Matahari mulai kembali ke peraduannya, langit-langit mulai kekuningan menandakan kalau senja akan segera berlalu. Rega pulang terlambat karena ia tertidur di kamar di dalam ruangannya kerjanya.
Ia memasukkan mobilnya ke garasi dan langsung turun. Sementara Kejora sedang sibuk memasak di dapur membuat cumi-cumi asam pedas manis sedangkan Bik Asih sedang membersihkan ayam goreng yang akan di goreng nanti.
Rega masuk ke rumah lalu langsung berjalan menaiki anak tangga satu persatu sampai ke atas dan berjalan ke kamarnya, ia melemparkan jas dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Ia membuka kancing baju lalu melempar kedalam keranjang baju yang sudah di sediakan oleh Bik Asih lalu mengambil handuk untuk menguburkan tubuhnya agar segar.
"Aaaaa...." Kejora berteriak menutup matanya yang ternoda karena melihat Rega keluar yang hanya menggunakan handuk di pinggangnya.
"Kamu ngapain di kamar saya?" tanya Rega berjalan membuka lemari untuk memakai baju. Sedangkan kejora yang berbalik arah hanya bisa diam.
"Ma..af tuan, saya mau mengambil pakaian kotor di suruh sama Bik Asih," Kejora terbata karena kaget melihat Rega yang hanya memakai handuk.
"Ambillah dan keluar dari kamarku, ingat sebelum masuk kamar ketuk pintu dulu," kata Rega memperingatkan Kejora, ia hanya mengangguk lalu mengambil pakaian kotor yang ada di belakang pintu.
Setelah mengambil pakaian kotor, kejora keluar menuruni anak tangga satu persatu lalu membawanya kebelakang untuk di cuci besok. Selesai memakai pakaian, Rega kembali turun ke bawah untuk makan malam bersama Omanya, kedua orang tuanya masih berada di luar negri dan bulan depan baru kembali ke Jakarta.
"Rega, duduklah kita makan Sekarang!" Pinta Oma mengajak cucunya untuk makan bersama, sementara Kejora dan Bik Asih duduk di sebelah Oma. Mereka tidak pernah membedakan Bik Asih walaupun sebagai Art, Bik Asih sudah di anggap seperti keluarga sendiri oleh Oma Meri.
Rega mengambil nasi dan cumi-cumi asam pedas manis masakan Kejora, ia langsung menyuapkan nasi dan cumi-cumi asam pedas manis ke dalam mulutnya.
Degh....
Lagi-lagi Rega merasakan cumi-cumi seperti masakan Bintang, ia masih sangat hafal masakan kekasihnya. Pelan-pelan, ia merasakan masakan itu yang membuatnya begitu rindu dengan Bintang.
"Siapa yang memasak semua ini?" tanya Rega penasaran.
"Kejora, apa masakannya tidak enak Tuan?" tanya Bik Asih takut membuat tuannya marah.
"Memangnya kenapa, Ga. Kok dari tadi kamu bingung?" tanya Oma menatap raut wajah cucunya. Oma tahu ada raut ke bimbangan di hati cucunya, namun ia tidak bisa berkata apa-apa kalau di sampingnya adalah Bintang karena tidak punya bukti.
"Setelah makan, temui aku di pinggir kolam," kata Rega meletakkan sendok makan lalu mendorong kursi dan berjalan ke arah kolam berenang yang ada di pinggir rumahnya. Ia duduk di pinggir kolam sambil menyesap rokok bila sudah membebankan pikirannya.
Tak lama kemudian, Kejora menghampiri Rega yang sedang memandang ke arah kolam berenang sehingga bayangan kejora terlihat jelas.
"Duduklah!" Perintah Rega.
"Tuan kok tahu saya datang, kan saya belum bicara," tanya Kejora dengan polosnya bahkan ia tidak sadar kalau bayangan dirinya terlihat di kolam berenang.
Rega hanya tersenyum melihat betapa polosnya perempuan yang kini berada satu atap dengannya.
Hening, tidak ada yang memulai pembicaraan. Rega asik dengan pikiran masing-masing, begitu juga dengan Kejora teringat akan neneknya di kampung.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Rega langsung, kejora yang berada di sampingnya tentu bingung dengan pertanyaan Rega.
"Bukankah aku sudah kasih tahu pada tuan kalau aku adalah Kejora," kata kejora menatap langit malam tanpa bintang.
"Kamu yakin kalau kamu adalah Kejora bukan Bintang," kata Rega lagi kali ini menatap lekat wajah Kejora dengan insten. Manik mata bening itu sama persis seperti milik Bintang sehingga ia melihat Bintang dalam dirinya.
"Saya yakin, mungkin saja hanya mirip saja tuan. Bukannya seseorang tidak akan mirip dengan orang lain jika bukan kembar," kata Kejora memasukkan kakinya ke dalam air, suasa di pinggir kolam renang sangat dingin membuat Kejora sedikit menggigil.
"Mungkin kamu benar, maaf kalau saya sudah berpikir kalau kamu adalah Bintang," kata Rega tersenyum menoleh ke arah Kejora.
ia diam dengan hati yang masih berkecamuk dalam dirinya, tak bosan ia memandang wajah teduh milik Kejora seakan mendapatkan semangat baru agar tetap menjalani hidup ini.
"kenapa kamu berada di kota ini?" tanya Rega memecahkan keheningan di antara keduanya, kejora menatap bintang yang terang bersinar di antara bintang yang lain. ia teringat dengan pesan nenek Sumi untuk mencari kedua orang tuanya.
"Saya ke Jakarta untuk mencari orang tua kandung saya," kata Kejora.
Rega memicingkan mata seakan meminta penjelasan pada Kejora yang kini sedang menatap langit cerah tapi tak secerah hatinya yang kini di landa kepiluan.
"Memangnya kemana orang tuamu,"
"Entahlah, kata nenek aku di temukan waktu kecil saat umurku 3 tahun dalam keadaan luka-luka, mungkin aku terpisah dari keluargaku waktu kecelakaan itu," kata Kejora sedih.
"Apa orang tuamu tidak mencoba mencari keberadaan mu waktu itu,"
"Entah, tidak ada! selama ini saya selalu menanti orang tua saya akan mencari saya tapi nyatanya tidak, bahkan 20 tahun sudah berlalu mungkin saja mereka sudah lupa padaku," kata Kejora menghapus jejak air mata yang sudah mengembun di pelupuk mata.
Rega merasa bersalah karena sudah mengungkit masa lalu kejora dan ia berniat untuk menemukan orang tua kejora agar bisa bertemu kembali, ia yakin tidak akan sulit menemukan orang tua Kejora bila ada petunjuk.
"Apa ada sesuatu yang bisa di jadikan petunjuk untuk bisa menemukan kedua orang tuamu?" tanya Rega.
"Petunjuk, maksudnya?" tanya Kejora balik.
" Petunjuk misalnya seperti kalung begitu," kata Rega.
Kejora diam sesaat untuk mengingat apakah ada petunjuk untuk bisa menemukan kedua orang tuanya, ia terus berpikir sehingga ia baru teringat dengan kalung yang selalu ia pakai kemana saja ia pergi tapi hari ini ia tidak memakainya.
"Ada, Kalung,"
"Boleh saya lihat," kata Rega lalu Kejora mengambil kalung di dalam saku bajunya yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi, Rega menatap kalung tersebut lalu memperhatikannya dengan lekat.
Sepertinya aku pernah melihat kalung ini sebelumnya tapi dimana, Rega terus membolak balikan kalung tersebut lalu mengambil ponsel dan memotretnya lalu kembali di berikan pada Kejora.
"Kok di foto untuk apa?" tanya Kejora.
"Ahh.. tidak apa-apa? biar lebih mudah untuk menemukan kedua orang tua kamu," kata Rega memasukkan ponsel ke dalam saku celananya, Sementara Kejora hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata apapun.
ia tidak menyangka masih ada orang baik yang mau menolongnya, tanpa pertolongan Rega mungkin hidupnya sudah hancur. Karena malam semakin larut, kejora berjalan ke kamarnya begitu juga dengan Rega, ia masuk ke dalam kamar lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang berukuran king size itu dan menatap langit-langit kamarnya.