Pandangan Bara tak lepas dari perempuan yang duduk di depannya, Hanna terus saja menoleh ke samping terlihat enggan menatapnya. Pandangan Bara beralih pada sebuah koper hitam tepat di samping Hanna, detik berikutnya dia tertawa.
Ketika harus mengingat kembali kejadian beberapa menit lalu, saat dirinya memergoki Hanna tengah diam-diam meninggalkan hotel.
“Sudah kubilang, 'kan? Tidak ada pembatalan kontrak. Kau juga tidak bisa memutuskan kontrak secara sepihak, setelah gagal membujukku, lalu kini kau mencoba untuk kabur?” Bara meletakkan kedua tangannya ke meja sembari memajukan tubuhnya sedikit, kemudian menatap serius pada Hanna.
“Dengar, Hanna ... “
Hanna memicingkan mata. “Namaku Daisy,” selanya.
Bara mengangkat salah satu alisnya. “Bukankah itu sama saja?"
Mereka sama-sama tak ingin mengalah, terus memandang tajam satu sama lain. Namun, Hanna memilih untuk memalingkan wajah kembali. Ia masih kesal ketika rencananya gagal, waktu telah berlalu setengah jam dari waktu penerbangan menuju London.
Setelah Bara memergokinya hendak keluar hotel, pria itu membawanya ke sebuah restoran. Dan Bara terus menerus tersenyum mengejek padanya, hal itu tentu membuat Hanna semakin jengkel.
“Aku tidak mengerti mengapa kau berusaha keras untuk pergi, kau tidak takut bila aku membuat masalah ini menjadi serius?”
Hanna melirik ketika suara Bara kembali terdengar, ia sempat terkejut. Namun, berhasil menguasai ekspresimya. Hanna sudah memperkirakan semua ini, sehingga kini ia menggeledah isi tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal.
Bara mengernyit, menatap bingung pada amplop coklat yang kini berada di depannya.
"Uang ganti rugi," tutur Hanna sesaat sebelum Bara membuka mulut.
Bibirnya mengulas senyum miring, Bara mengambil amplop tersebut untuk kemudian dibukanya sedikit, mengintip kebenaran dalam perkataan Hanna.
"Aku akan mengganti sisanya nanti," lanjut Hanna pelan.
Ia menunduk, tidak berani melihat respons yang akan Bara berikan. Apakah pria itu akan melemparkan amplop tersebut ke wajahnya? Atau mungkin mengatakan kalimat-kalimat kasar yang akan mempermalukannya?
Hanna tidak mempersiapkan hatinya untuk itu, sehingga yang bisa dirinya lakukan hanya memejamkan mata. Namun, belum sempat hal itu ia lakukan. Amplop itu sudah kembali ke mejanya, Hanna mendongak.
"Simpan itu dan jangan pernah ulangi," ujar Bara tegas.
"Ada beberapa hal yang tidak bisa kau beli dengan uang, salah satunya adalah waktu. Apa kau tidak pernah memikirkan bagaimana usaha orang-orang demi acara itu berhasil? Bukan perkara uang yang aku khawatirkan, tetapi ketika kerja keras mereka berakhir sia-sia."
Perkataan Bara berhasil membuat Hanna tertegun, seolah menampar dirinya. Ingatannya melayang pada masa lalu, saat-saat di mana ia berusaha keras untuk terlihat di mata orang-orang kala memulai berkecimpung di dunia model.
"Besok pagi, datanglah ke kantor. Kita akan mulai rapat pembahasan," ucap Bara.
Hanna mendongak, menatap Bara yang tengah menyeruput kopi yang dipesannya. Hanya anggukan kepala yang mampu Hanna perlihatkan, ia melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, sudah sangat terlambat untuk pergi ke bandara.
Kini pikirannya mulai bercabang, memikirkan banyak hal dalam satu kepala. Hanna tidak mungkin terus menerus tinggal di hotel, ia rasa Mario pun tidak akan kembali ke sana. Apa dirinya harus melaporkan Mario untuk kasus orang hilang? Tapi bagaimana jika masalah justru semakin rumit.
Belum lagi uang yang Hanna miliki tinggal sedikit, mungkin bisa untuk menginap di hotel lain selama dua hari. Ponsel yang berdering membuatnya bergerak cepat, tetapi raut wajah penuh harap itu berubah lesu ketika bukan nomor yang ia inginkan yang muncul.
Hal itu tak luput dari perhatian Bara, untuk orang yang cukup peka sepertinya, dia tahu ada sesuatu yang salah dengan Hanna. Terlihat dari ekspresi gelisah yang selalu diperlihatkan sejak masih di hotel, bahkan kini perempuan itu tampak tidak fokus.
"Saya akan pergi lebih dulu, terima kasih atas coklat hangatnya."
Hanna berdiri, memegang kopernya dan kemudian menariknya pergi dari sana. Bara segera mengeluarkan selembar uang kertas dari dompet dan meletakkannya di atas meja, setelah itu menyusul langkah cepat Hanna.
Perempuan itu berada beberapa langkah di depannya, sangat dekat, tetapi rasanya sulit sekali untuk digapai. Pernah merasakan perasaan itu? Ya, kini Bara yang merasakan sendiri perasaan yang membuatnya ragu. Tidak ada lagi yang bisa memisahkan mereka, dia telah berhasil mengatasi satu masalah.
Akan tetapi, sekali lagi Bara tidak berani mendekat. Dia lebih memilih untuk melihat Hanna dari belakang, lebih tepatnya memperhatikan ke mana perempuan yang berjalan di trotoar itu akan pergi.
Suasana malam ini begitu sunyi tak biasanya, kendaraan yang lewat hanya satu-dua saja. Jalanan sepi dan pelannya laju kendaraan membuat lelaki di balik kemudi itu mengantuk, secangkir kopi ternyata tidak berefek banyak kepadanya.
Perempuan itu masih di sana, berjalan pelan tanpa ada tujuan. Bara mengatakannya seperti itu karena Hanna tidak kembali ke arah jalan hotel berada, entah akan pergi ke mana langkah lemah itu.
Waktu telah berlalu lima belas menit semenjak mereka keluar restoran, dan Bara masih setia berada di dalam mobil tanpa berniat menghampiri Hanna. Kilatan petir yang menyambar di langit gelap disusul suara gemuruh, mengejutkan kedua anak manusia itu.
Bara melirik ke arah Hanna yang terlihat membeku di tempatnya, dia menghela napas dan memutuskan untuk melajukan kendaraannya, kemudian berhenti tepat di samping Hanna.
Bunyi klakson yang cukup keras membuat Hanna terperanjat, sebuah mobil yang tak asing dengan pengemudi yang sama telah berada di depannya. Keningnya berkerut heran, tentang keberadaan Bara yang mengetahui tempatnya.
"Masuk!"
Belum sempat mulutnya terbuka, Bara lebih dulu berbicara. Namun, pria itu tidak menatapnya. Hanna mendengus dan memutuskan untuk kembali berjalan, mengabaikan seruan Bara di belakang sana.
Bunyi klakson mobil mengiri langkah Hanna, seolah tak lelah si pengemudi terus saja menekannya dan berhasil membuat Hanna jengkel. Beberapa pejalan kaki yang melintas, terlihat memandang ke arah mereka.
Dengan satu tarikan napas kuat, Hanna memutuskan untuk mengikuti apa yang Bara katakan.
"Jangan merasa berbunga-bunga, aku memberimu tumpangan bukan karena ada maksud tertentu. Orang-orang bisa salah paham dan menuduhku, bila sesuatu terjadi kepadamu. Karena akulah orang terakhir yang bersamamu."
Itu adalah kalimat yang Bara katakan tepat setelah Hanna mendudukkan bokongnya di samping kemudi, ia melirik sekilas sebelum kembali keluar ketika melupakan kopernya yang masih berada di tempatnya tadi berdiri.
Ketukan pada kaca mobil membuat Bara menoleh, terlihat Hanna memberinya kode dengan gerakan tangan kanan yang melambai ke bawah.
"Bisa tolong buka bagasi mobilnya?" tanya Hanna.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Bara keluar dari mobil, lalu mengambil alih koper Hanna dan membawanya pergi ke bagasi. Rintik-rintik hujan mulai turun disusul air mendadak deras, sontak saja Bara dan Hanna terkejut.
Setelah memastikan bagasi tertutup dengan benar, Bara berlari dan masuk kembali ke mobil. Hal serupa dilakukan oleh Hanna, napas mereka sama-sama memburu dengan keadaan pakaian yang sedikit basah.
Udara di dalam mobil kembali normal saat Bara menonaktifkan pendingin kabin (air conditioner/AC), dia menoleh ke arah Hanna sebelum menyalakan mesin mobil. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, mereka sama-sama memilih diam dengan pikiran masing-masing.
Bara terus memandang sekitar, memastikan setiap tempat yang dilewati. Sampai akhirnya sebuah bangunan tinggi di antara bangunan lainnya mulai terlihat, dia membanting setir mobil dan memasuki pekarangan hotel.
Di sisi lain, Hanna terlihat bingung ketika Bara membawanya ke hotel lain. Hotel yang jaraknya tidak terlalu jauh dari restoran tempat Bara membawanya tadi.
"Keluar," kata Bara yang telah keluar dari mobil lebih dulu
"Tunggu! Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Hanna sembari menahan tangan Bara yang hendak menutup pintu.
Bara melepaskan tangan Hanna dengan canggung.
"Jangan kira aku tidak tahu, kau sudah melakukan check out, 'kan?"
Hanna terdiam, ia lupa dan kini merasa menyesal dengan tindakannya yang gegabah. Terlalu larut dalam lamunan membuat Hanna tak menyadari bahwa Bara tengah menatapnya, tak ada ekspresi berarti yang diperlihatkan.
"Kau akan terus berada di situ?"
Suara itu menyadarkan Hanna, bergegas ia keluar dari mobil dan hendak berjalan menuju bagasi.
"Cepatlah! Kau lamban sekali," sindir Bara yang sudah berjalan lebih dulu.
Sebuah koper terlihat di tangan kiri Bara, pria itu tampak berjalan tenang sembari menarik koper.
•
"Jangan coba-coba untuk kabur lagi."
Itu adalah kalimat pertama yang dikeluarkan Bara, ketika mereka tiba di kamar hotel yang telah pria itu pesan. Hanna berdiri canggung di samping Bara, di sisi lain pria itu terlihat bersikap biasa saja, seolah tidak ada yang salah dengan yang dilakukannya.
"Kau seharusnya tidak perlu sampai seperti ini," ucap Hanna pelan tertunduk malu.
Bara memasukkan kedua tangannya pada masing-masing saku celana, dia melirik sekilas pada kamar di samping kamar hotel tempat Hanna menginap. Sebelum kembali memalingkan wajah.
"Lain kali, jangan bertindak gegabah. Bila ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, katakan saja. Kau tidak akan tahu yang terjadi nanti," ujar Bara.
Hanna menoleh, menatap lekat pada pria yang enggan menatapnya.
"Kenapa kau seperti ini? Aku tahu kau tidak menyukaiku."
Bara tersentak, dia melirik sekilas sebelum kembali pada pandangan sebelumnya.
"Masuklah, aku akan menghubungi lagi nanti. Besok bawalah manajer mu, ada beberapa hal yang harus aku jelaskan kepadanya."
Hanna mendongak saat kalimat itu masuk ke telinganya, ia terdiam. Dirinya saja tidak tahu keberadaan Mario, bagaimana mungkin membawanya besok.
"Masalah itu ...."
Mulutnya terkunci, kalimat yang telah disiapkan melebur dan tak sempat keluar.
"Baiklah." Akhirnya hanya kata itulah yang keluar.
Pintu di depannya berhasil terbuka menggunakan kartu akses, Hanna membawa koper masuk bersamanya.
"Terima kasih," ucapnya pelan sebelum menutup pintu.
Waktu ternyata bisa mengubah suasana hati begitu cepat, Bara tidak percaya bahwa efek yang dihasilkan oleh perempuan itu jauh lebih besar dari dugaannya.
Untuk beberapa saat, Bara tak mengalihkan pandangan pada pemandangan luar hotel di depannya. Dia tidak segera pergi setelah keluar dari sana, melainkan duduk di kemudi dengan pandangan yang tak lepas dari tempat itu.
Wajah tanpa ekspresinya seolah hanya berisi pikiran yang kosong, padahal banyak sekali pikiran yang bercabang di kepalanya. Mesin mobil menyala, bersamaan dengan mobil yang mulai meninggalkan area hotel, segaris senyum aneh terlihat di wajahnya.