10. Semangkuk Kelapa Parut Untuk Lauk Nasi.
Ada Yang Mengintai
Penulis:Lusia Sudarti
Part 10
***
"Sabar ya Ma, kita masih di Sayang Allah. Mungkin dengan ujian ini, kita bisa lebih mendekatkan diri kepadanya," Suami memberi wejangan.
"Mama selalu sabar Pa, selaluu sabar. Demi Papa dan Anak-anak," senyumku mengembang.
Keesokan harinya, saat kami berangkat. Bos mobil menghentikan perjalanan kami.
"Mas, sudah selesai mobilnya?" tanyanya.
"Iya sudah bos," jawab Suami datar.
"Oh iya, ini Mas uangnya, terima kasih banyak ya Mas? Kurangnya saya minta, kalo lebih buat Nayla!" sambungnya lagi sembari menyodorkan sejumlah uang.
"Iya makasih bos," suamiku berbasa-basi.
"Sama-sama Mas, oh iya masih kerja di yang jauh?" tanyanya.
"Iya bos, belum selesai, ya udah saya pamit dulu, masih jauh perjalanan!" Suamiku berpamitan.
"Iya Mas, silahkan!" ia memberi jalan buat kami.
Lalu kami melanjutkan perjalanan.
"Ma, apa bannya kempes ya?" ia menunduk untuk memastikan kalo beneran kempes.
"Aduh, iya betul Pa!" aku turun dan memeriksa ban belakang yang kempes.
"Ya udah Ma, naik aja, biarin lah. Perjalanan masih jauh," wajahnya sendu, uang yang kami punya tidak banyak, tapi ada aja rintangan dijalan.
"Sabar ya Ma? Kalo sedang di uji, terus di uji," ceramahnya memberi semangat.
"Betul Pa, mungkin kesabaran kita masih di uji," ujarku menimpali.
Akhirnya sampai juga di tambal ban.
Setelah di periksa ternyata ban dalam minta ganti.
Setelah selesai kami melanjutkan perjalanan.
Nayla yang duduk di depan tak banyak bicara.
"Adek mau es cream?" tanyaku sambil memeluknya.
"Iya mau Ma?" netranya berbinar.
"Oh iya udah kalo nggak," godaku kemudian.
"Kan Adek bilang mau, Mama ...!" sungutnya seraya cemberut.
Aku tertawa melihat wajahnya yang lucu.
Setelah sampai, kami langsung bekerja, istirahat saat waktunya makan, setelah itu kami melanjutkan pekerjaan lagi.
Hingga datangnya sore, dan kami pun pulang kerumah.
****
Malam ini Suami mendapat job storing jauh, entah pulang apa tidak. Yang pasti aku dan Anak-anak berdoa untuk keselamatan Papa.
Anak-anak sudah terlelap dalam buaian mimpi. Aku susah sekali memejamkan mata.
Tiba-tiba.
Kreet! Kres! Kres!
Aku terkejut mendengar suara-suara mencurigakan diluar rumah.
Dalam kepanikan, tanpa fikir panjang lagi, aku mengambil sepotong besi nepel. Aku mengintip dari celah pintu.
'Astagfirrullah ...!"
'Ada dua orang mengendap-endap sambil celingukan, mau apa mereka?" gumamku.
Aku mengumpulkan segenap keberanianku, disaat mereka celingukan kesana kemari, dengan cepat kubuka pintu, dan mengayunkan alat ditanganku ke daun pintu sambil berteriak kencang.
Brraaakkk ...!
"Mau apa kalian!" entah dari mana keberanianku, teriakan dan hantaman alat itu membuat mereka terlonjak kaget bukan kepalang, lalu kabur dan lari terbirit-b***t.
'Alhamdulillah akhirnya kabur juga."
Ku periksa sudut luar tempat mereka mengendap-endap tadi.
Banyak besi-besi yang teronggok di luar rumah.
Huuffftt!
Ada-ada aja mereka, mau ambil besi-besi ini! Mungkin untuk dijual, semenjak marak perjudian online juga s4bu, mereka menghalalkan segala cara.
Setelah aman aku masuk kembali. Sebelum itu semua pintu kuperiksa, sudah terkunci apa belum, semua demi keamanan, karena Suami tak berada di rumah.
Malam semakin larut, aku takut untuk terpejam. Kucoba untuk menulis kembali, untuk update bab yang belum selesai.
Hidup harus punya komitmen.
Menjalani apa adanya. Belajar dan terus belajar, jangan mudah puas untuk suatu pencapaian yang belum seberapa. Dan jangan putus asa dengan sebuah kegagalan.
Karena kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Itulah yang menjadi pedoman dalam hidupku.
Adzan shubuh berkumandang, sekejap pun aku belum bisa memejamkan mata. Dengan langkah gontai aku mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat.
Lalu menyiapkan sarapan untuk Anak-anak. Hari ini Suami belum tentu pulang, karena jarak yang jauh dan akses jalan yang sulit karena musim hujan, belum lagi pekerjaan yang berat.
Pagi ini, aku sedang menunggu tukang sayur, untuk belanja sayur mayur, didepan rumah seperti biasa.
"Eh Mbak, gimana nih sisa hutangnya? Kok belum dibayar?" Mbak Hera menagih sisa hutang warung.
"Maaf Mbak belum ada, ini cukup untuk beli sayuran aja, nanti kalo saya udah dapat lagi, pasti saya bayar Mbak," sahutku merasa bersalah dan malu.
"Aduh Mbak, kalo nggak punya duit, nggak usah sok-sok an bon di warung saya dong, saya juga perlu modal untuk kelangsungan warung saya, kalo begini caranya, bisa-bisa tutup Mbak warung saya," ucapnya ketus.
Dan beberapa tetangga mengintip dari pintu mereka karena mendengar kegaduhan di depan rumah.
"Beri saya waktu Mbak, pasti akan saya bayar sisanya. Oh iya berapa sisanya Mbak?" malu sekali rasanya ditagih didepan umum.
"Lima puluh ribu lagi, segitu juga itu yang namanya hutang harus dibayar!" balasnya dengan nada ketus. Lalu pergi dari hadapanku.
Aku hanya bisa mengusap d**a yang terasa sesak. Sedih, malu campur aduk jadi satu.
Akhirnya Mang Bejo tukang sayur yang kutunggu datang juga.
"Sayuur! Sayur!" Mang sayur memanggil pelanggannya.
Tak lama para Emak-emak pun berkumpul untuk belanja.
"Eh Mbak, tadi kenapa Bu Hera teriak-teriak?" si Endang tukang rumpi mengorek berita untuk dijadikan bahan ghibahan.
"Biasa Mbak, karena hutang belum lunas," jelasku.
"Oh gitu," ia manggut-manggut.
Dan yang lain menatap sinis terhadapku. Dewi j4nda g4t3l yang pernah adu mulut waktu itu, baru tiba dan langsung nyamber mirip bensin terkena api.
"Ah Mbak Endang kayak nggak tau aja tentang kehidupannya, hidup miskin aja banyak tingkah dan sombong," kata-katanya begitu pedas.
Dan yang lain bisik-bisik sambil mencibirku, mungkin mereka juga menggunjingku.
'Astagfirrulloh, sebenarnya ada apa dengan mereka? Sehina itukah keluargaku dimata mereka?" lirihku dalam hati.
Mang Bejo yang mendengar ocehan mereka pun menegur dengan sopan.
"Aduh Ibu-Ibu, nggak baik menghina orang lain, dosa lho," rupanya Mang Bejo membelaku.
"Alah Mang, memang kenyataannya begitu kok, masa iya harus dibilang nggak!" sengit Dewi.
"Ya walau pun kenyataan, toh Mbak Suci juga nggak ngrepotin kalian, bukan apa-apa, dari tadi Mbak Suci sama sekali nggak menghina kalian," Mang Bejo kelihatan begitu jengkel mendengar ghibahan mereka.
Aku tersenyum ...!
"Makasih Mang, biarlah mereka membenci saya dan keluarga saya.
Yang penting, walau pun hidup kami miskin, setidaknya saya nggak ngrepotin mereka, nggak minta makan mereka," jawabku dengan lembut.
"Betul Mbak, biarin aja mereka bilang apa," ujar Mang Bejo lagi.
Aku pun tersenyum dan membayar belanjaan lalu pamit.
Ia pun mengangguk.
"Terima kasih ya Mbak?" Mamang sayur pun tersenyum.
"Saya yang terima kasih Mang," aku membalas senyumnya.
Mereka masih menggunjingkan aku, tapi aku tak perduli.
'Semoga kelak hidup kami berubah Ya Allah. Agar mereka tak semena-mena terhadap kami, Amiin," doaku dalam hati.
"Adek ...," teriakku.
"Iya Ma, ada apa!" Setengah berlari si bungsu menghampiriku.
"Nggak pa-pa Sayang, kirain Adek bobo lagi?" aku raih ia dalam pangkuanku, Ia pun dengan manja memeluk dan menciumku.
"Eemm acem belum mandi," kucubit gemes pipinya yang chuby.
"Hehehe, bialin ah!" ia tertawa sambil terus memelukku.
"Papa belum pulang ya Ma?" Nayla sambil celingukan mencari keberadaan suami.
"Belum dong, mungkin nanti malam atau besok pagi," jawabku.
"Nanti kalo Papa pulang bawa duit untuk beli esklim Adek ya Ma?" katanya sambil menatapku dan tersenyum manis.
"Iya Sayang, nanti kita beli es cream," sahutku.
"Sama beli bakso ya Ma? Adek udah lama nggak makan bakso," sambungnya wajahnya tiba-tiba sendu.
Hatiku trenyuh mendengarnya.
"Iya Sayang, nanti kita beli bakso juga ya?" hiburku.
"Hooleee! Beli bakso juga!" teriaknya girang.
Hatiku mencelos melihatnya begitu menderita, tak seperti Anak-anak sebayanya yang tak pernah kekurangan.
Alhamdulillah buat makan masih ada walau pun ala kadarnya. Jauh dari kata mewah, tapi seenggaknya tidak kelaparan.
Bersambung