Bab 22

2097 Kata
Sepenggal Kisah Di balik Hujan 22 Hana menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Lima tahun sudah kepergian Dimas, sang kekasih. Meskipun lelaki itu pernah menyakiti hatinya, namun tetap saja cinta Hana jauh lebih besar. Mengingat lelaki bernama Kim, yang sempat lama menaruh hati padanya. Sekarang Hana senang melihatnya sudah menemukan seorang kekasih yang mampu mengisi hati. Tak apa meskipun lelaki itu sekarang sudah pergi bersama perempuan yang baru dia nikahi satu bulan yang lalu. Hana melangkahkan kakinya menyusuri taman kota. Hujan semalam membuat tumbuhan menjadi semakin segar. "Aku, udah bahagia. Dan aku baik-baik saja." Kata Hana, matanya menatap langit yang kini mulai cerah Alan joging pagi selalu menjadi rutinitas saat hari minggu, kadang hanya untuk meregangkan otot dia butuh pemanasan berlari lalu gym di rumah. "Huuh! Berhenti dulu." Alan duduk di bangku taman sendirian. Hana yang terlalu sibuk memutar-mutar tubuhnya tanpa sengaja menabrak Alan yang baru saja berdiri dari atas kursi. Botol minuman yang ada di tangannya jatuh dan pecah. "Astaga, maa--maaaf!" Alan yang sangat terkejut, dia menyadari botol airnya tumpah dan pecah. Hanya melihatnya dengan tatapan kosong. "Maaf, saya.. saya nggak sengaja." Hana mendongakkan kepala, kedua matanya melotot saat melihat sosok lelaki yang ada di depannya. "Pa---pak, pak Alan?" "Ya?" Alan dengan lamunannya menyadari namanya disebut. "Oh.. hehe iya, nggak apa-apa kok. Nanti bisa beli yang lain." "Maaf, Pak. Saya benar-benar nggak sengaja. Nanti biar saya ganti botol, Bapak." Hana benar-benar merasa tidak enak. Bisa-bisanya dia teledor dan justru menabrak bosnya sendiri. Tapi sepertinya Alan tidak akan tahu bahwa dia salah salah satu karyawan di Hotel Grandnalan. Lagi pula, banyak karyawan di sana. "Nggak perlu, ini saya ada gantinya di rumah. Banyak, nggak usah ganti." Alan menolak permintaan mengganti botol dari Hana. Hana menjadi bingung, ini kali pertamanya dia bertatap muka dengan bos nya sendiri. Hana tidak mungkin salah, lelaki ini Pasti Alana Dirgantara, anak tunggal dari pak Dirga pemilik hotel. "Maaf, Pak saya. Saya permisi." Alan mencegah Hana pergi, dengan sigap tangan Alan meraih lengan Hana. "Tunggu!" "I--iya, Pak?" "Mau temani saya? Nggak, maksudnya... maksud saya itu... hmm. Daripada sendirian, kita makan berdua boleh? Cuma sebentar kok, tunggu supir saya datang menjemput." Hana masih diam. Kenapa tiba-tiba Alan mengajaknya makan? "Sebagai rasa bersalah kamu sudah memecahkan botol air, jadi harus temani saya makan bubur, bagaimana?" "Cuma makan bubur aja kan, Pak?" "Iya, makan bubur aja. Itung-itung sebagai gantinya botol pecah, gimana?" "Ya...yaudah, Pak. Mau makan bubur di mana?" "Di samping minimarket sebrang jalan." "Yaudah, Pak." Hana mempersilahkan Alan untuk berjalan lebih dulu. "Nggak usah terlalu formal begini, kan saya juga bukan atas." "Maaf, Pak. Solnya saya takut nanti ada yang ngenalin Bapak. Yang ada nanti jadi bahan cibiran." "Cibiran?" Mereka bercengkrama berdua di sepanjang jalan. "Nggak ada yang pernah bisa mencibir saya, kamu malu jalan sama saya?" "Bu....bukan gitu, Pak. Tapi, pertanyaan itu pantasnya saya lontarkan ke bapak." "Kenapa memangnya? Kamu lebih suka dengan hal privasi maksudnya?" Hana hanya diam dan tetap melanjutkan perjalanan menuju kantin yang dimaksud oleh Alan. Tiba di tempat penjual bubur ayam, Alan memesan dua mangkuk untuk dirinya dan Hana. Sedang ramai pengunjung, tempat itu terdiri dari meja dan kursi panjang pas untuk 6 orang saja. "Mas, bubur ayam dua porsi ya. Sambalnya pisah." Kata Alan memesan. "Pak Alan suka makan bubur ayam di sini?" "Iya, ini bubur ayam favorit saya. Kenapa? Suka ke sini juga? Terlalu lama di London dan kembali ke sini cuma ini yang saya cari." "Ohh pantesan bapak udah lama nggak keliatan. Iya, ini tempat favorit saya sama Alm pacar saya dulu. Meskipun kita jarang ke sini, tapi seminggu sekali selalu nyempatin ke sini." "Ini pesanannga Mas." Sang pelayan menaruh satu mangkuk di depan Alan dan satu mangkuk di depan Hana. "Wah! Pacar baru ya? Biasanya selalu sama Mas-mas yang itu." Kata pelayan yang sudah lama melihat Hana dan pacarnya selalu mampir ke tempat ini. "Bukan, Mang. Saya, saya cuma karyawan pak Alan. Tadi nggak sengaja ketemu di Taman. Saya juga nggak sengaja pecahin botol minumnya pak Alan." "Oh gitu, mari dimakan ya." Pelayan itu kembali meladeni pengunjung lain. "Kamu karyawan saya di bagian apa?" "Saya, saya bagian Concierge, Pak. Mungkin kita gak pernah ketemu, tapi saya pernah liat bapak pas ada acara di hotel." Sambil menikmati satu persatu suapan sendok. "Oh ya?" Alan penasaran. "Iya, Kenapa, Pak?" "Acar hotel? Yang mana ya? Saya nggak ingat." "Itu, pas ulang tahun hotel yang ke 29, bapak juga ulang tahun kan saat itu?" "Mungkin iya, saya benar-benar lupa, ayo makan lagi." Hana hanya menganggukkan kepala sambil memakan bubur yang tinggal setengah. "Habis ini saya boleh pulang kan, Pak? Saya harus kerja lagi, nggak ada jatah libur, sih." kata Hana setengah bercanda. "Oh ya?! Siapa supervisor kamu, biar saya langsung yang turun ke tim kerja." "Ehhh, jangan, Pak. Saya cuma becanda. Beneran nggak serius kok." "Saya paling nggak suka ada yang berani mempekerjakan orang lain dengan perintah yang di luar nalar." "Aduh, Pak. Nanti saya kena marah sama mbak Ika. Saya salah dikit aja udah diomelin sama potong gaji." "Astaga! Potong gaji?! Ck, beraninya." Hana jadi takut jika Alan benar-benar menemui Ika dan mengatakan bahwa mendapatkan informasi darinya. Bisa-bisa Ika akan mencecarnya habis-habisan. Alan langsung menghubungi skertarisnya. "Niko! Besok meeting, seluruh supervisor tidak ada alasan apapun, semua harus hadir." "......" "Pukul tujuh pagi! Yang melanggar saya pecat hari itu juga." "....." Alan mematikan panggilannya. "Pak, aduh pak saya lapor bukan cari pembelaan, nanti kalau saya dipecat gimana, kalau saya dimarahin gimana. Saya cuma sendiri, Pak. Kalau cari kerja saya susah lagi." "Jangan ada ketakutan apapun saat ada saya, kamu takut mereka berbuat macam-macam? Nggak ada yang bisa." Hana hanya diam, tidak menyangka kalau Alan akan membelanya seperti ini. **** Esok paginya, benar saja Alan datang untuk menyidang semua pegawainya. "Eh ayo! Ada pak bos! Udah didepan nih!" Ucap salah satu pegawai. "Tumben sih pak Bos ke sini? Biasanya kan cuma ada acara penting aja? Apa mau ada kenaikan gaji kali ya, sekarang kan apa-apa serba mahal." Kata Ika dalam hati "Atau jangan-jangan dia sengaja ngumpulin karyawan mau cari calon istri kali ya? Nanti kan bakal ada acara ulang tahun hotel yang ke 30, sama ulang tahun pak bos tuh. Gue bisa kali ya berpenampilan menarik biar dilirik." kata Ika dalam hati dengan pedenya. Dia tersenyum sumringah. "Saya mau pengakuan dari semua yang ada disini. Ada sebuah kabar, deskiriminasi terhadap sesama pekerja dan bahkan ada yang mengambil gaji milik karyawan lain masuk dalam rekening sendiri. Tidak ada yang mengaku, saya pecat hari ini juga! Tidak ada kata maaf, khilaf, dan memohon." Alan berdiri berkacak pinggang di hadapan supervisor dari berbagai departemen. Semua berjajar rapih berhadapan. "Loh, ini siapa nih yang berani kayak gitu?" tanya seorang laki-laki. "Saya beneran nggak ada pak, bisa tanya sama bawahan saya." Katanya lagi "Saya pecat semuanya hari ini!" Kata Alan dengan nada tinggi Semua supervisor saling melempar pertanyaan. Sementara Ika hanya diam seolah tidak tahu apa-apa. "Alih-alih rajin, telat sedikit kalian memotong gaji milik orang lain! SAYA PECAT HARI INI DAN BLACKLIST NAMA KALIAN SEBAGAI PEKERJA DI SELURUH CABANG HOTEL SAYA." "Jadi Hana ngadu ke Bapak? Astaga, anak aneh itu emang bisa-bisanya ya bersilat lidah. Jangan mudah percaya pak, dia karyawan baru di sini." "Kenapa?! Takut saya pecat hari ini!? Berarti benar, kamu yang memotong gaji milik Hana?! Tidak ada mafia di sini. Saya berhak memecat siapa saja di sini tanpa terkecuali!" "Pak, dia baru di sini. Baru kerja dua tahun banyak alasan. Kalau hujan datang selalu telat dengan alasan, takut hujan lah. Dia nggak akan hancur kan kena hujan. Karyawan seperti itu emang bisa dimaklumi?" "Siapa yang menyuruh potong gaji karyawan saya?! Sekertaris Niko! Pecat orang ini!" "Nggak bisa dong, Pak. Saya udah mengabdi banyak untuk Hotel ini. Yang seharusnya dipecat itu ya Hana, bukan saya. Dia yang gak disiplin." "DIAM!" Alan bukan main marahnya. "Baik, Pak. Bapak serahkan urusan sama saya, saya akan urus surat pernyataan untuk memberhentikan Ika." kata Buka dengan tegas. Setelah itu, Alan pergi dari ruangan diikuti. Oleh Niko. "Lantas siapa nanti yang akan menggantikan posisi Ika, Pak?" "Nanti saya informasikan, saya mau yang bukan kriteria pemungutan pungli." "Baik, Pak." "Blacklist Ika, di tidak boleh masuk di cabang hotel mana pun! Bisa gila saya lama-lama." "Baik, Pak. Semua tugas dari bapak akan saya lakukan. Hari ini, Ika akan dikeluarkan secara tidak hormat." "Semua! Saya mau semuanya! Tidak ada pengecualian." Kabar heboh dipecat masal sudah menyebar cepat. "Alan, kamu apa-apaan ini memecat semua supervisor di sini!" "Papa mau di dalam bisnis kita ada mafia gaji karyawan? Kalau mau, silahkan. Alan nggak akan bertindak apapun!" "Tapi kamu sudah pastikan itu benar atau tidak? Kalau seandainya itu tidak benar bagaimana?" "Benar, ada korban yang berbicara langsung pada Alan. Pelakunya juga mengakui, mau apa? Di perpanjang kontrak kerjanya atau berakhir secara tidak hormat?" "Yausudah. Terserah kamu, Alan. Sekarang kamu juga harus memulai mengurus hotel-hotel kita. Papa pengen istirahat di rumah." "Rencana pembangunan masih bisa berlanjut nggak?" "Pembangunan yang di Bali? Tetap dilanjut, sudah 80 persen, Kan?" "Bisa jadi lebih dari 80 persen. Nanti Alan yang akan menentukan dekorasi mau seperti apa desain yang cocok untuk tema di bali." "Oke-oke baik. Jangan lupa, kita juga harus mencari karyawan yang baru sebagai ganti yang sudah kamu pecat secara masal." "Hanya bagian supervisor saja yang kosong, Alan yang akan cari sendiri dan seleksi satu persatu." Mario sang ayah hanya menganggukkan kepala pertanda setuju dengan ucapan sang anak. Tidak lama setelah itu terdengar ketukan pintu dari luar "Masuk." Ucap Alan. Hana muncul di balik, pintu. "Pe... permisi, maaf, Pak. Saya, saya datang ke sini. Itu, mbak Ika...." Hana benar-benar tidak tahu harus bagaimana, Ika sudah meminta pertanggungjawaban padanya atas hilangnya pekerjaannya. Sungguh rasanya Hana benar-benar tidak enak. "Kamu? Ke.. kenapa?" Alan bingung. "Ada masalah dengan pemecatan saya?" "Bu---kan gitu, Pak. Saya, nggak enak sama mbak Ika. Dia jadi kehilangan pekerjaannya, padahal saya nggak bermaksud gitu." "Kenapa kamu harus merasa bersalah? Dia jauh lebih bersalah lagi, gaji kamu di potong tanpa ada pernjanjian kontrak yang tulis. Nggak ada kan? Kamu lulusan mana?" "Cuma lulusan SMA, Pak." Sementara Mario menatap heran pada sang putra yang biasanya tidak pernah peduli dengan perempuan mana pun. Meskipun menyangkut pekerjaan sekalipun. "Ini sudah jam istirahat, kan? Daripada kalian membahas hal yang tidak penting mendingan kalian makan ke luar." "Ya benar! Kita bicarakan ini sambil makan siang di kantin, ayo..... nama kamu...." Alan membaca name tag yang tergantung di leher Hana. "Hana? Saya panggil kamu Hana...." "I...iya, Pak. Saya Hana." Mario tersenyum gemas melihatnya. Jika memang Hana berhasil mengambil hati Alan, tidak masalah. Mario akan dengan senang hati merestui hubungan mereka. Terlebih Alan yang sudah menginjak usia 30 tahun. Menikah sudah cukup pantas untuknya. Alan dan Hana menuju kantin, sebelum sampai di tempat itu mereka harus menggunakan lift untuk turun ke lantai 2 food court tempat makan yang sangat identik dengan kuliner nusantara hingga negara terkenal lainnya seperti, Itali, Eropa, dan makanan timur tengah. Ini semua sengaja Alan terapkan di hotelnya, mengingat banyak pengunjung yang notabennya dari luar negara. "Ada yang merasa tidak setuju dengan pemecatan dari saya?" "Mbak Ika bilang, sekarang dia nggak punya pekerjaan, saya harus tanggung sama biaya hidup dia. Jujur saya nggak tau harus ngapain. Mbak Ika hidupnya pasti mewah, saya nggak mungkin sanggup biayain hidup dia." Alan memijit kening dia dengan nyeri yang sangat terasa. "Ck... oke, itu biar jadi urusan saya. Jangan khawatir tentang Ika si tukang makan gaji orang lain. Kamu tinggal dimana?" "Saya tinggal di jalan Melati nomor 14, Pak." "Jalan Melati? Nanti bisa tunjukkan jalannya?" "Mau ngapain, Pak?" "Mau antar kamu pulang, kenapa? Biar kamu aman sampai di rumah. Tentang Ika nanti ada yang urus, dia nggak akan lengah dari pandangan saya." Hana diam, kenapa dia seakan tidak mampu menolak tawaran dari Alan? Tidak lama setelah itu Lift kembali terbuka, tiga orang Karyawan masuk secara bersamaan hingga membuat tubuh Hana terhimpit ke tubuh Alan. Hana yang memiliki tinggi 150 cm, kepalanya berada tepat di bawah dagu Alan. Hana menjadi kaku, pandangannya hanya pokus pada d**a bidang Alan. Alan sadar, Hana sedang berusaha menghindari tubuhnya. "Mm.. ma.. maaf." "Sempit banget, Pak." Satu persatu mulai turun di lantai yang mereka tuju. "Mau makan apa? Saya yang traktir ya." "Kok Bapak lagi? Kemarin kan juga bapak yang udah traktir saya, saya jadi nggak enak, Pak." "Saya jarang sekali bisa berteman dengan lawan jenis, biasanya saya selalu tidak nyaman, kadang perempuan yang saya temui hanya melihat paras dan uang yang saya miliki saja. Selebihnya hanya lewat, biar saya yang traktir makan kamu." "Terus kenapa sama saya bapak mau berdekatan seperti ini? Sampai traktir makan segala." "Hmmm.... saya rasa, kamu berbeda. Apa adanya, kenapa?" Sungguh, mendengar perkataan Alan, rasanya benar-benar aneh sekali. Ada apa ini? pikir Hana tak mengerti *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN