bc

Geri Anak Sosial Club

book_age12+
0
IKUTI
1K
BACA
tragedy
comedy
humorous
serious
mystery
scary
like
intro-logo
Uraian

Geri, seorang pemuda yang sangat gemar bersosial. Anak orang kaya dari Pak Segu pemilik perusahaan batu bara dan ibunya bernama Aminah. Raka memiliki seorang abang bernama Heru, namun semenjak kuliah di luar negri dan bekerja di sana. Kakaknya sangat jarang pulang, sekalinya pulang bisa setahun sekali.

Geri juga memiliki sahabat kecil, anak dari teman ibunya yang bernama Raka. Sahabat yang tinggalnya di kampung Buaya Putih, yah kampung ibunya Geri.

Buat kamu yang penasaran dengan ceritanya, yuk mulai baca halaman pertama dari "Geri Anak Sosial Club"....

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Sungi "Suka Ngilang"
"Keajaiban hanya memberikan angan yang sulit untuk diharapkan, terlebih mimpi buruk selalu membayangi, s**l. Memang si kesempatan tidak akan datang dua kali tapi kesempatan bakal datang pada siapa yang tidak pernah berhenti mencoba. Oke.. Oke.. Bismillah.." …. Cerita sore ini berawal ditempat pedagang gorengan, celana kolor berwarna hitam dan membawa motor vespa super kesayangan. "Tahu goreng pedas kayaknya enak buat cemilan.". Geri pun menuju warung Pak Tarso, pedagang gorengan kampung Buaya Putih. "Tahu goreng aja Pak Tarso, yang pedes tapi ya...". Setelah membeli gorengan ia pun tancap gas pulang, namun tidak sengaja pandangannya melihat ke arah toko dipinggir jalan. Iyah.. di dekat toko ada anak kecil lagi duduk dengan pandangan kosong. Tanpa rasa ragu Aku berhenti di depannya, "Dek, kamu kenapa?". Spontan matanya hanya melihat kearah ku tanpa bicara, dan langsung membalikkan kembali arah pandangannya. Toko penjual bahan-bahan sembako di jaga oleh seorang keturunan China Indonesia dan menggunakan kacamata antiknya itu. "Koh, boleh tau? Anak itu kenapa ya Koh? Saya tanya ko diem aja, kasian mau bantu tapi kayak gak ada respon.". Kata aku pada sang pemilik toko. "Mana ada olang?? Lu olang kenapa ahh.. Di situ ta ada olang, sana-sana mau ganggu oe lu yah..!!". Kesal kokoh pemilik toko, setelah aku lihat memang anak kecil itu udah gak ada. …. Dengan motor vespa aku berjalan santai ke arah rumah, angin sepoi-sepoi menyadarkan lamunan. "Gee, darimana lu?". Raka teman tongkrongan dekat rumah. "Ngabisin duit tabungan bray.. Hahaha..". Sahutku canda padanya. Setelah melewati Raka, ya Sekitar 100 meter dari tempatnya aku putar balik ke tempat Raka sambil menggigit tahu goreng yang ku beli tadi. Trantang.. Tang.. Tang.. Tangg.. Suara motor vespa kesayanganku. "Dehh.. Bocah gabut, bagi dong gorengannya. Lu mau kopi, Ge?". "Belom juga motor gua matiin, udah nagih aje lu.. Yaudah kopi sekalian bikinin.". Dengan perlengkapan kemahnya termos, serenceng kopi dan gelas. Nyengir santai Raka jalan ke arah ku. Obrolan ngawur mulai menciptakan suasana ketat, hingga dipenghujung cerita Geri bertanya sedikit serius. "Ka, lu pernah liat anak kecil yang duduk di samping toko Kokoh gak?". Dengan air liur yang sedikit muncrat Geri bertanya. "Oh.. Kenapa emang? Jangan-jangan lu tanya tuh bocah trus dia diem aja.". Jawab Raka sambil ngunyah tahu goreng buatan Kang Tarso, penjual gorengan tersohor di Kampung Buaya Putih. Dengan jawaban Raka Geri hanya mengangguk dan Raka mulai menceritakan tentang anak kecil itu. Anak itu diberinama Sungi atau Suka ngilang oleh warga Kampung Buaya Putih. Awal mula kejadiannya saat anak itu lahir pada tahun 2015 bulan Januari tepat 7 tahun lalu saat ini. Dia anak dari seorang pemulung yang bapaknya memiliki hutang yang cukup besar dengan rentenir sebesar 10 juta rupiah. Karena sudah hampir 3 tahun tidak membayar dan bunganya sudah mencapai 35 juta. Rentenir itu menagih dengan ancaman yang membuat bapaknya terdiam lemas, dialah Pak Rembo rentenir kaya dan kejam di kampung Buaya Putih. Entah kenapa orang seperti dia bisa bebas berkeliaran di kampung ini. "Gee, bentar ya gua mo b***k dulu mules nih..". "Ahh.. k*****t lu sue, nanggung banget. Yaudh dah gua balik dulu ntar gua balik lagi.". Jawab Geri kesal …. Sesampainya dirumah Geri. Oh iya, Geri adalah anak dari seorang pengusaha batu bara yang bernama Pak Segu. Dia tinggal di komplek Puri Indah, komplek yang bersebelahan dengan Kampung Buaya Putih. Dan ibunya bernama Bu Aminah asli warga kampung Buaya Putih, dari situlah Geri lebih suka nongkrong di kampung ibunya di banding sekitar rumahnya. Geri yang memiliki fisik tubuh tinggi berkulit putih seperti ibunya dan bola mata coklat, Geri anak kedua dari Pak Segu dan abangnya bernama Heru yang sudah bekerja di luar negeri …. "Dek, kamu darimana? Itu sarapan kamu belom dimakan, kasihan si mbok udah bikinin.". Tanya Bu Aminah ibu Geri. "Beli gorengan bu, sama tadi ketemu Raka terus kita ngobrol deh.". Sambil berjalan ke arah meja makan ia menjawab ibunya. Suasana rumah yang nyaman, tidak bising, bersih dan rapih. Halaman rumah yang luas di selimuti warna hijau menyejukan mata, keinginan setiap orang pastinya. Namun semua itu tidak membuatnya terlena, dia lebih suka hidup apa adanya seperti kalangan teman-temannya yang di kampung Buaya Putih. …. Tidak tau kenapa pikirannya selalu memikirkan anak itu, rasa penasaran yang tinggi membuatnya ingin ketempat Raka kembali. "Mandi ahh.. Abis itu kita berangkat lagi..". Dengan nada falsnya Geri nyanyi lagu Kupu-kupu Malam menuju kamarnya untuk segera mandi. "Mbok, si Geri kenapa ya? Abis keluar tiba-tiba aneh tuh anak. Hmm..". Tanya Bu Aminah pada Mbok Tuti. "Gak tau bu, baru dapet pacar kali.. Hehe..". Jawab mbok Tuti bercanda. Selang 30 menit Geri keluar kamarnya dan sudah rapih. "Hmmm.. Ada yang baru dapet pacar baru nih, cewek kampung sebelah yah?? Hehehe..". Ledek Bu Aminah. "Yeehh.. Ada yang kepo, Mbok. Hehe.. Yaudh ah Geri mau maen, dadah ibu cantik.". Dengan motor vespanya yang berwarna kuning, Geri menuju rumah Raka. Rumah Raka. Raka yang sedang memandikan burung kicaunya sambil siul-siul, badan yang agak kurus terlihat dari kejauhan. Geri yang baru sampai langsung mengajaknya ke tempat anak kecil itu. "Ka, ikut gua yuk..". tanya Geri mengejutkan. "Dateng-dateng bukannya assalamualaikum dulu lu.". Jawab Raka. "Penasaran gua ama tuh bocah, sumpah dah.". Karena paksaan Geri akhirnya mereka langsung menuju lokasi, dari kejauhan terlihat toko Kokoh tapi mereka tidak melihat anak kecil itu. Menurut Raka anak itu suka pindah-pindah, kadang di pos RW kadang juga di saung kebun pak Hamid. Lalu mereka melanjutkan ke pos RW, "Emang lu sampe segitunya apa Ge ama anak itu, sue lu bikin kerjaan gua aja. Nanti kalo udah ketemu mau lu apain emang tuh bocah?". "Ya kagak gua apa-apain Ka, kali aja kalo gua bisa bantu mah.. Udah ah jangan banyak nanya.". Sesampainya di Pos RW anak itu juga gak ada, cuma ada Bang Slamet yang lagi ngopi. Hawa panas matahari udah mulai kerasa, tapi Geri yang belum puas dengan rasa penasaran mencoba terus mencari. Lalu mereka meneruskan ke saung kebun Pak Hamid, kebun yang lumayan luas sekitar 500 meter persegi. Kebun yang kebanyakan di tanami jagung, pohon tomat dan cabai. Namun lagi-lagi di kebun Pak Hamid juga tidak ada anak itu, akhirnya mereka memutuskan kembali ke rumah Raka. Rumah Raka. "Itu bocah kemana perginya ya, emang lu kagak tau lagi tempatnya tuh bocah?" tanya Geri sambil menggerutkan jidatnya. "Lu kira gua paranormal, bapaknya juga bukan, Ger.. Ger..". Jawab Raka sambil menggelengkan kepalanya. Karna hatinya belum puas, lalu Geri meminta Raka untuk meneruskan kembali cerita anak itu yang tadi belum selesai. Dengan tangan Raka yang sambil menggeretkan korek dia mulai bercerita.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Patah Hati Terindah

read
82.9K
bc

Scandal Para Ipar

read
708.0K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

JANUARI

read
49.0K
bc

Life of Mi (Completed)

read
1.0M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook