Fitnah yang memecat Alya
Pagi di Jakarta selalu dipenuhi dengan kesibukan. Hiruk-pikuk kendaraan, suara klakson bersahutan, dan orang-orang berjalan cepat menuju kantor masing-masing. Di tengah semua itu, Alya turun dari ojek online di depan gedung perkantoran tempatnya bekerja, PT Mandala Jaya, sebuah perusahaan distribusi barang elektronik yang cukup besar.
Sejak dua tahun lalu, Alya bekerja di perusahaan ini sebagai staf administrasi senior. Pekerjaan ini bukan impian, tapi cukup untuk membiayai hidupnya di kota besar.
Dengan langkah percaya diri, Alya memasuki kantor. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda. Rekan-rekan kerjanya menatapnya dengan cara aneh, bisik-bisik terdengar saat ia lewat.
Alya mengerutkan kening. Ada apa ini?
Begitu sampai di mejanya, ponselnya bergetar. Nama Pak Surya, manajernya, muncul di layar.
“Alya, tolong ke ruang meeting sekarang.”
Jantung Alya berdegup kencang. Kenapa tiba-tiba?
Dengan langkah cepat, ia menuju ruang meeting. Saat masuk, ia mendapati Pak Surya, Bu Reni dari bagian keuangan, dan Dina, rekan kerja yang sejak awal tak pernah akur dengannya.
“Alya, silahkan duduk,” ujar Pak Surya, suaranya berat.
Alya duduk dengan punggung tegang. “Ada apa, Pak?”
Bu Reni melemparkan beberapa dokumen ke hadapannya. “Tolong jelaskan ini.”
Dengan tangan gemetar, Alya membuka dokumen-dokumen itu. Matanya membelalak saat melihat beberapa bukti transaksi keuangan mencurigakan yang menggunakan akun atas namanya. Sejumlah besar dana perusahaan ditransfer ke rekening yang tidak dikenalnya.
“Saya tidak pernah melakukan ini!” suara Alya bergetar.
Pak Surya menatapnya tajam. “Tapi tanda tangan ini milikmu.”
Alya menatap tanda tangan yang tertera di dokumen itu. Memang mirip dengan miliknya, tetapi ia yakin itu dipalsukan.
“Seseorang pasti sudah menjebak saya! Saya tidak tahu apa-apa tentang transaksi ini!”
Dina, yang duduk di seberang meja, tersenyum tipis. “Alya, kalau memang kamu melakukannya, lebih baik ngaku aja. Jangan buat masalah makin panjang.”
Alya menoleh tajam. “Aku nggak melakukan ini, Dina!”
Pak Surya menghela napas panjang. “Kami tidak bisa membiarkan ini berlalu begitu saja. Sampai penyelidikan selesai, kamu dinonaktifkan dari perusahaan.”
Alya terdiam. Dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. “Jadi… saya dipecat?”
Pak Surya menunduk. “Maaf, Alya.”