C06 : His Darkest Past

1129 Kata
“Kalau aku bersedia menikah menggantikan Kak Harsa, apa aku punya peluang untuk menjadi pewaris perusahaan?” Ucapan Aska terus terngiang-ngiang di benak Harsa. Kalimat itu bak sirene bahaya di otaknya. “Sialan!” makinya seraya memukul setir yang kini tengah dikemudikannya. Aska, anak itu selalu menjadi ancaman baginya. Harsa selalu saja merasa tidak tenang dan terancam setiap kali Aska mulai masuk ke kehidupannya. Mungkin ini sudah semacam trauma untuknya. Dulu saat bocah itu hadir ke kehidupannya, semua hal di hidupnya mulai berubah. Sikap ayahnya, emosi ibunya, suasana rumah, semuanya berubah. Masa kecilnya yang tadinya hangat berubah menjadi dingin dan mencekam. Itu sebabnya keberadaan Aska di dekatnya membuatnya bersikap waspada tanpa sadar. Harsa merasa takut hidupnya akan dibuat kacau lagi oleh orang itu. Apalagi dia sadar saat ini Aska punya potensi yang besar untuk melakukan hal itu. *** Kejadian pagi tadi membuat Harsa sulit tidur. Seperti biasa, insomnianya kembali kambuh. Memang sudah biasa begini, hanya saja kejadian pagi tadi juga punya andil membuat insomnianya semakin menjadi-jadi. Dengan malas, Harsa bangun dari tempat tidurnya. Tangannya meraih laci meja yang berada tepat di samping tempat tidurnya dan mengambil botol obat di dalam sana. Tanpa pikir panjang ia langsung menuangkan beberapa butir obat dan langsung menenggaknya tanpa air minum. Rasa pahit langsung menyebar di indra pengecapnya, namun tak dihiraukannya. Saat ini fokusnya hanya satu, tidur nyenyak seperti malam itu, malam dimana ia bertemu dengan gadis dengan aroma jasmine bercampur lavender. Harsa pikir insomnianya sudah sembuh sejak malam itu, namun nyatanya tidak. Insomnianya masih saja kambuh, sama seperti malam-malam sebelumnya. Terkadang Harsa lelah, ia lelah menghadapi insomnia yang telah ia derita selama bertahun-tahun. Banyak dokter yang ia datangi, berbagai jenis obat dan resep telah ia coba, tapi hasilnya nihil. Terkadang jika sudah sangat lelah dia akan meminum obat tidur seperti sekarang ini. Sebenarnya hal itu sangat tidak dianjurkan oleh dokternya, tapi saat ini dia hanya ingin tidur dan melupakan semuanya. Namun sering terbesit di benak Harsa, sampai kapan dia akan seperti ini? Sampai kapan dia harus ketergantungan dengan obat tidur ini? Rasanya benar-benar melelahkan... Setelah meminum obat tidurnya, Harsa berniat meletakkannya kembali ke dalam laci tapi matanya justru menangkap benda lain. Sebuah foto perempuan dengan latar belakang kota Paris, lengkap dengan bingkai putih yang masih terpasang rapi. Perempuan itu tampak berpose dengan wajah bahagianya. Harsa masih tercenung menatap foto itu. Tatapannya tampak ragu, namun ia memberanikan diri untuk meraih foto tersebut dan mengamatinya dengan lebih intens. “Gadis jahat...” gumamnya tidak jelas. Bibirnya mengulas senyum tipis yang tampak menyedihkan. Tangannya mengelus permukaan foto dengan begitu lembut, seolah takut foto satu-satunya yang ia punya itu akan tergores. “Puas kamu buat aku begini?” ujarnya lagi, masih dengan senyum menyedihkannya. Sejak keluarganya tak lagi seharmonis dulu, Harsa sudah memutuskan untuk menutup hatinya rapat-rapat. Saat remaja dia tidak tertarik dengan yang namanya cinta, beranjak dewasa dia semakin tidak tertarik karena fokusnya hanya satu yaitu belajar dan bisa mengamankan posisinya sebagai pewaris perusahaan, karena memang itulah yang ditanamkan oleh ibunya sejak ia kecil. Dari dulu ia di-doktrin untuk belajar sekeras yang ia bisa, agar kelak bisa mengambil alih perusahaan. Namun fokusnya sempat teralih ketika ia bertemu dengan perempuan cerewet yang sialnya sekampus dengan dirinya. Namanya adalah Fiona Irawan. Gadis cantik yang merupakan idola kampus. Hidupnya dengan Fiona saat itu berbeda 180 derajat. Fiona si gadis populer, sedangkan dia saat itu hanyalah laki-laki kutu buku yang hobi duduk di perpustakaan selama berjam-jam. Mereka berbeda, namun entah bagaimana gadis itu mampu meluluhkannya. Bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Fiona, membuat Harsa semakin jatuh ke dalam pesona gadis itu. Dulu ia pikir Fiona hanyalah gadis manja yang tidak bisa apa-apa, namun dugaannya salah. Fiona gadis pekerja keras yang berpendirian kuat. Dia juga punya mimpi dan tujuan yang jelas dalam hidupnya, dan hal itu membuat Harsa semakin kagum padanya. Namun Harsa tidak menyangka bahwa mimpi dan tujuan hidup Fiona yang dulu sangat ia kagumi akan menjadi boomerang bagi hubungan mereka. “Aku mau ke Paris,” kata gadis itu dengan binar di matanya. “Mau liburan?” “Bukan.” “Terus ngapain?” tanya Harsa bingung. Gadis itu memberinya kertas tebal bertinta emas dengan nuansa vintage. Harsa menatap kertas itu bingung, tulisan yang tertera di sana menggunakan bahasa Perancis sedangkan dia tidak paham bahasa Perancis. “Aku diterima di salah satu sekolah musik di Paris,” ucapnya riang. Fiona memiliki hobi bermain piano sejak kecil, dia juga sering ikut kursus dan ikut perlombaan piano. Mimpinya adalah menjadi pianist terkenal dan bisa melakukan tour keliling dunia. “Jadi kuliah kamu di sini gimana?” tanya Harsa bingung. “Aku lepas. Dari dulu aku kan pengen banget masuk sekolah musik ini, jelas aku bakal pilih ini,” ucapnya tanpa beban. “Besok aku bakal berangkat ke Paris, kamu temenin aku ke bandara ya?” katanya ceria. Gadis itu tenggelam dengan euforia kebahagiaannya sampai-sampai tidak sadar dengan wajah sendu kekasihnya. Ya, hari itu Harsa merelakan Fiona pergi ke Paris untuk mengejar mimpinya. Mereka LDR, dan semuanya berjalan dengan lancar. Harsa juga sering mengunjungi Fiona ke Paris untuk melepas rindu, dan foto di tangannya ini adalah foto yang ia ambil saat kunjungannya ke sana. Saat itu semuanya masih baik-baik saja, sebaik senyum yang Fiona tampilkan di foto. Tapi setelahnya adalah mimpi buruk bagi Harsa. “Aku mau kita putus.” Harsa tercengang. Jauh-jauh dia datang ke Paris dan justru kata terkutuk itu yang ia dengar. “Apa? Maksud kamu apa?” Nada bicara Harsa sudah terdengar panik. “Aku nggak akan kembali ke Indonesia.” Harsa semakin tercengang, omong kosong macam apa lagi ini? “Aku berhasil raih mimpiku di sini. Aku ketemu pianist idolaku dan dia ajak aku untuk jadi teman kolaborasinya. Aku akan ikut world tour-nya. Itu mimpiku dari dulu, Sa. Kamu tau itu kan?” “Jadi aku mau fokus dan nggak mau ke-distract ke yang lain. Hubungan kita lebih baik sampai di sini aja, terima kasih udah temenin aku sampai sekarang.” Namun kalimat panjang Fiona tidak dibalas Harsa sedikitpun. Dia masih terlalu shock dengan yang terjadi hari ini. Semuanya terlalu tiba-tiba dan tidak masuk akal baginya. “Sekarang aku udah bisa raih mimpiku, aku harap kamu juga bisa raih mimpi kamu...” “Dengan atau tanpa aku,” lanjutnya lagi. Harsa merasa dikhianati. Dia tidak menyangka wanita yang membuatnya percaya akan cinta, wanita yang menjadi penyelamatnya, wanita yang ia kagumi, kini berubah menjadi sosok yang tidak beda jauh dengan sosok ayahnya. Mereka sama-sama pengkhianat. Sudah dua kali ia merasakan mimpi buruk, pertama saat ayahnya membawa anak kecil dan mengatakannya dengan santai bahwa itu adiknya. Kedua, saat kekasih yang katanya mau menemaninya sukses bersama-sama namun memilih pergi demi mimpinya sendiri. Sejak saat itu hatinya sudah benar-benar beku, dan karena dua peristiwa itulah dia jadi mengalami insomnia terkutuk ini. Hidupnya benar-benar kacau dan itu karena dua orang paling penting di hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN