♩✧♪● Theatre 10 ○♩♬☆

1906 Kata
Eureka tiba di rumah ketika jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia turun dari motor Kaka dan mengucapkan terima kasih. Ya, Kaka dengan berbaik hati menawarkan tumpangan untuk Eureka lagi. Kali ini alasannya karena ia tak tega membiarkan Eureka pulang sendiri dengan transportasi umum padahal jarak rumah Eureka dan kampus cukup jauh. “Hati-hati si jalan, Ka,” pesan Eureka. “Harusnya lo nggak usah ngantar gue. Ini udah malem dan lo masih harus berkendara sampai ke rumah. Jauh pula!” “Nggak apa-apa kali, Re. Asyik juga ngobrol sama elo tadi. Gue nyesel kenapa nggak akrab sama elo dari dulu, dari awal kita di Teater Artes.” Kaka membalas. Cowok itu mulai bersiap melajukan motor. Ia pun berpamitan, “Gue balik, ya.” “Iya, hati-hati!” teriak Eureka mengantar kepergian Kaka. Setelah motor Kaka tak lagi terlihat, Eureka berjalan memasuki pelataran rumah. Gadis itu menuju ke pintu yang sudah tidak terkunci. Pasti mamanya sudah tiba di rumah. Eureka mengucap salam dan berjalan mengecek ke ruangan-ruangan di rumahnya untuk mencari keberadaan sang mama. Saat akhirnya melihat sang mama, Eureka berujar, “Aku pulang.” “Oh, udah dari tadi, Re?” tanya mamanya yang kaget dengan kehadiran Eureka. “Mama nggak dengar ada suara-suara orang. Mama kira kamu belum pulang.” Eureka balas menggumam saja. Gadis itu menjatuhkan bokongnya ke kursi yang ada di ruangan tempat mamanya sibuk menyetrika baju. “Pulang diantar siapa, Re?” tanya sang mama. Wanita itu melanjutkan dengan melempar tebakan, “Athaya? Kalian habis latihan teater, kan?” “Athaya?” Eureka kemudian mendengkus geli. “Boro-boro, Ma, dia mana mau.” Mamanya menaikkan sebelah alis. “Terus kamu pulang sama siapa? Abang ojol?” Eureka menggelengkan kepala dengan keras. Ia mengulas senyum lebar dan berujar, “Kaka, Ma. Dia teman Reka di Teater Artes.” Mendengar perubahan nada bicara Eureka yang terdengar makin riang, mamanya mengerling penasaran. “Kaka itu cowok, Re?” “Iya, Ma. Aku udah kenal dia dari semester lalu. Tapi baru ngerasa deketnya sekarang. Kami jarang ngobrol sebenarnya. Itu karena kalau latihan, Kaka sibuk sama teman-teman cowok di Teater Artes. Sementara aku juga berkumpul sama anak-anak perempuan.” Eureka bercerita panjang. Gadis itu memang senang bicara, khususnya bercerita. Apalagi pada mamanya. “Terus sekarang udah akrab? Awalnya gimana kok jadi bisa akrab begini?” Alena—Mama Eureka—terlihat makin penasaran. Eureka pun buka suara tentang hari ini di mana ia memang cukup banyak berinteraksi dengan Kaka. Di akhir cerita, Eureka memberi imbuhan, “Ma, dia wakilnya Kak Athaya di Teater Artes, lho.” Mamanya tampak mengangguk-anggukkan kepala sembari mengulas senyum. Setelah Eureka selesai bercerita, sang mama bertanya, “Kamu suka sama Kaka?” “Suka dong, Ma, obrolan kami nyambung dan orangnya juga seru,” jawab Eureka cepat. Bahkan gadis itu sampai mengacungkan kedua jempol. Alena tersenyum geli mendengar dan melihat tingkah polos putrinya. Sepertinya Eureka tak benar-benar menangkap maksud pertanyaan wanita itu. Ya sudahlah, ia tak akan memperjelas. Hanya saja, Alena mengkhawatirkan ikatan di antara putrinya dan Athaya. “Nak,” panggil Alena, “jangan lupa, ada Kak Athaya.” Eureka yang semula tersenyum cerah, kini perlahan mulai menipiskan senyumnya. Ia hanya mengangguk-angguk dengan salah tingkah sekaligus malas ketika diingatkan akan keberadaan Athaya di hidupnya. *** Athaya tiba di rumah dan segera menuju ke kamar. Setibanya di kamar, Athaya langsung mendudukkan diri di kursi belajar. Tangannya sibuk menyalakan laptop. Sial, ada tugas dadakan dari dosennya. Sementara Athaya malah asyik-asyikan menghabiskan waktu di tongkrongan bersama anak-anak Teater Artes. Seharusnya Athaya sesekali mengecek grup kelas. Namun ia cukup lalai malam ini. Apalagi pembahasan di tongkrongan tadi cukup seru menurut Athaya selaku ketua UKM itu. Hingga tak ada niatan bagi Athaya mengabaikan obrolan yang ada. Jadi karena merasa tak punya cukup waktu untuk mengerjakan semua tugas pemberian sang dosen sendirian, pemuda itu menelepon sahabatnya. “Put,” sapa pemuda itu saat telepon tersambung. “Kenapa, Tha? Soal tugas, ya?” tebak Putri. “Kirim jawaban lo ke gue dong. Nanti gue parafrasa.” Athaya berujar cepat. “Enak banget ngomongnya,” gerutu Putri di seberang sana. “Gue ngerjain dari tiga jam yang lalu aja belum kelar-kelar.” Pemuda itu berdecak, “Nomor berapa yang belum? Biar gue cariin jawabannya. Tapi yang udah lo kerjain, kirim ke gue, please.” “Oke, gue kirimin jawaban gue. Tapi besok lo kudu jajanin gue, ya!” Putri tampak berusaha membuat kesepakatan. Athaya yang dikejar waktu pun hanya mengiakan sekenanya. Ia mengejar agar Putri segera mengirimkan jawaban. Dan yah, Athaya berjanji akan memberikan sesuatu yang Putri mau. Tak sampai dua menit, Putri sudah mengirimkan dokumen berisi jawaban tugas gadis itu pada Athaya. Jadi Athaya segera mengakhiri telepon secara sepihak dan mulai men-download file dokumen kiriman Putri untuk ia copy-paste dan ia ubah sedikit-sedikit. Saat Athaya masih fokus-fokusnya menyalin jawaban milik Putri, ponsel Athaya berbunyi. Putri: Tha, gue baru kerjain nomor 1, 2, 5, dan 7. Masih ada nomor 3, 4, 6, 8, 9, sama 10 yang belum gue kerjain. Lo kerjain itu. Jawaban lo jangan lupa kasih tau gue. Athaya: Sialan lo, Put. Itu sih namanya lo belum ngerjain! Putri: Kan gue udah bilang tadi. Ada yang belum gue kerjain. Karena emang tugasnya sesulit itu, Tha. Gue jawab empat nomor aja udah berasa beruntung banget. Ntar update ya jawaban lo ke gue. Secepatnya! Athaya mendesah keras. Ia tak lagi membalas pesan dari Putri. Nanti saja ia akan bagikan jawabannya. Sekarang Athaya harus mengerjakan soal-soal yang belum Putri kerjakan. *** Pagi-pagi, Athaya sudah terbangun karena kegaduhan di depan pintu kamar. Pemuda itu bisa mendengar suara adiknya memanggil-manggil nama Athaya dibarengi dengan suara gedoran di pintu. “Apa?” teriak Athaya. Ia enggan turun dari kasur. “Mas, buka pintunya! Aku mau print tugas.” Aulia balas meneriaki Athaya. Sambil turun dari kasur, Athaya menggerutu, “Dia yang punya tugas, kenapa gue yang ikutan repot?” Begitu pintu terbuka, Aulia langsung menyelonong masuk. Ia tergesa-gesa menyalakan laptop dan printer milik Athaya dan mulai mencetak tugas-tugasnya. “Printer gue bawa aja ke kamar lo,” ujar Athaya, “ketimbang gue harus lo gangguin kaya gini.” Aulia cemberut. Ia tak suka pada Athaya yang perhitungan dan tidak hobi menolong orang. Padahal ini adik sendiri, lho! Di mana-mana, kakak laki-laki akan menyayangi adiknya dan rela berkorban demi sang adik, kan? Tapi Athaya justru sebaliknya. “Kasihan Kak Reka. Masa punya pacar yang tidak manusiawi kaya Mas Atha.” Aulia bergumam sambil merapikan kertas-kertas berisi laporan tugas. Meski masih digelayuti kantuk, namun Athaya cukup sadar untuk mendengarkan ocehan Aulia. Ia mendesis tak terima. “Siapa yang pacar gue? Siapa juga yang harus lo kasihani?” “Kak Reka, lah!” seru Aulia tak lagi bergumam saja. “Oh, salah, Kak Reka tunangan Mas!” Wajah Athaya makin suram saja. Kedua ujung bibirnya ditarik ke bawah hingga membuat wajah tampan pemuda itu tampak cemberut. “Kasihan, kan?” Aulia berujar untuk terakhir kalinya sebelum berlarian keluar kamar Athaya. Athaya mengembuskan napas keras-keras sambil menutup pintu dengan cara sama kerasnya. Cowok itu pun kembali melangkah ke tempat tidur dan kembali berusaha memejamkan mata. Meski kelihatannya, usaha Athaya akan percuma saja. Athaya sudah tidak bisa melanjutkan tidur. Kantuk itu sudah sirna dan mata Athaya kini terbuka nyalang. Kini yang ia rasakan justru perutnya yang keroncongan minta diisi. Padahal biasanya Athaya akan sarapan ketika waktu beranjak siang. Mungkin ini karena semalam ia tak makan dan hanya minum kopi saja. Jadi dengan berat hati, pemuda itu kembali beringsut turun dari kasur. Ia berjalan keluar dari kamar untuk selanjutnya menuju ke dapur. Di sana, ia bisa mendapati keluarganya sedang sarapan. “Tumben kamu ikut sarapan?” Maira—mama Athaya—yang menyadari kedatangan Athaya pun menarik kursi untuk diduduki Athaya. “Lapar, Ma,” jawab Athaya asal. Tapi ya memang benar adanya. Athaya menerima segelas s**u yang diulurkan sang mama dan mulai menenggak isi gelas itu. Setelah membasahi kerongkongan, Athaya mengambil selembar roti tawar. Tanpa mengolesinya dengan selai, pemuda itu langsung melahap roti itu. Athaya hanya sibuk makan di sana. Ia tak ikut menimbrung dalam obrolan papa, mama, maupun Aulia. Sampai beberapa menit berlalu, telinga Athaya menangkap topik obrolan yang terdengar janggal. “Siapa yang mau nginep di sini?” Athaya berusaha memastikan pendengarannya. “Reka,” jawab Rendra—papa Athaya. Rendra lanjut berucap, “Minggu depan Bu Alena harus keluar kota. Reka nggak mungkin ditinggal sendirian di rumah.” “Iya, jadi Reka nanti tinggal sama kita buat sementara waktu,” timpal Maira. Wanita paruh baya itu tampak sangat antusias tanpa alasan yang jelas. Sementara Athaya masih terbengong-bengong. Pemuda itu tak habis pikir dengan apa yang dibicarakan kedua orang tuanya. “Kayanya ada yang nggak sabar nih kalau Kak Reka tinggal sama kita di sini,” seloroh Aulia tanpa mengindahkan ekspresi Athaya. Ucapan Aulia itu mendapat sambutan yang meriah dari Maira dan senyuman kecil dari sang papa. Athaya tahu bahwa Aulia tengah menyudutkannya. Tapi setelah mampu menguasai diri, Athaya berujar, “Ini salah, Pa, Ma.” “Salah?” tanya kedua orang tua Athaya berbarengan. “Eureka bukan keluarga kita. Apa kata orang kalau dia tinggal di sini sementara ada aku yang seumuran sama dia tapi aku cowok dan dia cewek.” Athaya bicara dengan nada yang cukup tinggi. Itu membuat kedua orang tua dan juga adiknya terperangah. Aulia yang pertama menanggapi, “Mas kenapa jadi marah-marah ke Mama sama Papa? Durhaka lho nanti!” “Bukan marah. Aku cuma kaget. Kenapa kalian nggak mikirin hal ini matang-matang. Menerima orang buat tinggal di rumah kita nggak bisa semudah itu. Apalagi ini nggak sehari dua hari aja Reka di sini, kan?” Athaya tetap menggebu-gebu. Papa dan mamanya saling tatap. Mereka pun terdiam barang beberapa saat. “Tapi kalian kan nggak berdua aja di sini. Ada Mama, Papa, dan Aulia juga. Tetangga pasti ngerti,” ujar Maira kemudian. “Lagian siapa sih yang akan memperhatikan keluarga kita sampai segitunya? Semua tetangga sibuk dengan urusan masing-masing.” “Ya, Papa rasa, itu bukan masalah,” ujar papanya menyetujui ucapan sang mama. Tapi Rendra bisa melihat hal lain yang mengganjal di kepala Athaya. Jadi ia putuskan untuk bertanya, “Pasti bukan cuma ini alasan kamu tidak ingin Reka tinggal di sini sementara waktu. Ada alasan lain?” Athaya menghela napas. Ia berujar dengan lirih, “Athaya nggak nyaman kalau ada Reka di sini.” “Kok gitu Mas?” Aulia langsung menyambar. Namun sang Papa tampak mengangkat tangan, meminta agar semua diam dan memberinya waktu untuk bicara. “Papa tahu itu. Papa bisa lihat kalau kamu belum benar-benar menerima Eureka sebagai tunanganmu. Tapi Papa mohon agar kamu membuka diri. Reka itu gadis yang baik. Dari yang Papa lihat, dia juga ada keinginan buat mendekati kamu. Dia mau membiasakan diri dengan adanya kamu. Tapi kamu terlalu dingin, Tha.” “Athaya nggak siap, Pa. Kenapa di umur Athaya yang sekarang ini Athaya harus sudah bertunangan? Sementara teman-teman Athaya di luar sana masih sibuk dengan pendidikan, karier, dan pastinya membangun hubungan dengan orang yang mereka cintai.” Athaya menumpahkan kegelisahannya. Mendengar ucapan Athaya itu, kedua orang tua Athaya kembali terdiam. Mereka tak habis pikir bahwa Athaya masih saja kesulitan menerima keputusan pertunangan yang telah terjadi beberapa waktu lalu. “Papa lakukan ini semata-mata karena Om Rathan adalah sahabat Papa. Papa nggak mau Reka kenapa-kenapa setelah kehilangan sosok Papanya.” Rendra menjelaskan. Athaya mendengkus dan terkekeh sinis. “Kalau memang Papa merasa bertanggung jawab soal itu, ya seharusnya Papa yang urus. Kenapa jadi melibatkan Athaya yang nggak tahu apa-apa?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN