Merasa putus asa, Nala pun berhenti berontak. Lagipula dia juga sudah kehabisan tenaga. Kini ia sudah pasrah berada di bawah tindihan pria asing yang sialnya sedang mabuk itu. Air matanya mulai menetes dan makin deras begitu dirasakannya tangan pria mabuk itu yang semakin memeluk pinggangnya erat.
Namun setelah beberapa saat, Nala tidak lagi merasakan pergerakan pria di atasnya. Pelukan di pinggangnya juga sudah mulai mengendur. Ia juga merasakan nafas beraturan pria itu di leher jenjangnya hingga menimbulkan sensasi hangat.
Tunggu, apa pria ini tidur?
Nala sedikit menjauhkan wajahnya, dan benar saja, pria itu memang sedang tertidur di atas tubuhnya.
Helaan napas lega keluar dari bibir mungilnya. Tuhan menyelamatkannya kali ini. Tidak mau membuang-buang kesempatan, Nala pun berusaha kabur karena dia tidak tahu sampai kapan pria ini akan tertidur.
Dengan hati-hati Nala mencoba melepaskan tangan kekar itu dari pinggangnya. Setelah itu ia coba mendorong tubuh besar pria itu dari atas tubuhnya dengan hati-hati.
Berhasil!
Nala tersenyum lega. Ia lalu berusaha bangkit dari tempat tidur, namun ketika kakinya baru akan mencapai lantai, tangannya sudah ditarik dengan kuat hingga membuatnya kembali terbaring ke tempat tidur.
Pria itu lagi-lagi sudah mendekapnya, kali ini lebih kuat karena Nala sampai merasakan pinggangnya sakit karena dipeluk terlalu erat. Nala berusaha berontak tapi kali ini pelukannya jauh lebih kuat dibanding sebelumnya.
Bermenit-menit ia mencoba melepaskan diri, namun tak membuahkan hasil. Apa boleh buat, sepertinya dia harus bermalam seperti ini. Dia harus sabar dengan posisi ini sampai ia kembali mendapatkan kesempatan untuk meloloskan diri.
***
Sinar matahari yang masuk menembus jendela membuat sesosok pria yang tengah tertidur pulas menggeliat tidak nyaman. Ia membuka matanya sedikit dan mendapati dirinya berada di ruangan yang asing baginya.
Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan berusaha mengingat kenapa dia bisa berada di sini. Selain itu dia juga merasakan sesuatu yang kosong. Dia merasa seperti ada yang hilang, tapi dia tidak tahu apa itu.
“Aroma apa ini?” gumamnya ketika hidungnya mencium aroma yang cukup familiar.
Aroma ini seperti aroma bunga, tapi ia tidak tahu pasti bunga jenis apa itu. Apa itu jasmine? Atau lavender? Entahlah, Harsa juga tidak terlalu mengerti tentang spesies bunga. Tapi aroma ini begitu melekat di benaknya.
Harsa terus memperhatikan setiap sudut ruangan sambil berusaha mengingat-ingat dari mana aroma ini berasal serta apa yang menyebabkannya berada di sini semalaman.
Ketika sedang memperhatikan ruangan, matanya tidak sengaja menatap botol-botol alkohol yang berserakan di lantai kamarnya. Harsa berdecak keras, semalam ia minum seperti orang kesetanan, pantas ia sampai mendadak amnesia begini.
Tapi ada yang aneh dengan kondisi tubuhnya hari ini. Hari ini tubuhnya terasa lebih segar dibanding biasanya. Mungkin karena semalam dia bisa tidur dengan nyenyak, berbeda dengan malam-malam biasanya.
Padahal normalnya, mau semabuk apapun dirinya, dia tetap tidak akan bisa tidur sebelum jam 3 pagi. Biasanya dia selalu tidur saat menjelang subuh. Hal ini terjadi karena insomnia yang dideritanya. Sudah bertahun-tahun Harsa menderita insomnia.
Pola tidur yang buruk membuat tubuhnya lelah. Tidak hanya itu, mood-nya pun juga sering berantakan hingga membuat dirinya dicap sebagai laki-laki yang punya tempramen buruk.
Tapi tidak masalah, Harsa juga tidak keberatan disebut begitu karena memang begitulah kenyataannya. Kondisi insomnia-nya ini memang membuatnya sulit mengendalikan emosi.
Tapi semalam, untuk pertama kalinya ia bisa tidur dengan begitu lelapnya dan Harsa penasaran apa yang membuatnya bisa tidur sampai senyenyak itu?
Mata Harsa kembali mengitari penjuru ruangan, dan tatapannya jatuh pada secarik kertas di meja sudut ruangan. Ia langsung bergerak mendekati meja itu dan meraih kertas yang berisi tulisan tangan yang khas.
“Terima kasih karena tidak melakukan hal buruk padaku semalam, dan maaf karena aku pulang tanpa pamit.”
Ujung bibir Harsa berkedut tanpa sadar. Dia ingat semuanya sekarang.
Tentang wanita itu...
Pelukan hangat mereka sepanjang malam...
Dan juga aroma menenangkan yang menguar dari tubuh wanita itu...
Bayangan tentang kejadian semalam memang belum sepenuhnya jelas. Wajah gadis itu juga masih belum bisa Harsa ingat dengan jelas. Tapi untuk aroma melati bercampur lavender semalam masih sangat segar di indra penciumannya. Bahkan aroma itu masih tertinggal di tempat tidur mereka.
Dengan senyum yang masih mengembang, Harsa berjalan kembali menuju tempat tidur. Tangannya bahkan masih setia menggenggam kertas yang ditulis oleh si wanita semalam.
Tanpa berlama-lama ia langsung melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang dipenuhi dengan aroma melati bercampur lavender.
Aroma ini...
Aroma yang sukses membuatnya tidur nyanyak semalaman...
Dan siapa nama wanita itu? Ibunya sudah menyebutkan namanya berkali-kali tapi Harsa selalu saja lupa—ah bukan lupa, lebih tepatnya memang dia yang tidak mau memperhatikan. Tapi sekarang dia malah penasaran setengah mati! Apa ini yang disebut karma?
***
Nala sampai di rumah pagi-pagi sekali, dan dia hanya rehat sebentar karena setelah itu dia harus masak untuk sarapan, lalu mandi dan kembali bekerja seperti biasanya. Ngomong-ngomong soal kerja, hari ini merupakan hari terakhirnya bekerja. Biasanya tiap pagi Nala selalu semangat untuk pergi bekerja, tapi tidak untuk pagi ini.
"Gimana rasanya 'menghabiskan' malam bersama pewaris Pramudya Group?” tanya Gista yang saat ini sudah duduk manis di depan Nala.
Nala yang bisa membaca gerak bibir Gista dengan jelas berusaha untuk mengabaikannya. Dia yakin Gista sengaja mengatakan hal ini untuk membuatnya merasa semakin murahan.
Tapi Gista tidak menyerah, ia bangkit dan memaksa Nala untuk menatapnya lekat-lekat. “Cerita dong, jangan pelit gitu. Gimana? Lo pasti seneng kan? Pasti seneng lah, kapan lagi kan bisa tidur sama konglomerat,” ucapnya semakin membuat Nala muak.
Lagi-lagi Nala berusaha menghindar. Lagipula tidak ada gunanya meladeni Gista. Saat ini dia hanya ingin pergi bekerja dengan cepat agar tidak perlu bertemu dengan budenya.
Nala tidak mau budenya bertanya macam-macam soal kejadian semalam. Jika itu terjadi Nala mungkin akan kebingungan menjawab. Kalau dipikir-pikir rencana budenya semalam bisa dibilang gagal.
Nala mungkin sukses menyembunyikan fakta bahwa ia bisu, tapi sayangnya laki-laki itu juga sepertinya tidak sadar akan keberadaannya semalam. Itulah sebabnya pagi tadi ia menyempatkan menulis catatan—sebagai bukti bahwa ia benar-benar datang. Namun isi catatan itu sebenarnya bukan sekedar formalitas saja karena kenyataannya isinya benar-benar ia tulis sesuai kata hatinya.
Ya, dia memang sangat berterima kasih karena semalam pria itu tidak melakukan hal buruk padanya...
***
Paginya Harsa datang ke kantor dengan suasana hati yang baik. Wajahnya begitu cerah hingga membuat para pegawainya menatap dirinya keheranan.
Harsa yang merupakan CEO Pramudya Group yang terkenal dengan image-nya yang dingin dan kejam. Mereka yang telah bekerja bertahun-tahun bersama Harsa hampir tidak pernah melihat bosnya itu dalam keadaan mood yang bagus.
Suasana hatinya selalu saja buruk, tiap pagi selalu ada saja yang dikeluhkan oleh bosnya. Tapi berbeda dengan hari ini, aura Harsa hari ini benar-benar cerah. Harsa bahkan menyempatkan diri membalas sapaan bawahannya. Pemandangan yang benar-benar langka.
Tapi sayangnya mood baiknya hari ini tidak berlangsung lama. Raut wajah Harsa berubah bertepatan dengan pintu lift yang terbuka dan menampilkan sosok yang tidak ingin dilihatnya.
“Pagi...” sapa pria di dalam lift. “Kak Harsa,” lanjutnya yang kali ini diiringi dengan senyum miring di bibirnya.
Harsa menatapnya datar, enggan memberi reaksi. Paginya yang cerah kini berubah buruk karena sosok di depannya ini.
Sosok yang tiba-tiba hadir di tengah keluarganya di saat usia Harsa masih 8 tahun. Sosok tidak tahu malu yang telah menghancurkan kebahagiaan Harsa dan ibunya.
Sosok itu adalah Askara Pramudya—si anak haram, hasil hubungan Wira Pramudya dengan wanita simpanannya.