Our First Kiss..

2939 Kata
“Jatuh cinta itu bisa dateng kapan aja dan berlabuh di mana aja, jadi jangan heran lagi.” Sepertinya sang raja siang sudah mulai menampakkan dirinya. Mulai beranjak menuju peraduan. Menerangi alam dan memberikan kesehatan bagi para manusia yang menikmati cahaya paginya. Seorang pria mendorong kursi roda yang diduduki seorang gadis cantik berambut sebahu. Paras putihnya berseri-seri menyambut datangnya hari. Atensinya menangkap bunga-bunga dan daun-daun hijau yang berjajar mengelilingi taman ini. Hana seolah telah merasa hidup kembali. Tangannya terangkat, memberi kode pada pria yang membawanya ke tempat ini supaya berhenti. Pemuda itu pun menghentikan langkahnya. Hana mulai menyentuh bunga mawar merah yang berada tepat di sisinya. Bunga ini sangat indah, begitu menarik perhatiannya. Tangannya membelai helaian bunga itu, sesekali menghirup wanginya. "Sebenernya, kamu itu sosok laki-laki yang gimana, sih Pengacara Kim?" tanyanya. Detik berikutnya ia membelokan kepalanya ke belakang dan mendongkak. "Kenapa kamu nanya gitu, nona?" tanya balik Pengacara Kim seolah tak ingin memberika jawabannya pada perempuan yang barusan bertanya padanya. Hana kembali memposisikan pandangannya ke depan. Sejujurnya,dia sedikit merasa aneh. Pria di dekatnya ini selalu berada di sisinya dalam setiap detik. Dia juga selalu melakukan hal-hal yang baik untuknya. Semenjak pulang dari rumah sakit, Pengacara Kimlah yang selalu menjaganya, seolah gadis itu tengah berada di bawah naungannya. Tapi kekasihnya sendiri? Dimas? Semenjak hari itu dia tidak pernah datang lagi. Memberi kabarpun tidak. Hana penasaran, bagaimanakah hubungannya dulu dengan kedua pria itu. Mengapa dia tidak jatuh cinta saja pada Pengacara Kim? Mengapa malah pada pria lain? Padahal jika dibandingkan, Pengacara Kim mempunyai sikap yang jauh lebih dewasa. Ahh, berpikir apa Hana ini? Getaran cintanya berada pada Dimas, itu sebabnya dia jatuh hati pada pria itu. Mungkin dari kedua pria itu keduanya memiliki kelebihannya masing-masing. Dimas, adalah sosok pemuda yang setia. Sedangkan Pengacara Kim sosok pemuda lembut dan baik hati. Itulah yang selalu terlintas dalam otaknya. "Yaa aku aneh aja, kenapa aku gak jatuh cinta aja sama kamu?" ucap Hana dengan datar. Pria yang mendengarnya menjadi sedikit kikuk. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu? Jatuh cinta? Detak jantungnya seketika berdesir. Untuk pertama kalinya gadis itu mengatakan kata 'jatuh cinta' padanya. Dulu, dia begitu sangat sinis dan kasar. Karena tak ada respon yang didapatnya, Hana kembali membuka mulut, "Yaah pertanyaan yang konyol yah. Mungkin dulu aku pernah punya alasannya," dia terkekeh pelan. "Jatuh cinta itu bisa dateng kapan aja dan berlabuh di mana aja," akhirnya Pengacara Kim bersuara. "Iya. Kamu bener." "Apa kamu masih mau keliling taman ini? Kayaknya kita udah 30 menit ada di sini," Pengacara Kim melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Ini sudah siang, dan sekarang ia harus kembali bekerja. "Kita pergi aja. Udah cukup kok," jawab Hana bersemangat. Gadis itu tampak sudah puas menikmati paginya, melihat keindahan taman di halaman belakang rumahnya. Pengacara Kim mulai memutar balik kursi roda Hana. Tapi tiba-tiba saja ia terhenti ketika melihat sosok pria yang sudah berdiri di tempatnya itu. Hana juga ikut melihatnya. Raut wajahnya mulai berubah