"Haha.., Langit gak perlu berusaha gitu kalo keberatan," ucap Mentari. Dia bisa melihat Langit kikuk merubah cara bicaranya. Lagipula, Mentari gak peduli. Mau Langit kasar sekali pun dia tidak akan protes. Untungnya Langit tidak pernah kasar ke dia. "Gimana kalo, aku-kamu aja?!" "Boleh." Langit tersenyum lebar, menyetujui usulan Mentari. Keadaan hati Mentari jauh lebih santai. Dia ikut mengelus wajah Langit dengan telunjuk. Dimulai pelipis menuju rahang pemuda itu. Langit diam saja, dia menyukai tatapan Mentari yang mendambakannya, seolah-olah dia baru memandangi wajah itu dan sangat takjud. Saat jari Mentari berhenti di dagu Langit. Langit langsung menangkap tangan Mentari. Dia mengecup telapaknya dengan ciuman ringan. d**a Mentari langsung berdesir. Dia tidak memahami mengapa Langi

