BAB 2 : Mahasiswa & Dosen Killer

1555 Kata
Hari itu, saat di mana Atha tidak sengaja berpapasan dengan Queen, lelaki muda itu mengira bahwa perempuan yang ia tabrak adalah salah satu mahasiswa di kampusnya tapi, siapa sangka sekarang wanita itu ada di hadapannya. Lebih tepatnya di hadapan seluruh teman sekelasnya. Memperkenalkan diri sebagai pengajar bukan pelajar. “Perkenalkan saya Queenza Riana Azzahra, Dosen yang menggantikan Pak Rudi untuk mengajar kalian.” Katanya begitu. “Kita langsung saja ke materi,” Lanjut perempuan itu tanpa melanjutkan sesi perkenalannya lebih dalam. Entah itu membahas status atau umurnya. “Bu, boleh tanya umurnya berapa? Saya kira Ibu tuh mahasiswi baru loh.” Celetuk salah satu teman kelasnya. Raka Bramantio namanya atau bisa juga panggil Raka agar akrab, salah satu siswa aktif di kampusnya tapi sedikit tengil. “27 tahun. Sekarang fokus lagi ke materi dan jangan bertanya di luar itu.” Terdengar ketus dan juga tidak ada ramah tama di dalam nada bicara itu. Atha menatap Raka sebentar dan mengejek pria itu lewat tatapan. Sejak hari itu entah mengapa dosen pengganti tersebut berubah menjadi dosen tetap di kampusnya. Bulan terus berganti tidak terasa sudah satu tahun perempuan yang tidak memiliki ekspresi apa pun dan memiliki paras cantik tak wajar itu sudah setahun mengajar di kampus ini. Kenapa tidak wajar? Sebab wajahnya tidak mencerminkan angka di umurnya. Atha jadi penasaran perawatan apa yang wanita itu terapkan agar mempunyai wajah semulus serta cerah tersebut tanpa celah sedikit pun. Kulitnya seputih s**u, mirip dengan artis-artis di negeri gingseng yang suka ia lihat lewat drama-drama yang ditonton oleh Vania, wanita yang menjadi kekasihnya sejak lama. Mata wanita itu juga dalam, mengesankan tatapan tegas dan mengintimidasi dalam sekali tatap. Atha yakin jika saja perempuan itu adalah lelaki pasti digandrungi kaum hawa. Sayang sekali bukan hanya perawakannya yang tegas, tetapi sifatnya juga begitu. Setahun diajar olehnya membuat Atha tahu kebiasaan Dosen tersebut, dilarang telat jam mata kuliahnya satu detik pun, tidak menerima pembelaan apa pun kecuali dari awal sudah izin lebih dulu, dan tugas yang harus dikumpulkan tepat waktu, lewat satu menit saja sudah tidak diterima meski di hari yang sama. Benar-benar Dosen yang menyusahkan para mahasiswi dan mahasiswanya. “Oi bro! Ngelamun aja lu.” Atha merasa ada yang merangkul bahunya. Dia mendengus sebab Raka membuyarkan lamunannya tentang Dosen menyebalkan yang sayang sekali akan menjadi pasangan hidupnya. “Ooo gue tahu nih pasti mikirin perjodohan itu, kan?” Kening mulus Atha mendadak muncul kerutan. Melayangkan tatapan tanya, mengapa Raka bisa tahu pasal perjodohan tersebut. “Gue tahu dari si Amy katanya lu mau di jodohin. Parah banget si kalo sampe lu terima terus si Vania mau di kemana-in?” Ujar Raka yang mengerti Arti dari tatapan temannya tersebut. Atha melepaskan rangkulan ala lelaki tersebut, “Gak tahu gue pusing!” nada ketus tersebut menandakan sang empu sedang mengalami mood yang buruk. “Santai aja kali jawabnya gak usah gitu, Oh yah gimana semalam lancar?” tanya Raka dengan mata berbinar. “Apa sih, tahu dari mana lu acaranya semalam.” Atha jadi semakin kesal. Dia takut semua orang akan tahu bahwa dirinya di jodohkan dengan wanita berwajah triplek yang sama sekali tidak memiliki ekspresi. “Kan, udah gue bilang tadi, tahu dari si Amy dia kan bestfriend pacar lu dari lama banget, yah walaupun SMA beda sekolah.” Atha diam tak menjawab, pikirannya kembali saat malam tadi. Saat di mana perkataan tajam dan terdengar ambigu di telinganya tersebut membuat Atha mengingat sebuah pertemuan yang secara tidak langsung disetujui olehnya. “Saya hanya mengajak Atha, mengapa manusia lain ikut?” Begitu katanya saat malam tadi yang membuat suasana seketika menjadi lebih canggung dari sebelumnya. “Ah, ini kenalkan Vania kekasih saya.” Atha memberi jawaban dengan niat terselubung. Atha berharap bahwa Queen sang Dosen mengerti arti dari ucapannya tersebut. Sebelum wanita itu berbicara Atha sempat melihat senyum tipis di wajahnya namun, itu bukan berarti senyum ramah seperti kebanyakan orang di luar sana. Atha lebih merasa itu adalah senyuman yang sulit diartikan karena hanya satu sudut bibir kanan atas yang terangkat bukan kedua sudut bibirnya. “Kalau begitu selesaikan urusanmu setelah itu besok temui saya di jam makan siang.” Setelah berkata seperti itu, perempuan yang selalu menggunakan kerudung pashmina tersebut melangkah pergi begitu saja. “Tha dosen itu? Kenapa orang tua kamu ada di sini? Kalian seperti mengadakan acara keluarga, apa dosen itu kerabat jauh kamu yang lama gak ketemu?” pertanyaan Vania tersebut berhasil mengalihkan pikiran Atha tentang ucapan yang dilontarkan oleh perempuan itu. Atha diam sejenak, sepertinya kali ini dia mengerti urusan apa yang dimaksud perempuan itu lalu, soal janjian pertemuan itu apa maksudnya? Apa yang ingin dibahas oleh wanita itu? “Ah itu, aku di jodohin sama dia.” Cicit Atha. Lelaki yang selalu riang tersebut tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana sebab dia pun tidak begitu paham akan situasi yang menurutnya masih terlalu mendadak. “Kamu bercanda yah?” Kekeh Vania. Gadis itu tahu bahwa Atha sangat suka bercanda tapi kali ini menurut dia bercanda Atha sangat tidak lucu. Atha menggeleng lemah, “kali ini aku gak bercanda.” “Maksud kamu, kamu di jodohin sama wanita itu? Serius?” Vania menunjuk jalan yang tadi diambil oleh Queen lalu menatap lelaki yang kini juga menatapnya. Atha mengangguk. “Iya dan aku gak bisa menolaknya, kamu tahu kan ayah sama Bunda udah baik banget sama aku. Mereka selalu dukung aku, mereka selalu ada, mereka juga menyayangi aku ... apa lagi Bunda.” “Terus gimana sama aku Tha? Aku juga ada buat kamu meski gak selalu karena kesibukan kita, kamu tahu kan? Aku juga sayang sama kamu, aku juga selalu dukung kamu kok selama ini. Apa yang kurang dari aku? Kenapa kita gak coba bicara sama Ayah dan Bunda kamu?” Sebagai seorang perempuan yang sudah menjalani hubungan cukup lama dengan seorang pria, Vania cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya barusan. Ada rasa sakit di hati Vania, rasa tidak rela dengan hal yang baru saja terjadi, dia hanya tidak ingin perjalanan kisah asmaranya hanya sampai detik ini, dia yang berharap akan menjalin hubungan hingga pelaminan nanti tidak akan pernah sudi jika lelaki yang dicintai olehnya menikah dengan perempuan lain. “Aku gak mau ngelukain hati mereka, aku gak mau nyakitin hati bunda.” Vania mengerutkan keningnya. Ah, bunda yah? Ibu Ara, wanita pertama yang dicintai oleh pacarnya, wanita yang segala ucapannya selalu dituruti, dan wanita yang selalu bertutur kata lembut itu benar-benar membuat dia tidak bisa menggantikan posisi tersebut. Vania paham itu, sampai kapan pun Ibu Ara tersebut akan selalu menjadi nomor satu di hati Atha. “Kita bisa bicara sama bunda nanti pelan-pelan. Aku yakin kok bunda pasti ngerti.” Vania berusaha untuk mempertahankan hubungan ini. Mempertahankan hal yang sudah menjadi miliknya. “Kamu yakin?” tanya Atha. Vania mengangguk mantap. “Iya! Aku yakin, pokoknya kita harus berjuang sekali lagi untuk hubungan ini.” *** Dan, setelah perbincangan Atha dengan Vania, siangnya seperti yang wanita itu bilang padanya bahwa ingin bertemu saat makan siang benar-benar terwujud. Sekarang dia berhadapan dengan wanita tersebut, hanya berdua di kursi Cafe. Meski tempat ini ramai tapi, dia merasa tidak nyaman sama sekali mungkin karena ekspresi yang ditunjukkan oleh lawan bicaranya nanti tidak seperti kebanyakan ekspresi perempuan-perempuan di luaran sana dengan wajah ramah dan senyum simpul yang selalu di berikan kepada orang lain sebagai bentuk tampak sangat. “Jadi sudah selesai?” Obrolan ini dibuka oleh sebuah pertanyaan yang membuat Atha berpikir sejenak. Dia mencerna apa yang dimaksud dari pertanyaan tersebut. “Sudah selesai apanya, Bu? Tugas?” Atha tidak yakin dengan pertanyaan yang dilayangkan olehnya karena seingatnya wanita ini tidak memberikannya tugas apa pun. Yah, setidaknya untuk minggu ini. “Bukan. Tapi, dengan perempuan pelayan restoran itu.” Oke. Atha sepertinya harus berpikir lagi. Setahunnya perempuan pelayan restoran yang dikenal olehnya hanya satu yaitu Vania dan tidak adalah. “Oh, maksud Ibu Vania?” tanya Atha untuk memastikan pikirannya. “Hm, ya.” Jawab Queen dengan seadanya membuat Atha mencak-mencak dalam hati. Atha mengangguk di sedikit paham apa maksud pertanyaan ibu dosen di hadapannya ini. “ Dibilang belum selesai juga gak, tapi dibilang sudah selesai juga gak.” Kerutan samar tercetak di kening Queen, perempuan itu menatap kesal ke arah lelaki muda di hadapannya. Tak lama dia mengambil gelas di hadapannya dan meminum isi dari gelas tersebut, kemudian kembali memandang lurus ke arah Atha. “Begitu yah,” Gumam Queen yang masih bisa didengar oleh Atha. Lelaki itu tidak mengerti apa maksud dari gumam itu yang jelas ekspresi sang dosen semakin tidak enak dipandang. “Kesibukan saya berada di luar rumah.” “Ya?” Dan Atha tidak mudeng akan hal tersebut. “Saya juga tidak memiliki waktu yang cukup banyak untuk membersihkan rumah, menyiapkan pakaian, dan memasak.” “Gimana?” “Waktu saya lebih banyak di luar.” “Ha?” “Apa kamu akan memperistri wanita seperti itu?” Sip! Oke, sepertinya Atha membutuhkan sedikit waktu untuk mengerti apa yang diucapkan oleh wanita yang lebih tua di atasnya beberapa tahun tersebut. Dia mencoba mengingat-ngingat perkataan yang dilontarkan wanita itu dari awal hingga terakhir tadi dan saat sudah mengetahui maksudnya Atha berdehem sebentar. Bukankah itu artinya Queen juga menolak dijodohkan olehnya? Dosen killer juga pasti tidak ingin menikah dengannya bukan? Itu pasti! Lagi pula mana ada perempuan yang ingin menikah dengan lelaki di bawah umur, rata-rata dari mereka pasti ingin lelaki yang lebih tua beberapa tahun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN