"Aku pasti pulang, tapi nanti." Elea coba bernegosiasi kepada sang kakak. "Kapan?" tanya Adlan yang masih fokus pada padatnya jalanan ibu kota. "Nggak tau. Mungkin sampai aku bisa merasakan gajian pertama, gaji yang akan aku berikan kepada om Arga sebagai tanda terima kasih. Bisa jadi minggu depan." "Minggu depan? Emangnya udah gajian?" "Udah, gajiku per dua minggu sekali." "Benar minggu depan?" ulang Adlan untuk memastikan. "Iya, Kak." "Kalau bisa secepatnya." "Aku usahakan. Aku juga nggak bisa tiba-tiba pergi begitu aja. Aku butuh waktu untuk berterus terang, terutama mengumpulkan keberanian. Aku harus mempersiapkan diri untuk menerima kemarahan om Arga." "Kalau dia marah, wajar. Yang penting kamu udah berusaha berterus terang, minimal kamu punya nilai positif lah walau sedikit.

