggak boleh mangkir dari casting.”
Setelah berkata begitu, Athaya melangkah memasuki rumahnya, meninggalkan Eureka yang terdiam di teras.
Karena hari sudah semakin malam, Eureka memutuskan untuk mengikuti jejak Athaya. Gadis itu membuang kemasan bekas Patbingsu, membereskan barang-barangnya yang tercecer di meja teras, lalu lanjut beranjak masuk ke dalam rumah.
Sebelum masuk ke kamar, Eureka menyempatkan diri melirik ke arah Athaya yang juga sedang berjalan menuju kamar pemuda itu. Eureka mengulas senyum sambil berbisik, “Oke, gue bakal ikut casting. Anggap aja impas sama Patbingsu dari Kak Athaya tadi.”
***