Kesepakatan

1384 Kata
Menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhinya mereka pun sampai di tempat tujuan. Arga segera keluar dari mobil, berlari ke dalam rumah dengan diikuti oleh Beni dari belakang. "Lea!" Arga memanggil sambil berjalan cepat menuju dapur, lalu mencarinya di dalam kamar mandi, tetapi tidak menemukannya. "Kemana dia?" gumam Arga sambil berkacak pinggang, lalu setelahnya ia kembali ke ruang tengah, menemui Beni. "Ada nggak?" tanya Beni. Arga menggelengkan kepalanya. "Nggak ada." "Ke mana tuh bocah?" Raut wajah mereka berdua berubah panik. Bagaimana tidak, kecantikan yang Elea miliki, dikhawatirkan akan memancing Leo si pria b******k itu untuk melakukan sesuatu hal yang tidak diinginkan. Diculik misalnya, atau mungkin dijadikan b***k, karena dendam kepada Arga. Terus berpikir, hingga akhirnya ia ingat telah melupakan satu tempat, yaitu kamar. Arga berjalan menuju tempat tersebut, lalu membuka pintunya secara tiba-tiba dan Elea yang hendak membuka handuk pun langsung menjerit. "Aaa!" Cepat-cepat Arga menutup kembali pintu kamar, dengan deru napas yang memburu ia berdiri sambil mengusap d**a. "Kenapa? Tuh anak ada di dalem?" tanya Beni lagi. Arga mengangguk. "Iya." "Syukur deh." Beni menghembuskan nafas lega. Namun, saat melihat raut wajah Arga yang berubah dalam sekejap, membuat Beni penasaran dan ingin bertanya lagi. "Tapi, ngomong-ngomong dia lagi ngapain di dalem? Kenapa muka lu langsung beda gitu?" "Nggak, dia lagi mau ... pake baju," ucapnya sedikit terbata. Beni mengangguk-anggukan kepalanya. "Pantesan." "Pantesan apa?" Dahi Arga mengerut. "Lu habis liat ...." Belum selesai satu kalimat diucapkan, Elea membuka pintu kamar. Dia berdiri di sana sambil mengenakan kemeja putih milik Arga yang kedodoran, juga rambut panjangnya yang basah dibiarkan terurai ke depan. "Ga, ini bahaya. Lu nggak boleh tidur di rumah," gumam Beni dengan suara pelan. Tanpa menghiraukan ucapan Beni, Arga langsung mengajukan pertanyaan kepada Elea dengan nada tegas. "Ke mana aja lu hari ini?" "Nggak ke mana-mana." "Bohong?" "Nggak, ngapain bohong? Tau daerah sini aja nggak." "Terus, tadi ada orang ke rumah?" tanyanya lagi. "Nggak ada." "Atau kamu ketemu orang di luar rumah? Orang lewat misalnya." "Nggak juga. Aku di dalem terus dari pagi, kan Om yang nyuruh." Jika ucapan Elea benar, bagaimana Leo bisa tahu kalau di rumahnya ada seorang gadis? Keduanya merasa bingung. Saat Arga melihat ke arah Beni, Beni menggidikkan bahunya tidak tahu. "Kalian kenapa, sih?" tanya Elea penasaran tatkala melihat ekspresi keduanya yang aneh. "Nggak kenapa-kenapa," jawab Arga. Melupakan masalah Leo, Arga bertanya kepada gadis itu mengenai kemeja yang dipakai. "Kenapa lu pake kemeja gue?" "Bajuku kotor, jadi aku pake aja yang ada di lemari." "Tapi itu kan baju gue." "Habisnya nggak ada lagi. Kalau nggak pake ini, aku pake baju yang mana? Masa aku mandi tapi nggak ganti baju?" Beni menepuk pundak Arga, seraya berkata, "PR buat lu, Ga. Beliin tuh bocah baju. Masa mau pake kemeja lu melulu, gue rasa nggak bakal aman. Nggak yakin lu bakal tahan." Dengan