Tidak sesuai jadwal, aku dan Genta diperbolehkan pulang siang ini, mengingat situasi di sini sudah kondusif dan kakiku yang cidera, jadi yaudah lah, pulang aja. Seperti sebelum-sebelumnya, Genta membawakan barang-barangku, kami diantar Bang Syahrir ke Bandara. Aku dan Genta berpamitan pada semua yang ada, termasuk Kemal yang ternyata sedang menelepon istrinya. “Gak ikut balik, Bang?” tanya Genta. “Udah dipesenin tiket, nanti malem baliknya,” “Ohh, okay, duluan ya Bang!” Setelah berpamitan kami pun berangkat. Sepanjang perjalanan aku hanya diam, hatiku masih berantakan. Sesekali, aku mendengar percakapan Genta dengan Bang Syahrir. Pikiranku berkelana ke Kemal, aku sempat mendengarnya berbicara dengan istrinya, dia terdengar sangat mencintai istrinya tersebut. Lucu ya? Ternyata secepat

