♩✧♪● Theatre 9 ○♩♬☆

1615 Kata
Kaka tiba di kafe di mana Eureka berada setelah ia berputar-putar menyusuri blok-blok perumahan. Hampir saja Kaka batal menjemput Eureka saking sulitnya menemukan letak kafe itu. “Astaga, Re, ini kafenya susah banget ditemuin.” Kaka memasang wajah cemberut. Eureka yang sudah menunggu di teras kafe pun menghampiri Kaka sambil memamerkan senyum tak enak hati. “Aduh, sorry, Ka. Emang posisinya agak terpencil gini. Tapi kan udah gue share loc tadi.” "Iya, tapi jalannya rada muter-muter. Gue nggak familier sama daerah sini,” jelas Kaka. Ia pun melanjutkan, “Ya, udah, nggak apa-apa. Naik gih.” “Thanks,” bisik Eureka sambil mendudukkan diri di boncengan motor Kaka. “Udah?” tanya Kaka sebelum melajukan motornya. Eureka mengangguk semangat. “Udah. Yuk, jalan!” Di sepanjang jalan, keduanya mengobrolkan banyak hal. Mulai dari urusan mereka yang sama-sama bergabung di Teater Artes, sampai ke urusan kuliah. Mereka yang masihlah mahasiswa semester dua itu sudah mengeluhkan banyaknya tugas yang akan mereka hadapi di semester ini. “Padahal kita baru semester dua. Apa kabar yang udah semester tua?” seloroh Eureka. Otaknya tak sampai kalau harus membayangkan apa yang harus ia hadapi nanti-nanti. “Ya udah lah, Re, nikmati dulu aja. Mumpung kita masih semester awal. Masih bisa main, nongkrong, sibuk organisasi, kan?” timpal Kaka. Eureka mengangguk setuju sembari terkekeh. Namun karena mereka sudah tiba di kampus, perbincangan pun tak dilanjutkan. *** Kaka memarkirkan motornya tepat di depan ruang sekretariat Teater Artes sehingga beberapa orang yang ada di sekretariat tertarik untuk menoleh ke arah Kaka dan Eureka. "Eh, kalian berdua berangkat bareng?" Sekar langsung menyapa. Pia yang melihat hal yang menurutnya janggal dari Kaka dan Eureka pun berceletuk, "Kok bisa berangkat bareng? Rumah kalian kan nggak searah." "Mungkin emang si Kaka sengaja jemput Eureka," seloroh Panca. "Hmm, ada apa di antara kalian berdua?" Airin menimpali dengan kerlingan jahil. “Jangan-jangan ada yang mulai terperangkap cinta lokasi?” Eureka dan Kaka saling tatap. Keduanya lantas menggeleng kompak. Kaka menjelaskan, "Tadi kebetulan gue ada kerja kelompok di rumah temen gue. Terus ternyata rumah temen gue nggak jauh-jauh amat dari rumah Eureka. Makanya gue tawarin Eureka tumpangan, begitu Mbak dan Bang sekalian." Beberapa dari mereka yang ada di ruang sekretariat Teater Artes terdengar ber-oh-ria. Namun Eureka bisa memastikan bahwa Athaya yang juga ada di sana tampak tak sedikit pun memberikan atensi pada kehadiran Eureka dan Kaka juga obrolan yang ada. Lagi-lagi Eureka dibuat menghela napas karena menghadapi sikap Athaya yang terkesan dingin dan cuek. "Ayo masuk, Re," ajak Kaka pada Eureka. Eureka mengangguk dan memaksakan diri untuk masuk ke dalam ruang sekretariat. Ia mengambil posisi duduk yang strategis untuk mengamati gerak-gerik Athaya. Eureka ingin melihat sejauh apa Athaya akan bertingkah menyebalkan hari ini. "Bahasnya lanjut nanti aja," ujar Athaya setelah sekian lama bungkam. Ia melanjutkan, "gue ke sebelah dulu. Nanti kalau udah mau mulai latihan, kabarin ya." "Ye, malah kabur," celetuk Pia menanggapi. "Nggak puas kalau nggak ngapel kayanya," canda Panca, "ingat bro, sekre lo itu di sini, bukan di sekre UKM Tari." Airin turut menimpali sebelum ikutan terkekeh geli, "Biasalah, rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri." "Bacot kalian semua!" salak Athaya pada rekan kerjanya yang justru sibuk meledek. Setelah itu, Athaya berlalu begitu saja. Eureka menggeser duduknya untuk mendekat ke jendela supaya bisa melongokkan kepala ke ruang sekretariat UKM Tari. Ia ingin memperhatikan apa yang Athaya lakukan di sana. "Eh, Re," panggil Airin. "Surat-suratnya bisa dijadiin kapan?" Eureka yang semula sibuk memperhatikan Athaya, kini harus mengalihkan perhatian sejenak pada Airin yang mengajaknya bicara. Eureka menggumam panjang sebelum akhirnya menjawab, "Akhir pekan ini ya, Mbak?" "Oke, boleh, thanks ya. Nanti pakai format dan contoh surat yang udah gue kirim aja. Tinggal diganti di beberapa bagian. Nanti gue kasih catatan rapat gue sama yang lain tadi.” "Surat buat apa, sih?" Kaka menyela karena penasaran. Anggota dari angkatan Athaya hanya saling tatap sambil tersenyum misterius. Lalu Airin menambahkan, "Rahasia! Reka, lo juga tutup mulut, ya. Jangan bocorin ini ke anak-anak yang lain. Nanti kalau udah waktunya kalian tahu, kami bakal kasih tahu kok." "Yah, nggak asik kalian!" Kaka mencibir. *** Latihan rutin dimulai ketika jam menunjukkan pukul tujuh malam. Semua anggota teater yang hadir berkumpul di halaman depan sekretariat. Mereka membentuk lingkaran untuk melakukan pemanasan dan dilanjutkan latihan vokal. "Oke, habis ini kita latihan pernapasan. Kita pakai pernapasan diafragma. Gue contohin, nanti kalian ikuti," ujar Athaya saat sesi utama latihan akan dimulai. Athaya memberikan arahan agar teman-temannya berbaring di pelataran tempat mereka berlatih. "Kalau udah berbaring, jangan lupa bernapas yang rileks, ya! Habis itu fokus dan dengerin arahan dari gue." Latihan pernapasan dilakukan selama beberapa saat sesuai arahan Athaya. Karena nyatanya, Sekar dan anak-anak divisi diklat tak berhasil menghubungi pemateri. Dan karena ini masih lah materi dasar, Athaya yang dipaksa terus menerus oleh Sekar untuk mengisi sesi latihan rutin kali ini pun terpaksa mengiakan. Tapi di sesi selanjutnya, Athaya meminta pada Sekar untuk gantian memberi arahan latihan bagian olah vokal. Mereka sudah sepakat membagi tugas. "Oke, gue ambil alih ya," ucap Sekar. "Sekarang kalian boleh duduk bersila di tanah. Kita akan olah vokal. Tadi kan di awal kita udah senam wajah, nah sekarang kita akan fokus ke senam bibir." "Senam bibir yang gimana woi? Ciuman? Ups!" Panca berceletuk mengurai suasana hening dan syahdu yang sempat menyelimuti mereka. Pia melirik jengkel. "Anjing lo, Panca-Panca!" umpatnya pada Panca, "lo diem dulu apa susahnya, sih?" "Dah, yuk, serius sebentar," sela Sekar. Ia melanjutkan memberi arahan untuk senam bibir yang ia ucapkan beberapa waktu lalu. "Saat menyuarakan huruf 'U', bibir dibentuk mengerucut dan tarik semaksimal mungkin ke depan. Untuk bentuk 'O', bibir membuat bulatan dan tarik bibir ke arah depan. Untuk bunyi 'A', bibir seolah pada posisi menguap membentuk lonjong maksimal. Untuk bentuk bunyi 'I', bibir ditarik ke samping sehingga mulut nampak pipih. Untuk bunyi 'E', mirip posisi bunyi 'A' tapi kurangi luas mulut sepertiga bunyi 'E'. Bunyi 'E' rada susah ya karena ada beberapa karakternya. Kalian perhatiin mulut gue aja. Nanti gue pakai contoh kata. Sekarang kita coba dulu dari huruf 'U'." Senam bibir dilakukan selama beberapa saat dan Sekar mengecek satu per satu dari praktik pengucapan teman-temannya. Athaya pun tak tinggal diam. Ia turut memperhatikan peserta larut itu dan memberi koreksi jika diperlukan. Dan secara kebetulan, Athaya menjatuhkan tatapannya pada Eureka yang tampak tidak serius mengikuti arahan Sekar. Athaya mengambil tindakan. Ia merangsek ke arah Eureka dan berjongkok di depan gadis itu. "Ulangi yang bener!" perintahnya kepada Eureka yang tampak kebingungan karena Athaya sangat niat untuk mengoreksinya. Beberapa menit berlalu. Sekar sudah kembali ke tempatnya, sementara Athaya memilih tempat kosong terdekat yang ada di sebelah Eureka. "Habis ini, kita gabung olah pernapasan sama olah vokal ya," ujar Athaya kemudian. "Oke, Bang!" jawab kompak dari anggota Teater Artes yang ada di sana. *** Latihan diakhiri ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Beberapa petugas keamanan kampus juga sudah mulai berkeliling dan membubarkan segala kegiatan mahasiswa yang masih berlangsung di sana. Maklumlah, gedung kegiatan mahasiswa memang tidak dibuka 24 jam. Makanya tak boleh ada kegiatan yang sampai terlalu larut di kampus. Namun bukan berarti mahasiswa tidak bisa melanjutkan kegiatan mereka karena kampus sudah ditutup. Nyatanya masih banyak tempat yang bisa mereka jadikan tempat berkumpul. Seperti sekarang ini misalnya, anak-anak Teater Artes beralih dari sekretariat menuju ke sebuah warung makan yang juga tempat langganan mereka nongkrong. “Eh, kami pengen lihat penampilan dari angkatannya Kaka dong,” celetuk Sarah tiba-tiba. “Wah, iya, nih. Kalian belum pernah nampilin apa-apa, kan?” Pia menimpali. “Coba deh kalian bikin pementasan apa gitu. Buat ditonton sama internal Teater Artes aja.” Kaka menatap ke arah teman-temannya. “Gimana, guys?" “Ayo, lah. Masa kalian udah setengah tahun di sini, belum pernah mempersembahkan penampilan? Buktikan kalau kalian udah belajar teater.” Panca memanas-manasi. “Coba deh, satu per satu dari angkatannya Kaka ngasih pendapat,” ujar Sarah. Gadis itu pun menunjuk salah satu anggota Teater Artes dari angkatan di bawahnya. “Dinda yuk berpendapat.” Dinda tampak tak siap. Ia memilih mengangguk-anggukkan kepala saja sembari berujar, “Setuju, Mbak.” “Setuju apa?” Sarah memperjelas. “Nggak apa-apa kalau misal mau ada penampilan gitu.” Dinda menjawab sekenanya. Panca kembali bicara, “Oke, Din. Yang sebelahnya Dinda, lo siapa?” “Tisya, Bang,” jawab gadis bersuara imut itu. “Oke, Tisya. Menurut lo gimana? Mau nggak kalau ada pementasan internal? Terus ada saran mau nampilin apa?” Panca bertanya. Tisya tersenyum malu-malu. “Hmm, mau-mau aja sih, Kak. Tapi kalau saran nampilin apa, aku belum kepikiran.” “Yang lain setuju juga, kan?” Athaya mengedarkan pandangan menatapi satu per satu anggotanya. “Setuju, Bang!” Anggota teater menjawab hampir serempak. “Ya udah, siapa di antara kalian yang udah punya saran? Bakalan lama ini kalau ditanyain satu-satu. Jadi yang udah ada ide, boleh langsung disampaikan,” sela Sekar. Hening selama beberapa saat. Semua anggota angkatan bawah tampak berpikir. Ada juga yang berbisik-bisik untuk menemukan ide pementasan. Setelah beberapa lamanya tak ada yang berbicara, Eureka mengangkat tangan. Ia berkata, “Aku dan Kaka barusan ngobrol dan kami ada ide. Boleh aku sampaiin?” “Sampaiin aja,” ujar Airin. Eureka mengangguk dan kembali membuka suara, “Jadi gimana kalau kita adain semacam drama musikal. Nanti ada yang nyanyi, ada yang main musik, ada yang bermain peran, ada yang nari, dan lain-lain. Pokoknya yang lengkap gitu.” “Setuju, Re,” seru Ezhar—pemuda yang memiliki kembaran bernama Edgar yang sama-sama merupakan anggota Teater Artes. Ezhar melanjutkan, “Gue juga kepikiran gitu. Karena kan waktu perkenalan dulu, banyak nih anak-anak Teater Artes yang juga punya hobi kaya nari, nyanyi, main biola, dan lain-lain. Bisa banget disalurkan sesuai kemampuan di drama musikal ini. Jadi nggak melulu harus akting, kan?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN