bc

You Are My Queen

book_age18+
76
IKUTI
1K
BACA
others
sensitive
drama
comedy
sweet
serious
realistic earth
spiritual
wife
husband
like
intro-logo
Uraian

Bagaimana jika kamu dijodohkan dengan wanita tak berekspresi? Terlalu ketus jika berbicara dan tidak suka berbasa-basi? Apa yang akan kamu lakukan, membiarkannya begitu saja atau mengukir senyum di wajahnya? Menjadikan dirimu sebagai alasannya tersenyum. Satu lagi. Posisimu saat itu telah memiliki kekasih hati.

Sebuah kisah yang terlihat sederhana namun, tidak sesederhana yang terlihat. Athaya Putra Syahreza seorang mahasiswa semester akhir dengan berat hati menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya tanpa alasan yang jelas. Vania Keisya perempuan yang dengan ikhlas melepas Atha sang kekasih karena suatu rahasia yang selama ini dia simpan.

Sedangkan Queenza Ariana Azzahra, seseorang yang dijodohkan dengan Atha adalah orang yang paling ingin Atha hindari itu adalah calon istrinya, sang Dosen killer dan menyebalkan di universitas yang tengah ia singgahi. Wajah flat tanpa senyum serta ucapan setajam pisau itu membuat Atha dengan kasarnya meneguk ludah, berpikir bagaimana dia akan bisa hidup dengan tenang bersama wanita seperti itu.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1 : Awal Pertemuan Keluarga
Apa pendapatmu ketika dijodohkan dengan seorang yang menyebalkan dalam hidup juga seorang yang ingin dihindarkan bahkan kehadirannya sangat tidak diinginkan, bukan hanya kamu tapi semua orang disekitarmu tidak menginginkan kehadirannya. Athaya Putra Syahreza, dia tidak pernah menyangka bahwa kedua orang tuanya menjodohkannya dengan sang dosen menyebalkan yang ia tahu namanya adalah Queenza Riana Azzahra. Dosen paling tidak diinginkan kehadirannya bagi seluruh mahasiswa di kampusnya. Cara belajar yang kelewat disiplin juga tidak ada selera humor dan wajahnya yang tak pernah tersenyum, serta tugas yang tak mudah diberikan olehnya membuat semua mahasiswa selalu mendoakan hal buruk padanya. Layaknya siswa yang tak mau bertemu dengan guru matematika dan mendoakan guru itu sakit, keperluan keluarga yang mendesak, atau doa lain yang tak baik, begitu juga dengan dirinya dan semua teman-temannya lakukan. “Kenapa harus gue coba! Aaarrgghhh!” Atha menggeram kesal sambil berjalan menuju kelasnya. “Mana ada mata kuliah dia lagi,” helaan napas terdengar sangat jelas keluar dari mulutnya. “Sayang!” Langkah kaki Atha langsung berhenti ketika mendengar suara teriakan dari perempuan yang memanggilnya, dengan cepat Atha berbalik dan tersenyum hangat ke arah perempuan berambut hitam sebahu dan berkulit putih dengan mata bulat yang membuat keimutan wanita itu terlihat jelas. “Kamu kenapa lesu banget?” tanyanya ketika sudah berada di samping Atha. “Iya gimana gak lesu sekarang ada pelajaran Dosen triplek itu, untung tugas yang dia kasih udah aku selesaikan semuanya.” Gerutu Atha sebagai bentuk salah satu alasan dari sikapnya yang lesu hari ini. Karena menurutnya masalah yang saat ini dihadapinya belum harus diketahui oleh sang kekasih. “Utututut kasian banget sih pacarnya aku.” Kekeh gadis itu yang membuat Atha tersenyum masam atas ledekan yang diberikan. Vania Keisya gadis yang periang, baik hati, dan friendly adalah pacarnya semenjak mereka duduk di bangku kelas 11 SMA. Sosoknya yang hampir mirip dengan dirinya membuat Atha merasa nyaman hingga sekarang, rasa suka dan cintanya kian bertambah pada gadis yang tangannya tengah di genggamnya. Atha pernah merencanakan bagaimana mereka menikah nanti, bagaimana mereka membangun rumah tangga nanti, dan bagaimana mereka hidup berdua sebagai sepasang suami istri yang saling bahagia. Tapi, semua itu hanya rencana, mimpi, dan angan belaka sebab semua itu tidak akan terwujud. Kedua orang tuanya telah mendahului rencana indah Atha, meruntuhkan sesuatu yang diam-diam dia bangun dalam otaknya. Perjodohan tanpa memberi alasan yang jelas membuat Atha ingin sekali menolak namun, apa daya dia yang merasa tak punya wewenang hanya bisa menerima dengan pasrah. “Kamu mau nikah sama aku enggak?” Pertanyaan dadakan dari Atha membuat Vania terkejut dan menghentikan langkahnya. Yah, jelas siapa yang tidak terkejut mendapatkan pertanyaan seperti itu secara mendadak, tentu Kalian juga akan bereaksi seperti Vania bukan. Dengan kerutan di dahinya Vania menjawab, “Kamu kenapa tiba-tiba tanya kayak gitu?” Atha diam sejenak. Dia mencari alasan yang tepat agar Vania percaya padanya. Entah kenapa bibirnya berucap seperti itu. “Enggak apa-apa cuman nanya aja sih, kan kita pacaran udah lama masa gak ada niatan mau nikah sih?” Balas Atha berusaha agar tidak terlihat gugup. Mendengar hal tersebut membuat Vania tertawa sejenak dan melanjutkan langkahnya dengan lelaki yang tak pernah melepaskan genggaman mereka. “Kirain kenapa,” Vania menatap ke arah Atha dan mencoba meredakan tawanya, “lagian nih masih lama kali Tha, aku belum mencapai cita-citaku, belum membahagiakan mama papa, jadi yah masalah nikah nanti aja lah kita bahas.” Benar. Masalah nikah seharusnya dibahas nanti, ketika semua hal dalam hidup sudah terlaksanakan, sudah terwujud dengan hasil yang kita impikan. Apa sebaiknya jawaban yang diberikan Vania padanya akan ia berikan pada orang tuanya nanti malam? Sebelum pertemuan keluarga dimulai, tapi ... Apa semua akan berjalan sesuai yang ada di dalam otaknya? Perjodohan selesai dan ia akan bebas seperti sebelum-sebelumnya? Tidak di dipusingkan oleh hal yang tidak jelas alasannya. *** Malam harinya Atha menatap dirinya di hadapan cermin full body, penampilannya yang terlihat sedikit formal membuat Atha berpikir bahwa ini bukan pertemuan keluarga biasa. Helaan napas dilakukan oleh Atha entah beberapa kali hari ini. “A sudah siap belum lama amat kek cewek!” Seruan sebuah suara membuat dia menatap kesal ke arah pintu. Adik bungsunya semakin memperburuk mood-nya. BRAK! “AA LAMA!” Sekarang malah menjadi sebuah teriakan. Atha merasa curiga bahwa adiknya ini bukan lelaki tapi perempuan, cerewet sekali. Memeriksa kembali penampilan dan apa yang mesti dibawa olehnya Atha membuka pintu sambil memasang wajah kesalnya. Hari ini dia benar-benar merasa kesal. Pertama masalah perjodohan, kedua tugas kuliahnya yang semakin bertambah, dan ketiga suara cempreng adiknya ini membuat dia tidak bisa menghilangkan kekesalannya begitu saja. Atha berharap nanti dia akan dengan gampang menampilkan senyum. “Lama banget jadi cowok, dah yuk turun ke bawah Bunda sama Ayah udah nunggu.” Tergiur suara yang membuat Atha malas menanggapi. Dia malah berjalan turun tanpa minat menjawab. Raditya Bagaskara adalah anak kedua yang dilahirkan oleh sang Bunda, dia adalah orang yang sangat antusias terhadap perjodohan ini. Andai bisa menukar posisi Atha ingin agar adiknya saja yang dijodohkan bersama wanita menyebalkan itu. Bukan dirinya yang dalam hati enggan terhadap situasi seperti ini, Atha melihat ke sekeliling ruang tamu yang tidak mendapatkan kehadiran orang tuanya lalu dia menatap sang adik yang terus berjalan ke arah keluar. “Mana Ayah sama Bunda?” tanya Atha membuat langkah kaki Bagas terhenti. “Udah gue suruh tunggu di mobil makannya cepetan.” Jawab lelaki yang beberapa tahun di bawah Atha tersebut. Memang jika berdua mereka akan menggunakan bahasa lu-gue tapi, beda cerita jika sudah di hadapan kedua orang tua mereka. Atha mengangguk saja dan kembali melanjutkan jalannya menuju mobil. Dia berpikir bagaimana caranya membatalkan perjodohan ini tanpa diketahui orang tuanya. Apa dia bilang sudah punya calon saja agar mereka tidak jadi melanjutkan perjodohan ini, tapi bagaimana jika gagal? Atha memejamkan matanya, tidak ada sesuatu yang dapat menebak hasil jika belum dilakukan. “Ayah, Bunda sebenarnya Atha—” “Maaf sayang Bunda sela, tapi bisa tidak bicaranya nanti saja saat sudah berada di tempat pertemuan?” Sela Ibu Ara seorang wanita yang telah melahirkan Atha dan juga Bagas. Sementara Atha sendiri yang mendapatkan respon seperti itu hanya bisa mengangguk pasrah kemudian menyalakan mesin mobil dan melakukan kendaraan roda empat itu agar segera sampai di tempat pertemuan mereka nanti. Atha benar-benar berharap bisa membatalkan perjodohan ini. *** Kemudian di sini lah mereka berada, di sebuah restoran yang menjadi awal pertemuan bagi kedua keluarga untuk membahas lebih lanjut masalah perjodohan ini. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat tujuan sebab jalanan Kota Bandung tidak sepadat Ibu Kota, Atha berusaha mempertahankan senyumnya di hadapan pasutri yang sedang bercengkrama dengan orang tuanya. Netra hitamnya mencari keberadaan manusia yang akan menjadi calon istrinya, itu pun jika berhasil namun, jika gagal seperti harapannya Atha sangat bersyukur sekali. “Si teteh calon istri lu mana, A?” Atha menatap sang adik yang juga sama sepertinya. Mencari keberadaan wanita yang memiliki bentuk wajah dan tatapan yang mematikan. Yah, itu menurutnya. “Gak tahu gue bukan emaknya,” bisik Atha dengan nada sewot. Ya iyalah, lagian pake nanya wanita itu padanya yang jelas-jelas Atha tidak peduli. Jika perlu tidak usah datang sekalian. Baru saja Bagas akan menjawab, suara salam membuat dia mengurungkan niatnya. Seorang wanita yang sedang bersalaman dengan orang tuanya. Pakaian ala muslimah sejati dan aura yang di pancar membuat Bagas sedikit terpesona, belum lagi senyum tipisnya yang mempesona, Bagas tidak sabar menanti wanita ini menjadi kakak iparnya, membayangkan dia mempunyai kakak perempuan adalah impiannya sejak lama oleh sebab itu momen ini sangat di nantikan olehnya. “Maaf lama, tadi ada hal penting yang tidak bisa ditinggal.” Suara tanpa nada itu membuat semua orang sejenak mengerutkan dahinya kecuali Atha yang sudah terbiasa dengan suara tersebut. Agak sedikit merasa aneh, belum lagi tatapannya yang redup, seperti manusia yang tidak bersemangat. “Ah, tidak masalah nak, sekarang mari kita langsung saja ke pembahasannya, masalah pesanan kita sudah memesan tadi jadi kamu gak perlu memesan lagi.” Ucap Ibu Ara sambil tersenyum ramah pada calon menantunya ini. Sementara sang empu hanya mengangguk tanpa niat membalas ucapan tersebut. Berikutnya pembahasan tentang perjodohan pun dimulai untuk beberapa menit kedepan yang didominasi oleh para orang tua sementara para anak hanya diam menyimak sebab tak ada yang berniat atau berani menyela pembicaraan tersebut hingga pesanan datang dan membuat Atha terkejut. “Vania.” “Atha?” Panggilan berbarengan itu membuat para orang tua menghentikan obrolan mereka dan menatap Arah serta Vania secara bergantian. Belum lagi suara gesekan bangku kembali mengalihkan atensi mereka. “Maaf sebelumnya tapi, saya izin untuk berbicara dengan Atha sebentar, boleh?” tanya perempuan yang biasa dipanggil Queen tersebut. Ibu Ara yang berpendapat bahwa ini adalah suatu kemajuan dari yang tentu saja dengan senang hati memperbolehkan permintaan tersebut. “Boleh, lama juga gak apa-apa nak.” Balas Ibu Ara dengan senyum mengembang begitupun dengan kedua orang tua Queen, sedangkan dia sendiri hanya tersenyum kecil lalu melangkah pergi begitu saja tanpa niat mengajak si pembicaraan membuat Atha lagi lagi menghela nafas. “Atha pamit dulu, Ayah, Bunda, Om, Tante.” Ujarnya dan setelah itu melangkah menyusul wanita yang telah lebih dulu jalan. Hingga sampai di luar lengannya ditahan oleh seseorang. “Atha apa maksudnya ini sayang? Kenapa kamu sama Dosen killer itu ada di sini? Orang tua kamu juga.” Vania tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya pada apa yang dia lihat barusan. “Nanti aku bakal—” “Jangan buat saya menunggu lama dan ikut saya ke luar.” Suara yang terdengar tiba-tiba itu membuat Atha mengucapkan istighfar dalam hati karena membuatnya terkejut. “Kita?” Vania bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri. “Udah ikut aja yuk,” ajak Atha sambil menggandeng lengan sang pacar yang sedang menggunakan seragam restoran ini.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.4K
bc

TERNODA

read
201.4K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
1.9K
bc

Kali kedua

read
221.5K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook