ULANG TAHUN ANGGA
Wanita yang berusia 28 tahun itu sedang asik mempersiapkan makanan dan minuman di atas meja makannya yang terbilang cukup besar dengan dipadukan warna kursi yang begitu elegan ditambah dengan vas bunga yang berwarna putih yang membuat meja itu terlihat sangat gelamor.
Rumah yang bertemakan seperti rumah-rumah villa dengan asesoris kayu-kayu ukuran yang cukup menambah kesan sederhana tetapi tetap berkelas, ditambah perpohonan di taman belakang yang membuat rumah mereka tanpa jauh lebih dingin dan segar untuk bersantai menghilangkan stres setelah aktifitas yang melelahkan.
Bella Citra disapa Bella tersenyum ketika mendengar suara bel rumahnya berbunyi menandakan orang dia tunggu telah tiba “Sebentar mas” teriak Bella mempercepat langkahnya kearah pintu kayu besar rumahnya.
Setelah Bella membuka pintu wanita itu langsung mencium tangan suaminya dan mengambil tas yang dipegang oleh suaminya.
Angga Wijaya seorang pengusaha muda di bidang Interior dikota besar seperti Bandung, namanya juga sudah terkenal di dunia bisnis tersebut. Laki-laki berusia 30 tahun yang disapa Angga, mempunyai paras yang cukup tampan dengan badannya yang cukup kekar dan kulitnya yang terbilang cukup eksotis.
“Mas liat aku buatin apa buat kamu?” ujar Bella ingin menunjukan sesuatu yang sudah dia kerjakan seharian dirumah.
Angga melirik dengan tatapan penasaran memperbulat matanya “Apa?” jawab Angga dengan mengintip kesekeliling rumahnya.
Bella menggandeng mesra tangan suaminya melangkah lurus menuju arah meja makan “Traalaaa…..” Bella melebarkan tangannya kearah meja makan yang sudah tersusun rapi dengan tatanan makan-makan dan kue ulang tahun ditambah dengan hiasan untuk memberi kesan cantik.
Angga melirik kemeja makan yang sudah dihias rapi oleh istrinya dengan muka yang begitu bahagia, tidak bisa dia tutupi wanita yang sudah menemainnya selama 5 tahun pernikahan mereka ini selalu membuat dirinya layaknya raja dalam istana yang telah mereka ciptakan.
“Happy birtday papaaa…. Happy birtday papaa… happy birtday happy birtday happy birtday papaaaaa….” suara lucu dari arah anak tangga seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir dua itu sambil memegang paper bag tersenyum manis untuk seorang ayah.
Angga yang menyambut putri kecilnya dengan memeluk erat dan mencium pipi kecil putrinya “Terima kasih putri kecil…” ujar Angga menatap putrinya dengan penuh cinta.
Delisa Putri Wijaya adalah anak pertama dari pernikahan Angga dan Bella, kini Delisa berusia 4 Tahun. Delisa yang memiliki mata cokelat seperti ibunya dan hitung mancung seperti ayahnya, perpaduan yang cukup indah mengukir diwajah kecilnya.
Delisa yang sekarang sudah duduk dipangkuan papanya itu menunjukan paper beg yang sejak tadi dia pegang “ini hadiah buat papa” senyum manis Delisa.
Angga menyambut begitu hangat melihat hadiah dari putrinya “Wah apa ini sayang?” Angga yang langsung membuka paper beg “baguus kali anak papa gambar” ujar Angga yang masih menatap dan memegang setiap ukiran-ukiran putrinya.
Delisa yang penuh antusias langsung menjelaskan lukisannya “ini papa, terus mama kita main ditaman sama Delisa” ujar Delisa dengan wajah polosnya.
“Ini siapa sayang?” sambung Bella menunjuk buku gambar Delisa dengan wajah penasaran pada putrinya.
Delisa langsung tersenyum malu ketika mamanya menunjuk satu gambar anak kecil yang belum dia selesaikan gambarnya “Ini… adek” jawab Delisa menatap gambarnya “cuma karena adek belum ada jadi Delisa belum bisa gambarnya” jawab Delisa dengan muka sedikit cemberut.
Angga dan Bella saling melirik bersamaan dan memeluk putrinya “Delisa mau adek ya” tanya Angga mengambil tangan kecil putrinya “kita berdoa ya… semoga Allah mengambulkan doa Delisa amiin” Angga dan Bella mengusap tangan dan mengaminkan doa putrinya.
Makan malam perayaan ulang tahun Angga di penuhi dengan rasa begitu bahagia layaknya keluarga kecil yang begitu sangat harmonis. Tawa canda yang diciptakan sepasang suami istri itu membuat mereka larut akan kebahagian bersama putri kecilnya.
Delisa sangat dekat sekali dengan Angga, bawaan Angga yang begitu hangat dengannya membuat Delisa selalu mencari sang papanya jika Angga sedang pergi keluar kota.
Bella melirik kearah jam yang sudah pukul 20.30 WIB dan kembali melihat putrinya “Delisa yuk, waktunya tidur” ujar Bella ke putrinya melirik arah jam dinding seolah menunjukan peraturan putrinya harus tidur pada pukul segitu.
Bella merupakan ibu yang cukup tegar dengan peraturan-peraturan yang telah dia ciptakan untuk putrinya, Bella merasa putrinya harus di ajarin untuk mengatur waktunya sejak kecil agar nanti dia terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Bella juga mengajari putrinya untuk bangun sesuai waktu yang sudah dia tentukan, sama dengan halnya makan dan tidurnya.
Delisa yang melirik kearah jam dinding tepat diatas Televisi yang sedang menyala beranjak dan menarik tangan papanya “dongengin Delisa pa” ujar Delisa yang sudah berdiri didepan papanya.
Angga yang mendengar permintaan putrinya langsung menganggukkan kepalanya dan mengangkat tangannya seperti sedang hormat bendera “siap tuan putri” Angga yang langsung mengendong Delisa.
Bella melihat momen bahagia sang putri dan ayahnya hanya menggeleng-gelengkan kepala dan mengejar mereka berdua yang sedang menuju lantai dua “kalau ada papa.. mama di lupain” ujar Bella dengan memanyunkan bibirnya kearah putrinya.
Delisa yang sudah berbaring di kasur bersama Angga melihat mamanya dengan membentangkan tangannya seperti ingin memberikan pelukan “mama sini” ujar Delisa.
Bella menyambut pelukan putrinya dan ikut larut dalam dongeng yang sudah Angga mulai sejak tadi. Mata Delisa sudah mulai diawan-awan untuk memasuki alam bawah sadarnya. Angga menyenggol Bella seperti memberi isyarat untuk dirinya masuk kekamar duluan, Bella dengan berhati-hati melepas pelukan putrinya menuju kekamar mereka.
Bella sudah berada di dalam kamar, Bella segera buru-buru membersihkan diri, dan mengganti pakaiannya dengan pakaian dinas malamnya, lingerie warna merah menyala untuk memberikan kado ulang tahun pada suaminnya.
Angga yang baru saja masuk ke dalam kamar melihat istrinya sedang berdiri didepan kaca dengan pakaian yang sangat dia sukai Angga dengan cepat melangkah mendekat Bella dan memeluknya secara perlahan.
“Kasih mas kado ya” bisik Angga dengan mengecup leher jenjang istrinya tersebut, membuat bulu halus Bella merinding.
Bella langsung menikmati pelukan dan kecupan Angga seketika dengan membalikan badannya menatap suaminya dengan tatapan menggoda “mas mau kado apa?” bisik Bella dengan manja ke telingan Angga dengan mengeluarkan sedikit napas untuk membangkitkan gelora suaminya itu.
“Aaah” suara Angga melayang mendengar suara manja istrinya yang membangkitkan kelelakiannya.Bella yang mendengar desahan Angga mengecup kembali telinga dan bagian-bagian yang membuat suaminya melayang jauh.
Angga yang sangat tidak tahan dengan aksi istrinya itu langsung mendorong tubuh Bella jatuh di atas ranjang. Angga segera membuka semua pakaiannya. Dengan sekali gerakan, Angga menjatuhkan dirinya di atas tubuh Bella.
“Sayang..?” Angga menyentuh pipi Bella, dan satu tangannya meraba menarik lingerie merah ke atas, dengan cepat Angga telah membuka kain merah tersebut dari tubuh Bella.
Angga dan Bella kini sudah bertubuh polos, mengecup bibir Bella dan melumati bibir Bella dengan penuh gelora, Angga menyusuri tubuh Bella dengan penuh gairah, mengecup setiap lekukan badan istrinya yang begitu indah.
Angga menggigit gunung kembar Bella dengan penuh nafsu, Bella yang menahan sakit tak karuan karena gigitan Angga, Bella hanya meremas setiap tubuh Angga.
Mata Bella yang sudah sayu, hanya bisa Bella menggigit bibirnya merasa kenikmatin setiap Angga menyusurin tubuhnya yang kini sudah di bagian tubuh inti Bella.
Angga melebarkan dua kaki Bella dan mulai mengecup dan menikmati setiap cairan basah yang keluar dari tubuh istrinya dan memainkan jari-jarinya ke dalam milik Bella. Bella yang meringis kenikmatan, tubuhnya sampai bergetar hebat saat jari-jari Angga memainkan miliknya.
“Sayang aku gak tahan?” ujar Bella yang memohon ampun dengan aksi suaminya. Angga langsung mengangkat badannya kembali pada posisi pertama.
“Siap sayang ya?” bisik Angga yang langsung menyatukan miliknya ke milik Bella.
Bella yang merasakan kini mereka berdua telah menyatu memegang pinggul Angga dengan kuat dengan bola mata yang menerawang jauh.
Angga yang langsung maju mundur menggoyangkan pinggulnya dengan perlahan semakin lama semakin kuat. Bella merasakan gerakan Angga yang membabi buta meremes tubuh Angga merasakan sakit dan nikmat bercampur jadi satu.
“aaaaa sayang” desah suara Bella yang membuat Angga semakin menikmati goyangannya. Angga memperkencang goyangannya dan menjambak sedikit rambut Bella.
Desahan-desahan yang mereka ciptakan membuat Angga dan Bella semakin bergelora.
“Sayang aku gak tahan” ujar Angga yang sudah ingin memuntahkan cairannya di dalam tubuh inti Bella.
Bella mengangkat pinggulnya sedikit dan mencengkram tubuh Angga “Ya sayang. Aku juga ini, aku jepit ya sayang” jawab Bella juga menikmati denyutan inti tubuhnya bersama cairan hangat yang Angga keluarkan.
Angga masih di atas tubuh Bella memeluk istrinya menikmati momen hangat yang telah mereka ciptakan dengan napas yang tersengal-sengal dan keringat yang mengalir.
Angga mengangkat badannya berbaring di samping Bella “terima kasih sayang kadonya” Angga tersenyum bahagia telah terpuaskan oleh istrinya.
Bella hanya tersenyum di samping suaminya tersebut. Bella selalu pandai memuaskan hasrat Angga, Bella sadar salah satu menjaga suaminya dan rumah tangganya Bella bukan hanya belajar mengurus rumah dan menjaga makan minum Angga tetapi Bella belajar bagaimana suaminya terpuaskan secara batin.
***
Jam menunjukan pukul empat subuh. Bella yang sudah lebih dulu bangun dan bergegas segera mandi. Bella terbiasa bangun jam segini untuk sholat subuh bersama Angga bisanya dan langsung menyiapkan sarapan pagi.
Bella yang baru selesai mandi dengan memakai handuk dibadannya dan melilitkan satu handuk di kepalanya melihat suaminya yang masih tertidur pulas.
“Mas bangun” ujar Bella dengan suara yang lembut agar suaminya tidak terkejut.
Angga menatap istrinya dengan mata yang masih samar-samar “sayang udah mandi ya” tanya Angga dengan suara serak.
“udah mas” jawab Bella dengan mengelus pipi Angga. Angga yang merasakan helusan tangan istrinya kembali menggeserkan badannya ke paha Bella yang masih memakai handuk tersebut.
Angga mencium paha Bella dengan mata yang masih tertutup “mmmm wangi” jawab Angga yang menarik tangan Bella ke pipinya “pengen lagi sayang” ujar Angga yang kini membuka matanya menatap istrinya.
Bella yang mendengar permintaan suaminya langsung memanyunkan bibirnya “maas..!”
“Ayolah sayaang, mas kan mau berangkat ke surabaya nanti” ujar Angga membujuk istrinya untuk menuruti permintaannya itu.
Bella yang tidak bisa menolak permintaan Angga hanya menganggukkan kepala “Tapi abis sholat subuh, mas mandi dulu” Bella yang kini sudah memegang handuk Angga dan menyuruh suaminya untuk segera mandi.
Angga mempunyai kesibukan kerja yang cukup padat, ia sering sekali pulang pergi keluar kota dengan waktu yang tidak bisa dia tentukan. Bella sudah terbiasa dengan hal seperti ini.
Delisa yang malahan selalu protes dan merengek jika Angga berada di luar kota, tetapi Bella selalu menjelaskan pada putrinya bahwa sang ayah keluar kota untuk bekerja dan akan segera kembali pulang.
Seperti saat ini, pagi nanti pasti Delisa akan merengek-rengek untuk ikut, menanyakan kemana perginya, kapan pulangnya, kenapa tidak pergi dengan mama, dengan Delisa. Angga dan Bella akan menjelaskan pada putrinya satu persatu, karena Angga dan Bella selalu belajar untuk tidak berkata bohong pada putrinya, agar nanti putrinya juga bisa belajar terbuka kepada orang tuannya.
Angga dan Bella yang sudah menunaikan ibadahnya pada subuh ini, saatnya Bella menunaikan janjinya pada Angga.
Angga yang kini sudah duduk di tepi ranjang menatap istrinya yang masuk sibuk merapihkan mukenanya “sayang ibadah satu lagi” ujar Angga dengan mata genitnya.
Bella yang melihat suaminya itu hanya tersenyum dan mulai mendekat ke arah Angga “yaa..”
Bella yang kini sudah berdiri tepat didepan Angga yang sedang duduk di tepi ranjangnya membusungkan dua gunung kembarnya, Angga dengan cepat menangkap dan meremas-remasnya dengan kenikmatan.
Seperti saat ini, Bella yang memimpin permainan. Bella mendorong tubuh Angga dan kini Bella sudah mendudukan tubuh Angga sambil menyusuri tubuh Angga dengan mulutnya dan melepas pakaian Angga satu persatu.
Lantas berhenti pada pedang Angga yang sudah berdiri tegak. Tanpa ragu Bella mengulum pedang milik Angga dan memanjakannya. Membuat suaminya mendesah karena ulahnya.
“Sayaaang aaaa..” desah Angga seraya merem melek. Bella mendengar suaminya kenikmatan dia semakin berani memainkan lidahnya di ujung pedang Angga.
Angga yang tidak bisa menahan diri. Dia bangkit dan langsung menindih tubuh istrinya “nakal yaa” desah Angga yang melumuti telinga Bella.
Bella yang menikmati desah-desahan Angga kembali membalikan Angga pada posisi awal, tubuh Angga di timpa oleh Bella. Bella kini mulai memimpin permainan kembali, Bella mulai memasukan pedang Angga yang sudah berdiri tegak dan mulai menggoyangkan pinggulnya maju mundur membuat dua gunungnya ikut bergoyang.
Bella cukup pandai soal ranjang, dia tidak merasa sungkan harus melakukan apa saja saat diranjang agar memuaskan hasrat Angga. Seperti saat ini Angga sudah dibikin merem melek karena goyang Bella yang begitu hot.
Angga berkali-kali menangkap dan menggigit dua gunung yang ikut bergoyang maju mundur “sayang mau keluar ini” ujar Angga berdesah.
Bella bergerak cepat hingga keringat membanjiri tubuh keduanya. Suara desahan saling bersahutan memenuhi ruang kamar mereka.
Selesai urusan ranjang, mereka terbaring dengan napas tidak beraturan. Saat itu Bella melirik ke arah jam kamarnya sudah pukul lima empat puluh lima menit.
Bella langsung beranjak dari tempat tidurnya dan membersihkan badannya ke dalam kamar mandi.
Bella yang kini sudah sibuk dengan aktifitasnya seperti biasa menyiapkan sarapan pagi di temani oleh mbok Wati, pembantu mereka yang sudah lama bekerja dengan mereka.
“mbok kue kek mas Angga mana ya?” ujar Bella dengan sibuk menyusun makanan diatas meja.
Mbok Wati yang sedang cucu piring “di kulkas bu, sebentar bu saya ambilkan” jawab mbok Wati mengelap tangannya yang basah.
Mbok Wati langsung meletakan kue keknya di atas meja makan “makasih mbok” jawab Bella tersenyum menatap wanita yang sudah kepala empat itu.
Delisa yang berlari dari arah kamar dengan rambut yang masih terurai “mamaaa…. ikatin rambut Delisa”
Bella memperhatikan putrinya yang berlari cepat kearahnya “jangan lari-lari Delisaa!”
“Maaf ma” Delisa menundukkan kepalanya dan memberikan dua ikat rambut pada Bella.
Bella mengambil dua ikat rambut dari tangan putrinya, Bella menarik kursi meja makannya memposisikan dirinya duduk mulai mengikat rambut Delisa yang sudah panjang.
Angga yang baru saja keluar dari kamar dengan baju yang berwarna merah maroon ditambah dasi yang bergantung lurus dilehernya dengan di padukan jas hitam dan celana hitam membuat lelaki ini semakin tampan.
Bella yang melirik sejenak suaminya dan kembali sibuk dengan rambut putrinya “mas ini sarapannya udah siap”.
Angga melangkah kearah meja makan melirik putrinya yang sedang disisir Bella “wah putri papa udah cantik kali” sapa Angga.
Delisa melirik kearah Angga dengan tersenyum dan kembali menunduk lagi “papa mau keluar kota lagi ya” tanya Delisa yang mulai cemberut.
Angga dan Bella melirik bersamaan, Bella mengangkat alisnya memberi isyarat pada Angga untuk menjelaskan pada Delisa lagi seperti hal biasa mereka lakukan.
Angga menarik napas dan mengaturnya perlahan, walaupun Angga harus mengulang-ulang kembali kata-kata yang sama pada putrinya. Tetap Angga dan Bella selalu menjelaskan pada Delisa agar putrinya mengerti bahwa pekerjaan Angga memang seperti ini.
Bella yang sudah menyelesaikan ikatan rambut Delisa, Angga mengambil tangan putrinya dengan lembut membukakan satu kursi makan dan menyuruh putrinya untuk duduk.
Delisa yang sudah duduk di kursi makan tersebut dengan kepala menunduk ditambah bibir yang cemberut karena tau Angga akan pergi lagi seperti biasanya.
Bella yang berdiri disamping Angga menuangkan air yang ada di dalam teko kegelas Angga dan kembali duduk untuk ikut sarapan bersama.
“Hey putri papa marah lagi ya” tanya Angga menatap Delisa.
bersambung.....