Pria Yang Ku Cinta

1906 Kata

"Eh?" Langit kembali fokus ke arah Mentari. Alih-alih memandangi wajah cantik sang pacar. Dia malah tidak tertarik untuk menyelami kenangan manis beberapa menit lalu. 'Perasaan Mentari tadi ada di situ. Terus ke mana tuh anak sekarang. Ah,ya. Apa Mentari juga liat waktu Bulan nembak gue. Mentari bakalan komentar apa,yah. Hm, gue bahkan belum bilang ke dia kalo gue ketemu Bulan lagi setelah sekian lama. Tapi sekarang kita harus bertemu dalam keadaan seperti ini. Terus kenapa gue mau,ya jadi pacar Bulan. Tadinya gue pikir itu akan menyenangkan... tapi kenapa gue malah sedih.' Langit merasakan kebimbangan luar biasa, sampai menggetarkan jiwanya. Belum pernah dia merasakan sebodoh ini sudah mengambil keputusan cuma dengan mengikuti insting sesaat. Ibaratnya seperti menonton film yang t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN