Harusnya Memilih Aku

1612 Kata

"Laahh..." Langit menggebrak kaca jendela. Dipikiran tuh bocah, dia bisa ganti apa kalo pecah. Mentari menutup telinganya rapat. Dia tampaknya betulan sudah gila, masa nangisin Langit, sih. Kayak kurang kerjaan banget. Langit itu aneh, orang yang suka sama dia, pasti lebih aneh lagi dan orang itu Mentari. "Berisik Lo. Gue telepon pak RT nih." Kan, kalau ada keributan antar tetangga sebaiknya diselesaikan sama ketua RT. Langit tidak peduli sama ancaman Mentari. Dia mencongkel ujung jendela. Berhasil, setidaknya satu daun pintu terbuka. Lalu Langit tersenyum kuda. "Eh, diem aja Lo, Bayik. Bukain yang satunya lagi dong. Susah, nih!" Untuk jendela bagian satunya agak sulit dicungkil dari depan. Mentari melengos. Emang Langit kira, dia bakal turutin gitu. Gak sudi,ya. "Hufftt!" Langi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN