Ruangan tempat Samir berada tinggal beberapa langkah dilewati, tetapi perasaan ragu tiba-tiba muncul di benak Hanna. Ingatan terakhir kali membawanya pada rasa bersalah tak berujung, Hanna takut kondisi papa malah memburuk ketika melihatnya. Sehingga kini ia terdiam, membiarkan prasangka buruk memenuhi isi kepala. Sementara itu, Bara yang baru sadar tidak mendengar langkah lain di belakang sontak menoleh. Hanna terdiam beberapa langkah di depannya, Bara mengernyit sebelum menghampiri. “Ada apa?” tanyanya. “Bara, aku belum siap. Aku takut bila kondisi papa justru memburuk, bisakah aku tetap menunggu di sini?” sahut Hanna sembari menatapnya dengan memohon. Bara terdiam beberapa saat, lalu menghela napas dilanjut mengangguk. “Baiklah, aku tidak akan memaksa. Kau bisa menunggu di taman ru