gerakan cepat Arga mengeplak kepala Beni, hingga ia meringis memegangi kepalanya. "Sialan, lu!" "Pulang sono! Lu kebagian buka bengkel pagi-pagi." "Iya, iya." Setelah bicara dengan Arga, Beni melihat ke arah Elea, lalu berkata, "Hati-hati, ya. Diem-diem Arga suka gigit." Elea tersenyum sambil sambil menautkan rambut panjangnya ke belakang telinga. "Oh, iya. Arga punya duit banyak tuh. Minta beliin baju sama dia." "Iya, kalau nggak mau beliin aku baju, biarin uangnya aku rampok." "Cakep," balas Beni seraya mengacungkan dua jempolnya. Tanpa berkata, Arga mendorong tubuh Beni menuju pintu, lalu menendang bagian belakangnya hingga tubuhnya terhuyun beberapa langkah ke depan. "Giliran yang kayak gini aja lu nyuruh gue pulang." Tanpa memberikan respon, Arga menutup pintu rumah, lalu melihat ke arah Elea yang masih berdiri di tempat yang sama. "Kenapa Om liatin aku kayak gitu?" tanya Elea seraya menurunkan ujung kemeja, untuk menutupi bagian pahanya yang terbuka. Risih memang, tetapi mau bagaimana lagi, Elea tidak menemukan celana panjang yang pas. Semua celana panjang milik Arga kedodoran dan itu akan percuma jika dipakai. Jadi, mau tidak mau Elea pun memilih celana pendek yang memang hampir tidak terlihat dari luar. Sambil mengeluarkan rokok dari dalam saku celana, ia menjawab, "Nggak apa-apa." Arga menghidupkan rokok tersebut, lalu memilih duduk di kursi untuk menenangkan diri, sambil memikirkan urusannya dengan Leo juga perasaan yang lain. Bukan pria normal jika dihadapkan dengan pemandangan indah seperti sekarang ini, lalu ia tidak merasakan apa-apa. Minimal jantungnya berdebar tidak beraturan atau mungkin menjadi gugup. "Om, boleh aku minta sesuatu?" tanya Elea, menyadarkan Arga dari lamunan. "Minta apa?" "Aku lapar, Om." "Lu belum makan?" Elea menggelengkan kepalanya. "Belum." "Dari kapan?" "Dari pagi." "Serius, Lu?" Kedua mata Arga terbuka lebar. Itu artinya, sejak pagi Elea menahan lapar selama empat belas jam. "Serius. Emang Om punya stok makanan di rumah? Di mana naronya? Aku cari-cari kok nggak ada?" "Nggak ada, gue kehabisan duit," jawabnya singkat. Arga menghisap rokoknya, lalu membuang asapnya jauh ke udara. "Sekarang udah punya uang, kan? Ayo beliin aku makanan, Om. Nasi goreng juga nggak apa-apa." Merasa bersalah telah membiarkan Elea kelaparan, Arga pun langsung mengiyakannya. "Iya. Tunggu gue di mobil, gue ambil jaket dulu." "Serius, kan?" "Iya." Raut wajah Elea berbinar. Dia langsung berlari keluar seperti anak kecil menuju garasi, menunggu Arga di dalam mobil sambil melihat-lihat isinya yang ternyata berbanding terbalik dengan rumahannya yang super berantakan. "Mobilnya rapi banget, tapi rumahnya berantakan. Dasar aneh. Ini mobil juga dapet dari mana, ya? Kenapa mobilnya mewah, tapi rumahnya ngontrak? Nggak punya kerjaan lagi," terus bergumam, hingga akhirnya Arga pun datang membuka pintu dan langsung duduk di jok kemudi. "Kenapa wajah lu keliatan kaget gitu? Aneh ya gue punya mobil mewah?" Ia memasang sabuk pengaman, lalu mulai menghidupkan mesin mobil. "Iya, boleh aku tau dari mana Om bisa punya mobil mewah?" Elea bertanya seraya merubah posisi duduknya jadi menyamping, membuat fokus Arga sedikit terganggu oleh pemandangan di depan mata yang sedikit terbuka. "Nggak perlu tau," jawab Arga singkat, lalu ia mulai menginjak pedal gas, perlahan mobil keluar dari garasi, melaju dengan kecepatan sedang menyusuri kota Jakarta untuk mencari makanan. "Kenapa aku nggak boleh tau?" tanyanya lagi. "Buat apa juga lu tau?" "Ya aneh aja. Ngontrak, tapi punya mobil mewah. Mending mobilnya jual, terus beli rumah yang sederhana, mobilnya ganti sama yang biasa aja," ungkap Elea memberikan saran. "Nggak usah ngasih gue saran! Lu nggak tau apa-apa." "Makanya kasih tau aku." "Ngapain? Siapa lu?" "Aku kan calon istri Om. Om lupa, ya?" "Nah, itu yang mau gue omongin. Bisa nggak kalau gue nggak usah nikahin lu?" Kembali Arga membahas masalah tanggung jawab yang belum menemukan titik terang. "Enak aja. Ya nggak bisalah." "Gue belum punya kerjaan bagus, hidup gue masih luntang-lantung. Jangankan buat mimpin keluarga, hidup gue sendiri aja masih berantakan." "Kalau Om nggak mau nikahin aku, gimana nasib aku? Kalau aku ternyata hamil gimana?" "Atau nggak gini aja deh. Gue bakal nikahin lu, tapi nanti nggak sekarang." "Kapan?" "Sampe gue dapet kerjaan yang pantas." "Emangnya kerjaan sekarang nggak pantas?" "Nggak. Lu nggak tau kerja sampingan gue gimana, kerjaan tetap gue ya cuma di bengkel. Gaji bulanan gue kecil, nggak cukup buat hidupin lu." "Aku bisa hidup sederhana." "Tapi kenyataannya hidup tidak sesederhana itu, Bocil." Dahi Elea mengerut, lalu melayangkan protes. "Kenapa sih manggilnya bocil terus, usia aku dua puluh tahun, Om." "Lu juga manggil gue om melulu. Sejak kapan gue lahir dari rahim nenek lu? Lagian kan usia kita emang jauh, bagi gue ya lu emang bocil." Elea yang kesal pun diam. Dia membetulkan posisi duduknya menjadi tegak menghadap ke depan. Arga menyadari jika saat ini perempuan yang duduk di sampingnya sedang marah, dia hanya menoleh sekilas untuk melihat ekspresi wajah Elea seperti apa dan ternyata jika sedang marah, wajahnya lucu juga. Tanpa sadar Arga pun menyunggingkan senyum. "Gimana?" tanyanya lagi. "Gimana apanya?" "Nikahnya nanti aja, setelah gue punya kerjaan bagus." "Aku takut Om ingkar." "Nggak, lu kan tinggal sama gue. Mana bisa gue bohong, apa lagi kabur." Elea kembali diam. Dia coba berpikir menimang-nimang keadaannya sekarang dengan sebelumnya yang tinggal di istana, tetapi isinya dipenuhi dengan kejahatan, pengkhianat, juga kebodohan. Sedangkan tinggal di kontrakan Arga ia merasa nyaman dan tenang. Setelah berpikir cukup lama, akhinya Elea pun menyetujuinya. "Oke. Aku setuju. Tapi, kalau nanti aku ketahuan hamil, nggak ada waktu lagi. Om harus nikahin aku hari itu juga." "Setuju. Bisa ketahuan hamil setelah berapa bulan berhubungan?" Elea yang tidak tahu apa-apa mengenai kehamilan, memberikan jawaban asal. "Nggak tau, mungkin tiga bulan kemudian." "Masih banyak waktu. Gue selesaikan dulu kontak terakhir, baru gue cari kerjaan yang layak." "Boleh aku tau itu kontrak apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN