Sore itu, Athaya sudah bersiap-siap akan pergi ke rumah Eureka untuk memberikan oleh-oleh dari sang mama. Sekalian, ia juga akan lanjut pergi ke kampus guna mengikuti latihan rutin Teater Artes.
Athaya pergi dari rumah dengan mengenakan outfit santai yang biasa ia kenakan ketika harus berlatih teater, yakni celana training olahraga dan kaus lengan pendek. Agar diperkenankan masuk ke dalam kampus, sementara waktu, Athaya mengenakan kemeja di luar kausnya.
Tak perlu banyak berdandan—karena itu memang tidak diperlukan mengingat ia sudah tampan—Athaya langsung tancap gas pergi dari rumah. Sepanjang perjalanan, pikirannya melayang-layang pada rencana pengadaan makrab.
“Gue harus tunjuk siapa buat jadi penanggung jawab acara?” gumam pemuda itu. Athaya ragu kalau ada anggota dari angkatannya yang mau ditunjuk untuk tanggung jawab itu. “Amit-amit kalau gue lagi-gue lagi.”
Tanpa benar-benar Athaya sadari, pemuda itu sudah tiba di rumah Eureka. Setibanya di sana, Athaya memarkirkan motor di luar gerbang rumah Eureka karena ia memang tidak berniat mampir lama-lama.
Kedatangannya disambut Eureka yang tengah menyirami tanaman. Gadis itu menatap Athaya dengan dahi berkerut. “Kak Atha? Ngapain ke sini lagi? Kangen aku, ya?” seloroh Eureka.
Athaya memasang tampang menahan mual yang dibuat-buat. Cowok itu menyodorkan kantong belanjaan berisi oleh-oleh yang mamanya siapkan untuk Eureka.
“Apa ini?” Mata Eureka tampak berbinar ketika ia menerima pemberian Athaya itu.
“Oleh-oleh dari Mama,” jawab Athaya.
Eureka berujar sambil senyum-senyum kesenangan, “Thanks, sampaikan ke mamanya Kak Atha.”
“Hmm,” gumam Athaya, “kalau gitu, gue balik dulu.”
Saat Athaya akan berbalik pergi, Eureka menahan lengan pemuda itu. Jadi Athaya memutuskan untuk berhenti melangkah. Meski enggan, ia menoleh ke belakang untuk menatap lawan bicaranya.
“Nanti malam ada latihan, kan?” Eureka bertanya memastikan.
Athaya menganggukkan kepala. “Kenapa? Lo mau izin?” tebaknya berburuk sangka.
Eureka mencebikkan bibir, mencibir. “Bukan gitu. Justru aku nggak mau sampai nggak datang latihan.”
“Terus?” Athaya menaikkan sebelah alisnya. Ia penasaran dengan maksud Eureka.
Gadis yang menjadi lawan bicara Athaya itu tersenyum lebar. Ada kerlingan jahil di matanya. “Aku berangkat bareng Kak Atha, ya? Kak Atha habis ini mau ke mana? Langsung ke kampus?”
Athaya dibuat tercengang. Ia tidak tahu bahwa Eureka memang seberani itu. Eureka benar-benar orang yang blak-blakan dan itu mampu membuat Athaya tak bisa membalas ucapannya.
“Gimana? Aku ikut Kak Athaya, ya? Ini aku siap-siap dulu. Kak Athaya tunggu aku,” putus Eureka sepihak. Gadis itu mengembalikan peralatan menyiram tanaman yang semula ia gunakan lalu bergegas melangkah memasuki rumah.
Ketika Eureka sudah menghilang dari pandangan Athaya, cowok itu baru bisa menguasai diri. Ia yang semula melongo pun kini memutar akal untuk tidak membiarkan Eureka datang ke latihan bersamanya.
“Aneh kan kalau gue tiba-tiba dateng sama dia? Pasti yang lain bakal bertanya-tanya. Ogah banget kalau dijadiin bahan ceng-cengan.” Ia merutuk.
Akhirnya tanpa pikir panjang, Athaya segera cabut dari sana. Masa bodoh dengan Eureka yang tahunya Athaya sedang menunggu untuk berangkat bersama!
***
Eureka berdiri kebingungan di teras rumah. Sejauh mata memandang, gadis itu tidak dapat melihat batang hidung Athaya. Eureka yakin bahwa ia sudah meminta Athaya untuk menunggu. Lalu sekarang apa? Eureka ditinggal pergi begitu saja?
Gadis itu mengembuskan napas keras. Kaki kanannya menendang udara seolah di sana ada Athaya yang jadi sasarannya. Ia kesal setengah mati pada cowok super tidak peka dan tidak berperasaan itu.
Kepala Eureka sampai terasa pening karena menahan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun. Dengan kasar, Eureka melemparkan diri ke kursi yang ada di teras rumahnya. Ketimbang ia pingsan karena darah tinggi, kan? Meski sebenarnya itu tidak pernah terjadi pada Eureka.
Setelah menenangkan diri dan meredakan emosi, ia memilih merogoh ponsel dari dalam tas berukuran kecil yang tersampir di pundak. Tangannya sibuk mengecek ponsel itu. Dan benar saja, ada pesan dari Athaya yang belum ia baca.
Kak Athaya: Sorry, gue duluan ke kampus. Ada yang harus gue bahas sama anggota teater angkatan gue.
Kak Athaya: Lo dateng nanti aja kalau udah jamnya latihan.
Eureka mendesah. “Halah, paling cuma alasan aja,” cibirnya. Eureka bisa menduga bahwa Athaya hanya berusaha menghindar. Cowok itu pasti takut kalau orang-orang tahu yang sebenarnya. Eureka melanjutkan cibiran, “Ya udah, lanjutin aja bermain peran ini. Pantesan jadi ketua teater, jago akting!”
Puas mengomel, gadis itu pun menilik ke jam di ponsel. Memang masih ada waktu sekitar satu jam sebelum latihan teater di mulai. Jadi Eureka tak perlu tergesa berangkat ke kampus.
Namun berhubung Eureka sudah siap begini, ia jadi malas menunggu di rumah. Gadis itu memutuskan untuk memesan ojek online dengan tujuan pengantaran ke sebuah kafe yang terletak tak jauh dari rumahnya.
Ingat, Eureka akan latihan teater sampai malam. Setidaknya, ia harus mengisi perut sebelum terjebak dalam latihan teater yang biasanya menguras tenaga.
Setelah menunggu barang beberapa menit, ojek online pesanannya tiba juga. Gadis itu mengunci pintu dan berjalan menghampiri motor driver pesanannya. Tak menunggu lama, setelah Eureka duduk di boncengan sang abang ojol, motor itu pun bergerak meninggalkan rumah Eureka.
Berhubung kafe yang menjadi tujuan Eureka memang tak jauh-jauh amat dari rumah, Eureka tak membutuhkan banyak waktu untuk tiba di tujuan. Seberes mengembalikan helm ke driver ojol itu, Eureka pun berjalan memasuki kafe.
Kafe itu tidak cukup ramai karena lokasinya yang memang kurang strategis—berada di antara perumahan-perumahan dan bukannya di tempat yang cukup mudah dijangkau orang. Namun makanan dan minuman di kafe itu lumayan sesuai dengan selera Eureka. Suasana yang sepi juga cukup untuk membuatnya menenangkan diri.
Seberes memesan, Eureka mencari tempat duduk yang berada di dekat jendela. Itu memang salah satu kebiasaan Eureka.
Sambil menunggu pesanannya siap, Eureka membuka kembali ponselnya. Ia membuka pesan dari Airin yang memberi perintah agar Eureka membantu membuat beberapa surat. Eureka mencermati isi pesan itu dan rincian surat apa yang harus ia buat.
“Wow, bakal ada makrab, nih?” Eureka langsung antusias. Ah, Eureka memang senang dengan acara-acara semacam ini. Gadis itu jadi tak sabar.
Saat ia akan membalas pesan dari Airin, pesanannya tiba. Ia pun memilih untuk mengirim balasan singkat kepada Airin sebelum fokus pada makanan dan minuman yang terhidang di meja.
***
Sementara itu, di kampus, sudah ada pengurus inti dari Teater Artes yang satu angkatan dengan Athaya. Mereka berkumpul lebih awal untuk membahas rencana makrab dan pendidikan dasar keteateran.
“Gimana?” tanya Athaya, “Reka bisa bikin suratnya?”
“Bisa dia. Nanti gue kejar buat proposalnya. Lagian kan kita nggak pakai dana dekanat. Jadi prosesnya bakalan bisa lebih cepat.” Airin menjawab.
Sekar menimpali, “Berarti bulan depan ya kita rencanain?”
“Semoga kekejar sih,” imbuh Panca.
“Buat acara ini, kita pakai ketua panitia atau cukup penanggung jawab aja?” Airin bertanya.
Athaya menggumam panjang sebelum akhirnya menjawab, “Penanggung jawab aja cukup. Toh panitianya juga kita-kita aja. Pesertanya juga nggak banyak-banyak amat. Kita buat acara yang simpel tapi dengan perencanaan matang. Yang penting, syarat-syarat dan rangkaian acara yang wajib ada jangan lupa dilaksanain.”
Mendengar penjelasan Athaya yang panjang itu, teman-temannya mengangguk-anggukkan kepala.
“Eh, tapi yang mau jadi PJ siapa, nih?” Airin melirik ke arah Athaya.
Athaya buru-buru bicara, “Jangan gue lagi.”
“Siapa dong?” Panca malah balik bertanya. “Lo aja nggak apa-apa kali, Tha. Lagian kan, kerjanya juga bareng-bareng.”
Athaya berdecak dan mencemooh, “Sekarang lo bisa bilang gitu. Nanti pas dibutuhin, ngilang!”
Mendengar cemoohan Athaya, teman-temannya tertawa. Ya, memang begitu adanya. Di awal-awal saja mereka tampak kompak dan siap saling membantu. Tapi ketika rencana sudah dijalankan, satu per satu anggota akan mulai tak terlihat lagi batang hidungnya. Terlalu banyak alasan yang bisa digunakan untuk mangkir dari tugas.
“Kali ini, gue janji bakal bantu sampai beres, deh.” Panca bicara dengan nada sok serius. “Nanti gue cariin tempat sama siapin keperluan lainnya.”
“Iya, nggak apa-apa kali, Tha.” Pia yang sedari tadi diam saja karena tengah membuat rancangan anggaran, kini turut menimbrung dalam obrolan. “Kan, seperti kata lo, acaranya simpel aja. Buat urusan sekretariat sama anggaran, biar gue sama Airin yang ngurus. Lo tahu kan kami gimana? Jadi tenang aja, nggak usah takut kalau urusan itu nggak kelar. Terus nanti soal tempat acara sama perlengkapannya, Panca yang tanggung jawab. Yang lain juga bakal bantu.”
“Oke, deh, gue aja kalau gitu penanggung jawabnya,” putus Athaya setelah mendapat pencerahan dari Pia.
Teman-temannya pun bersorak lega karena dengan begitu, mereka tak akan menanggung beban berat memastikan ini dan itu berjalan sesuai rencana.
Panca kembali buka suara, “Eh, Tha, tapi nanti lo kudu temenin gue survei lokasi, ya. Gue ogah jalan sendiri.”
“t*i, lah!” umpat Athaya. Belum apa-apa, dia sudah direpotkan.
***
Eureka baru menandaskan sepiring spaghetti Aglio e Olio dan segelas lemon tea. Kini ia merasa kekenyangan hingga tak ingin beranjak dari sana. Ah, mendadak Eureka malas ikut latihan teater karena kantuk juga mulai menyerang.
Namun saat pikiran itu terlintas, ponsel Eureka juga berdenting. Sehingga gadis itu berusaha mengusir keinginan buruknya untuk membolos latihan.
Ia kini berusaha mencari dari mana asal denting tadi. Dan ternyata, ada pesan masuk dari nomor yang belum Eureka simpan. Tapi dari foto profil nomor itu, Eureka tahu siapa si pengirim pesan.
“Gue lupa belum save nomor Kaka,” gumam gadis itu sembari mulai menyimpan nomor Kaka—teman satu teaternya—ke dalam daftar kontak. Setelah beres, ia membaca isi pesan Kaka.
Kaka: Re, lo di mana? Udah di kampus?
Eureka mengernyitkan dahi. Tumben-tumbenan si Kaka ini menghubunginya. Apalagi hanya untuk menanyakan keberadaan Eureka.
Eureka: Belum sampai. Habis ini OTW.
Eureka mengirim pesan balasan begitu. Padahal dia belum ada niatan beranjak dari tempatnya.
Kaka: Masih di rumah? Mau nebeng gue nggak? Gue jemput nih.
Balasan dari Kaka kembali masuk ke ponsel Eureka. Tapi gadis itu malah semakin bingung ketika membaca pesan dari Kaka itu.
“Tumben banget,” gumamnya. Ia malah menaruh curiga.
Tapi pada menit selanjutnya, Kaka menjelaskan alasannya ingin memberi tumpangan pada Eureka. Ternyata cowok itu sedang berkeliaran di daerah di sekitar rumah Eureka. Dan berhubung Kaka ingat sedikit-sedikit soal alamat Eureka, cowok itu merasa tak ada salahnya memberi tumpangan. Toh, tujuan mereka sama.
Eureka: Oke, deh, gue nebeng ya. Tapi gue udah nggak di rumah.
Kaka: Di mana? Tapi masih di sekitar sini, kan?
Eureka: Masih, kok. Gue ada di kafe di dekat rumah gue.
Kaka: Sip, kalau gitu, share location aja.
***