♩✧♪● Theatre 6 ○♩♬☆

1563 Kata
Pementasan berlangsung selama kurang lebih satu jam. Setelah pementasan selesai, para penonton dipersilakan untuk berfoto bersama aktor-aktor pementasan kali ini sebelum pergi meninggalkan aula pementasan itu. Tak terkecuali anak-anak Teater Artes. Mereka ikut mengantre untuk bisa berfoto bersama. "Wah, kerennya kalian," puji Pia saat berjabat tangan dengan beberapa lakon pementasan itu. "Aduh, padahal tadi ada yang improvisasi," balas seorang cewek yang berkostum daster rumahan. “Apalagi ada properti yang ketinggalan di belakang.” Athaya yang ada di sana turut menimpali, "Aman terkendali improvisasinya. Mulus, nggak kelihatan." Obrolan pun berlanjut sambil mereka menata posisi untuk berfoto. "Eh, bentar-bentar, Pak Sutradara ke mana, nih? Perasaan tadi ada di sini." Sarah menginterupsi. Cewek itu mengedarkan tatapan ke sana kemari. Lalu beberapa orang yang kenal dengan sang sutradara pementasan ini pun kompak meneriaki sang sutradara yang masih sibuk memberesi lighting. "Bentar, gue nyusul," balas sang sutradara sambil berlari-lari kecil. Di tangannya masih ada gulungan kabel yang lupa ia letakkan terlebih dahulu. Setelah semua siap, seksi dokumentasi pun segera mengabadikan momen itu. Beberapa foto mereka ambil dengan bermacam gaya. Beres berfoto, saatnya mereka berpamitan. Setelah sedikit cipika-cipiki, juga saling memberi semangat, akhirnya anak-anak Teater Artes cabut dari sana. Mereka meninggalkan gedung kelas itu dan mulai kembali menyusuri koridor nan gelap menuju tempat mereka memarkirkan motor. "Eh, Panca nggak jadi nyusul, ya?" Airin tiba-tiba berceletuk. "Anjing emang," maki Athaya. "Katanya bensin Bang Panca habis, Bang," sambar Kaka, "tapi paling cuma alasan aja, sih!" Sekar dan Sarah tertawa terbahak mendengar alasan Panca yang satu itu. Mereka sudah bosan dengan alasan Panca yang tidak pernah berubah dari dulu. Mereka hafal betul bahwa setiap kali Panca merasa enggan mengikuti suatu kegiatan, cowok itu akan memberikan alasan yang sama dan lama-lama terdengar tak masuk akal. Sementara itu Athaya teringat bahwa jika tidak ada Panca, artinya dia akan kembali memberi tebengan untuk Eureka. Athaya mengembuskan napas panjang. "Kenapa lo?" tanya Pia yang berjalan bersisihan dengan Athaya. Ia meneruskan ucapannya, "Lo kaya orang yang lagi nanggung beban berat." Eureka yang berjalan di belakang Athaya dan Pia samar-samar bisa mendengar obrolan kedua orang itu. Eureka memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan obrolan Athaya dan Pia selanjutnya. "Nggak apa-apa," balas Athaya kalem. Pia menyipitkan mata dan berusaha mencari kebohongan di dalam ucapan Athaya. Tapi entah karena Athaya punya jiwa-jiwa aktor atau karena cowok itu memang jujur, Pia tak mendapati apa yang ia inginkan. "Ya, oke, lah!" Tak terasa, mereka sudah tiba di parkiran. Seperti saat berangkat ke tempat ini, mereka langsung menuju motor masing-masing dan beberapa orang juga menebeng pada orang yang membawa motor. Eureka mengekori Athaya. Terpaksa ia harus kembali menumpang di motor Athaya karena Panca tak menampakkan batang hidung di tempat ini. Padahal kan, Eureka tak nyaman merepotkan Athaya lagi. Apalagi kalau dilihat-lihat, Athaya memang tampak tidak ikhlas memberi Eureka tumpangan. "Pakai," ujar Athaya sembari menyodorkan helm ke arah Eureka. Tanpa berujar apa-apa, Eureka menerima uluran helm dari Athaya dan segera memakai helm itu. Saat Athaya memberi kode agar Eureka naik ke boncengan, Eureka menurut saja. "Eh, guys!" seru Pia agak mengejutkan teman-temannya. Kaka menjawab, "Kenapa, Mbak?" "Gue laper, nih. Kalian laper juga nggak?" Pia menatapi satu per satu temannya yang ada di sana. "Kita mampir makan dulu, ya?" Eureka hanya diam dan memilih untuk mengikuti arus saja. Toh, dia juga tidak membawa kendaraan sendiri. "Lo mau ikut makan?" Athaya menoleh ke arah Eureka sembari melempar pertanyaan itu. Eureka terhenyak. Ia tak menyangka bahwa Athaya akan menanyai pendapatnya. "Hmm, aku ngikut aja, Kak," balas Eureka setelah berpikir cukup lama. "Gimana, guys? Mau ya? Gue mager banget kalau udah balik ke kos terus cari makan." Pia mulai membujuk. "Ya udah, ayo kita makan," timpal Airin yang mendapat anggukan dari Sarah dan Sekar. "Boleh," gumam Kaka menurut saja pada usulan kakak-kakak tingkatnya. Rombongan Teater Artes pun berkendara beriringan keluar dari halaman parkir. Motor Kaka dan motor Pia yang posisinya paling depan. Jadi mereka kebagian tugas memilih lokasi tempat makan yang akan mereka datangi malam ini. "Warung ayam bakar di depan sana gimana? Kita pernah ke sana, kan?" Pia meminta pendapat pada Airin yang duduk di boncengan motornya. Airin membalas, "Boleh-boleh. Seingat gue, makanan di sana enak, kok!" "Oke," ujar Pia. Ia pun berteriak pada Kaka yang ada di motor sebelah, "Ka, warung ayam bakar depan ya. Awas kebablasan." "Siap, Mbak," ucap Kaka. Ia pun memberi isyarat pada teman-temannya yang berkendara di belakang. *** Rombongan Teater Artes itu menepi di sebuah warung makan yang menyajikan menu bakar-bakaran. Namun menu andalan mereka adalah ayam bakar. "Yang ayam bakar siapa aja, nih? Yang mau selain ayam siapa? Minumnya es teh manis atau es jeruk?" Sarah sudah siap mencatat pesanan teman-temannya. Setelah beberapa orang berebut menyebutkan pesanan, akhirnya urusan membuat daftar pesanan itu selesai juga. Sarah ditemani Sekar pergi mengantarkan kertas berisi pesanan teman-temannya pada penjual di warung itu. Lalu mereka pun harus menunggu beberapa saat untuk bisa mendapatkan pesanan mereka siap. Saat kembali ke meja tempat teman-temannya berada, kedua gadis itu disambut oleh serunya obrolan di antara teman-temannya itu. "Cowok kalau ngumpul emang bahasannya nggak jauh-jauh dari ngomongin cewek, ya?" cibir Airin sambil geleng-geleng kepala. Soalnya si Athaya dan Kaka tampak sangat asyik membicarakan topik cewek cantik dari A sampai Z. Athaya nyengir kuda. Ia balas bertanya pada Airin, "Emang kalau cewek ngumpul tuh bahas apa?" "Ya banyak lah," sela Pia, "yang jelas obrolan cewek tuh lebih berbobot ketimbang obrolan cowok." Athaya dan Kaka saling tatap. Keduanya lantas tertawa meremehkan. "Wah, lo belum tau apa-apa, nih!" Athaya sedikit mengejek. Ia pun menoleh pada Kaka dan berujar, "Kasih paham, Ka." "Iya, nih, Mbak Pia mainnya kurang jauh. Nggak pernah ikut nongkrong cowok, ya?" tebak Kaka. Ia melanjutkan, "Padahal kami kalau nongkrong itu nggak cuma bahas cewek lho, Mbak. Bahasan kami bisa merambah ke ekonomi, politik, bahkan hukum sekalipun. Apa aja kami bahas dengan cara-cara yang akurat." "Masa?" Pia tampak sangsi. "Nggak percaya gue. Buktinya dari tadi, yang kalian bahas si Putri anak UKM Tari." "Ya, kan, ini baru permulaan. Belum masuk ke pembahasan seriusnya." Athaya berkilah. "Halah, alasan aja." Airin tiba-tiba menimpali. "Eh, tapi kenapa kalian ngomongin Putri? Athaya akhirnya jadian sama dia?" Athaya tampak terkejut dengan ucapan Airin barusan. "Sembarangan kalau ngomong!" balas Athaya menanggapi ucapan Airin yang tanpa tedeng aling-aling. Airin mencebikkan bibirnya. "Oh, jadi belum, toh?" "Bang, lo ada rasa sama Kak Putri? Gue kira kalian sahabatan," gerutu Kaka. Cowok itu belakangan naksir pada Putri. Makanya sering kali, Kaka bertanya-tanya soal Putri lewat Athaya. Athaya menggeleng. "Gue memang cuma sahabatan sama si Putri," tegasnya entah untuk ke berapa kali dalam waktu belakangan ini. Seolah-olah, semua orang memiliki pemikiran yang sama tentang hubungannya dan Putri. *** Di lain sisi, Eureka diam saja sembari menunggu pesanan makanannya tiba. Sesekali ia hanya bicara ketika disenggol atau ditanyai. Sebenarnya, Eureka sedang merasa tak tenang. Ia menyimak pembicaraan antara Athaya, Kaka, dan juga beberapa anggota Teater Artes lainnya. Dari yang Eureka tangkap, mereka tengah membicarakan Putri dan juga Athaya. Ah, atau lebih tepatnya, hubungan di antara kedua manusia itu. Athaya terus mengelak tuduhan teman-temannya soal Athaya yang sudah menjalin atau akan menjalin hubungan dengan Putri. Namun Athaya juga tampaknya suka dijodoh-jodohkan dengan Putri. Buktinya, cowok itu memasang wajah cengar-cengir kesenangan. Akhirnya, karena kelewat penasaran, Eureka mengajukan pertanyaan ke Sarah yang duduk di dekatnya. "Mbak, emang Kak Athaya sedekat itu sama Kak Putri dari UKM Tari?" "Jangan ditanya, deh. Kalau mereka akhirnya pacaran go public, orang-orang yang semula menganggap mereka hanya sekadar sahabat juga nggak akan kaget kalau tahu mereka diam-diam pacaran," jawab Sarah sambil menyeringai. "Kenapa nih Eureka tanya-tanya?" Sekar jadi ikutan kepo. Eureka menggeleng sambil memasang senyum pura-pura polosnya. "Cuma mau tau aja." Sekar dan Sarah saling tatap sejenak. Sepertinya keduanya tak percaya begitu saja pada jawaban yang Eureka berikan. "Lo nggak naksir sama ketua Teater Artes kita ini, kan?" Sekar mulai memancing-mancing. "Apaan, sih, Mbak," kilah Eureka, "nggak mungkin aku mikir gitu." Sarah menaik-turunkan alisnya. Ia menggoda Eureka. "Serius? Kalau emang suka, ya nggak apa-apa. Ntar kami bantuin gitu." "Serius, enggak," ujar Eureka sembari mengangkat dua jarinya membentuk huruf "V". Akhirnya, Sarah dan Sekar berhenti mengorek-ngorek perasaan Eureka. Mereka pun kembali nimbrung ke obrolan antara Athaya, Kaka, Pia, dan Airin yang tampak makin seru sekaligus menggebu. Eureka menghela napas lega karena terlepas dari kedua kakak tingkatnya yang kepo itu. Lalu ia lebih lega lagi karena tak lama kemudian, makanan pesanannya dan pesanan teman-temannya pun datang. Mereka lanjut makan dengan situasi yang lebih tenang. Hingga tak butuh waktu lama, mereka berhasil menandaskan makanan di piring masing-masing. Beres membayar, satu per satu dari mereka keluar dari warung makan sederhana itu dan menuju ke halaman di mana motor mereka berada. Tak membuang waktu, mereka pun kembali melaju di jalanan, beriringan untuk kembali ke area kampus. Namun karena rumah mereka cukup berpencar, mau tak mau, mereka berpisah di tengah jalan. Dan kini, tinggallah Eureka berdua saja dengan Athaya. Motor Athaya sudah melaju ke jalan menuju ke arah rumah Eureka. "Kak Atha mau antar aku sampai rumah?" Eureka bertanya dengan polosnya. Athaya yang merasa diajak bicara pun memilih menjawab dengan menggerakkan kepala, mengangguk singkat. Tapi saat matanya melihat sebuah minimarket di kejauhan sana, Athaya berujar, "Atau mau gue turunin di depan? Ada minimarket di sana." Eureka panik. Ia menggelengkan kepala beberapa kali sambil menggerutu, "Nggak mau! Pokoknya kali ini, Kak Athaya anterin aku sampai rumah." Tak ada jawaban lagi dari Athaya. Tapi cowok itu juga tidak berhenti di minimarket yang ia maksud tadi. Itu artinya, Athaya setuju mengantar Eureka sampai rumah, kan? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN