Hari di mana Eureka harus tinggal sementara di rumah Athaya akhirnya tiba juga. Minggu malam itu, Athaya menggunakan mobil sang papa pergi menjemput Eureka.
Setibanya Athaya di rumah Eureka, ia disambut oleh Tante Alena. Athaya turun dari mobil dan menghampiri wanita paruh baya yang merupakan Mama Eureka itu. Athaya menyempatkan diri untuk menjabat dan mencium tangan Tante Alena sebagai bentuk sopan santun.
"Masuk dulu, Nak," ajak Tante Alena.
"Enggak usah, Tan. Athaya tunggu di sini saja." Athaya menggeleng sopan. Ia memilih tetap berdiri di teras karena toh ia tak akan lama di sana. Sambil mengobrol dengan mamanya Eureka, Athaya celingak-celinguk mencari Eureka. "Reka mana, Tan?" tanya Athaya karena tak kunjung melihat sosok Eureka.
"Sebentar ya, Nak. Eureka tadi ada kelupaan sesuatu. Sekarang masih nyariin kayanya." Tante Alena menjelaskan.
Athaya mengangguk mengerti. Lalu tak sengaja tatapannya jatuh pada beberapa koper dan tas yang disimpan di balik pintu.
"Itu tas dan kopernya Reka?" tanya Athaya sambil menunjuk ke balik pintu. "Kalau iya, biar Athaya masukin ke mobil, Tan."
"Oh, iya, ini mau dibawa Reka. Tapi biar nanti Reka sama Tante aja yang angkut ke mobil kamu," balas Tante Alena, terlihat tak mau merepotkan Athaya lebih banyak lagi.
Tapi Athaya tentu tak bisa membiarkan kedua wanita itu mengangkat-angkat koper sementara ada dirinya berpangku tangan. Mau ditaruh di mana muka Athaya? Bisa-bisa image-nya sebagai pemuda santun luntur seketika.
Akhirnya Athaya tetap meminta izin untuk mengangkut koper dan tas Eureka itu ke dalam mobil. Athaya beralasan bahwa ia ingin menyingkat waktu dengan mencicil memasukkan barang-barang itu terlebih dahulu sembari menunggu Eureka siap.
“Maaf ya, Nak. Tante dan Reka selalu merepotkan kamu dan keluargamu,” ujar Tante Alena sambil mengulas senyum tak enak hati. Untuk meringankan beban Athaya, ia juga turut membantu Athaya memasukkan tas-tas Eureka ke dalam mobil.
Melihat Tante Alena merasa bersalah, Athaya menggeleng kecil sambil berujar, “Nggak masalah, Tan.”
Ya, Athaya memang tidak pernah menunjukkan keberatannya di hadapan Tante Alena. Pemuda itu merasa tak tega. Tapi mungkin di dalam hati, Athaya belum benar-benar rela melakukan semua ini. Bahkan kalau ada kesempatan untuk protes, Athaya akan segera mengeluarkan unek-unek yang ia pendam, terutama kepada keluarganya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Eureka tergopoh-gopoh berlarian keluar dari rumah. Ia segera mengambil alih tas-tas yang sedang diusung ibunya. “Reka aja yang bawa, Ma.”
Tante Alena mengangguk. Ia membiarkan putrinya mengambil alih beberapa tas yang masih berada di luar untuk dimasukkan ke dalam mobil. “Barang yang ketinggalan udah kamu ambil, Re?” tanya Tante Alena memastikan.
Eureka menggumam mengiakan sebagai jawaban pertanyaan mamanya. Setelah beres memasukkan dan menata tas-tas, gadis itu pun berujar pada Athaya, “Jalan sekarang, Kak?”
“Yuk,” gumam Athaya sambil mengangguk. Ia pun mendahului berpamitan pada Tante Alena.
Tante Alena berpesan, “Tante titip Reka ya, Tha. Kalau Reka bandel atau nyusahin kamu, kamu tegur aja. Dan kamu, Re, jangan ngerepotin di rumah Athaya. Kamu bantu-bantu Tante Maira. Baik-baik sama Dek Aulia adiknya Athaya.”
“Iya, siap, Ma. Semoga Eureka nggak lupa,” balas Eureka sambil cengengesan membuat mamanya khawatir kalau-kalau Eureka tak akan menuruti wejangan sang mama.
“Ya, udah, Tan, kami jalan dulu. Tante juga hati-hati besok bepergiannya.” Setelah berpamitan, Athaya berjalan menuju ke mobil.
***
Eureka menghela napas panjang saat akhirnya ia menginjakkan kaki di kediaman keluarga Athaya. Untuk seminggu ke depan, ia akan berada di sini, di rumah ini.
“Nggak masuk?” tanya Athaya ketika mendapati Eureka hanya mematung di samping mobil.
Eureka yang barusan tenggelam dalam lamunan, kini tersadar. Ia menoleh pada Athaya dengan sedikit linglung. Eureka bertanya, “Tas-tasku nggak diturunin?”
“Besok pagi aja gimana?” tanya Athaya. “Ambil aja yang lo butuhin dulu. Sisanya besok.”
Eureka tampak mengerti. Ia pun bergerak mengambil tas yang sekiranya isi dari tas itu akan ia butuhkan saat ini. Eureka menenteng sebuah tote bag berukuran sedang. Setelahnya, ia menutup pintu mobil dan balik badan menghampiri Athaya.
“Udah?” tanya Athaya dengan nada datar.
Eureka mengulas senyum dan menganggukkan kepala sebagai jawaban. Gadis itu pun mengikuti Athaya yang sudah mendahului berjalan ke teras rumah. Saat Athaya membuka pintu, Eureka bisa melihat mama Athaya berjalan menghampiri mereka.
“Eh, Reka udah datang?” Tante Maira menyambut Eureka dengan pelukan hangat. Tapi kemudian ia seperti keheranan dan bertanya, “Lho, kamu nggak bawa apa-apa buat nginep di sini?”
Eureka menoleh ke belakang sambil menunjuk ke arah luar rumah Athaya, tepatnya ke arah mobil yang terparkir di halaman. “Masih di mobil, Tan. Belum diturunin.”
Tante Maira melirik ke arah putranya. Dengan isyarat tatapan mata, ia seperti memberi perintah agar Athaya mengambil barang bawaan Eureka.
Menyadari itu, Eureka buru-buru berujar, “Besok pagi aja, Tan. Yang aku perluin udah ada di tas ini kok. Yang lain bisa diambil besok aja. Kasihan Kak Atha, barang bawaanku banyak dan berat, Tan.”
Tante Maira pun setuju setelah mendengar penjelasan Eureka. Sambil lanjut mengobrol, wanita itu kini membimbing Eureka menuju ke sebuah kamar yang sudah beliau siapkan untuk Eureka tempati sementara waktu selama gadis itu berada di sana.
“Gimana kamarnya? Kamu suka, kan?” tanya Tante Maira yang langsung dijawab dengan anggukan dan senyuman lebar dari Eureka. “Betah-betah ya, Nak. Nanti kalau butuh apa-apa, langsung bilang ke Tante, oke!”
“Oke, Tante.” Eureka mengangkat jempol tangan kanan untuk mendukung ucapannya.
“Eureka mau makan malam?” tawar Tante Maira.
Eureka menggeleng dengan sopan. Sebelum pergi ke rumah Athaya ini, Eureka sudah makan malam dengan Mamanya. Dan Eureka pikir, keluarga Athaya juga sudah makan malam. Jadi Eureka tak akan membuat Tante Maira kerja dua kali menyiapkan makan malam untuknya.
Jadi alih-alih mengajak makan malam, Tante Maira memberi waktu untuk Eureka menyesuaikan diri di kamar barunya itu. Sepeninggal Tante Maira, Eureka menggunakan waktunya untuk berdiam di dalam kamar dan membiasakan dengan situasi baru yang harus ia jalani. Ah, lebih tepatnya, Eureka tengah menyiapkan mental.
Setelah lama berdiam diri di kamar itu, Eureka berinisiatif untuk mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam tote bag-nya. Gadis itu mencari-cari ponsel karena barangkali ada hal penting dan Eureka takut tertinggal info.
Tapi setelah mengecek ini dan itu, tak ada yang benar-benar perlu Eureka pikirkan untuk saat ini. Gadis itu pun meletakkan ponsel dan kini sibuk menghapus make up. Sepertinya, ia akan lanjut tidur saja.
Besok pagi, Eureka masih harus kuliah seperti biasa. Jadi tidak baik sekiranya ia begadang. Apalagi tidak ada mamanya yang akan membangunkan jika Eureka terlambat bangun. Bisa jadi berbahaya, kan!
Sebelum naik ke tempat tidur, Eureka berjalan ke arah pintu kamar. Gadis itu membuka pintu perlahan-lahan dan ia melongokkan kepala keluar kamar. Yang Eureka dapati adalah kondisi rumah yang sudah sepi. Hanya sayup-sayup terdengar suara televisi dari kamar yang berjarak tak jauh dari kamar Eureka. Entahlah itu kamar siapa.
Eureka tak ambil pusing soal ini. Ia memilih kembali masuk ke dalam kamar. Gadis itu mengunci pintu dan berjalan menuju ke ranjang. Hanya saja Eureka tidak langsung pergi tidur karena tengah sibuk memasang alarm untuk membantunya bangun esok pagi.
Ketika semua sudah beres dan ia sudah rebahan di kasur, Eureka justru menangkap suara aneh dari luar kamarnya. Berhubung Eureka punya sifat yang cukup mudah dibuat penasaran, gadis itu perlahan menuruni kasur dan berjalan ke arah jendela. Dalam diam, Eureka sedikit menyibak gorden dan mengintip keluar.
Eureka dapat melihat sosok Athaya yang sedang berdiri di pinggiran kolam renang. Saat Eureka menajamkan penglihatan, ia juga mendapati bahwa Athaya tengah merokok sembari menempelkan ponsel ke telinga.
Gadis itu baru tahu kalau Athaya juga seorang perokok. Selama ini, tak sekalipun Eureka pernah melihat kakak tingkatnya itu merokok. Athaya tak pernah merokok ketika berada di tongkrongan bersama anak-anak teater yang padahal hampir semuanya menggandrungi rokok. Jadi Eureka sempat berpikir bahwa Athaya bukan perokok.
Tapi ya, itu bukan hak Eureka untuk mengurusi apakah Athaya seorang perokok atau bukan. Jadi gadis itu kembali memilih tak ambil pusing.
Namun ketika Eureka hendak menutup kembali gorden yang ia sibak sedikit itu, matanya justru bersitatap dengan mata Athaya.
Eureka tak yakin apakah Athaya bisa melihat Eureka dari luar sana atau hanya kebetulan saja Athaya menoleh ke arah kamar gadis itu. Yang jelas, Eureka jadi deg-degan parah. Gadis itu merasa terpergok dan ini cukup memalukan untuknya.
Baru berusaha menenangkan diri, Eureka justru dikejutkan oleh denting ponsel yang tak cukup nyaring namun karena malam mulai hening, suara denting itu terdengar berlebihan. Gadis itu pun memilih untuk merangsek mendekati ponselnya yang berada di atas nakas. Jemari Eureka mengetuk layar sebanyak dua kali hingga ponsel itu menyala. Ada sebuah notifikasi pesan yang menarik perhatian Eureka karena letaknya yang ada di baris paling atas.
“Dari Kak Atha,” gumam Eureka gemetar, malu sekaligus ketakutan. Tapi gadis itu tetap berniat untuk membaca pesan dari Athaya.
Kak Athaya: Ngapain diam-diam ngelihatin gue?
Butuh waktu beberapa saat untuk Eureka memikirkan jawaban apa yang sekiranya bisa ia kirimkan pada Athaya. Namun bukannya mendapat ide untuk membalas pesan Athaya, Eureka justru berniat menghampiri Athaya saja. Entah mengapa, gadis itu juga ingin merasakan duduk di tepian kolam renang, malam-malam, dan menikmati suasana yang tenang.
Akhirnya gadis itu benar-benar memutuskan berjalan keluar dari kamar. Ia mengendap-endap mencari pintu menuju ke kolam renang di samping kamarnya. Dan begitu ia menemukan pintu itu, Eureka berjingkat-jingkat mendekati Athaya.
“Hai, Kak,” sapa Eureka sambil menjatuhkan b****g di tepian kolam renang di sebelah Athaya.
Athaya tampak tak suka dengan kehadiran Eureka di sana. Cowok itu bahkan terang-terangan berdecak.
Tapi Eureka tak peduli. Ia tetap berada di sana sambil cengengesan tak jelas. Kali ini Eureka tak berniat untuk banyak bicara. Ia hanya akan ikut menikmati hening malam yang ternyata cukup menyenangkan untuk dinikmati. Oh ya, sekalian Eureka curi-curi dengar atas obrolan Athaya dengan orang di seberang telepon sana.
***