9. Semangkuk Kelapa Parut Untuk Lauk Nasi.
Bos Pelit, Sedang Anakku Kelaparan
Penulis: Lusia Sudarti
Part 9
***
"Oh ya Ma, ini gaji Papa!" ia menyodorkan uang 500 ribu rupiah.
"Alhamdulillah Pa, rejeki kita!" ucapku sambil menerimanya.
"Alhamdulillah," ia bersyukur atas semua anugrah Illahi.
"Oh iya Pa, setelah ini Mama mau bayar kontrakan, lampu, juga bayar sedikit-sedikit hutang diwarung," aku menjelaskan.
"Iya Ma, atur aja ya? Persediaan beras masih banyak kan ... ," tanyanya kemudian.
"Alhamdulillah masih Pa, kurang-kurang sedikit kalo masalah lauk, bisa cari sayuran dibelakang. Yang penting ada beras, semua perlengkapan sekolah sudah ada," jelasku.
"Iya Ma, ya sudah, siapa tau pekerjaan kita cepet selesai dan nggak ada kendala lagi," sahutnya.
"Amiin!" aku tengadahkan tangan untuk berdoa.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Hari berganti, dan ini akhir tahun, itu tandanya nanti malam pergantian tahun baru.
Sedangkan pekerjaanku dan Suami semakin banyak.
Tapi belum ada yang selesai. Selesai yang ini, ada lagi yang lain. Pulang sore dari tempat yang jauh, langsung lembur yang ada dirumah. Lelah? Sangat lelah.
Tapi itu tak kami hiraukan.
"Pa, persediaan bahan makan sudah semakin menipis, Mana pekerjaan belum ada yang selesai, apa kita kasbon aja untuk nanti malam dan besok?" ujarku saat kami akan lembur.
"Iya nanti Papa coba kasbon. Pekerjaan kita yang ini hampir beres," suamiku setuju, untuk meminta sebagian gaji.
"Mama, Papa ... ," suara Rani memanggil dari kejauhan.
Kulihat Rani dan Indra menyusul.
"Ma, itu Mamas sama Mbak," teriak Nayla saat melihat kedua Kakaknya menyusul kami ...!
"Iya Sayang, sana main sama Mbak ya?" bujukku.
"Iya Ma!" Lalu Nayla menyongsong mereka berdua.
"Adek udah makan belum?" tanya Rani saat sudah tiba kearahku.
"Belum Mbak, Adek juga lapel," jawabnya.
Aku yang mendengar obrolan mereka menjadi sangat sedih.
"Adek mau roti? Ini Mbak tadi beli roti sisa uang jajan, karena dirumah beras habis jadi Mbak sama Mas beli roti seribuan tiga buah.
Buat Adek satu ya!" Rani memberikan sebungkus roti isi kacang hijau.
"Asyikk, makasih Mbak!" ucapnya girang dan menghampiriku juga Papanya.
"Mama sama Papa mau?" tawarnya saat ia hendak memakannya.
"Nggak Sayang, buat Adek aja ya?" sahut Papanya lalu digendong dalam pangkuannya, saat sedang istirahat.
"Adek lapar Sayang? Nanti kita cari uang dulu ya, buat beli beras sama Mie instant," lembut suamiku menhibur Anaknya.
Nayla hanya mengangguk sambil ngunyah roti dimulutnya.
'Sebetulnya aku juga sangat lapar, perut juga sudah melilit. Tapi Insyaallah aku kuat," bisikku dalam hati.
Apa lagi mereka yang masih begitu kecil, dan dalam masa-masa pertumbuhan. Hatiku begitu sedih, sekuat tenagaku tahan bening yang akan menetes dipipiku.
Aku pandangi mereka satu-persatu, wajah-wajah lemah yang menahan lapar.
'Ohh Allah ... Engkau boleh menguji aku dengan yang berat sekali pun, tapi tolong berikan sedikit rizqi-Mu untuk Anak-anakku. Kasihan mereka," tangisku sendu dalam dihati.
"Ayo Ma, kita lanjut lagi!" suara Suami menyadarkan lamunanku.
"Eehh iya Pa, ayo!" jawabku tergagap.
"Heem dari pada duduk sambil melamun, mana perut lapar mendingan Kita kerja lagi," parau suaranya menahan kesedihan.
Aku tersenyum kecut mendengarnya.
'Bissmillahirrohmanirohim, semoga selesai dan semoga kuat amiin," doaku dalam hati ...!
Saat didalam kolong.
"Mas, Mas ini alat-alat yang diperlukan!" ternyata bos mobil.
"Oh iya bos," jawab suamiku, lalu keluar dari kolong dan menghampirinya.
"Benerkan ini Mas?" diperlihatkan semua alat-alat yang baru saja dibeli.
"Iya betul, itu alatnya," suamiku mengamati satu persatu alat mobil itu.
Setelah dicek tak ada yang salah, Suami pun, meminta setengah dulu dari gaji kami ...!
"Bos, saya mau kasbon sedikit sekarang," sambung suamiku tanpa basa-basi.
"Waduuh Mas belum ada, gimana nih?" ujarnya dengan raut datar.
"Ya udah kalo nggak ada!" Lalu Suamiku pun melanjutkan kerjaan yang tertunda dengan sedikit kesal.
"Nanti coba kutanya Istri dirumah dulu Mas, siapa tau ada," katanya lagi, setelah melihat Suamiku sedikit diam.
Tak ada jawaban ...!
Lalu Bos pelit segera melangkah menuju motor untuk pulang.
Aku sedih sekali, mencoba kasbon tapi nggak dikasih. Lalu ... bagaimana Anak-anakku makan?" desisku dalam hati.
Hatiku luruh, hatiku pilu. 'Oh Tuhan ...!"
"Ayo Ma, cepet kita selesaikan! Habis itu pulang. Enggak usah pamit atau laporan," ujar Suamiku sedikit emosi.
Sementara, Nayla si bungsu menghampiriku setelah bermain sama Rani dan Indra.
"Ma, Adek haus" Nayla minta minum kepadaku.
"Ini Sayang, minum kopi luak!" kuberikan segelas kopi luak yang sudah tak terlalu panas.
Lalu diteguknya hingga tandas.
"Tapi ... Adek masih lapel Ma," raut wajahnya sedikit pucat.
Kuraih ia, dalam dekapan, tak terasa kedua netraku memanas, dan bulir-bulir air berjatuhan dikedua belah pipiku.
"sabar ya Sayang?" kuusap rambutnya yang panjang dengan kuncir dua kanan dan kiri.
"Iya Ma!" lalu ia turun dan ikut bermain bersama Rani dan Indra lagi.
Aku terpaku melihatnya.
"Ma, tolong ambilin kunci 17 dong!" suara Suamiku mengagetkan.
"Iya Pa, Nih Pa," aku sodorkan kunci itu.
"Buka Ma yang sebelah kiri bautnya ya?" pintanya kemudian.
"Oke Pa," lalu aku pun ikut ngolong.
Setelah bekerja lebih kurang satu jam lamanya, akhirnya selesai.
"Sudah selesai Ma, ayo kita pulang, kasihan Anak-anak pada lapar, ini masih ada uang 15 ribu, buat beli mie instant aja," lalu kami bersiap pulang. Tanpa pamit atau pun laporan.
Malam ini pergantian tahun. Kami hanya makan mie instant merk intermi. Lalu makan jagung rebus. Siang tadi bon dua kilo ditukang sayur.
Air mata yang kutahan sedari tadi agar tak tumpah, akhirnya luruh juga tanpa bisa dicegah.
Mereka semua sedang berkumpul menikmati jagung rebus, untuk mengganjal perut dan menahan lapar.
Aku sempat marah pada Sang Pencipta.
'Yaa Allah, jika memang Engkau tidak memberi kami rizqi lagi. Maka ambilah nyawa kami sekeluarga," lirihku dalam tangis.
Aku benar-benar tak tega melihat mereka menderita dan kelaparan.
"Ma, ini jagung rebus buat Mama," Nayla menghampiriku dengan membawa sepotong jagung ditangan.
"Mama kenapa kok nangis?" diusapnya air mataku dan dikecup kedua pipiku.
"Ehh nggak kok Sayang, tadi Mama bersihin debu, lalu ada yang lompat kemata Mama!" aku usap air mata yang semakin deras membasahi pipi.
"Coba Adek tiup ya?" aku pura-pura ngedipin mata yang perih.
"Sini Ma, Adek tiup!" ditangkupnya wajahku dengan kedua tangannya, lalu ditiupnya, tapi bukan angin yang keluar, tapi embun air liurnya.
"Aduuuh Mama, maaf!" diusap wajahku yang basah dengan ujung bajunya.
"Hahaha. Adek-adek, katanya mau tiup, malah disembur, emang Mama kesurupan ya?" aku pun tertawa karena ulahnya yang bikin gemes.
Nayla pun nyengir.
"Tapi udah sembuh mata Mama?" tanyanya, sembari melihat kedua bola mataku.
"Udah Sayang, makasih ya?" sahutku.
Duka yang kurasakan seketika berkurang, melihat Anak-anakku yang masih bisa bercanda. Aku tau mereka menahan lapar. Aku tau mereka bersedih. Tapi mereka pandai menyembunyikan semua, agar orang tua mereka tidak bertambah sedih.
"Mama sudah makan mienya?" Suamiku menghampiriku yang sedang membersihkan bekas makan mie tadi.
"Udah Pa, Mama udah kenyang," kilahku.
"Papa udah belum?" aku balik tanya.
"Udah Ma," tapi kulihat di mangkuk masih banyak yang tersisa.
"Adek sama Mbak udah mienya?" tanyaku kepada mereka.
"Udah semua Ma, Papa sama Mama yang belum," jawab mereka.
Aku terdiam mendengar ucapan Anak-anakku.
Kutatap bening bola matanya yang juga menatapku!
"Udah tadi Ma, sedikit," jelasnya.
Aku pun beranjak mengambil mie di mangkuk, lalu duduk disampingnya.
"Yok Pa, kita makan berdua lagi?" laluku suap dengan pelan. Aku pun menyuap diriku sendiri.
Diraihnya mangkuk ditanganku, gantian ia yang menyuapi, senyumnya mengembang saat pandangan kami bertemu.
"Sabar ya Ma, kita masih disayang Allah. Mungkin dengan ujian ini, kita bisa lebih mendekatkan diri kepadanya," suami memberi wejangan.
"Mama selalu sabar Pa, selaluu sabar. Demi Papa dan Anak-anak," senyumku mengembang.
Bersambung
Buat pembaca yang mampir ke ceritaku, terima kasih ya? Semoga kita semua di beri rizqi yang melimpah. Amiin.