menampilkan ekspresi terkejut bercampur senang. "Dimas?" panggilnya riang. Ya, dia Dimas. Dimas mengembangkan senyum di wajah tampannya. Untuk pertama kalinya mereka kembali beradu pandang lagi. "Apa kabar?" tanya Dimas memulai pertemuan ini. "Dimas. Kemana aja kamu? Padahal dari kemarin aku nungguin kamu. Aku kangen sama kamu," sepertinya Hana memang sangat merindukan sosok di hadapannya ini. Tak sedetikpun dia lewati hari-harinya tanpa menunggu Dimas. Dan akhirnya, sosok itu kembali muncul. Pria yang berada di belakang Hana tertunduk sesaat. Dimas melangkahkan kakinya lagi. Dia berjongkok, tangannya mencubit pipi Hana kecil. "Kangen?" Gadis itu mengangguk cepat. Pengacara Kim menyentuh bahu Hana dengan telapak tangannya, mengusap-ngusapnya dalam jangka waktu beberapa detik. Setelah itu, dia kembali berjalan melewati Hana yang sibuk mengutarakan segala bentuk rasa rindunya kepada Dimas. Bahkan ini baru satu minggu, bagaimana jika beberapa bulan? Pengacara Kim cukup tau diri, dari dulu sampai sekarang pun hanya Dimas yang bisa membuat gadis yang dicintainya tersenyum dan tetlihat begitubahagia. Hanya saja bedanya, dulu Dimas tidak terlalu menunjukkan sikap rasa sayangnya pada Hana. Apa Pengacara Kim merasa cemburu? Pasti. "Maaf, Mel, aku sibuk. Jadi jarang ngehubungin kamu lagi. Dan sekarang pun aku minta maaf, aku gak bawa apa-apa buat di kasih ke kamu," Dimas mulai menampakan tampang menyesalnya. Maaf, dia tidak akan membuat gadis itu tahu akan rahasianya. "Nggak, aku gak ngarep kamu ngasih sesuatu. Tapi sekarang, aku mau minta satu permintaan," Hana mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada ujung bibirnya. Seperti sedang berpikir sesuatu. Membuat Dimas sedikit tersenyum. "Kita keliling taman ini. Tanpa kursi roda. Aku pengen cepet-cepet bisa jalan lagi. Kamu harus bantu aku. Kamu tau gak, aku tuh nunggu kamu. Aku cuma pengen belajar sama kamu, gak sama yang lain," pintanya dengan nada suara manja, wajahnya berubah seperti anak kecil di sertai gelengan di kepalanya. "Supaya kita bisa jalan-jalan ke tempat apa aja. Kencan, mungkin?" Hana menautkan kedua telapak tangannya bak sedang memohon. "Ayoolah." Dimas hanya mengedipkan kedua matanya. Merasa ada perubahan dalam diri Hana, pria itu tampak lebih nyaman dengan sosok Hana yang sekarang. Rasanya berdeda. "Dimas?" panggilnya menghentikan lamunan Dimas. Mata Dimas kembali di simpan di wajah Hana. "Mau, kan?" Tanpa menunggu lagi, Dimas mulai meangguk setuju. Gadis yang merasa permintaannya itu diterima tersenyum lebih sumeringah. Dia bosan jika terus berada di kursi roda. Pria itu tidak mungkin menolak permintaan kekasihnya. Anggap saja ini sebagai kencan pertama mereka di bawah sinar matahari tapi dengan suasana sejuk. Taman yang dipenuhi dengan tumbuhan hijau dan bunga warna-warni. Sekarang kedua insan itu tengah sibuk dalam keasyikannya. Dimas dengan sabarnya memapah dan menuntun Hana yang masih lunglai dalam langkahnya. Mereka mengelilingi taman yang cukup luas ini. Sesekali mereka tertawa dan saling pandang melemparkan senyum. Kedua jantung mereka berdetak tak beraturan. Untuk pertama kalinya juga, Dimas merasa bahagia. Dimas memetik sebuah bunga dengan tangan kanannya, sementara tangan lainnya masih berpegangan dengan tangan Hana. Pria itu menyelipkan bunga yang dipetiknya pada rambut dekat telinga Hana. Gadis itu membulatkan kedua matanya. Ia mulai menyentuh bunga yang kini terpasang di rambutnya. Hiasan yang sederhana tapi begitu sempurna. "Kamu potong rambut, Mel?" tanya Dimas menyipitkan mata, sinar matahari menyilaukan pengelihatannya. Hana mengagguk penuh arti. "Lebih cantik," sambung Dimas lagi sambil memandangi setiap lekak-lekuk wajah gadisnya itu. Dia sangat terlihat cantik. Karena mungkin sekarang, gadis itu selalu memberikan senyum indahnya. Timbul sebersit penyesalan yang mengalir dalam lubuk hati pria yang mendapatkan senyuman itu. Dulu, Dimas sempat menyia-nyiakan gadis ini. "Kenapa telinga itu jadi adem saat ngedengar kamu bilang cantik?" ucap Hana kembali mengundang seulas senyum di bibir Dimas. "Itu karena gak ada laki-laki lain yang bilang gitu ke kamu," jawab Dimas sekenanya. Hana sedikit memajukan bibirnya. Tak terima dengan ucapan pria meyebalkan ini. "Kamu itu mau muji aku atau ngejek aku?" cibir Hana mendelikan mata seolah memamerkan kemarahannya. Dia mengalihkan pandangannya pada bunga-bunga di sampingnya. Pria itu hanya bisa memandang Hana lagi dan lagi. Jika dulu mereka seperti ini, pasti akan menyenangkan bukan? Ternyata dengan hilangnya ingatan Hana, membuat keduanya jadi lebih dekat.Tuhan memang selalu merencanakan hal-hal yang tidak terduga. Memberikan pelajaran untuk Dimas, agar dia berhenti menyia-nyiakan hidup dan cintanya. "Daun sama bunganya udah agak karing. Kapan hujan dateng?" ucap Hana dengan raut sedikit kecewa. Langit selalu cerah dan membawakan hawa panas. Sebenarnya, kapan hujan turun? "Apa kamu tau? Dulu kamu itu benci sama hujan." Ucapan Dimas membuat Hana kembali menyimpan pandangannya pada Dimas, "Benci hujan?" tanyanya tak yakin. "Iya. Kamu itu gak suka hujan," lanjut Dimas lagi. Gadis itu mengubah ekspresi di wajahnya. Dia tampak bingung. Apa? Dulu dia membenci hujan? Memang apa yang salah dengan hujan? Padahal hujan itu suatu hal yang paling penting untuk kehidupan manusia, termasuk tumbuh-tumbuhan. Bagaimana bisa dirinya membenci hal itu? Jika tidak ada hujan, bagaimana manusia akan menjalani hidupnya? Mereka akan kehausan dan akhirnya mati. "Aneh," gumam Hana pelan. Perlahan Dimas diam-diam melepaskan genggaman tangannya dari tangan gadis yang masih terlihat bingung itu. Dimas mulai tersenyum senang, gadis itu bisa berdiri tanpa mendapat bantuan dari tangannya lagi, yah walau dia masih belum sadar dari lamunannya. Dimas berjalan mundur sedikit membuat jarak. Selang beberapa detik, Hana mulai bangun dari lamunannya. Menyadari bahwa tak ada tangan yang menopang pertahanannya, dia tersentak kaget. Karena masih takut, dia hampir saja jatuh, kontan Dimas langsung memberikan tubuhnya, memberinya sebuah persinggahan. Sekarang posisi Hana memeluk Dimas dengan dagu yang tersimpan di bahu pria itu. Jantungnya kembali berdetak tak keruan. Dia masih merasa gugup. Ekspresinya kali ini benar-benar sangat polos. Mengatup-ngatupkan matanya beberapa kali. "Gak usah takut. Kamu udah bisa jalan lagi. Kita bisa jalan-jalan dan kencan kaya pasangan lain, kan?" Pertanyaan Dimas membuat Hana sangat senang. "Aku cinta kamu, Mel. Cinta kamu," bisik Dimas di dekat daun telinga Hana. Gadis itu tampak kikuk kembali setelah mendengar bisikan indah itu. Bunga yang tadi terselip di rambutnya terjatuh begitu saja ke atas rerumputan hijau. Benda itu tampak merespon situasi canggung ini. Rasanya, Hana ingin sekali mengingat kembali masa-masa dulu. Memang selalu seindah ini, kah? Jika benar, mungkin hidupnya terasa begitu sempurna. Bagaimana kisahnya dulu? Sangat menyenangkan, bukan? Entahlah. *** Televisi yang terpajang di dinding kamar, tampak menyala dengan berbagai warna dari sebuah drama yang ditampilkan. Terdengar pula suara-suara dengan bahasa negara asing. Hana dan Dimas, mereka terlihat begitu menikmati drama yang ditontonnya. Duduk di atas sofa dalam kamar hanya berdua. Setelah bermain di taman, Hana belum ingin melepaskan Dimas. Ingin menikmati hari ini lebih lama bersamanya. Rasanya nyaman sekali. Seharian dia dapat tertawa penuh dan merasa waktu itu singkat. Bahkan, saat ini Hana sudah bisa berjalan walau belum sepenuhnya lancar. Setidaknya, dia sudah berusaha. Hana, beberapa hari lagi dia akan kembali bisa berjalan dan berlari sesuka hatinya. Tinggal menunggu waktu saja. Tak sabar ingin pergi berkencan dengan Dimas. "Dulu itu, kamu suka banget sama drama korea," ujar Dimas sambil menikmati tontonannya. "Oh, ya?" Hana merasa tak percaya. Tapi, mungkin ucapan kekasihnya itu benar. "Iya." "Ooh pantes aja, kamar aku dipenuhin sama gambar-gambar aktor Korea. Banyak kaset dramanya juga. Apa aku sesuka itu ya sama negara itu?" Hana terkekeh pelan. "Mungkin," Dimas merespon singkat. "Kalau emang gitu, berarti aku selalu sibuk nonton ya," tanya Hana tanpa melepaskan pandangannya dari televisi di sana. "Dramanya seru," puji Dimas tanpa menjawab pertanyaan perempuan di sebelahnya. Pegangan tangan mereka terlihat begitu erat. Seakan Hana tidak ingin ditinggal lagi oleh pemuda ini. Seperti beberapa hari yang lalu, dia pulang dan esoknya tak kembali lagi. Lihat saja nanti, jika Hana sudah bisa berjalan lancar, dialah yang akan menyusul Dimas dan datang padanya. Hari sudah semakin menua. Matahari mulai tenggelam meninggalkan peraduannya. Sama sekali tak mengusik kebersamaan dua anak manusia ini. Hana tak ingin siapapun mengganggu momentnya. Kedua mata Hana membulat sempurna. Saat atensinya menangkap sebuah adegan ciuman antara peran utama pria dan wanita dalam drama bergenre romance itu. Ini cukup membuatnya terkejut, tapi rasanya dia juga ikut terbawa suasana. Jantungnya berdetak dua kali lipat jauh lebih cepat. Dia terkagum-kagum. Mungkin ini, mungkin ini alasannya mengapa dia suka sekali drama buatan Korea ini, fikir gadis itu menebak-nebak. "Mereka romantis," ucapan itu keluar dari mulut manis Hana. Mengundang pria di sebelahnya untuk membelokan kepalanya ke samping. "Romantis, aku jadi iri," lanjut Hana lagi yang masih terlampau dalam rasa kagumnya. "Apa kita juga gak bisa seromantis mereka? Kamu mau aku ngelakuin itu?" tanya Dimas yang sukses membuat Hana kaget. Gadis itu sontak menoleh ke samping, dilihatnya wajah Dimas yang sangat dekat dengannya. Hanya dalam beberapa centi. Ya Tuhan. Dimas tak kalah tampan dengan pria Korea yang ada dalam TV itu, bahkan kekasihnya ini jauh lebih tampan. "M..., mm..., maksud kamu apa?" Hana gugup dengan suara yang terbata-bata. Tampaknya dia mulai mengerti dengan ajakan Dimas. "Kamu mau aku ngelakuin hal yang sama?" jemarinya terangkat dan jari jempol itu menyentuh ujung bibir gadis yang tengah menegang itu. "Apa..., apa dulu kita pernah kaya gitu?" tanya Hana mulai penasaran. Penasaran akan hal apa saja yang dilakukannya dulu bersama Dimas. Pria itu terdiam sejenak. Seperti itu? Sama sekali tidak pernah. "Ohh iya iya. Kita harus nonton dramanya lagi, nanti ketinggalan," Hana berusaha memalingkan pandangannya. Tapi dengan cepat Dimas memegang pipi Hana seolah tak mengizinkan gadis itu berbalik. Tetap saja di posisinya sekarang, saling berhadapan. "Kalau pernah emang kenapa?" tanya Dimas tiba-tiba. Darah Hana berdesir hebat. Kini ia mengerjap-ngerjapkan mata setelah mendengar pengakuan Dimas yang membuatnya tak bisa berkutik. "Kenapa?" mata Hana masih terpaku pada wajah dengan hidung mancung di depannya. "Aku bohong," sudut bibirnya tertarik ke samping membentuk senyuman miring. "Bohong?" "Karena aku bakal lakuin itu sekarang. Ini ciuman pertama kita...," kini wajahnya mulai mendekat. Kedua telapak tangannya tersimpan di kedua pipi gadis yang mematung itu. Perlahan, Dimas memiringkan wajahnya. Lalu menautkan bibirnya pada bibir Hana dengan sangat lambut. Suasana canggung dan romantis kembali terbangun di tempat ini. Dimas menyalurkan segala bentuk cintanya yang selama ini sempat terpendam. Tangan kanannya kini menelusuri bahu, lengan, dan pundak Hana dengan sangat nakal di tengah kegiatannya. Tak terlihat gadis yang mendapat ciuman hangat itu membalasnya. Ciuman yang Dimas berikan pada Hana sangat berbeda dengan wanita lainnya yang dulu pernah ia mainkan. Bukan karena nafsu, tapi ini murni karena cinta dan rasa bersalahnya pada Hana. Cintanya kali ini benar-benar cinta. Selang beberapa detik, Dimas kembali melepaskan kecupannya. Hana yang masih dalam keadaan gugup setengah mati akhirnya cepat-cepat mengubah posisinya. Pura-pura terfokus kembali pada televisi yang sedari tadi diacuhkan itu. "Kita ketinggalan jauh," ucap Hana mencoba mengalihkan suasana. Dimas mengangguk-anggukan kepala mengerti. Dia pun merasa ada yang berbeda, baru pertama kalinya pria itu merasakan sensasi yang jauh lebih membuatnya nyaman. Meski matanya terikat dengan layar televisi, tapi pikirannya malah entah melayang kemana. Dia masih kaget dengan kecupan bibir yang tadi diterimanya. Debaran jantungnya seolah enggan sekali untuk melambat. Berdetak kencang tak keruan. Jika saja dia tidak kehilangan ingatannya, mungkin tak akan secanggung ini. Sangat disayangkan. Tapi--- rasanya sangat menakjubkan. Dimas benar-benar melakukannya. Kali ini adegan itu bukan hanya dia lihat dalam sebuah drama seri, tapi juga dia dapat merasakannya sendiri. Segugup ini, kah? Dimas kembali mengikuti tayangan di depannya dengan posisi santai. Sesekali Hana melirik-lirik Dimas tak henti-henti. Tidak dipungkiri, Dimas sangat tampan. Dia tampan sekali. Moment tadi tak akan pernah Hana lupakan. Baru pertama kali dia merasakan getaran cinta yang semakin menggebu-gebu. Perlahan, kepalanya mulai bersandar di bahu Dimas, hanya saja, dia ingin sekali melakukannya. "Makasih Dimas, udah bikin jantung aku berdetak gak ada habisnya," gumam Hana pelan. Dimas hanya diam tanpa ingin membalas ucapan Hana. Entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang. Tak terasa, waktu terus berjalan. Rasanya ini sangat singkat. Sekarang, Hana sudah tidur dalam sandaran bahu Dimas. Dia terlelap begitu saja meninggalkan kecantikan yang masih ada di wajah putihnya. Dimas mulai menggendong tubuh Hana, gadis yang mungkin sudah berada di alam mimpinya itu tidak terusik sedikitpun. Dimas berjalan menuju tepi ranjang, setelah itu ia simpan tubuh Hana di atas kasur empuknya dengan hati-hati. Dimas lantas menarik selimut dan menyelimuti setengah badan Hana. Tangannya mengusap-ngusap kening Hana beberapa saat sebelum ia benar-benar pergi. Ketika ingin berjalan, sebuah tangan menggapai tangannya hingga langkahnya terhenti. "Jangan pergi," desah Hana. "Jangan pergi, Ren."Dimas kembali berbalik, dilihatnya Hana yang masih menutup kedua matanya. "Jangan pergi. Untuk malam ini aja. Aku mohon."Dimas terlihat bingung. Ia harus pulang, besok ada hal yang harus diurusnya. "Aku mohon," pintanya lagi entah dalam kondisi sadar atau tidak. Pegangan tangannya sama sekali tak dilepaskan. Dimas merasa telah tersihir. Dia tidak bisa menolak permintaan Hana. Sebelumnya Hana tak pernah meminta apa-apa selain menyuruhnya untuk berhenti melakukan hal yang tidak-tidak. "Iya. Aku gak bakal pergi," Dimas mencoba melepaskan tangan Hana dari tangannya. Pria itu lantas duduk di bawah. Tak peduli seberapa kuatnya dia akan tidur dengan posisi seperti ini. Yang penting, dia bisa menuruti keinginan sederhana Hana. Entah apa yang berada dalam pikirannya sekarang, Dimas sudah berubah drastis dari biasanya. Tapi yang jelas, yang Dimas inginkan sekali adalah bisa membahagiakan Hana, menebus semua kesalahannya dulu. Lampu dibiarkan terang menderang menerangi kedua insan yang sudah terlelap ini. Dimas menyimpan kepalanya di atas ranjang. Suasana terasa sangat hening nan nyaman. Sebuah hari yang paling berharga bagi Dimas. Ternyata inilah kebahagiaan sebenarnya, mencintai apa yang kita cintai. Tanpa disadari, hari baru kembali datang. Matahari mulai menampakkan tanda-tandanya untuk segera beranjak dari gemerlapnya dunia. Membangunkan Dimas dari tidur indahnya. Dia dapat mendengarkan kicauan burung yang seolah membangunkan para manusia di bumi. Seketika Dimas terlonjak kaget saat baru saja bangun dari tidurnya. Oh! Dia harus segera pergi dan bertemu dengan seseorang. Dimas mulai beranjak tanpa menyampaikan sepatah katapun pada Hana yang masih menutup rapat matanya. Pintu terbuka dengan sekali hentakan tangan Dimas. Sesosok pria sudah lebih dulu berada di luar kamar. Dia terlihat begitu terkejut saat melihat Dimas keluar dari kamar Hana. Pikiran buruk mulai melintas dalam benaknya. Apa yang dilakukan Dimas di dalam? "Kamu..." Tak ada waktu untuk menjelaskan, buru buru dia segera menyingkir dari hadapan Pengacara Kim dan berjalan dengan langkah cepat. Pengacara Kim mulai merasakan keanehan. Dia melirik ke dalam kamar, Hana ternyata masih tidur. Mengapa Dimas terlihat terburu-buru seperti itu? Apa yang terjadi? Untuk menuntaskan rasa penasarannya, pria itu memutuskan untuk mengikuti Dimas. Dia mulai berjalan mengurungkan niatnya untuk membangunkan Hana. *** Pengacara Kim menghentikan laju mobilnya saat melihat Dimas keluar dari taxi di depan sebuah rumah sakit besar. Dia mengernyitkan kening. Untuk apa Dimas ke tempat ini? Lagi lagi Dimas sudah membuat pria Pengacara Kim bertanya-tanya. Ia bergegas keluar dari mobil, melanjutkan kekepoannya itu. Ia harus tau apa saja yang dilakukan Dimas, karena dari dulu dia memang selalu mencurigai Dimas, tapi sama sekali tak ada waktu untuk menyeldikinya. Dimas memasuki sebuah ruangan tanpa permisi.Betapa terkagetnya Pengacara Kim saat melihat tulisan yang berada di atas pintu ruangan itu. Dia menelan air liurnya dengan spontan. Astaga.... ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN