♩✧♪● Theatre 12 ○♩♬☆

1691 Kata
Athaya sedang bersiap-siap hendak pergi ke kampus. Pemuda itu tampak mengenakan setelan rapi dengan kemeja sebagai atasan dan celana chino sebagai bawahan. Saat semua sudah siap dan Athaya berjalan keluar kamar, ia berpapasan dengan Eureka yang juga sepertinya akan pergi ke kampus. Tanpa berbasa-basi, pemuda itu langsung melipir ke pintu depan. Ia bahkan tidak berpamitan pada orang tuanya karena khawatir kalau-kalau mama atau papanya meminta Athaya berangkat bersama dengan Eureka. Tapi keberuntungan tidak berpihak pada Athaya. Pemuda itu justru berpapasan dengan sang mama di ruang depan, sebelum ia berhasil mencapai pintu utama rumahnya. “Ma,” sapa Athaya tampak salah tingkah. “Kok buru-buru pergi? Nggak sarapan dulu?” tanya sang mama. Pemuda itu menggelengkan kepala. “Athaya berangkat sekarang ya, Ma.” Mamanya menyipit curiga mendapati putranya yang tampak tergesa-gesa begitu. Saat ia menyadari sesuatu, tangannya memukul pelan lengan Athaya. “Eureka mana? Dia harus ke kampus juga, kan? Gih, kamu tunggu dia terus kalian berangkat bareng.” “Ma,” rengek Athaya. Rencana pemuda itu gagal total. Mamanya mendesis lirih, memperingatkan Athaya agar tidak cari masalah lagi. Bahkan wanita paruh baya itu menggandeng lengan Athaya untuk membawa sang putra masuk kembali ke dalam rumah. Begitu sampai di ruang makan, Athaya bisa melihat ada Eureka yang sudah bergabung dengan papa Athaya dan Aulia. Seolah-olah mereka memang sudah sangat akrab. Dan, yah, memang begitu. Eureka cepat beradaptasi hingga sekarang ia asyik bicara dengan Aulia atau sekali-sekali menjawab pertanyaan dari papa Athaya. Rupanya Athaya sempat berdiri dan melamun cukup lama di sana. Sampai-sampai sang mama harus memberi arahan agar pemuda itu mengambil posisi duduk dan bergegas ikut sarapan. “Buruan sarapan, jangan bengong-bengong aja,” ujar sang mama memperingatkan, “nanti terlambat ke kampus, lho!” Athaya pun dengan malas-malasan mulai melahap selembar roti tawar dan menenggak segelas s**u yang sudah tersedia di meja di hadapannya. Sambil makan, sesekali tatapan pemuda itu bertubrukan dengan tatapan Eureka. Tapi Athaya berusaha tetap memasang wajah datar tanpa ekspresi yang berarti. “Reka,” panggil Rendra pada gadis yang pagi itu mengenakan rok berbahan jeans selutut dan kemeja warna putih berlengan pendek dibalut blazer berwarna biru muda. “Iya, Om?” Reka mengangkat kepala dari yang semula menunduk karena harus menyuap roti ke dalam mulut. Rendra melanjutkan ucapan yang sempat tertunda, “Nanti kamu berangkat sama Athaya.” Athaya turut menoleh mendengar namanya disebut-sebut oleh sang papa. Ia menaikkan sebelah alis. Didengar dari nada bicara sang papa, Athaya menyimpulkan bahwa ucapan Rendra tadi bukanlah bentuk penawaran. Justru itu seperti perintah mutlak, baik untuk Eureka dan tentu saja Athaya. “Iya, kan biar hemat ongkos, kalian berangkat bareng aja,” timpal mama Athaya dengan nada yang lebih lembut. “Tujuan kalian kan juga sama-sama ke kampus.” Eureka menggumam mengiakan. Sementara Athaya memilih diam saja. Pemuda itu kembali fokus melahap roti tawar tanpa selai dan menenggak s**u di gelas hingga tandas. “Aku berangkat,” ujar Athaya sambil menyambar tas dan berjalan keluar dari ruang makan. Saat Athaya berbalik pergi, ia masih bisa mendengar kegaduhan dari ruang makan di mana mamanya meminta Eureka segera menyusul Athaya. Athaya tiba di teras. Cowok itu mengenakan sepatu sembari menunggu Eureka menyusulnya. Karena toh percuma saja. Athaya tak mungkin bisa duluan pergi ke kampus meninggalkan Eureka. Bisa-bisa Athaya dicoret dari Kartu Keluarga oleh Rendra. “Kak, tunggu,” seru Eureka. Napasnya terengah-engah karena habis makan justru dipaksa lari-larian mengejar Athaya. “Iya,” gumam Athaya. Tapi cowok itu sudah beranjak dari teras dan mengambil helm kemudian mengenakannya sembari duduk di atas motor. Eureka tampak makin tergesa-gesa saja. Melihat Athaya sudah nangkring di motor, itu membuat si gadis panik karena takut ditinggal. Eureka mengenakan sepatu dengan asal dan berlari menghampiri motor Athaya. Tanpa banyak cincong, Eureka duduk di boncengan motor Athaya. Dan setelah siap, ia berujar, “Ayo, Kak, jalan!” Athaya tak membalas dengan ucapan. Pemuda itu langsung menjalankan motor dengan kecepatan lumayan tinggi sampai-sampai Eureka hampir terjungkal. *** Dua puluh menit di perjalanan, Eureka tiba juga di kampus. Gadis itu lantas turun dari motor Athaya karena empunya motor sudah memburu agar Eureka buru-buru turun dari sana sebelum ada kenalan mereka yang melihat. Ya, Eureka nurut-nurut saja. Sudah bagus ia diberi tumpangan. Duit jajannya jadi tak berkurang untuk membayar abang ojek online seperti biasa. “Nanti pulangnya gimana?” tanya Eureka dengan polos, “aku boleh bareng Kak Athaya lagi?” Athaya menaikkan sebelah alis sembari mengerutkan dahi. Ia mencoba mencari diksi yang pas untuk menggambarkan tingkah Eureka. Ah, benar, ngelunjak! Athaya putuskan untuk menggeleng. “Gue ada janji sama Putri. Gue balik sama dia.” Eureka sontak cemberut. Kenapa Athaya harus sama Putri, sih? Eureka cukup tidak terima. “Emangnya Kak Atha punya janji apa sama Kak Putri?” cecar Eureka mencoba peruntungan, siapa tahu Athaya berkenan memberi jawaban. Namun Athaya yang semula sudah mulai melangkah meninggalkan parkiran, kini ia memilih berhenti sejenak. Pemuda itu menoleh dengan tatapan dingin—seolah terusik dengan pertanyaan Eureka. “Kenapa lo nanya-nanya?” Eureka juga ikut terdiam. Ia menggaruk ujung hidungnya dengan salah tingkah. Iya juga ya, apa hak Eureka buat kepo soal urusan pribadi Athaya? Kalau alasannya karena Eureka adalah tunangan Athaya, itu tak cukup kuat mengingat keduanya tak pernah merasa ada ikatan seperti itu yang menyatukan mereka. Jadi Eureka putuskan untuk terkekeh kecil dan menjawab, “Kepo aja, sih.” “Jangan berlebihan!” Athaya memperingatkan. Cowok itu pun berbalik dan berjalan meninggalkan parkiran dan juga Eureka yang masih berdiri di sana menatapi punggung Athaya yang makin menjauh. Eureka menghela napas. Athaya selalu membuat semua masalah kecil jadi masalah yang seolah-olah begini serius. Pokoknya apapun yang Eureka lakukan, pasti tampak salah di mata Athaya. Ah, menyebalkan! Namun Eureka tak sempat lebih lama lagi merutuki Athaya. Ponsel gadis itu berbunyi dan menandakan ada panggilan masuk yang berasal dari Itha. Perasaan Eureka jadi tak enak. Dan benar saja, ia lagi-lagi terlambat masuk kelas. “Hallo, Itha?” sapa Eureka sambil berlarian menuju ke gedung di mana kelasnya berada. “Re, dosen kita udah dateng. Kamu di mana?” tanya Itha dengan suara berbisik-bisik. Eureka mempercepat langkah. “Udah di depan. Sebentar lagi sampai kelas. Duh, telat lima menit doang padahal!” “Iya, dosen ini kan rajin, Re. Buruan, ya!” pesan Itha sebelum panggilan telepon berakhir. *** Sore itu seberes kelas, Athaya dan Putri pergi ke sebuah food court di sekitar kampus. Putri ternyata belum lupa pada janji Athaya tempo hari. Gadis itu menagih untuk dibelikan makanan yang sampai detik ini pun, Athaya belum diberi tahu makanan apa yang harus ia belikan untuk memenuhi janjinya itu. "Lo ngidam apa, sih?" tanya Athaya yang mengekori langkah Putri. "Heh, mulut lo," seru Putri, "enak aja ngidam. Gue masih perawan, ya. Mana bisa tiba-tiba isi." Athaya mengedikkan bahu sambil terkekeh ringan. "Ya, siapa tau?" "Sama siapa coba? Orang gue jomblo. Ke mana-mana juga sama elo. Masa gue hamil gara-gara lo! Dih, amit-amit," cerocos Putri. Athaya lanjut terkekeh saja. Ia tak berniat meneruskan pembicaraan dengan topik ini. Bisa-bisa orang yang mendengar sekilas-sekilas saja akan jadi salah paham. Athaya mengalihkan topik pembicaraan, "Lo mau beli apa?" "Patbingsu," jawab Putri singkat sebelum berlari mendahului Athaya. Sahabat Athaya itu berlarian dengan semangat ketika sudah melihat stan makanan incarannya. Athaya memilih berjalan pelan, membiarkan Putri memesan lebih dulu. Tapi setelah ia tiba di stan itu, ia tidak berselera dengan menunya. “Pesan satu aja. Gue nggak pengen makan ini,” ucap Athaya pada Putri. “Yah, terlanjur, Tha. Gue udah pesan dua dan kayanya udah dibuatin juga. Satunya lo bawa pulang aja kalau lo nggak mau. Buat adik lo, dia pasti suka,” kata Putri. Athaya akhirnya setuju. Mau bagaimana lagi, kan? Patbingsu mereka akhirnya siap setelah mereka menunggu barang sepuluh menit. Athaya membayar untuk pesanan mereka dan mereka pergi dari sana untuk mencari tempat duduk. Sayang, sore itu, food court sedang ramai-ramainya. Mereka kesulitan mencari tempat duduk untuk menikmati Patbingsu yang diidam-idamkan Putri. “Mau duduk di mana? Penuh semua,” gumam Athaya. Putri menggusah napas panjang. Gadis itu tampak kecewa. Tapi ia juga tak ingin menyusahkan diri sendiri sehingga memutuskan untuk mengajak Athaya pulang saja. Biarlah makanan pesanannya itu ia makan ketika ia telah tiba di rumah. Athaya sepakat dengan Putri. Ia pun mengantarkan Putri terlebih dahulu sebelum nanti pulang ke rumahnya sendiri. “Padahal ini belum malam, tapi udah harus pulang,” gumam Putri saat mereka sudah berada di parkiran food court. “Kenapa?” tanya Athaya. Ia berceletuk, “Lo masih pengen lama-lama sama gue?” “Dih, najis,” desis Putri sambil mulai memposisikan diri duduk di boncengan motor Athaya. “Yuk, ah, jalan!” Athaya mendengkus geli sembari memamerkan senyum asimetris. Ia pun mulai melajukan motor keluar dari halaman parkir food court yang juga dipadati kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Setelah terlepas dari sesaknya halaman parkir, Athaya melaju di jalanan utama menuju ke rumah Putri. Mereka terlibat obrolan panjang lebar selama di perjalanan. Putri memiliki info soal lomba monolog yang bisa diikuti oleh Teater Artes dan gadis itu tengah meyakinkan Athaya agar mendelegasikan anggotanya untuk mengikuti lomba itu. “Tha, gue pengen lihat teater yang lo pimpin ini maju,” ujar Putri. Ia menambahkan, “Nanti gue kirimin infonya. Pokoknya lo harus usahain buat ikut. Ini bagus banget buat awal kepengurusan lo.” Athaya mengangguk-anggukkan kepala sambil tetap fokus menyetir. Ia berujar, “Hmm, tapi kami juga baru mulai latihan lagi. Baru mulai ketemu lagi setelah liburan kemarin. Gue nggak yakin ada yang bersedia maju.” “Nggak bisa di-casting aja semua anggota teater lo itu? Kesepakatan gitu,” saran Putri. Athaya mengedikkan bahu. “Bisa aja sih. Tapi kalau nggak pada niat waktu casting, bakal percuma. Buat ikut kompetisi, harus ada niat dari individunya. Kalau pada terpaksa dan tertekan, gue yakin bakalan bubar di tengah jalan.” Putri tampak mengerti. Gadis itu pun tak lagi menggebu-gebu soal itu. “Sorry, ya, kalau gue banyak omong dan terkesan memaksa. Padahal gue bukan anak Teater Artes, he-he.” “Santai aja. Gue tahu maksud lo baik, Put. Nanti gue bahas sama anggota gue dulu,” putus Athaya. Beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di depan rumah Putri. Gadis itu turun dari motor Athaya dan segera mengusir Athaya untuk pulang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN