...
‘Tak seharusnya aku menyimpan perasaan ini. Layaknya pohon yang tak seharusnya tumbuh di musim panas, tak akan pernah membuatnya subur. Sama seperti cinta, tak akan membuatnya berbunga saat cinta itu tak terbalaskan.’
Cahaya matahari menerobos sebuah kamar melalui celah-celah jendela. Membuat beranda kamar diterangi oleh surya yang diciptakan sang pemilik bumi. Beda dengan malam hari, ruangan terang karena cahaya listrik. Yang pagi lebih sehat dan bermanfaat bagi kesehatan. Udara pagi pun terasa menyejukkan. Terdengar dentingan jarum jam yang terpajang di dinding kamar. Seharusnya jam segini gadis si pemilik kamar ini sudah memulai aktifitasnya. Pergi ke kantor. Tapi dia masih berselimutkan badan. Tidak biasanya seperti ini.
Terdengar pintu yang baru saja terbuka. Memang kebiasaan gadis itu, tak pernah mengunci kamar ketika malam hari. Sosok pria dengan kameja hijau toska dan balutan jas hitamnya terlihat dengan tangan yang masih memegang kenop pintu. Menengok gadis yang ditunggu akan kedatangannya di bawah lewat pintu yang terbuka setengahnya. Suasana dalam kamar itu masih tampak hening. Kedua matanya melirik ranjang serba putih itu. Dilihatnya perempuan yang dicintainya dalam diam masih larut dalam tidurnya. Tapi---
Ada sebuah kejanggalan. Pengacara Kim mendengar ada yang aneh.
“Mama... hhh...,” suara yang terdengar begitu lirih. Mengundang pria itu untuk benar-benar memasuki ruangan itu.
“Papah...”
Deruan napas yang tampak berat.
Pengacara Kim tiba di sebelah ranjang yang ditiduri Hana. Tampak perempuan itu tengah menggerakkan kepalanya dengan lambat. Keringat dingin bercucuran membasahi pelipisnya. Cairan itu tampak memenuhi wajah putih yang dimilikinya. Bahkan sesekali terdengar gurauan kecil dari mulutnya. Setengah sadar.
“Hana,” panggil Pengacara Kim. Pria itu mulai memantau keadaan gadis yang kini sudah berwajah pucat itu. Apa terjadi sesuatu padanya? Apa dia sakit? Atau tengah bermimpi buruk? Telapak tangannya ia daratkan di area kening Hana. Panas. Iya, sangat panas. Membuat pria itu terkaget beberapa saat.
Kedua mata yang dimiliki Hana tiba tiba terbuka dengan cepat. Seperti orang yang baru saja bangun dari mimpi yang menyeramkan. Sekarang gadis itu sudah sepenuhnya sadar. Dan orang pertama yang dilihatnya adalah sosok pria dengan ekspresi gelisahnya. Sedang apa dia di sini? Di dalam kamarnya?
“Kamu sakit nona Hana?” tanya Pengacara Kim setengah khawatir.
“Ngapain kamu di sini?” tanya balik gadis itu dengan picingan mata tajam. Ia sungguh tidak suka jika seorang pria main masuk ke seenaknya ke dalam beranda kamarnya. Meski kamar ini tidak dikunci, bukan berarti siapa saja bisa masuk tanpa izin.
“Oh, maaf. Tadi aku cuma mau mastiin apa kamu udah bangun atau belum. Di bawah, kakek nunggu kamu buat sarapan pagi, tapi kamu gak dateng dateng.”
“Di sini banyak pembantu. Kenapa harus kamu?”
“Apa bisa jangan besar besarin tentang masalah kecil ini? Kayaknya kamu sakit.”
Kepalanya ini terasa pening. Itulah yang dirasakan Hana sekarang. Sesekali ia mengerjap-ngerjapkan mata menahan denyutan menyebalkan dari keningnya itu. Bahkan keringat dinginpun ia rasakan kehadirannya. Bibir indahnya tampak memutih.
“Sekarang kamu tau kalau aku udah bangun. Jadi keluar,” pinta gadis itu di tengah demam yang melandanya. Mungkin ini hanya demam biasa.
“Jangan keras kepala. Biar aku yang coba nurunin suhu panas badan kamu.”
“Gak usah!”
“Nona Hana...”
“Pengacara Kim!”
Pria itu menarik napas kasar. Yah! Memang keras kepala. Dia selalu menolak setiap kali seseorang mau membantunya. Pada akhirnya mereka akan kalah dan mundur. Tapi kali ini, kali ini pria itu tidak mau kalah. Dia ingin sekali menjaga gadis keras kepala ini. Tak peduli gadis itu akan melontarkan perkataan kasar atau memberontak bagaimanapun caranya.
“Tunggu di sini. Istirahat dan jangan bergerak,” perintah Pengacara Kim pada gadis itu. Dia pun mulai pergi menuju pintu dan keluar bermaksud untuk mengambil air es dan dan handuk kecil. Hana hanya bisa memandang kepergian pria iu dengan pandangan mata tak suka. Bukan dirinya yang keras kepala, tapi pria itu sendiri! Ini sungguh membuat Hana sebal, mengapa demam ini malah menghampirinya? Yang ia inginkan dari tubuhnya itu harus tetap sehat dan berstamina. Kalau begini, hanya akan merepotkan orang lain dan dianggap lemah. Biasanya hujanlah yang telah menyebabkan keadaan seperti ini. Dan kemarin malam, dia nekat keluar hanya untuk bertemu dengan Dimas yang bahkan tak bertemu sama sekali.
Beberapa menit kemudian.
Pengacara Kim kembali datang dengan air dingin beserta handuk berwarna pink muda itu.
Mengapa pria itu ingin sekali melakukan hal itu? Bahkan Hana sama sekali tidak membutuhkannya. Sama sekali tidak. Sekarang pria itu meletakkan handuk yang sudah diperas dari air es di kening Hana. Mata pria itu tak henti-hentinya memandang setiap lekak-lekuk perempuan yang tengah menahan sakitnya itu. Meski pucat, dia masih terlihat cantik. Hana memang mempunyai kecantikan wajah yang alami. Tak perlu memakai balutan make up-pun, perempuan ini masih saja seperti seorang putri.
“Keluar Pengacara Kim,” lirih Hana pelan.
“Biarin aku nungguin kamu.”
“Aku gak butuh kamu. Kalau kamu tetep di sini, gak akan ada perubahan apa-apa kok. Aku gak akan langsung sembuh. Yang ada malah makin parah, aku gak suka ditungguin. Emang aku apa?” ucap wanita itu seadanya. Tidak memikirkan bagaimana perasaan orang yang mendengarnya. Ia hanya ingin sendirian.
“Kakek yang nyuruh aku nungguin kamu.”
“Kemana kakek?”
“Dia ada urusan di kantor. Maaf dia gak bisa liat keadaan kamu. Katanya mepet. Nanti setelah pulang, dia janji bakal namuin dan ngejaga kamu. Untuk sekarang, biar aku yang ngerawat kamu.”
“Kakek udah pergi. Jadi kamu gak takut gak dengerin apa yang dia suruh. Sekarang kamu dengerin aku. Keluar, aku mau sendiri,” Hana memalingkan wajah.
“Sekali aja. Hilangin keras kepala kamu, nona.”
“Berhenti bicara, aku pusing.”
“Kamu mau makan? Biar aku suruh mereka untuk buatin bubur...”
“Aku gak mau,” ucapnya lagi tanpa melirik pria yang kini sangat khawatir akan keadaannya.
“Tapi kamu harus makan, setelah itu minum obat,” pintanya kekeh, setengah memaksa.
“Udah aku bilang aku gak mau! Mendingan sekarang kamu tinggalin aku dan kamar ini. Aku capek..,” sentak perempuan yang kini sudah merasa jengkel itu.
Pengacara Kim mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Mau bagaimanapun dia akan tetap menolak. Mustahil jika dia menurut sedikit saja padanya. Yah, yang penting dia sudah berusaha membantu dan mengkhawatirkan keadaannya.
“Aku cuma butuh seseorang. Bukan kamu...,” gumam Hana lemas. Rasa kantuknya kembali menjemputnya lagi. Dan perlahan kedua mata itu sedikit demi sedikit terpejam.
Mengapa ucapan itu menghadirkan sebersit rasa kecewa dari mata teduh Pengacara Kim? Ada pula sedikit goresan luka di dalam hatinya. Apa mungkin dia marah karena gadis itu sama sekali tidak membutuhkannya dan malah mencari orang lain. Selang beberapa detik, dia pun mulai pergi meninggalkan kamar Hana, tangannya tampak mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam saku bajunya.
Blam!
Pintu itu tertutup dengan tenang. Mengundang Hana untuk membuka kedua matanya lagi. Wajah pucatnya belum hilang sama sekali. Tapi berkat kompresan yang diberikan Pengacara Kim tadi, mampu menurunkan rasa pening yang dirasakan sejak tadi. Ampuh memang.
Pandangan gadis itu kosong. Ia mengeri mengapa ia sampai demam begini. Karena dia tengah merindukan dua orang di sana. Dua orang yang tak akan pernah kembali lagi. Dua orang yang sudah tenang di alam surganya Tuhan. Mereka tadi datang ke mimpinya dan membuat Hana rindu kedua orang tuanya. Bahkan, rasa bersalahnya tak akan pernah luput dari pikirannya.
Andai saja ia tak meminta papa dan mamanya datang ke Indonesia lebih awal. Andai saja ia tidak meminta hadiah dari mereka. Andai saja saat itu ia tidak ulang tahun. Mungkin, sekarang kedua orang tuanya masih berada di sisinya. Mama akan merawat Hana saat sakit seperti ini, sementara papa? Dia akan menghibur anaknya sebisanya. Bagimanapun caranya supaya putrinya tak akan merasa sakit lagi.
“Bodoh!” desisnya parau. Betapa bodohnya dia saat itu. Memaksa mereka agar cepat pulang saat musim hujan datang. Cuaca yang buruk. Harusnya dulu ia berpikir, jangan keras kepala. Selalu saja menginginkan kehendak semaunya. Ia memejamkan mata beberapa saat. Suasana kamar kembali hening tanpa suara apapun. Hari-harinya selalu diselimuti kesepian. Mungkin hari ini ia tidak akan menjalani aktivitas seperti biasanya.
***
‘Hana butuh kamu. Cepet dateng ke sini dan temuin dia yang lagi demam tinggi. Hibur dia. Cuma kamu yang bisa bikin perempuan itu nurut’
Pengacara Kim sengaja memberi SMS yang berisi perintah itu ke nomor milik Dimas. Berharap pria itu akan datang dan menghibur Hana. Supaya dia mau makan dan minum obat, dan akhirnya dia bisa sembuh. Karena hanya Dimas yang bisa membuatnya luluh. Itu semua karena cinta. Kata cinta kadang membuat seseorang berubah. Ada sedikit rasa cemburu yang sempat menghampiri Pengacara Kim. Tapi mau bagaimana lagi, gadis itu hanya membutuhkan apa yang disukanya. Pria itu bahkan telah membatalkan janji untuk membela seorang tersangka di pengadilan hanya demi menjaga Hana di sini. Ia sama sekali tidak ingin meninggalkannya sendirian dalam keadaan sakit. Terlalu berat untuknya.
Pandangan itu berada pada jendela bening. Tampak angin sepoi-sepoi menggoyangkan dedaunan hijau. Apa gadis itu tahu bahwa rasa cinta yang tumbuh dalam hatinya sudah benar-benar memebesar? Tapi tetap, tak akan tumbuh bunga sebelum gadis itu tahu yang sesungguhnya dan membalas perasaannya. Apa ia harus segera menapis rasa yang seharusnya tidak tumbuh ini? Seperti pohon yang tak seharusnya tumbuh saat musim panas. Pandangannya ia alihkan pada pintu kamar yang tertutup rapat itu, kamar Hana. Sedang apa dia? Apa rasa sakitnya sudah hilang?
Pengacara Kim melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Serta menghembuskan napas pelan, segera beranjak dari tempat sebelumnya. Apa pria di sana sudah membaca pesan yang dikirimnya beberapa menit lalu?
***