Semua yang terjadi pasti sudah diatur oleh Tuhan. Jika dia memberikan kabar buruk, anggap saja bahwa Tuhan sudah merencanakan sesuatu yang lebih baik di kemudian hari. Sabar menunggu dan menerima kenyataan dengan berlapang d**a.
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Begitulah waktu terus bergulir sebelum sang pemilik segala-Nya menghentikannya. Jika dipikirkan, makin ke sini waktu semakin terasa cepat berlalu. Dan tak terasa pula, musim juga ikut berganti. Dari musim hujan ke musim panas. Daun-daun mengering dan menguning. Tumbuhan liar bagaikan sudah tak terurus lagi. Tak ada air hujan yang menyiraminya lagi tanpa meminta balasan. Beginilah musim panas, gerah dan gersang.
Tampak seorang pria baru saja keluar dari sebuah ruangan. Berjalan menelusuri lorong rumah sakit dengan kalut. Tak lama, dia tiba di depan sebuah pintu. Pintu ruangan yang selalu ia buka setiap harinya dengan meminta harapan. Kedua mata elangnya menatap daun pintu itu dalam-dalam.
“Hana kecelakaan. Dia keritis dan harapan hidupnya cuma 30%”
Kala itu, Dimas mematung. Lidahnya kelu. Mengucapkan sebuah kalimatpun rasanya sangat sulit. Gadis itu, gadis yang sangat begitu mencintainya berada dalam bahaya? Gadis yang baru saja mengeluarkannya dari penjara tiba-tiba memberinya kejutan seperti ini?
Mengapa Dimas bisa seterkejut ini? Bukankah dia selalu tidak peduli padanya? Bukankah gadis itu hanya ia anggap sebagai cinta sesaatnya saja? Bahkan, sekalipun pria itu tak pernah setia padanya. Tiba-tiba saja terbesit rasa bersalah yang menyeruak mendominasi sanubarinya. Pria itu merasa berdosa. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga Hana mengalami kecelakaan separah itu.
Dimas, pemuda itu tengah duduk di sisi ranjang rumah sakit. Ranjang yang ditiduri oleh seorang gadis yang ternyata sedang mengalami koma selama beberapa bulan ini. Lima bulan lamanya, gadis itu tak kunjung menampakkan tanda-tanda kesembuhannya. Para dokter pun sempat merasa putus asa, tapi sang keluarga belum ingin kehilangan. Alat infus menempel di pergelangan tangannya. Dan alat medis lainnya pula ikut terpasang di beberapa bagian lainnya.
Yah, sebuah kecelakaanlah yang membuatnnya seperti ini. Kecelakaan besar yang terjadi beberapa bulan lalu. Dimas dengan setianya selalu menggenggam tangan gadis lemah itu di setiap detiknya. Dia terlihat begitu terpukul dengan keadaan ini. Dalam beberapa minggu ini dia begitu kesepian dan kehilangan kepingan-kepingan kehidupan yang selalu dilaluinya dengan gadis yang notebane-nya adalah kekasih hatinya.
Dimas selalu datang setiap hari, menjenguknya, menyapanya dan mengajaknya bicara. Tak lupa ia juga selalu mengganti bunga dalam vas yang tersimpan di atas nakas seminggu sekali. Bunga-bunga cantik yang sangat cocok dengan Hana.
Entah apa yang membuatnya berubah dalam sekejap. Setelah kejadian yang Hana alami, akhirnya pria itu menyadari betapa dia sangat mencintai Hana dan tak ingin kehilangannya. Cinta yang selama ini selalu ia bagi-bagi pada perempuan lain kini telah berubah. Memutuskan untuk memberikan cinta sepenuhnya pada Hana Anastasya. Sadar, jika tak ada Hana, siapa yang akan mengubah hidupnya? Siapa yang selalu memperhatikan dan mengkhawatirkan keadaannya? Dan siapa yang akan mencintainya secara tulus? Gadis itu telah memberinya sedikit warna cerah dalam kegelapan hidupnya karena dia anak brokenhome.
Untuk itu, Dimas berharap Hana mau membuka kedua matanya dan bangun dari koma. Kembali hidup dan hidup bersama lagi. Di mana tak akan ada kebohongan yang bertubi-tubi di dalamnya. Dimas berjanji, tak akan bermain cinta dengan wanita lain, ia sangat berjanji sepenuh hati. Mungkin ini hukuman untuknya, Tuhan memberikan jalan seperti ini utnuk mengatakan bahwa Hana adalah perempuan yang sangat berharga dalam hidupnya. Jangan sia-siakan dia.
Tangan itu masih bertautan erat, “Sampai kapan, Mel kamu terus kaya gini? Sampai kapan? Aku mohon kamu bangun. Ayo bangun. Aku janji, gak akan nolak permintaan kamu lagi. Aku bakal jadi lelaki yang lebih baik lagi sesuai keinginan kamu, asal kamu bangun. Aku tau kamu marah saat kamu ngeluarin aku dari penjara dulu, karena aku udah pamerin ke orang-orang, kalau aku itu bukan laki-laki yang baik. Dan mungkin, itu kesalahan terakhir aku,” Dimas mencoba mengajak bicara Hana yang berada di alam bawah sadar sana. Ia hampir putus asa, gadis itu selalu seperti ini, tak pernah memberikan respon. Selama ini Dimas jarang menikmati kebersamaannya dengan Hana, itu sebabnya sekarang pria berkulit sawo matang itu merasa menyesal. Keduanya sama-sama sibuk dengan keasyikannya masing-masing.
Tapi detik ini, Dimas merasa salut pada Hana. Gadis itu selalu tetap setia padanya, tak pernah berpaling pada pria lain, bahkan, pria yang selalu bersamanya di setiap saat, siapa lagi jika bukan Pengacara Kim? Pria tampan dan berwawasan, juga dewasa.
Tapi Dimas? Dia selalu saja berselingkuh dengan wanita lain. Bukankah itu memalukan? Betapa jahatnya dia pada Hana, Dimas begitu menyesalinya. Wanita saja bisa setia, mengapa pria tidak?
Sungguh, Dimas sangat merindukan Hana. Sekarang Dimas merasa telah diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Dan yang Dimas inginkan adalah, meminta gadis yang dicintainya bangun dari koma panjangnya.
“Aku cinta kamu, Mel,” gumam Dimas pelan. Berharap dia akan mendengar perkataannya. Dimas semakin memajukan dan menundukkan wajahnya. Wajah tampan dan sedikit berbinar itu kini berdekatan dengan wajah pucat yang dimiliki Hana, kedua matanya masih tertutup rapat. Terdengar hembusan napas dari pria itu, berniat untuk memberikan bukti bahwa dia sangat mencintai kekasihnya. Semoga dengan ini, Hana bisa mendengar suara hatinya. Sebelumnya, ia tak pernah melakukan hal ini, bibir itu mulai bersentuhan lembut. Tapi---
Ceklek
Suara itu menghentikan tindakan Dimas, pria itu terlonjak kaget dan kembali berposisi duduk seperti sebelumnya, seolah tak melakukan apa-apa. Disusul dengan suara pintu yang tertutup kembali. Setelah itu terdengar pula suara langkah sepatu yang mendekatinya.
Dimas terbatuk kecil sambil sambil menyimpan kepalan tangannya di mulutnya. Mencoba mengusir kegugupannya atas niatnya barusan.
“Dimas. Lebih baik sekarang kamu pulang, sekarang giliran aku yang jaga Hana,” Pengacara Kim berjalan menuju sisi ranjang sebelah kanan dengan memutar. Dimas mengalihkan pandangannya pada pria yang baru saja bersuara. Sungguh, dia sudah mengganggunya. Dimas menyesalinya karena dia belum sempat mengecup bibir Hana.
“Dulu, waktu dia demam, kamu bahkan gak jenguk dia. Tapi sekarang? Kenapa gak pernah mau tinggalin ruangan ini?”
Apa maksud dari pertanyaan menyinggung pria itu? Ucapannya memang benar, tapi sekarang rasanya, seharusnya tak usah dibicarakan lagi.
“Aku bakal tetep di sini. Biarin aku orang yang pertama kali Hana liat saat dia bangun,” ucap Dimas dengan santainya tanpa menghiraukan pertanyaan Pengacara Kim yang terakhir.
“Iya aku tau. Kamu itu satu-satunya orang yang Hana cinta. Dan kamu beruntung karena dicintai sama perempuan kaya dia. Dia perempuan dingin dan keras kepala. Tapi dia selalu bersikap baik dan beda dari sifat aslinya saat berhadapan sama kamu. Dia jadi sosok yang lembut dan penurut. Beruntung banget,” pria itu tertawa kecil. Merasakan keberuntungan Dimas yang sangat sayang untuk diabaikan. Dicintai oleh gadis yang dicintainya, dan juga dikagumi.
“Ini maksudnya apa?” selidik Dimas merasa tersindir, ya walaupun ia tahu bahwa pria itu sama sekali tidak tahu apa-apa tentang asmaranya dulu.
Pengacara Kim menghela napas pelan, “Kenapa?”
“Iya aku beruntung karena dicintain sama dia,” Dimas tak ingin kalah, ia membawa pergelangan tangan Hana dan mulai menciuminya di hadapan Pengacara Kim, seolah tengah memamerkan betapa bangganya memiliki kekasih seperti Hana. Sekarang Dimas berpikir, apa mungkin pria di depannya ini memiliki rasa cinta pada Hana? Terlihat dari mimik wajahnya yang berubah, cemburu mungkin?
“Apa kamu mau jadi laki-laki beruntung itu?” tanya Dimas lagi. Detik selanjutnya, ia tersenyum kecut. Pengacara Kim selalu saja bersikap sinis dan selalu mengusir keberadaannya secara halus acap kali datang ke sini.
Jujur, Pengacara Kim sedikit tidak menyukai Dimas. Bukan karena dia mencintai Hana dan memang keduanya saling mencintai akhirnya membenci salah satu dari mereka. Tapi karena dia tahu, Dimas bukan tipe pria yang baik-baik. Selalu tidak menepati janji dan kadang tak mempedulikan Hana. Alasan yang cukup masuk akal, bukan?
“Kalau aku bisa, aku mau,” jawab Pengacara Kim dengan nada suara datar.
“Seharusnya kamu bisa jadi seseorang yang dicintai Hana. Kamu udah lebih lama kenal sama dia, tapi kenapa dia sama sekali gak tertarik sama kamu dan lebih tertarik sama lelaki kaya aku,” ia menggeleng-gelengkan kepala tanpa menghilangkan senyumnya. Melepaskan pergelangan tangan Hana.
Kali ini Pengacara Kim tidak lagi menjawab ucapan Dimas, dia memfokuskan pengelihatannya pada gadis yang terbaring itu.
Tiba-tiba pria itu melebarkan kedua matanya kala melihat tanda-tanda kesadaran yang dikeluarkan Hana. Gerakan jari-jemari dan kedua cangkang matanya menjadi bukti. Dimas ikut melirik Hana, dia tampak terkejut dengan pemandangan baik ini.
“Hana?” Dimas seakan dibuat tidak percaya. Ini benar-benar sebuah keajaiban yang datang dengan tiba-tiba.
Gadis itu tampak susah payah membuka matanya dan memperjelas pengelihatannya. Sesekali mengerjap-ngerjapkan mata. Rasanya berat sekali, mengingat cukup lama dia menutup matanya. Kedua pria yang sama-sama tengah memperhatikannya terkesiap , mereka sangat antusias dengan kesadaran Hana. Akhirnya gadis itu mau mendengarkan suara hati Dimas dan bangun dari tidur panjangnya. Pengacara Kim tak bisa menunggu lama lagi, segeralah dia berlari keluar hendak memanggil dokter. Sementara Dimas mulai mengadahkan tangannya di atas wajah Hana. Pandangan gadis itu masih samar-samar. Tapi dengan seiringan detik jarum jam yang berlalu, pengelihatannya mulai jelas. Warna-warna di kamar inap ini sudah menampakan warna aslinya. Ia dapat menangkap jelas sosok pria yang tengah memandanginya beribu kecemasan dan kegembiraan.
“Akhirnya kamu sadar juga, Mel.”
“Aku..., di mana?” desis gadis itu merasakan denyut di kepalanya. Tangan yang masih ditempeli selang infus terangkat memegang keningnya yang mungkin masih terasa begitu sakit.
“Kamu di rumah sakit,” jawab Dimas.
“Terus..., kamu siapa?” tanyanya lagi menyipitkan mata dan mengerutkan kening. Rasa nyeri akibat kecelakaan ditambah koma panjangnya belum benar-benar pulih. Sesekali Hana meringis.
“Apa?” Dimas gelagapan dengan pertanyaan yang dilontarkan Hana.
“Kenapa aku ada di sini? Aku siapa? Kamu siapa?”
DEG!
Jantung Dimas seakan berhenti berdetak. Desiran darahnya juga ikut membeku. Seluruh organnya juga serasa sudah mati. Apa yang terjadi pada Hana? Mengapa dia malah bertanya pada hal yang tidak-tidak? Apa dia tengah berpura-pura lalu setelah itu akan memberikan kejutan pada semua orang? Sekarang atensi Dimas menangkap gadis yang tengah kebingungan memandangi setiap sudut dan langit-langit ruangan ini. Dia terlihat begitu polos, seperti anak kecil yang tersesat dan berpisah dari orang tuanya. Tak tahu apa-apa
Sesuatu pun kontan melintas dalam pikirannya. Apa Hana hilang ingatan? Ahh tidak tidak! Itu tidak mungkin dan jangan sampai itu terjadi!
“Apa yang terjadi sama pasien, dok?” tanya Pengacara Kim pada dokter yang baru saja keluar sehabis memeriksa kondisi Hana. Dimas turut mendekati dokter dan mengekspresikan kepenasarannya.
“Begini. Kondisi umum pasien memang sudah pulih dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Tapi, mengingat benturan keras yang terjadi di kepalanya saat kecelakaan beberapa bulan lalu, ternyata itu menimbulkan jejak yang cukup buruk. Dengan ini saya menyimpulkan, bahwa pasien mengalami amnesia, atau kehilangan ingatannya.”
Kedua pria itu tertegun sesaat.
“Saya tidak bisa menyebutkan bahwa ini bersifat permanen atau sementara. Lihat saja nanti perkembangannya. Tapi untuk sekarang, biarkan kami untuk tetap memantau keadaannya. Pasien masih masih dalam jangkauan pemeriksaan kami. Dan jangan paksa dulu dia untuk mengingat sesuatu. Atau kondisinya akan kembali drop,” jelas pria berjas putih bersih itu dengan sangat teliti.
Baik Dimas ataupun Pengacara Kim masih terdiam. Mereka tidak menyahut lagi. Dokter mulai berjalan meninggalkan tempatnya. Ini sangat mengagetkan keduanya. Hal yang ditakuti Dimas memang benar adanya, gadis itu benar-benar amnesia. Dia tidak akan ingat apa-apa. Mengingat diri sendiripun tidak bisa, apalagi orang lain. Tungkainya melangkah mundur hingga tiba di sebuah dinding, pria itu menarik napas berat sembari menyandarkan tulang punggung dan kepalanya di dinding bercat putih tersebut. Lagi-lagi jantungnya berdetak tak keruan. Bagaimana mungkn ini terjadi. Kekasihnya amnesia? Dengan kata lain, dia tidak akan mengingat dirinya, mengingat hubungannya.
Tak ada bedanya dengan Pengacara Kim, dia juga ikut syok mendengar kenyataan ini. Dapat disimpulkan, berarti Hana tak akan mengingat apa-apa. Siapa orang-orang terdekatnya dan masa lalunya. Bagaimana cara memberi tahu kakek bahwa cucunya kehilangan memorinya? Tidakkah dia akan bersedih? Tapi inipun masih untung, karena kondisi gadis itu sudah membaik. Harusnya dia bersyukur, Hana hanya mengalami amnesia. Dia kehilangan ingatannya, bukan raganya. Mungkin Tuhan punya rencana baik di balik ini semua.
Dimas mulai melangkahkan kakinya memasuki ruang inap Hana. Kali ini Pengacara Kim mengalah, membiarkan Dimas yang menemui Hana terlebih dahulu. Sementara dia duduk di kursi koridor dengan perasaan campur aduk. Dia senang Hana kembali pulih, tapi mengapa rasanya kurang memuaskan? Gadis itu tak akan mengenalnya.
Pengacara Kim menunggu kakek datang. Tadi pria paruh baya itu akan segera kembali setelah mendapat kabar darinya.
Tangan itu berusaha menggapai segelas air putih yang berada di nakas sisi ranjang inap. Rasanya susah dan sulit sekali. Mengangkat gelas itupun serasa mengangkat besi yang beratnya berkilo-kilo gram. Tenaganya sudah benar-benar terkuras akibat koma yang dilaluinya beberapa bulan. Organya begitu kaku dan sulit digerak-gerikan.
Sebuah tangan dengan segera meraih gelas tersebut mendahului Hana. Gadis itu tampak mendongkakkan kepalanya, mengintip siapakah pemilik tangan ini. Matanya mengedip sesaat. Dimas memberikan segelas air putih pada Hana yang berposisikan setengah duduk. Tergambar raut aneh yang diterbitkan Hana, Dimas membalas dengan seulas senyuman. Gadis dengan penuh keraguan itu mulai membawa gelas yang berada di tangan Dimas, tapi pria itu malah lebih dulu menyimpan ujung gelas ke bibir Hana, menyuruh agar cepat meminumnya. Hana mulai membuka sedikit mulutnya, iris hitamnya masih terpaku pada pria tidak dikenal di hadapannya. Pelahan ia membiarkan air putih masuk ke dalam rongga mulutnya. Setelah beberapa detik kemudian, Hana menghabiskan setengah cairan dalam gelas itu. Dimas kembali menyimpan gelasnya di atas nakas dan kembali beradu pandang dengan Hana.
“Kamu siapa?” pertanyaan itu lolos terlontar dari mulut Hana.
Dimas hanya bergeming.
“Apa kita saling kenal?” wajahnya tampak kebingungan. Mungkin saja dia mempunyai hubungan dengan pria ini. Entah saudara, teman, atau...
“Hmmm. Iya, kita saling kenal.”
Gadis itu pun mulai mengangguk-anggukan kepalanya penuh arti. Tapi dia sendiri tidak tahu, dia sama sekali tidak mengenal pemuda berparas tampan itu. Mengapa nasib s**l malah menimpanya? Melupakan orang-orang yang dikenal bahkan jati diri sendiri. Memalukan sekali.
Dimas sedikit merasakan kesakitan di ulu hatinya. Dulu mereka saling mengenal, dulu mereka saling mencintai, dulu mereka mempunyai hubungan spesial. Tapi detik ini dunia seakan menghentikannya. Bagaimana rasanya saat orang yang kita cintai sama sekali tidak mengenal kita? Sedikitpun tidak. Dan mengapa juga Dimas meraka tersiska? Bukankah dulu dia tak seperti ini? Apa mungkin ini wujud dari rasa bersalahanya karena sempat menyakiti Hana walau gadis itu belum tahu apa-apa.
“Kalau boleh tau, hubungan kita apa?...,
Temen?...,
Sahabat?...,
Saudara?..., Atau...,”
“Sepasang kekasih,” sela Dimas menyeka air matanya. Rasa bersalah kini mulai menguasai sanubarinya. Entah mengapa cairan bening ini malah ingin mengalir. Ini tidak terlalu menyakitkan, bukan? Tiba-tiba saja Dimas rindu akan sosok Hana yang dulu, dulu yang selalu mengingatkan Dimas dalam hal apapun. Dimas kehilangan sosok Hananya yang dulu.
Gadis itu mematung kala mendengar jawaban Dimas.
Sepasang kekasih? Pandangan matanya kini merosot ke bawah. Melepaskannya dari wajah Dimas. Kekasih? Hana malah merasa gugup.
“Nama aku Dimas, dan nama kamu Hana. Aku pacar kamu. Aku adalah laki-laki yang selama ini dicintain sama kamu. Jangan tanya lagi, kita ini emang sepasang kekasih, jangan ragu,” lanjut Dimas mengatakan yang sejelas-jelasnya. Pria yang sudah tak tahan untuk melepaskan rindunnya kontan langsung memeluk Hana yang masih bertanya-tanya. Hana membulatkan kedua bola mata hitamnya saat menyadari pelukan yang mendarat di tubuh mungilnya.
“Kamu bisa ngerasain detak jantung ini, kan?”
Jantung Hana ikut berdegup kencang. Ini aneh, Hana sama sekali tidak mengenal sosoknya tapi mengapa dalam pelukan ini dia malah ikut merasakan getaran yang berbeda. Apa Dimas benar bahwa mereka adalah sepasang kekasih? Sekarang Hana masih tercenung dalam pelukannya. Lidahnya kelu, organnya sudah tak bisa dikendalikan lagi, terasa begitu kaku.
“Jangan takut, Mel. Meski kamu ilang ingatan, meski kamu udah lupain aku, aku bakal tetep nunggu kamu,” tangan Dimas mengusap-ngusap rambut Hana. Dia memejamkan matanya, cairan hangat itu keluar menelusuri pipinya. Berjanji akan menuruti permintaan Hana dulu-dulu. Bahkan sudah memantapkan hatinya untuk hanya memilih Hana saja untuk berada dalam hatinya. Tak akan ada perempuan lain lagi. Tuhan sempat menghukumnya dengan cara seperti ini, untuk itu dia tidak ingin kehilangan raga Hana. Biarkan memorinya hilang, asalkan raganya masih tetap bisa Dimas miliki. Dia akan menunggu Hana sampai kapanpun, sampai ujung waktupun ia tidak peduli.
Hana masih diam. Belum melepaskan pelukan Dimas apalagi berucap. Tampak begitu gugup. Jujur, dalam hatinya yang paling dalam dia merasa senang dan terharu karena ternyata dia mempunyai kekasih sebaik dan sesetia Dimas. Dia rela menunggunya walau Hana mengalami koma yang begitu panjang dan sempat tidak bisa diselamatkan.
Perlahan, kedua tangannya terangkat, membalas pelukan Dimas dengan begitu lembut dan nyaman. Seulas senyum mulai tergambar di wajah pria yang mendapat sentuhan hangat itu.
“Dimas,” ucap Hana pelan. Dia meyebutkan nama itu dengan sangat benar dan mencoba menetralisir nama itu baik-baik. Angannya mulai bermain, membayangkan Dimas adalah sosok pangeran.
Dimas semakin mengeratkan pelukannya. Melepaskan rasa rindu yang selama ini menggerogotinya.
Seorang pria menyaksikan adegan itu di balik kaca yang berada di pintu. Yah, Pengacara Kim cukup dibuat cemburu dengan pemandangan seperti itu. Di dalam Dimas dengan gampangnya memeluk Hana yang sudah benar-benar kehilangan ingatannya. Apakah ini kekuatan cinta? Ingatan akan kenangan-kenangan boleh hilang, tapi si pembuat kenangan tak akan pernah hilang, yaitu getaran cinta.
Pengacara Kim segera berbalik, tak kuat jika harus berlama-lama melihat kedua anak manusia yang tengah melepaskan rindu.