bab 8

1022 Kata
8. Semangkuk Kelapa Parut Untuk Lauk Nasi. Papa Belum Pulang Penulis: Lusia Sudarti Part 8 *** "Adek capek ikut kerja," jawabku. "Oh gitu," jawab Rani sambil manggut-manggut. "Papa belum pulang ya Ma?" sambung Indra. "Belum selesai dong, kan belum lama Papa berangkat," sahutku. "Sudah malam ayo kalian tidur. Besok kesiangan sekolahnya," aku menyuruh mereka agar segera tidur. "Iya Ma," jawab mereka. Aku belum mengantuk, aku pun kembali menulis dan berpindah keluar duduk di teras samping untuk mencari inspirasi. Sebelumnya aku membuka sosial media f*******: untuk melihat perkembangan dari pembaca maupun followersku. 'Heem belum ada peningkatan dari pembaca-pembacaku. Tapi tak apalah, yang penting aku bisa menyalurkan hobi menulisku." 'Mungkin hanya masalah waktu saja, atau tulisan-tulisanku yang kurang menarik," gumamku dalam hati, ada rasa sedih yang menyelimuti relung hati. Aku pun membalas komen-komen yang enggak seberapa. Setelah itu baru melanjutkan keaplikasi untuk menulis. Untuk menulis kadang fikiranku kacau. Terbukti berkali-kali aku mengulangnya lagi. Karena salah ketik. 'Heem ada-ada saja, karena lagi mikirin cabe habis, kok jadi ngetik cabe, yang harusnya, maafkanlah. Kok jadi cabekanlah, hehehe ... untung belum dipost," aku jadi tertawa sendiri. Dari pada salah ketik terus, mending aku baca novel-novel favoritku. Karya Widya Yasmin, Wafa Farha, dan masih banyak lagi. "Ma, Adek mau pipis," ternyata Nayla terbangun karena mau buang air kecil. "Oh adek mau pipis ya? Ayo Sayang!" ujarku sembari memapahnya. Setelah selesai, ia pun kembali terlelap. Aku pun belum bisa memejamkan mata. 'Nunggu Suamiku pulang aja ah," lirihku. Tak terasa malam telah larut, dan hampir menjelang dinihari. Tapi mata ini sulit sekali terpejam. Aku gelisah memikirkan Suami yang belum pulang hingga menjelang dinihari. Saat terdengar ayam berkokok, dan waktu menunjukkan jam 03:00 dini hari. Baru kantuk menyerang. Baru saja aku memejamkan kedua netraku, aku dikejutkan oleh guncangan ditubuhku seraya memanggilku. "Ma, bangun! Bangun Ma. Adek mau pipis," suara lucu memanggilku. Antara sadar dan tak, sayup-sayup terdengar, aku menggeliat dan mengucek kedua bola mata, perlahan kubuka. Ternyata Nayla yang menggoyang-nggoyang tubuhku. "Oh ... ada apa Sayang, hoooaaam," tanyaku masih mengantuk. "Adek mau pipis Ma," katanya lagi. "Pipis? Adek mau pipis, iya Sayang?" tanyaku lagi serayaku kecup pipinya. "Iya Ma, Adek mau pipis," ulangnya. "Ya udah, ayo Sayang!" aku pun bangkit sembari menuntun tangannya. "Wah ternyata sudah pagi ya Sayang? Mana Mbak sama Mas Dek?" aku celingukan mencari-cari keberadaan mereka. "Di lual Ma, lagi bikin api di tungku," jawabnya. "Oh ya udah kalo gitu," memang sudah beberapa bulan ini kami tak menggunakan gas. Bukan apa-apa, tahun ini perekonomian kami memang sedang tak baik, dari pada buat beli gas, mending buat beli beras dan kebutuhan lain yang lebih penting. Aku mencari kayu bakar yang banyak tersedia disekitarku. Karena selalu menggunakan kayu bakar yang menurutku lebih praktis dan tanpa biaya. Juga rasanya lebih nikmat masak ditungku, tentunya bagi orang miskin sepertiku. Sudah pagi tapi belum ada tanda-tanda Papa pulang! 'Mungkin banyak yang harus diganti," gumamku. "Adek mau ikut mandi?" tanyaku. "Iya Ma, adek ikut mandi," jawabnya. Setelah selesai aku pun masak untuk sarapan pagi. Bikin nasi goreng favorit Anak-anakku. Nasi goreng diberi bumbu terasi dan teri goreng. "Mmm, yami ...!" kata Rani. "Mmm Mantul," kata Indra. "Sedap nyee," sahut si bungsu. Aku pun tersenyum mendengar celoteh mereka. Disaat semua sedang antri mengambil nasi goreng. "Assalamu'alaikum Ma," suara letih suami terdengar. "Itu Papa pulang!" seru Nayla. Papa, Papa, Papa pulang!" teriak mereka. Aku mengambil air minum untuk Suamiku. "Minum Pa!" kuberikan segelas air putih. "Makasih Ma?" dengan raut lelah, ia menerima air minum yang kusodorkan. "Sama-sama, Papa mau ikut sarapan sekarang, apa mau mandi dulu?" tanyaku. "Mama masak apa? Kok harum banget," hidungnya kembang-kempis menghirup aroma nasi goreng. "Nasi goreng Pa," sahutku. "Enak dong, Papa mandi dulu biar nikmat sarapannya, apa lagi buatan Istri Papa dan ditemani lagi, eemm pasti lebih nikmat," ujarnya ngegombal sambil melirik lalu tersenyum manis. "Ihh Papa ini, hehehe," ujar Indra terkekeh melihat Papa mereka menggodaku. Aku hanya tersenyum. Bahagia sekali rasanya, mempunyai keluarga yang penuh pengertian dan suami penuh perhatian. "Adek udah mamnya?" tanyaku. "Udah Ma, udah kenyang," ujarnya, dan pipi gembul itu banyak nasi yang nempel. "Papa udah keljanya, Adek mau beli jajan dong," katanya manja. "Udah dong, iya nanti beli jajan ya, sama Mbak," jawabnya. "Mamas juga dong," sahut Indra. "Iya beli semua, sana beli es cream satu-satu," titah suamiku. Dan mereka bersorak bahagia. "Hoolee beli es klim!" Nayla loncat-loncat kegirangan, aku pun tersenyum melihatnya. "Nih uangnya Mbak!" ujar suamiku memberikan uang seratus ribu. "Makasih Papa," ucap mereka. "Iya Sayang, sama-sama," Suamiku menjawab ...! "Ayo Dek kita berangkat!" ajak Rani. Lalu mereka melangkah keluar. "Papa udah Makannya?" tanyaku. "Udah Ma, kenyang, tuh lihat perut Papa, gendut kan?" disingkapnya kaos untuk memperlihatkan perutnya yang sedikit buncit karena kenyang. "Alhamdulillah, Wasyukurilah," jawabku, aku tersenyum kepadanya. "Mama banyak makan ya, biar sedikit berisi badannya," ujarnya. "Enggak ah nanti Papa cari yang langsing," selorohku. "Emm ... enggak dong, enggak ada yang seperti Mama," katanya seraya mengusap pipiku. "Ah apa bener? Tuh ada jendes semok yang caper," sahutku manyun. "Aduuhh Istri Papa, yang cantik cemburu yaa?" di acaknya rambutku dengan mesra. "Malah Papa yang takut di tinggalin Mama, karena kekurangan ekonomi, takutnya Mama pilih yang muda, yang kaya," ucapnya dengan raut sendu. Kuraih tangannya dan kucium takzim. "Nggak ada yang bisa menggeser Papa di hati Mama," sahutku laluku peluk dengan hangat. "Makasih Ma," suamiku tersenyum. "Mama juga makasih Pa," jawabku. "Assalamu'alaikum, Mama, Papa. Adek sudah pulang," Nayla sudah berdiri diteras. "Waalaikumsalam ... oh Adek sudah pulang? Sudah beli es creamnya," aku menjawab. "Sudah, ini," katanya sambil memperlihatkan sebungkus es cream. "Ya udah dimakan, keburu cair," titahku. Bahagianya melihat mereka bercanda. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan. Walau keluargaku bukan keluarga yang cukup dan kaya, tapi kami keluarga yang bahagia. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan kepada kami semua Amiin," doaku dalam hati. "Mama kok senyum-senyum gitu sih?" ungkap Suami mengagetkan aku "Ah enggak kok Pa, Mama hanya bahagia melihat mereka," pandanganku tak lepas dari Anak-anak yang sedang bercanda-ria. "Alhamdulillah Ma, Papa akan bekerja keras untuk kalian semua." sahutnya tersenyum kearah mereka. "Oh ya Ma, ini gaji Papa!" ia menyodorkan uang lima ratus ribu, kemudian aku menerimanya dengan hati bahagia. "Alhamdulillah Pa, rejeki kita!" ucapku sembari menerimanya. "Alhamdulillah," ia bersyukur atas semua anugrah Illahi. (Bersambung)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN