
Larasati Mutiara Dewi (25) harus menerima keputusan ayahnya yang akan menikahkan dirinya dengan seorang pria yang bisa menyelamatkan perusahaan mereka dari ambang kebangkrutan. Larasati juga mendapatkan ancaman dari mama tirinya jika dia menolak untuk dinikahkan dengan pewaris tahta keluarga Bahri yaitu Daniel Jerikho Bahri (30) segala fasilitas rumah sakit yang menunjang kehidupan ibu kandung wanita itu akan dicabut dan hal itu bisa berakibat fatal untuk kelangsungan hidup wanita yang sedang terbaring tak berdaya di sebuah rumah sakit.Daniel tidak bisa berkutik ketika sang kakek telah mengeluarkan ultimatumnya jika Daniel menolak, maka ia akan dikeluarkan dari ahli waris sah sebagai pemegang perusahaan besar milik keluarga Bahri. Daniel tidak bisa menolak untuk menikahi Larasati saat ia juga memiliki wanita yang benar-benar Daniel cintai. Daniel sangat membenci istrinya karena pria itu berpikir Laras menerima pernikahan mereka hanya karena ingin mendapatkan harta kekayaan keluarga Bahri, bahkan pria itu tak segan-segan menjalin hubungannya dengan sang kekasih di hadapan istrinya sendiri.
**
“Aku bersumpah, bahwa aku adalah satu-satunya wanita yang akan membuatmu bertekuk lutut dihadapanku! Hanya aku wanita terakhir yang akan kau cintai sepanjang hidupmu!”
-Larasati Mutiara Dewi-
**
“Penyesalan terbesarku adalah tidak pernah mencintaimu dengan sepenuh hati”
-Daniel Jerikho Bahri-
**
Pepatah mengatakan.
“Jangan sampai engkau terlambat menyadari cinta itu hadir, di saat orang yang engkau cintai telah pergi dari hidupmu.”
**
Dan itu adalah penyesalan terbesar yang Daniel rasakan. Mata dan hatinya telah tertutup oleh rasa benci yang tak mendasar terhadap wanita lemah lembut yang telah menjadi istrinya. Disaat Laras telah pergi dari kehidupannya, barulah Daniel menyadari arti seorang Laras didalam hidupnya. Andai waktu bisa diputar kembali, Daniel ingin memperlakukan wanita itu dengan baik dan mencintainya dengan sepenuh hati.
**
“Niel.”
Dulu ia sangat membenci panggilan tersebut. Namun sekarang Daniel sangat merindukan bibir mungil yang selalu memanggilnya dengan sebutan “Niel”
**
“Rindu ini begitu menyakitkan, Laras.”
-Daniel Jerikho Bahri-
