Keesokan harinya, Kejora sudah bersiap-siap untuk pergi meninggalkan rumah yang mewah itu. Dia keluar dari kamar Bik Asih, ia tidak mungkin tinggal di sana terlalu lama karena dia bukan lah siapa-siapa? Niatnya ke Jakarta hanya untuk mencari orang tua kandungnya. Ia menenteng tas di tangannya menemui Oma yang sedang duduk di sofa.
"Loh, Kejora mau kemana?" tanya Oma saat melihat Kejora berjalan menenteng tas.
"Kejora mau pamit, Oma! Kejora mau cari orang tua kandung kejora," ujar Kejora.
"Di luar sana kamu mau tinggal dimana? Preman kemarin pasti akan mencari mu lagi?"
Oma memperingatkan Kejora pada kejadian yang menimpanya tempo hari, Kejora menunduk dan mengigit bibirnya tidak tahu harus bagaimana.
"Tinggal saja disini, kamu bisa bekerja membantu bik Asih dan nanti aku bantu kamu untuk mencari orang tua kamu,"
Tiba-tiba saja, Rega sudah berada di belakang Kejora. Oma mengangguk membenarkan apa yang di katakan Rega.
"Rega benar, Nak! Tinggallah disini, lagian Oma ada temannya kalau kamu ada disini?" Kata Oma.
"Tapi Oma--,"
"Oma tidak mau ada penolakan, sekarang kamu kembali ke kamar ya? Kamu bisa bekerja disini sampai orang tua mu ketemu," ujar Oma meyakinkan Kejora agar tetap tinggal disini.
Kejora mengangguk lalu kembali ke kamar Bik Asih, ia meletakkan tas nya di atas lemari kecil yang ada di dalam kamar Bik Asih. Ia keluar dari kamar mengambil alih tugas Bik Asih menyapu dan pel lantai.
"Oma, aku ke kantor dulu ya?" kata Rega sudah siap dengan jas kantor.
"Gak sarapan dulu, Ga?" tanya Oma lagi.
"Di kantor saja soalnya pagi ini ada meeting sama klien, sudah Rega pergi dulu kalau ada apa-apa Oma hubungi Rega ya?" ujar Rega keluar rumah lalu berjalan ke arah mobil BMW miliknya, menjadi pengusaha membuat ia sangat sibuk.
Sudah berapa kali orang tuanya menyuruhnya untuk menikah tapi ia tidak mau, kehilangan Bintang membuat Rega patah semangat bahkan dunianya seakan hilang setelah kematian Bintang meski jasad nya tidak di temukan.
Tak lama kemudian, Rega sampai di kantor Nugraha group. Dia masuk ke dalam menaiki lantai sepuluh dimana ruangannya berada.
"Pak, Bu Amara ada di ruangan bapak?"
Rega mendengus kesal karena pagi-pagi ia harus bertemu dengan Amara.
"Kapan dia datang?" tanya Rega.
"Beberapa menit yang lalu, pak!"
"Ya sudah, biar saya temui dia! kamu boleh kembali ke tempat kerja mu," ujar Rega, karyawan tersebut hanya mengangguk berlalu meninggalkan Rega.
Rega masuk ke dalam ruangannya, melihat Amara membuat amarahnya semakin menggebu-gebu.
"Amara....!" Teriak Rega.
"Rega, kamu sudah datang? aku sudah lama menunggu kamu," Amara berjalan ke arah Rega yang berdiri tepat di depan pintu.
Ngapain kamu pagi-pagi kesini? Apa kamu gak ada kerjaan lain," ujar Rega kesal melihat Amara yang terus mengejar cintanya padahal sudah berapa kali Rega menolaknya.
"Sayang, aku itu mencintai kamu! Kenapa sih kamu tidak bisa menerima aku padahal Bintang tidak ada lagi di antara kita," ujar Amara keceplosan.
"Maksud kamu apa,Amara?" Rega menatapnya.
"Ya, maksud aku Bintang sudah meninggal jadi kita bisa bersama dong?" Ujar Amara gugup takut jika kecelakaan Bintang karena suruhannya maka ia akan berada jeruji besi.
Selama ini dia tidak menyukai Bintang karena menjadi penghalang di antara dia dan Rega.
"Sudah, kamu bisa keluar dari ruangan saya karena saya mau kerja,"
Perintah Rega sambil menunjukkan ke arah pintu keluar.
"Tapi Ga, aku tidak mau? Aku ingin memiliki mu sayang," ujar Amara mengalungkan tangannya di leher Rega membuat ia semakin kesal.
"Lepas atau sayang dorong?" ujar Rega memperingatkan Amara tapi bukannya mendengar Amara semakin mengeratkan tangannya di leher Rega.
"Tidak sayang, aku ingin memiliki mu?" ujar Amara tidak peduli.
"Amara, lepas...!" Bentak Rega mendorong Amara sampai terjatuh.
Bugh....
Amara jatuh ke lantai, pantatnya terasa sakit karena di dorong oleh Rega. Dia tidak menyangka jika Rega akan mendorongnya.
"Rega, kamu kok kasar banget sih! sampai dorong aku sampai jatuh ke lantai, aku tidak terima semua perlakuan kamu seperti ini? Akan aku adukan sikap kamu sama Papa ku," ujar Amara.
Orang tuanya juga seorang pebisnis dan bekerja sama dengan Rega karena itulah orang tuanya menyuruh Amara untuk mendekati Rega dan kalau bisa untuk menikahinya, apalagi kalau bisa merebut harta milik Rega.
"Silahkan adukan sama papa kamu? lebih baik kamu keluar sekarang?" teriak Rega menatap Amara.
Amara mendengus kesal lalu mengambil tasnya yang berada di atas meja kerja Rega lalu menatap Amara dengan tatapan nyalang.
Amara pun pergi meninggalkan kantor Rega, ia mengumpat kesal kalau bukan ingin memiliki harta Rega maka ia tidak akan mengemis cinta Rega Nugraha.
"Aku akan membuat kamu menyesal karena telah memperlakukan aku begini, Ga,"