Eureka meneguk ludah saat mendengar ucapan menyakitkan yang keluar dari mulut Athaya. Eureka tidak memahami apa kesalahan yang telah ia perbuat hingga Athaya memilih bersikap seperti itu sejak awal. Padahal seingat Eureka, baik ia maupun Athaya tak pernah terlibat perselisihan apa-apa. Hubungan mereka juga sekadarnya saja. Kecuali fakta bahwa mereka belakangan ini sudah resmi bertunangan.
Oh, tunggu! Apa gara-gara itu?
Eureka kembali membuka suara. Kali ini suaranya terdengar seperti cicitan. "Kak Athaya benci sama aku karena pertunangan ini?"
Mendengar pertanyaan Eureka, Athaya mengerutkan dahi. Ia hampir saja menganggukkan kepala. Tapi itu berhasil ia cegah dengan mempertimbangkan kewarasan dan kesadaran yang masih tersisa di otaknya.
"Benar begitu, Kak?" tanya Eureka lagi.
Athaya menghela napas dan menggumam, "Enggak."
"Bohong kalau enggak. Buktinya, aku nggak bikin salah atau ngapa-ngapain, tapi tetep aja didiemin!" Eureka menumpahkan unek-uneknya.
"Gue bilang enggak itu artinya enggak!" Athaya balas menggerutu. Ia hampir kehilangan kesabaran dan ingin cepat-cepat menjauh dari Eureka agar obrolan ini tidak menjadi lebih jauh lagi.
"Kalau Kak Atha keberatan sama pertunangan ini, Kak Atha bisa batalin. Lagian, kan, Papaku cuma meminta Kak Atha buat bantu Mama jagain aku. Bukan buat tunangan sama aku. Nggak ada yang salah kalau pertunangan ini dibatalkan. Toh, awalnya yang mencetuskan ide pertunangan ini bukan keluargaku melainkan keluarga Kak Atha." Eureka nyerocos panjang lebar.
Athaya diam saja. Ia mencoba mencerna omelan gadis di hadapannya. Setelah beberapa saat terdiam, Athaya membuka mulut. Ia berucap dengan jelas, "Gue cuma berusaha menjalankan amanah."
"Menjalankan amanah?" Eureka tampak tak terima. "Kan udah aku bilang tadi, Papaku cuma minta Kak Atha buat bantu Mama jagain aku. Kak Atha nggak punya kewajiban apa-apa, kok. Lupakan soal tunangan. Lagian Kak Athaya juga nggak ada baik-baiknya ke aku!"
Setelah itu, Eureka mengambil langkah seribu meninggalkan Athaya yang terpaku di tempat. Jujur saja, Eureka merasa malu sudah nyerocos panjang lebar begitu. Apalagi kalau mengingat bagaimana gaya bicaranya yang sok tidak membutuhkan Athaya.
Tapi biarlah, Eureka perlu menyampaikan ini. Tidak ada untungnya ia dan Athaya bermain kucing-kucingan. Kalau Eureka sudah mengatakan bagaimana isi hatinya yang sebenarnya, setidaknya Athaya akan lebih mengerti. Ya, semoga saja begitu. Masalahnya, Athaya bukan cowok yang peka!
***
Athaya menutup pintu ruang sekretariat Teater Artes. Ruangan itu sudah kosong sejak beberapa menit lalu. Kalau sesuai rencana, sore ini, ia dan beberapa anggota Teater Artes akan menonton pertunjukan Teater di kampus sebelah.
Kebetulan, hubungan Teater Artes dan teater di kampus tetangga ini memang cukup akrab. Makanya mereka mendapat undangan eksklusif untuk menghadiri pentas besar teater itu. Sekalian mereka diminta untuk membantu persiapan yang mungkin hanya kurang lima persen saja sebelum benar-benar siap pentas. Karena budaya gotong royong di antara komunitas teater memang tak perlu diragukan. Apalagi untuk urusan membantu menyukseskan pementasan begini.
Sesampainya di parkiran motor, Athaya mengambil motor dan lanjut menghampiri teman-temannya yang sudah berkumpul di luar area parkir fakultas.
"Eh, Tha," seru Panca sambil membuka kaca helm. Ia berujar, "Gue kudu balik ke kos dulu, nih. Ini si Reka nebeng lo aja, ya?"
Athaya menoleh ke arah gadis yang duduk di boncengan motor Panca. Rupanya, gadis itu adalah Eureka. Memang tadi Panca berjanji akan memberi tebengan pada Eureka untuk bersama-sama pergi ke lokasi pementasan teater itu.
Teman-teman yang lain juga sudah berbonceng-boncengan untuk berangkat bersama-sama menuju lokasi pementasan. Hanya motor Athaya saja yang masih kosong jok belakangnya.
Athaya menarik napas dalam-dalam. Ia bingung harus menjawab apa.
"Buruan iyain, Tha, keburu malem. Nggak enak kalau datengnya mepet-mepet. Dikira ogah bantu-bantu nanti," sela Airin yang duduk di boncengan motor Pia.
Mau tak mau, Athaya mengangguk. Ia tak mungkin berkeras menolak memberi tumpangan pada Eureka. Bisa-bisa, anggota Teater Artes yang lain akan mencium gelagat aneh dari tingkah Athaya.
"Pindah ya, Reka. Sorry gue harus balik ke kos dulu," ujar Panca.
"Iya, Kak," balas Eureka sembari berpindah ke motor Athaya.
Setelah semua urusan memberi tumpangan itu selesai, mereka pun secara beramai-ramai mulai meninggalkan area fakultas.
Sesaat sebelum berpisah dengan Panca, Athaya sempat melontarkan gerutuan, "Panca, Panca, bisa-bisanya lo pake acara balik ke kos segala."
"Ya, maaf, Tha. Gue nggak bawa dompet sama SIM. Mana bisa gue kelayapan jauh tanpa bawa barang itu." Panca tampak cengengesan.
Athaya berdecak tak suka. Ia pun berpesan, "Buruan nyusul. Awas kalau sampai gue nggak lihat batang hidung lo di sana!"
Kemudian mereka berpisah di persimpangan jalan. Panca melaju ke arah jalanan perkampungan di sekitar kampus. Sementara Athaya dan rombongan teaternya berkendara menuju ke lokasi pementasan teater tetangga.
***
Sepanjang jalan, Eureka diam saja. Ia hanya berpegangan pada jaket Athaya agar kalau ada apa-apa, Eureka tidak jatuh dari motor.
Sebenarnya Eureka masih enggan berurusan lagi dengan Athaya karena persoalan tadi sore. Antara malu dan kesal, hati Eureka jadi tak nyaman.
"Lo pakai helm siapa itu?" tanya Athaya untuk pertama kalinya setelah mereka berkendara selama kurang lebih lima belas menitan.
Eureka berdeham pelan untuk menormalkan suaranya. Lantas, ia menjawab, "Nggak tau, tadi dipinjami Bang Panca."
Athaya tak lagi merespon. Cowok itu justru menambah kecepatan motornya untuk menyusul motor anggota teater yang sudah melaju cepat di depan.
"Tempatnya jauh, Kak?" tanya Eureka setengah berteriak untuk mengantisipasi suaranya kabur terbawa angin.
Athaya mengangguk kecil. Tapi Eureka tak mendengar balasan apa-apa yang keluar dari mulut Athaya. Bisa dipastikan, cowok itu sudah kembali ke mode bisu dan hanya mau berkomunikasi dengan bahasa tubuh.
Okay, okay, Eureka mengerti. Ia akan mencoba memahami!
Setelahnya, perjalanan kembali dihiasi keheningan. Sementara Athaya sibuk berkendara, Eureka mengedarkan pandangan untuk melihat-lihat sekitar.
Eureka jarang pergi ke daerah kampus yang akan mereka tuju ini. Karena memang bisa dikatakan butuh waktu cukup lama untuk bisa sampai di sana. Apalagi selama ini, Eureka tak punya urusan untuk pergi-pergi ke sana.
Setengah jam berlalu, akhirnya Athaya memasukkan motornya ke sebuah halaman parkir milik salah satu fakultas di kampus tujuan mereka itu. Ternyata mereka sudah sampai.
"Turun," perintah Athaya saat Eureka malah terdiam dan sibuk memandangi sekitar.
Eureka meringis dan menggumam, "Oh, iya."
Setelah Eureka turun dari motor, Athaya menyusul. Keduanya lantas berjalan menuju ke tempat anggota Teater Artes berkumpul.
"Dari sini, kita harus jalan ke mana lagi?" tanya Pia sambil mengedarkan pandangan.
"Katanya mereka pakai gedung kelas. Kita salah sih parkir di sini, kejauhan." Athaya berujar.
Beberapa anggota Teater Artes terdengar mengeluh. Mereka pasti mager alias malas gerak kalau harus berjalan jauh.
Airin berceletuk, "Ya udahlah, udah terlanjur parkir di sini juga. Yuk, jalan sekarang."
Mereka pun berjalan menyusuri lorong demi lorong di kampus itu. Ternyata tak semua lampu di sana dinyalakan. Makanya, sesekali mereka harus berjalan dalam kegelapan.
Eureka yang nyalinya menciut pun mulai merapatkan diri pada Athaya. Gadis itu berjalan menempel pada cowok yang tampak tak takut sedikit pun pada kegelapan yang menyambut mereka.
Athaya memang tak takut dengan lorong-lorong gelap di kampus itu. Tapi ia justru terusik dengan kehadiran Eureka yang lengket sekali padanya. Oke, Athaya mungkin bisa mengerti bahwa Eureka takut dengan situasi gelap ini. Namun kenapa cewek itu harus menempel pada Athaya? Sementara di sana banyak anggota lain yang bisa Eureka mintai bantuan untuk mengurangi rasa takut itu. Sehingga hal inilah yang tak bisa Athaya pahami.
"Ini belok ke mana, ya?" tanya Kaka yang memimpin jalan di depan.
"Ke kanan," jawab Athaya dengan nada datar dan cenderung tak ramah. Itu bukan karena pertanyaan Kaka, tapi mood Athaya terlanjur buruk karena tingkah Eureka.
Kaka yang mendengar nada tak ramah dari suara Athaya pun hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Salah apa dirinya sampai mendapati balasan dengan nada bicara seperti itu dari si ketua teater?
Setelah berjalan barang sepuluh menit, mereka tiba di sebuah gedung kelas yang paling terang di antara gedung kelas lainnya. Di sana juga ramai orang yang mungkin saja orang-orang itu adalah para penonton pementasan teater ini.
"Kita langsung masuk aja nggak apa-apa, kan?" Sarah berceletuk, "kita kan tamu kehormatan."
Beberapa orang terkekeh mendengar celetukan Sarah. Tapi itu memang benar adanya. Mereka hanya perlu menyebutkan nama teater mereka dan langsung dipersilakan untuk masuk.
Saat mereka sudah memasuki gedung itu, Athaya mengingatkan para anggotanya, "Ke backstage dulu, ya. Jangan langsung duduk di kursi penonton."
"Siap, Pak Ketua!" Sekar membalas dengan gaya militer.
Seperti yang mereka duga, persiapan pementasan memang sudah bisa dikatakan rampung. Anggota Teater Artes datang hanya sekadar untuk memberi semangat dan dukungan. Bahkan mereka langsung diminta ke bangku penonton saja untuk menunggu pementasan dimulai alih-alih sibuk bekerja di belakang panggung.
Beberapa anggota Teater Artes setuju dan langsung cabut dari backstage. Sementara Athaya masih tinggal di sana untuk membantu memindahkan properti dari gudang ke backstage.
Dan tanpa Athaya sadari, Eureka juga mengekorinya ke mana-mana. Gadis itu turut membantu membawa properti dari gudang ke backstage, persis meniru apa yang Athaya lakukan.
Barulah setelah semua beres, Athaya menyadari keberadaan Eureka di sana. Cowok itu mengernyit heran. "Lo kenapa masih di sini?" tanya Athaya tak terdengar ramah.
Eureka meringis prihatin saja. Bisa-bisanya ia sejak tadi tak terlihat di mata Athaya. Hei, Eureka bukan makhluk tak kasat mata!
***