C05 : Her Happy Day

1353 Kata
Meski enggan, Harsa tetap masuk ke dalam lift. Tangannya bergerak menekan tombol dan lift pun tertutup, menyisakan dirinya dan adik tirinya di dalam sana. “Harusnya kamu nggak naik lift ini,” kata Harsa sambil menatap adiknya melalui pantulan lift di depannya. Aska balas menatap kakaknya dengan tampang heran. “Kenapa?” “Karena lift ini khusus untuk petinggi Pramudya Group,” ucapnya tegas dan dingin. Aska mungkin memiliki jabatan yang tinggi di PM Media, anak perusahaan Pramudya Group. Tapi di sini, Aska bukanlah siapa-siapa. Kalimat dingin Harsa membuat Aska tersenyum miring, matanya terus membalas tanpa takut tatapan dingin kakaknya dari pantulan lift. “Tapi aku anak dari ‘petinggi’ di sini. Apa nggak ada pengecualian untuk itu?” Harsa berdecih tidak suka. Anak itu selalu saja menyombongkan statusnya sebagai salah satu bagian dari keluarga Pramudya. Dengan bangganya Aska menggembor-gemborkan bahwa dia adalah anak dari Wira Pramudya dan juga adik dari Harsa Pramudya, dan hal itu benar-benar membuatnya muak. Sampai mati pun Harsa tidak akan mau mengakui anak haram ini sebagai adiknya. “Ada urusan apa kamu ke sini?” tanyanya penasaran. Mata Harsa tadi tidak sengaja menatap tombol 20 yang menyala, tanda bahwa tombol itu sudah ditekan sebelum ia memasuki lift. Itu artinya Aska memiliki urusan di lantai tersebut dan lantai tersebut merupakan tempat dimana ruangan ayahnya berada. Jadi, apa ayahnya yang menyuruh anak haram ini ke sini? “Ada yang perlu aku bicarakan dengan Papa,” jawab Aska santai. “Pembicaraan macam apa?” cecar Harsa. Setiap kali Aska kemari, firasatnya selalu saja tidak enak. “Aku juga belum tau.” Aska menjawabnya dengan begitu santai, namun jawaban santainya itu belum bisa membuat Harsa tenang. “Oh iya, aku dengar kakak menolak perintah Papa untuk menikah. Apa itu benar?” tanya Aska dengan tampang menyebalkannya. “Tapi... bukannya pewaris perusahaan memang diharuskan menikah dan punya anak? Kalau kakak nggak mau menikah lalu siapa yang akan jadi penerus Pramudya Group?” tanyanya dengan nada prihatin yang dibuat-buat. Harsa geram melihatnya. Kalau saja memukul orang di lingkungan kantor diperbolehkan, mungkin dia sudah menghajar laki-laki di depannya ini tanpa ampun. “Kira-kira... kalau aku bersedia menikah menggantikan Kak Harsa, apa aku punya peluang untuk menjadi pewaris perusahaan?” pancing Aska yang sengaja ingin melihat reaksi kakaknya. Harsa semakin geram dibuatnya. Tanpa sadar tangan kanannya sudah mengepal kuat. Kepalan tangannya ini sudah ingin sekali mendarat di wajah adik tirinya. Tapi dia berusaha menahan. Dia tidak mau membuat keributan dan membuat posisinya sebagai calon pewaris perusahaan terancam. “Jangan mimpi kamu,” ucapnya dengan suara yang rendah dan dingin. Melihat reaksi kakaknya yang seperti ingin lepas kendali membuat Aska tersenyum puas. Kakaknya sempurna di mata semua orang. Orang-orang selalu mengatakan Harsa sosok yang sempurna untuk menggantikan posisi ayah mereka. Dia pintar, berkompeten, tegas, serta memiliki skill-skill yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Ayahnya juga selalu membangga-banggakan Harsa pada koleganya di setiap pertemuan perusahaan, sedangkan Aska? Ayahnya bahkan tidak pernah menyebutkan namanya. Sekeras apapun Aska berusaha untuk sebaik mungkin dalam pekerjaannya, namanya tidak pernah disebutkan. Ia selalu menjadi bayang-bayang kakaknya, dan dia benci hal itu. Namun ada satu kelemahan Harsa yang bisa dimanfaatkan Aska, yaitu emosinya. Emosi Harsa yang tidak stabil bisa mengancam posisinya sebagai pewaris perusahaan dan Aska akan lebih sering bermain-main dengan emosi kakaknya untuk membuatnya jatuh. *** Hari ini salon sepi seperti biasanya, itu membuat Nala menghela napasnya pelan. Wajar jika Rani memutuskan untuk menutup usahanya ini, hampir setiap hari tidak ada pengunjung. Sedangkan biaya sewa tempat ini masih harus terus dibayar. Hari ini teman-temannya juga sudah banyak yang tidak masuk kerja. Setelah mendapat pengumuman bahwa seluruh pegawai akan di-PHK karena usaha akan ditutup, mereka memutuskan untuk tidak masuk kerja dan menghabiskan waktu untuk mencari pekerjaan baru. Mata Nala menatap ke seluruh penjuru tempat kerjanya yang tidak terlalu besar itu, kaca-kaca yang berjejer yang setiap paginya selalu ia bersihkan sampai berkilau, juga dengan tempat rias di depan kaca yang selalu ia gunakan setiap hari. Sepertinya dia akan sangat merindukan tempat ini. Tempat ini adalah tempat yang mengajarkannya banyak hal tentang dunia rias. Dari dulu dia memang suka merias dan Rani memberinya kesempatan untuk bisa berkembang di tempat ini, tapi ternyata perjalanannya di sini tidaklah lama. Di saat sedang mengenang masa lalu, pintu terbuka menandakan ada pengunjung yang datang. Seorang wanita dengan penampilan rapi masuk dan memberinya senyum teduh. Nala membalas senyumnya dan mempersilahkannya untuk duduk dengan sopan. Wanita itu lalu duduk, kemudian menjelaskan gaya riasan seperti apa yang ia inginkan. Nala meresponsnya dengan senyum ramah seraya mengangkat tangannya sambil membentuk tulisan “OK”. Wanita terlihat bingung dengan respons yang Nala itu berikan. Dengan cepat Nala mengeluarkan buku catatan kecil di sakunya, kemudian menuliskan sesuatu di sana secepat mungkin. Setelahnya ia menunjukkan isi tulisan itu kepada customer di depannya. “Maaf, saya tunawicara.” Nala dapat melihat keterkejutan di wajah wanita itu, tapi hanya sesaat, setelah itu wanita itu sudah kembali memasang wajah normal. “Tapi apa kamu bisa mengerti ucapanku?” tanyanya sambil berusaha menggunakan isyarat tangan seadanya. Mungkin wanita itu takut apa yang dari tadi ia ucapkan tidak bisa ditangkap dengan baik oleh Nala. “Saya bisa membaca gerak bibir,” tulis Nala pada catatan kecilnya. Wanita itu menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah itu Nala mulai melakukan pekerjaannya dengan tenang. Ia memoles wajah customer-nya dengan luwes, sesekali dia akan menanyakan sesuatu melalui buku catatannya, seperti “Apakah gaya riasan di mata sudah sesuai?” atau “Apakah mau menggunakan warna eyeshadow yang lain?” Menulis pertanyaan melalui catatan sembari fokus pada riasan memang agak merepotkan, tapi Nala sudah terbiasa dan para customer-nya selama ini juga tidak ada yang keberatan. Nala bersyukur mereka mau mengerti dengan keterbatasannya ini. Beberapa jam kemudian riasan pun selesai. Wanita itu diam mengamati tampilannya di depan cermin, dan seutas senyum mulai muncul di wajahnya, membuat Nala tanpa sadar ikut tersenyum. “Riasanmu bagus,” puji wanita itu membuat Nala tersenyum malu. “Aku benar-benar puas dengan hasilnya, dan sepertinya besok aku akan datang lagi.” Mendengar hal itu membuat wajah Nala murung. Dia senang karena salon ini mendapatkan customer yang puas dan juga loyal, tapi di sisi lain dia juga sedih karena customer ini tidak akan pernah bisa kembali lagi karena besok tempat ini tidak akan beroperasi lagi. Nala buru-buru menuliskan sesuatu di catatan kecilnya, berusaha memberitahu si customer bahwa tempat ini akan ditutup besok. Si customer membaca catatan itu dengan wajah tercenung. “Ditutup? Kenapa?” tanyanya penasaran. “Ini keputusan dari si pemilik,” tulis Nala lagi. Tadinya Nala ingin mengatakan alasan tempat ini ditutup tapi dia merasa itu bukan haknya untuk memberitahukan hal itu. Wanita itu terlihat agak kecewa, dia kecewa karena terlambat menemukan tempat ini. Meski tempat ini berada di tempat yang tidak terlalu strategis bahkan jauh dari kesan high class, namun hasil riasannya benar-benar bagus dan tidak kalah dengan salon terkemuka yang pernah ia datangi. “Ini kartu namaku,” ujar wanita itu sambil menyodorkan kartu nama miliknya kepada Nala. Nala menerimanya dengan tampang bingung. Ia pandangi kartu nama itu dengan saksama. Wina Gracia Head of Hair & Make up Department At PM Media Sebelah tangannya menutup mulutnya tidak percaya. PM Media adalah perusahaan agensi hiburan terbesar di Indonesia, dan dia benar-benar merasa terhormat karena petinggi PM Media pernah menggunakan jasanya. “Aku merasa kamu punya potensi di bidang tata rias, dan kebetulan aku butuh tim di departemen yang saat ini sedang aku pimpin. Aku kamu berminat untuk bergabung?” Nala langsung mengangguk antusias. Bekerja di salah satu agensi hiburan terbesar di Indonesia merupakan impiannya dari dulu. Dia ingin riasannya digunakan oleh selebriti papan atas dan diakui oleh banyak orang, dan kini kesempatan itu telah ada di depan matanya. “Kalau begitu besok lusa kamu bisa datang ke kantor PM Media, kamu bisa lihat alamatnya di bagian belakang kartu namaku. Jangan lupa bawa berkas-berkas yang biasa kamu gunakan untuk melamar kerja,” pinta Wina. Nala mengangguk patuh dengan senyum yang masih mengambang sempurna. “Kalau begitu sampai ketemu besok lusa.” Wanita itu lalu pamit pergi. Sedangkan Nala masih setia di posisinya dengan senyum yang masih mengembang bahkan ketika wanita itu sudah tidak nampak lagi. Sepertinya dia terlalu bahagia sampai-sampai lupa caranya berhenti tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN